5 Hadis Palsu Seputar Ramadhan - SQ BLOG

Kajian

Post Top Ad

Jumat, 26 Mei 2017

5 Hadis Palsu Seputar Ramadhan

SQ BLOG - Salam kawan sobat semuanya, Alhamdulilah memasuki bulan ramadhan tahun kali ini tinggal menghitung jam. Marhaban yaa ramadhan... 

Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Janji hadis di ataslah tentunya yang membuat setiap kita bergembira untuk menyambut bulan nan suci ini.
Sehubungan hal ini, admin kali ini akan berbagi beberapa hadis dha'if seputar Ramadhan. Hadis-hadis tersebut sebenarnya banyak, tapi admin hanya menyajikan 5 buah pokok bahasan yang admin sadur dari karya Ali Mustafa Ya'qub. Admin menyadari belum saatnya menghukumi sebuah hadis tanpa berdiri di atas pijakan yang benar-benar mumpuni. Karena hal ini bukan sekedar klaim ini shahih atau dha'if, tapi lebih dari itu, penguasaan akan sebab-sebab atau illatnya dan studi ilmu lainnya yang terkait.

Berikut 5 Hadis Palsu tersebut:
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html

1. HADIS PERTAMA; 3 BAGIAN DALAM KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN


حَدَّثَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ سَوَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مَسْلَمَةُ بْنُ الصَّلْتِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ» ﴿رواه العقيلي في الضعفاء الكبير﴾

Artinya: Permulaan bulan Ramadhan itu Rahmat, Pertengahannya maghfirah (ampunan), dan penghabisannya merurpakan pembebasan dari neraka.”[1] (.H.R. Al-Uqaili)

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Adiy, Al-Khatib al-Bagdadi, Al-Dailami, dan Ibn ‘Asakir. Menurut Imam al-Suyuti, hadis ini nilainya dha’if (lemah), dan menurut Albani bahwa hadis ini adalah mungkar. Pernyataan Albani ini tidak berlawanan dengan pernyataan Al-Suyuti karena hadis mungkar adalah bagian dari hadis dha’if. Hadis mungkar termasuk kategori hadis yang sangat lemah dan tidak dapat dipakai sebagai dalil apa pun.[2]

Sumber kelemahan hadis ini adalah dua orang rawi, yaitu Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalt. Menurut Ibn ‘Adiy, Sallam bin Sawwar adalah munkar al-Hadis. Ibnu Hibban mengatakan Sallam tidak boleh dijadikan hujjah (pegangan), kecuali apabila ada rawi lain yang meriwayatkan Hadisnya. Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk, yaitu dituduh sebagai pendusta.

Hadits lemah yang senada dengan hadits diatas yaitu:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيّ قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً ، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا ، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ…وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُه رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ... ﴿رواه ابن خزيمة في صحيح ابن خزيمة﴾

“Dari Salmân al-Fârisi Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dihadapan kami pada hari terakhir bulan Sya’bân. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai manusia, sungguh bulan yang agung dan penuh barakah akan datang menaungi kalian, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang beribadah pada bulan tersebut dengan satu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang menunaikan satu kewajiban pada bulan itu, maka sama dengan menunaikan tujuh puluh ibadah wajib pada bulan yang lain. Itulah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga …. Itulah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka...”. (H.R. Ibnu Khuzaimah)[3]

Sanad hadits ini dha’îf (lemah), karena ada seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud’ân. Orang ini seorang perawi yang lemah sebagaiamana diterangkan oleh Imam Ahmad, Yahya, Bukhâri, Dâruquthni, Abu Hâtim dan lain-lain. Ibnu Khuzaimah sendiri mengatakan, “Aku tidak menjadikannya sebagai hujjah karena hafalannya jelek.” Imam Abu Hatim mengatakan, “Hadits ini mungkar.”[4]

Sehingga, hadis di atas merupakan hadis dha’if yang kedha’ifannya sangat parah sehingga tidak dapat dijadikan dalil apa pun, termasuk dalam fadhailul amal.

