Diskusi Awal Kali Islam masuk Indonesia

Islam diperkenalkan di kepulauan Melayu atau Nusantara melalui berbagai proses yang berangsur-angsur dan rumit. Melihat kenyataan bahwa Islam dating dengan cara damai tanpa kampanye militer atau dukungan pemerintah, agaknya penentuan awal kedatangan Islam kurang begitu signifikan lantara orang-orang yang terlibat dalam kegiatan dakwah pertama tersebut tidak bertendensi apapun, selain tanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama-nama mereka berlalu begitu saja tertelan sejarah.[1] Oleh karenanya, kedatangan Islam di Nusantara memunculkan diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok, yaitu tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.


Paling tidak ada 4 teori yang berbicara tentang asal datangnya Islam di kawasan Nusantara termasuk di Indonesia, yaitu;
  1. Pertama, Islam datang langsung dari Arab atau tepatnya Hadramaut yang dikemukakan oleh Crawfurd, Keyzer, Niemann, de Hollander, dan Veth.
  2. Kedua, teori yang menyatakan bahwa Islam itu datangnya dari India tepatnya Gujarat yang diajukan oleh Pijnipel, Snouck Hurgronje, Moquette, Kern, Winstedt, Bousquet dan sejumlah sarjana Belanda lainnya.
  3. Ketiga, teori yang menyatakan bahwa Islam datang dari Bengal (Bangladesh) yang diajukan oleh Fatimi.[2]
  4. Sebagian sarjana lain seperti Marrison dan Drewes berpendapat bahwa pelopor awal Islam di Indonesia ialah orang-orang Persia.[3]
Teori tentang Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara terbukti mempunyai kelemahana-kelemahan tertentu. Ini dibuktikan mislanya oleh Marrison yang berargumen bahwa meskipun batu-batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat, atau berasal dari Bengal, itu tidak lantas berarti Islam juga didatangkan dari dari sana. Marrison mematahkan teori ini dengan menunjuk kepada kenyataan bahwa pada masa Islamisasi Samudra Pasai, yang raja pertamanya wafat pada 698 H/1297 M, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Barulah setahun kemudian pada tahun 698 H/1297 M, Gujarat ditaklukkan oleh kekuasaan Muslim. Sejalan dengan Marrison, Naguib Al-Attas juga tidak menerima bahwa Islam dibawa dari Gujarat ke Pasai dan Gresik oleh Muslim India. Ia berpendapat bahwa batu-batu nisan yang ditemukan pada dua daerah tersebut dibawa dari India semata-mata karena jaraknya yang lebih dekat dibandingkan dengan Arab. [4]

Pada sisi lain, kontribusi kaum Muslim Persia menurut Alwi Shihab memang cukup besar dalam rangka mendorong gerakan dakwah Islam di Indonesia. Misalnya, terdapat Ulama Islam di kesultanan Samudera Pasai yang merupakan asli dari Persia, yaitu Al-Qadhi Amir Sayyid Al-Sirazi dan Ibn Batutah pernah menemuinya pada saat kunjunggannya di kesultanan pada tahun 1345-1346 M. Akan tetapi, kontribusi itu sendiri tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan dakwah yang dilakukan orang-orang Arab. Analisis lain menunjukan kontribusi ini muncul belakangan jika merujuk asumsi bahwa Islam telah masuk di Nusantara pada abad 1 H/7 M. Mengingat Negeri Persia sudah menjadi bagian dari khilafah Islam sejak ekspansi Islam pada masa khalifah Umar bin Khattab. Bahkan diluar negeri mereka, Muslim Persia justru merepresentasikan peradaban Islam Arab, bukan peradaban Persia terutama pada Dinasti Abbasiyyah.[5] Mengenai penentuan awal datangnya Islam dapat dikategorikan ke dalam dua perspektif:
  1. Pertama, pandangan yang mengasumsikan awal datangnya Islam pada abad ke-7 H/13 M.
  2. kedua, pandangan yang menganut abad ke-1 H/7 M.[6]
Tjandrasasmita dalam bukunya Pertumbuhan dan Perkembangan kota-kota Muslim di Indonesia menyatakan masuknya Islam ke Indonesia baru abad 7 H/13 M tentu tidak dapat diterima begitu saja karena pelayaran dan perdagangan orang-orang Muslim ke negeri-negeri di Asia Tenggara sudah ada sejak abad-abad 1 H/7 M dan abad-abad berikutnya, sebelum abad ke-7 H/13 M.
Di antara bukti bahwa Islam sudah ada di Nusantara termasuk Indonesia sejak abad 1 H/7 M bersumber dari berita Cina yang berasal dari hikayat Dinasti T’ang. Sumber tersebut menceritakan tentang orang-orang Ta-shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Ho-Ling atau Kalingga (Jawa Tengah) yang diperintah ratu Sima. Berdasarkan penafsiran beberapa ahli, orang Tazi atau Ta-shih ialah orang-orang Arab serta lokasinya diperkirakan di pesisir Barat Sumatera. Sumber yang menyebut tentang orang-orang Ta-shih tidak hanya berasal dari abad ke-1 H/7 M, tetapi juga dari abad-abad berikutnya. Misalnya sumber Jepang pada pertengahan abad ke-2 H/8 M juga menceritakan banyak kapal Po-sse dan Ta-shih Kuo yang berlabuh di Khanfu (Guangzhou). Menurut penafsiran, Po-sse ialah orang-orang melayu atau Persia.[7] I-Tsing seorang agamawan dan pengembara terkenal Cina, pada tahun 51 H/671 M menumpang kapal Arab atau Persia dari Khanfu dan berlabuh di pelabuhan muara sungai Bhoga (Musi) di Palembang, Ibu kota kerajaan Sriwijaya ketika itu.[8]

