Mahmud Abu Rayyah; Pemikir Kontroversi Hadis

Sumber; Foto
SQ  Blog - Sobat, moga semuanya baik selalu, sehat wal afiyat. Kali ini admin mengajak untuk membicarakan satu tokoh hadis kontemporer asal Mesir. Menarik untuk mendiskusikan tokoh ini karena pemikirannya banyak mengandung kontroversi, lebih khusus di tanah kelahirannya sendiri, di Mesir. Dia adalah Mahmud Abu Rayyah. Berikut ulasan biografinya kawan...

>> Latar Belakang Pendidikan Mahmud Abu Rayyah

Mahmud Abu Rayyah dilahirkan di Kafr al-Mandara, di sebuah kota yang bernama Aja, provinsi Dakahlia di Mesir pada tanggal 15 desember tahun 1889 M, bertepatan 21 rabi’ al-tsani 1307 H.[1] Sebagian mengatakan bahwa Abu Rayyah dilahirkan pada tahun 1887 M,[2] dan dikatakan pula tahun 1889 M. Namun, tahun kelahirannya yang lebih masyhur adalah tahun 1889 M dan meninggal tahun 1970 dalam usia 81 tahun.[3] Ibunya meninggal ketika ia masih dalam buain, kemudian ia tumbuh dibawah pengasuhan dan pendidikan ayahnya dan saudara-saudaranya. Perjalanan pendidikannya dimulai di tanah kelahiran sendiri dengan mempelajari ilmu-ilmu agama dan juga ilmu lainnya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana pada tahun 1940 M di Mansoura University.[4]

Pada tahun 1957 M, Abu Rayyah melanjutkan pencarian ilmunya di kota Giza, sebuah kota tempat berdirinya sphinx dan piramida-piramida di Mesir. Tercatat bahwa Abu Rayyah pernah belajar di Madrasah Al-Da’wah wa al-Irsyad, lembaga dakwah yang didirikan oleh Rasyid Ridha pada tahun 1912 di Kairo. Ia juga pernah mengikuti berbagai kursus di sebuah sekolah tinggi teologi di dalam negeri. Kekaguman yang luar biasa terhadap Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha telah ia simpan sejak masa mudanya sehubungan dengan gagasan-gagasan Abduh dan Ridha tentang penolakan terhadap taqlid khususnya taqlid terhadap madzhab.

Abu Rayyah tertarik untuk melakukan penelitian tanpa perlu secara otomatis tunduk kepada teori-teori para ulama atau sarjana yang lebih senior. Merasa tidak puas atas sikap pasif (jumud) para ulama atau sarjana masa itu, serta tidak adanya imajinasi atau inspirasi dalam diri mereka, menjadi tujuan utama Abu Rayyah untuk menerobos rintangan taqlid ini yang dalam pandangannya merupakan penyebab terjadinya kemunduran dalam Islam.[5]

Setelah mengabdikan masa mudanya untuk studi kesusastraan Arab, Abu Rayyah menemukan beberapa hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang penafsirannya membuat ia heran.[6] Beliau memiliki kesan bahwa Nabi tidak mungkin pernah mengucapkan kata-kata remeh dan kasar seperti itu, tidak memiliki retorika sebagaimana yang sering dijumpainya dalam berbagai tulisan.[7] Berangkat dari anggapan tersebut, Abu Rayyah kemudian menuangkan pandangan-pandangannyanya dalam Ilmu Hadis, walaupun demikian ia banyak menyandarkan argumen-argumennya dengan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho.