2. HADIS KEDUA; MAKAN SEBELUM LAPAR

نَحْنُ قَوْمٌ لَا نَأْكُلُ حَتَي نَجُوْعَ وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَعُ.

Artinya: Kami adalah orang-orang yang tidak makan sehingga kami lapar, dan apabila kami makan, kami tidak sampai kenyang.[5]

Ungkapan di atas banyak yang menganggapnya sebagai Hadis. Padahal tidak ditemukan sama sekali dalam kitab-kitab Hadis. Ungkapan ini ditemukan di dalam kitab Al-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah karya imam Al-Suyuti. Dan ternyata ungkapan tersebut hanyalah ucapan seorang dokter dari Sudan yang suatu saat diminta pendapatnya oleh Raja (Kisra) Persia.

Dengan demikian, ungkapan di atas bukanlah sebuah Hadis, melainkan sebuat kata-kata hikmah atau kata-kata mutiara.[6]

3. HADIS KETIGA; HARAPAN SATU TAHUN PENUH RAMADHAN


حَدَّثَنَا أَبُو الْخَطَّابِ زِيَادُ بْنُ يَحْيَى الْحَسَّانِيُّ ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ حَمَّادٍ أَبُو عَتَّابٍ ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي يَزِيدَ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالاَ : حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ أَيُّوبَ الْبَجَلِيُّ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ ، عَنْ نَافِعِ بْنِ بُرْدَةَ ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ أَبُو الْخَطَّابِ الْغِفَارِيُّ : قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (ح) وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ أَبِي يَزِيدَ ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي الْخَطَّابِ - قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاتَ يَوْمٍ وَقَدْ أَهَلَّ رَمَضَانُ ، فَقَالَ : لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا رَمَضَانُ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ السَّنَةَ كُلَّهَا... ﴿رواه ابن خزيمة في صحيح ابن خزيمة﴾

Artinya: Seandainya ummatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar satu tahun penuh menjadi Ramadhan semua.”[7] (.H.R. Ibnu Khuzaimah)

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Usaman Al-Khubari, Abu Ya’la, Al-Baihaqi, Ibnu Al-Najjar dan Al-Mundziri. Kepalsuan hadis di atas disebabkan oleh salah satu sanadnya yang bernama Jarir bin Ayyub al-Bajali. Para kritikus Hadis menilainya sebagai pemalsu hadis, matruk dan munkar. Disamping terdapat juga kejanggalan dalam matan hadisnya. Hadis di atas hanyalah penggalan dari potongan matannya yang masih panjang.

Menurut para ulama hadis, salah satu dari tanda-tanda hadis palsu adalah hadis itu panjang disertai kejanggalan susunan kata-kata dan maknanya. Dalam hadis ini, kejanggalan makna itu terdapat dalam besarnya pahala atau balasan dari amalan yang sangat ringan sementara dalam hadis-hadis shahih hal serupa tidak disebutkan.[8]

Pertanyaannya kemudian, jika hadis ini palsu, mengapa Ibnu Khuzaimah memasukannya ke dalam kitab shahihnya? Sebenarnya Ibnu Khuzaimah tidak seceroboh itu, karena beliau dalam kitabnya itu menyatakan dua ungkapan yang dapat menyelamatkan beliau dari kritik itu. Pertama, beliau menyatakan: باب ذكر تزيين الجنة لسهر رمضان...إن صح الخير (Bab tentang dihiasinya surga untuk bulan Ramadhan…apabila hadis ini shahih). Kedua, beliau juga menuturkan: فإن في قلبي في جرير بن ايوب البجلي سيء (Dalam hati saya ada sesuatu tentang Jarir ibn Ayyub Al-Bajali)

Jadi kesimpulannya bahwa hadis ini tetap Maudhu’ (Palsu).

