Stratifikasi dan Cara Mengetahui Sahabat

A. Stratifikasi Sahabat

Satu hal yang mesti dipahami pula bahwa para sahabat itu bertingkat-tingkat kedudukannya. Mengenai jumlah peringkat (Thabaqah) di kalangan sahabat sampai saat ini memang masih diperselisihkan. Al-Hakîm mengkualifikasikan mereka menjadi 12 peringkat.[1] Kedua belas peringkat sahabat itu, seperti ditulis ‘Ajaj al- Khatib dan Subhi al-Shalih adalah sebagai berikut:[2] 
  1. Pertama, mereka yang mula-mula masuk Islam seperti 10 orang sahabat yang mendapat kabar akan masuk surga, yakni para Khulafâ’ al-Rasyidîn, Sa’ad bin Abî Waqqas, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin Ubaid Allâh, Zubair bin Awwam, ‘Abd Rahman bin ‘Auf, dan Abû Ubaidah Amîr bin al-Jarrah, plus Khadîjah dan Bilâl. 
  2. Kedua, mereka yang masuk Islam sebelum musyawarah ahli Makkah di Dâr al-Nadwah. 
  3. Ketiga, mereka yang berhijrah ke Habasyah. Mereka seperti ‘Utsmân bin ‘Affân, Zubair bin Awwam, Ja’far bin Abî Thâlib, Ruqayyah, istri ‘Utsman dan puteri Nabi Muhammad Saw Sahlah binti Sahl, istri Abû Huzaifah. 
  4. Keempat, mereka yang mengikuti al-‘Aqabah al-Ulâ seperti Jabîr bin ‘Abd Allâh, ‘Uqbah bin Amîr, As’ad bin Zurarah, dan ‘Ubadah bin al-Shamit. 
  5. Kelima, mereka yang mengikuti al-‘Aqabah al-Tsaniah (mayoritas kaum Anshar) seperti al-Barra bin Ma’rur, Sa’ad bin ‘Ubadah, dan Ka’ab bin Malik. 
  6. Keenam, kaum Muhajirin yang mula-mula bertemu dengan Nabi Muhammad Saw di Quba sebelum beliau memasuki Madinah. Ketujuh, ahli Badr. Kedelapan, mereka yang berhijrah di antara Badar dan al-Hudaibiyah. Kesembilan, para peserta Bai’at al-Ridwân di Hudaibiyah.
  7. Ketujuh, ahli Badr.
  8. Kedelapan, mereka yang berhijrah di antara Badar dan al-Hudaibiyah.
  9. Kesembilan, para peserta Bai’at al-Ridwân di Hudaibiyah.
  10. Kesepuluh, mereka yang berhijrah antara Hudaibiyah dan Fath al-Makkah, seperti Khâlid bin Walîd, Ibn al-‘Ash, dan Abû Hurairah. 
  11. Kesebelas, orang-orang yang masuk Islam saat Fath al-Makkah seperti Mu’awiyah bin Harb dan Hakîm bin Hizam. 
  12. Kedua belas, kalangan anak-anak yang menyaksikan nabi Muhammad Saw saat Fath al-Makkah, dan Haji Wada’ seperti Hasan bin ‘Alî dan Husain bin ‘Alî, al-Sa’ib bin Yazid al-Kalabî dan ‘Abd Allâh al-Zubair.
Selain bertingkat-tingkat, para sahabat pun memiliki keutamaan yang tidak sama. Ulama Sunni sepakat bahwa Abû Bakar dan ‘Umar bin Khattab sebagai sahabat paling utama. Setelah keduanya, baru ‘Utsmân bin ‘Affân dan ‘Alî bin Abî Thâlib. Setelah Khulafâ’ al-Rasyidîn itu, sahabat yang memiliki keutamaan adalah sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, ahli Badar, ahli Uhud, peserta Bai’ah al-Ridwan, kaum Anshar yang mengikuti dua ‘Aqabah, al-Sabiqûn al-Awwalûn, dan mereka yang pernah melakukan shalat menghadap dua kiblat.[3] Inilah pandangan Sunni tentang tingkatan-tingkatan sahabat Nabi Muhammad Saw.

Seluruh ulama Syi‘ah Imamiyah sepakat bahwa para sahabat Nabi Muhammad Saw memiliki keutamaan yang tidak sama. Berbeda dengan ulama Sunni, para ulama Syi‘ah Imamiyah menilai para sahabat seperti Abû Bakar, ‘Umar bin Khatab, ‘Utsmân bin ‘Affân, ‘Aisyah, Thalhah, Jubair, Mu’awiyah bin Abî Sufyan, Amr bin ‘Ash, dan lainnya sebagai sahabat yang tidak memiliki sifat adil. Menurut mereka, para sahabat Nabi Muhammad SAW. yang bersifat adil adalah seperti ‘Alî bin Abî Thâlib, Abû Thâlib, Ja’far bin Abî Thâlib, Hamzah, Mus’ab al-Khair, Abû Dzar, Miqdâd, Salman al-Farisî, Ammar bin Yassir, Malik al-Asytar, Habib bin Madzahir, Maitsam al-Tammar, al-Mukhtar, Kumail bin Ziyad, Sa’id bin Jubair, dan masih banyak lagi. Inilah pandangan Syi‘ah Imamiyah tentang nama-nama sahabat Nabi Muhammad SAW. yang memiliki sifat adil. Mereka lebih utama dan adil dari pada para sahabat yang dianggap kaum Sunni sebagai sahabat-sahabat yang utama.[4]