>> Buku dan Karya-karya Ilmiah Mahmud Abu Rayyah

Mahmud Abu Rayyah merupakan salah seorang penulis modern berkebangsaan Mesir yang banyak mengemukakan pandangannya mengenai ilmu Hadis. Diantara buku dan karya-karya ilmiah Abu Rayyah ialah:[8]
  1. Hadis Muhammad (artikel)
  2. ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’a al-Hadis (أضواء على السنة المحمدية او ضفاع عن الحديث)
  3. Syekh al-Madi’rah; Abu Hurairah; (شيخ المضيرة: أبو هريرة)
  4. Al-Sayyid al-Badawy (السيد البدوي)
  5. Hayat al-Qurra’ (حياة القرى)
  6. Rasail al-Rafi’iy (رسائل الرافعي)
  7. Shoihah Jamaluddin al-Afghani (صيحة جمال الدين الأفغاني)
  8. Jamaluddin al-Afghani; Tarihihi wa Risalatihi
  9. Muhammad wa al-Masih Akhawani; Din Allah Wahid ala Alsanah al-Rusul (دين الله واحد علی ألسنة الرّسل ; محمد والمسیح أخَوان)
  10. Qishshah al-Hadist al-Muhammady (قصة الحديث المحمدي)
  11. Wa ma Laki’hi min Ashhabi al-Rasul (وما لقيه من أصحاب الرسول)
Pada 1945, ia pernah menulis sebuah artikel yang berjudul Hadis Muhammad yang memuat pemikirannya tentang hadis yang menyalahi kepercayaan para ulama Al-Azhar. Maka, terjadilah polemik dengan mereka, di antaranya dengan Abu Syahbah yang menyarankan agar ia meralat tulisannya. Akan tetapi, dengan keteguhan pendiriannya, Mahmud Abu Rayyah tidak mengindahkannya, bahkan menolaknya dengan artikel kedua yang tetap mempertahankan pendiriannya.[9]

Abu Rayyah terkenal karena dua karya kontroversialnya, yaitu Adwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’a al-Hadis dan Syekh al-Madirah; Abu Hurairah yang mendapatkan banyak tanggapan dari para cendekiawan muslim. Pemikirannya yang terpengaruh oleh orientalis terlihat jelas dalam buku-bukunya tersebut. Di antara orientalis yang menjadi rujukan Abu Rayyah adalah Ignaz Goldziher, orientalis yang pertama kali melakukan kajian hadis dengan karya monumentalnya, Muhammadanische Studien.[10] Buku ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah ini insya Allah admin bahas pada postingan selanjutnya!

SEKIAN
Baca juga:
  • Sekelumit Diskusi Otentisitas Hadis Dulu Hingga Kini
  • 'Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyah karya Kontroversi Abu Rayyah
  • Posisi Hadis menurut Abu Rayyah
  • Tadwin Hadis dalam Kacamata Abu Rayyah
  • 'Adalah al-Shabah dalam Pandangan Abu Rayyah
  • Kritikan Abu Rayyah terhadap Sahabat Abu Hurairah
ENDNOTE



[1] Murthadho al-Radwa’, Bersama Para Pembaharu di Mesir (T,t: T.p., 1232 H), Cet. I, dalam Wikipedia: https://ar.wikipedia.org/ /w/index.php?title=محمود_أبو_رية
[2] Mus’idul Millah, Mahmud Abu Rayyah (1887-1964) Penggerak Inkar Sunnah? Dalam Yang membela dan Yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, 2012), h. 100.
[3] Sochimin, Telaah Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah dalam Buku ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah dalam Hunafa, Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 2, h. 273.
[4] Artikel “Min A’lami al-Fikri al-Hadis; Abu Rayyah, dalam http://www.adawaanews.net
[5] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), (Bandung: Mizan, 1999), h. 59.
[6] Salah satu redaksi Hadis tersebut ialah;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى.  (رواه البخاري)
Artinya: “dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya.” (H.R. Imam Al-Bukhari)
[7] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis Di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), h. 59-60; Lihat juga, Mus’idul Millah, Mahmud Abu Rayyah (1887-1964) Penggerak Inkar Sunnah? Dalam yang membela dan yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, t.t), h. 101.
[8] Wikipedia: https://ar.wikipedia.org/ /w/index.php?title=محمود_أبو_رية
[9] Zaedmannan, Pemikiran Hadis Kontemporer Mahmud Abu Rayyah, Makalah, Dipostoing tanggal 24 Oktober 2013.
[10] Muh. Munib, Kodifikasi Hadis Perspektif Mahmud Abu Rayyah, Skripsi; Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, 2012, h. 15.

SEKIAN
Label:

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.