Analisis ini menunjukkan bahwa sejak abad 1 H/7 M dan 2 H/8 M tidak mustahil orang-orang Muslim, apakah dari Arab, Persia, India, sudah banyak yang berhubungan dengan orang-orang Indonesia dan orang Asia Tenggara pada Umumnya. Kemajuan perhubungan pelayaran pada abad-abad tersebut dikemungkinkan akibat persaingan antara kerajaan-kerajaan besar ketika itu, yaitu Bani Umayyah di Asia Barat, Kerajaan Sriwijaya (Indonesia) di Asia Tenggara, Dinasti Tang (Cina) di Asia Timur. Mempertimbangkan banyaknya versi historiografi masuknya Islam di Indonesia, Azyumardi Azra menyimpulkan empat tema pokok dalam hal ini,[9] yaitu:
  • Islam dibawa langsung dari Arab;
  • Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyiar professional, yakni mereka yang memang khusus bermasud menyebarkan Islam;
  • Golongan masyarakat Indonesia yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa;
  • Kebanyakan para penyebar Islam professional ini datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13.
Berdasarkan uraian tahun awal masuknya Islam di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa pada abad ke-1 H/7 M atau sebelum abad ke-7 H/13 M itu sebagai proses islamisasi, adapun pada abad ke-7 H/13 M merupakan pertumbuhannya sebagai kerajaan yang pertama bercorak Islam di Indonesia.[10]


ENDNOTE



[1] Alwi Shihab, Islam Sufistik; Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia terj. Muhammad Nursamad dari judul asli, “Al-Thasawwuf al-Islam wa Atsaruhu fi Al-Thasawwuf al-Indunisi al-Muashir” (Bandung: Mizan, 2011), Cet. I, h. 4
[2][2] Hasbullah, Islam dan Transformasi Kenudayaan Melayu di Kerajaan Siak (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2007), Cet. I, h. 25-26
[3] Alwi Shihab, Islam Sufistik; Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia, h. 11-12
[4] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII; Melacak Akar-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), Cet. I, h. 26
[5] Alwi Shihab, Islam Sufistik; Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia terj. Muhammad Nursamad dari judul asli, “Al-Thasawwuf al-Islam wa Atsaruhu fi Al-Thasawwuf al-Indunisi al-Muashir”  (Bandung: Mizan, 2011), Cet. I, h. 11-12
[6] Alwi Shihab, Islam Sufistik; Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia, h. 4
[7] Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia (Kudus, Menara Kudus, 2000), Cet. I, h. 15-16, Lihat Juga; Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, h. 36-37 dan Alwi Shihab, Islam Sufistik, h. 6-7
[8] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII; Melacak Akar-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), Cet. I, h. 38
[9] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII; Melacak Akar-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), Cet. I, h. 30-31
[10] Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia (Kudus, Menara Kudus, 2000), Cet. I, h. 19

pdf Download: Klik DISINI

Indonesia, Islam, Nusantara, Masuknya Islam di Indonesia, Teori masuknya Islam di Indonesia

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.