B. Cara Mengetahui Sahabat

Ada sejumlah cara mengetahui para sahabat nabi Muhammad Saw. Umat Islam bisa mengetahui para Sahabat itu melalui sejumlah cara tersebut. Berikut ini adalah sejumlah cara mengetahuinya, sebagaimana ditulis oleh Ibn Hajar Al-Asqalani dan Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib:[5]
  1. Pertama, Khabar Mutawatir. Khabar Mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak yang mustahil menurut adat bahwa mereka bersepakat untuk berbuat dusta. Misalnya hadis yang menyatakan bahwa Abû Bakar, ‘Umar bin Khattab, ‘Utsmân bin ‘Affân, ‘Alî bin Abî Thâlib, serta sejumlah sahabat telah mendapat jaminan masuk surga secara tegas, yaitu para Khulafâ’ Rasyidîn, Sa’ad bin Abî Waqqâs, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin ‘Ubaid Allâh, Zubair bin Awwâm, ‘Abd Rahman bin ‘Auf, dan Abû Ubaidah Amîr bin al-Jarrah. 
  2. Kedua, Khabar Masyhur (Mustafidh), khabar ini berada di bawah status Mutawatir. Khabar Masyhur adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih, pada setiap tingkatan sanad, selama tidak sampai kepada tingkatan mutawatir. Misalnya hadis yang menyatakan bahwa seseorang itu sahabat Nabi Muhammad Saw seperti ‘Akasyah bin Muhshan dan Dhammam bin Tsa’labah. 
  3. Ketiga, salah seorang sahabat memberikan khabar bahwa seseorang berstatus sahabat. Misalnya, Hamamah bin Abû Hamamah al-Dausî yang meninggal di Ashbahan karena sakit perut, lalu Abû Musa al-Asy’arî memberikan kesaksian bahwa ia seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. 
  4. Keempat, seseorang mengkhabarkan diri sebagai sahabat setelah diakui keadilan dan kesezamanannya dengan Nabi Muhammad Saw. Asal saja khabar ini dilakukan sebelum berlalu 100 tahun dari kewafatan Nabi Muhammad Saw sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukharî dari Ibn ‘Umar. 
  5. Kelima, seorang dari tabi’in yang terpercaya mengkhabarkan bahwa seseorang berstatus sebagai sahabat.
Sedikit berbeda secara redaksi dengan metode dari Ibn Hajar al-Asqalânî, ‘Ajaj al-Khatib dan al-Shiddieqy di atas, Subhi al-Shalih menyatakan bahwa para ‘ulama telah membuat sejumlah ketentuan, apabila salah satu telah dipenuhi, maka seseorang sudah bisa disebut sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw, antara lain:[6]
  1. Pertama, sudah diketahui secara luas kesahabatannya, seperti 10 orang sahabat yang mendapat kabar akan masuk surga, yakni para Khulafâ’ al-Rasyidîn, Sa’ad bin Abî Waqqas, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin ‘Ubaid Allâh, Zubair bin Awwam, ‘Abd Rahman bin ‘Auf, dan Abû Ubaidah Amîr bin al-Jarrah. 
  2. Kedua, dikenal kesahabatannya, meskipun tidak begitu luas, seperti Dhimam bin Tsa’labah dan ‘Akasyah bin Muhashshin. 
  3. Ketiga, pengukuhan sahabat terkenal bahwa seseorang adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Misalnya, pengukuhan Abû Musa al-Asy’arî terhadap Humamah bin Abî Humamah al-Dausî. 
  4. Keempat, pengakuan seseorang yang terkenal adil, terpercaya dan melingkupi batas waktu yang mungkin. Para ‘ulama menentukan batas waktu yang mungkin itu tidak melewati tahun 110 H. Sahabat Nabi Muhammad SAW. yang wafat paling akhir bernama Abû Thufail Amîr bin Wa’ilah al-Laitsî. Beliau wafat pada tahun 110 H. di kota Makkah.
Agaknya metode-metode ini diterima oleh semua ‘ulama, tidak saja ulama dari kelompok Sunni, namun pula para ‘ulama dari ‘ulama Syi‘ah Imamiyah.

ENDNOTE

[1] Imâm al-Nawâwî, Al-Taqrib wa al-Taisir li Ma’rifat Sunan al-Basyir al-Nadzir (Beirut: Dâr al-Fikr, 1988), h. 125.
[2] Imam  Hakim,  Kitab  Ma’rifah  ‘Ulum al-Hadits  (Madinah:  al-Maktabah  al-Ilmiyah,  1997),  h. 22-24.
[3] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul Hadis terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), Cet. IV, h. 381.
[4] Kamal al-Sayyid, The Companions of the Prophet and Their Followers (Qom: Ansariyan Publications, 2000), h. 23-24.
[5] Ibn Hajar Al-‘Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyis al-Shahabah (Beirut: t.p.: 1992), h. 6.; dan Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul Hadis, h. 381.

Cara mengetahui sahabat, staratifikasi sahabat, tingkatan sahabat

Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.