4. HADIS KEEMPAT; TIDURNYA ORANG PUASA ADALAH IBADAH

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا سِخْتَوَيْهِ بْنُ مَازِيَادَ، حَدَّثَنَا مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ، حَدَّثَنَا زِيَادٌ الْأَعْلَمُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى الْأَسْلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ " ﴿رواه البيهقي﴾

Artinya: Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”[9] (.H.R. Al-Baihaqi)

Hadits ini dha’if, sebagaimana dikatakan Al-Iraqi, Albani juga mendhaifkan hadits ini. Di dalam hadis ini terdapat nama-sama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang perawi yang dha’if, dan Sulaiman bin Amr al-Nakha’I, seorang perawi yang lebih dha’if dari pada Ma’ruf. Kesimpulan Ali Mustafa Ya’qub bahwa hadis ini merupakan hadis palsu.

5. HADIS KELIMA; PUASA RAMADHAN TIDAK DITERIMA HINGGA MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

حَدَّثَنَا أبو قاسم بْنُ الْحُصَيْنِ قَالَ أَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي عَلِيٍّ الْبَصْرِيُّ قَالَ نا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إبراهيم بن حمدان الدير عاقولي قَالَ نَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنِ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عُبَيْدَةَ الْمُؤَدَّبُ قَالَ نا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْبَصْرِيُّ قَالَ نَا مُعْتَمِرٌ قَالَ نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لا يُرْفَعُ إِلا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ".

Artinya: Ibadah bulan Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.”[10]

Ibnu Jauzi menuturkan dalam kitabnya mengenai hal ini dengan dua buah hadis. Hadis pertama pertama berasal dari Jarir sebagaimana redaksi di atas, dan hadis kedua berasal dari Anas bin Malik.[11] Ibnu Jauzi kemudian berkomentar bahwa dua hadis itu tidak shahih (palsu). Hadis pertama di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Sedangkan hadis kedua di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abd al-Rahman bin Utsman, para ulama melemparkan Hadis Abd al-Rahman bi Utsman. Dan menurut Ibnu Hibban Abd al-Rahman bin Utsman tidak boleh dijadikan hujjah.

Demikian juga Al-Suyuti menutukan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dan Al-Dhiya, keduanya berasal dari Jabir. Al-Suyuti mengatakan bahwa hadis ini dha’if tanpa menyebutkan alasannya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang di dalam sanandnya terdapat rawi yang bernama Abd al-Rahman bin Utsman yang tidak diketahui identitsanya.

Dengan demikian, sanad hadis ini tidak dapat dinilai karena ada rawi yang majhul. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hadis ini palsu.

ENDNOTE

[1] Muhammad bin ‘Amr Al-Uqaili, Al-Dhu’afa al-Kabir (Beirut: Darr al-Maktabah al-Ilmiyah, 1404 H/1984 M), jilid 2, Cet. I, h. 162
[2] Lihat Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), Cet. VI, h. 14
[3] Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah (Maktbah Syamilah)
[4] Almanhaj.or.id
[5] Muhammad bin ‘Amr Al-Uqaili, Al-Dhu’afa al-Kabir (Beirut: Darr al-Maktabah al-Ilmiyah, 1404 H/1984 M), jilid 2, Cet. I, h. 162
[6] Lihat Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), Cet. VI, h. 23
[7] Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah (Maktbah Syamilah)
[8] Lihat Ibn Shalah, Muqaddimah Ibn Shalah, yang dinukil dalam Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, h. 28
[9] Al-Baihaqi, Sya’b al-Iman, (Maktbah Syamilah), kemudian dinukil oleh Al-Suyuti dalam Al-Jami’ al-Shaghir
[10] Ibnu Jauzi, Al-‘Ilal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah
[11] Dengan readaksi “لا يَزَالُ صِيَامُ الْعَبْدِ مُعَلَّقًا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى يُؤَدِّيَ زَكَاةَ فِطْرِهِ.”

SEKIAN


pdf DOWNLOAD: LINK 1
pdf DOWNLOAD: LINK 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad