Kajian tentang Tuhan di Zaman Modern

Salam hangat Sobat SQ Semuanya, menutup pembahasan mengenai filsafat ketuhanan sebelumnya, admin akan menguraikan sekilas pandangan tentang Tuhan di zaman modern sekrang ini, tentunya dalam perspektif filsafat. Seraya mengingatkan beberapa topik terkait sebelumnya, yaitu Bincang-bincang Mengenai TuhanKonsep Tuhan dalam Islam, dan Tuhan Menurut Ilmu Pengetahuan.

Kegelisahan kalangan ilmuwan Barat terhadap Tuhan tidak lagi tersimpan hanya di dalam benak mereka, tetapi sudah diungkapkan ke dalam tulisan yang lebih serius. Sebenarnya, keberadaan dan peran Tuhan pernah dipertanyakan oleh filosof Inggris, Francis Bacon. Kemudian dikembangkan oleh filosof Prancis, August Comte yang dikenal dengan teori positivieme, yang menganggap peran agama dan Tuhan sudah digantikan oleh kemampuan kreatif manusia. Namun kaum Positivis belum memberikan uraian lebih mendalam tentang bagaimana peran agama dan eksistensi Tuhan.[1]

Pada abad ke-17, bahkan sebelumnya, yaitu ketika Renaisans telah terjadi upaya membawa dunia Barat ke arah sekularisme dan penipisan peran agama dalam kehidupan sehari-hari manusia. Akibatnya, lahir sejumlah orang Barat yang secara praktis tidak lagi menganut agama Kristen atau Yahudi. Orang semacam Comte, yang pikiran-pikirannya begitu anti metafisis menjadi jalan mulus menuju ke arah sekularisme dunia Barat. Ditambah dengan filsafat sosial Karl Marx yang menegaskan bahwa agama adalah candu masyarakat yang karenanya harus ditinggalkan. Puncaknya ketika Nietzsche mengeluarkan statemennya bahwa Tuhan telah mati (the God is dead).[2]

Benih kemunculan filsafat Ketuhanan dalam dunia modern mula-mula muncul di negeri Inggris. John Stuart Mill merupakan salah satu tokohnya yang turut mempengaruhi pandangan-pandangan filosof sesudahnya. Pandangan Stuart Mill ditunjang oleh pendapat-pendapat yang datang silih berganti sesudahnya. Konsep ajarannya berdiri di atas satu dasar, yaitu evolusi kemunculan (emergent evolution). Dari penamaan teorinya, para filosof pendukung teori ini mengebangkan teori evolusi yang dicetuskan oleh Darwin. Di antara filosof dalam jalur ini selain John Stuart Mill ialah, Loyd Morgan, Samuel Alexander (yang menggabungkan pemikiran Darwin, Hegel, dan Einstein), dan Marshall Christian Smitz. Konsep Tuhan dalam pandangan ini menyatakan bahwa wujud Tuhan selalu bersama di atas bersama zaman yang abadi, tanpa kesudahan. Selain di Inggris, William James dan Josiah Royce masing-masing mewakili aliran filsafat ketuhanan ini di benua Amerika.[3]

Di belahan Eropa lainnya, tepatnya di Prancis, Henry Bergson merupakan seorang filosof yang memiliki teori evolusi kreatif (Creative Evolition). Teorinya menyatakan bahwa Sang Pencipta (Tuhan) bukanlah seperti yang digambarkan oleh para pemeluk agama dan tidak pula seperti yang dilukiskan oleh para pendukung filsafat mekanisme. Menurut Bergson, kelompok pertama menyerupakan perbuatan Sang Pencipta dengan perbuatan manusia. Sedangkan kelompok kedua, pikiran mereka dikalahkan oleh selubung industri, sehingga mereka menyangka bahwa alam semesta itu seperti mesin-mesin raksasa. Jalan tengah antara dua pendapat tersebut menurut Bergson adalah bahwa kekuatan yang menciptakan atau evolusi pencipta (Creative Evolution) itu ada di dalam alam semesta dan tidak terdapat di luar alam semesta. Kekuatan itu adalah gerakan terus-menerus yang menghadapi kesulitan dari perlawanan kejumudan yang terus-menerus, yaitu kejumudan benda mati.[4]

Selain Inggris dan Prancis, Jerman juga memiliki peranan penting dalam topik ini. Ajaran filsafat dari negeri tersebut yang paling terkenal ialah Phenomenology atau Existentialism yang banyak bertumpu pada ukura-ukuran buat menelaah serangkaian kebenaran dan mengadakan pemisahan antara bidang ilmu, filsafat, dan pengalaman kejiwaan. Di antara filosofnya yang terkenal ialah Friedrich Wilhelm Nietzsche yang menyatakan Tuhan telah mati; Edward van Hatmann yang berpandangan bahwa Tuhan bukanlah suaru Zat dan Ia tidak merasakan diri-Nya sendiri atau Ia tidak memiliki aku yang menjelma pada alam; dan Spengler yang berpendapat bahwa Tuhan tidak lain adalah kehendak.[5]

Para filosof yang berbeda-berbeda pandangan dalam masalah ini bertemu dalam pengukuhan kehendak tentang kebenaran-kebenaran alami dan sifat-sifat Tuhan. Itulah pokok pelajaran yang banyak berisi pandangan-pandangan terkait akal, karena pengukuhan kekuatan dalam pelbagai ajaran Jerman, dan pengukuhan prinsip Ketuhanan di Inggris tidak terjadi secara kebetulan saja. Pada sisi lain, filosof modern mengecam kaum beragama yang memasukkan gambaran manusia ke dalam pemahaman hakikat-hakikat abstrak. Mereka mengaitkan beragam sifat perbuatan yang hanya mungkin dilakukan manusia kepada Tuhan.

Secara umum, mazhab filsafat Ketuhanan dalam dunia modern cenderung materialisme-positivisme. Pandangan dalam mazhab ini menegaskan bahwa ungkpan tentang Tuhan tidak memiliki makna. Maksimal ungkapan-ungkapan itu hanya benar secara logis-gramatikal dan merupakan ekspresi psikologis sang pembicara tetapi tidak memiliki muatan rujukan ataupun objek ontologis.[6] Budaya saintisme yang menjadi prasayarat utama bagi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa mengajarkan manusia hanya untuk memperhatikan dan mengetahui gejala-gejala fisikal dan material saja. Cara memandang dengan metode positivistik ini ternyata berhasil secara mengagumkan. Satu dari konsekuensi niscaya dari metode itu adalah hilangnya kesadaran akan nilai-nilai spritual yang suci yang bersifat transsendental.[7]

Perkembangan dan kemajuan masyarakat modern saat ini yang terus meningkat dan berhasil dalam berbagai aspek, akhirnya berkembang lepas dari kontrol agama. Iptek yang landasan pokoknya bersifat sekuler bagi sebagian besar orang di Barat akhirnya menggantikan posisi agama. Segala kebutuhan agama seolah bisa terpenuhi dengan dan melalui iptek. Namun dalam kurun waktu yang panjang, iptek ternyata menghiantai kepercayaan manusia. Kemajuan iptek justru identik dengan bencana. Kondisi inilah yang tampaknya membuat masyarakat Barat mengalami apa yang disebut Nurcholish Madjid, yang dikutinya dari Baigent sebagai krisis epistemologis, yakni masyarakat Barat tidak lagi mengetahui tentang makna dan tujuan hidup (meaning purpose of live).[8]


Perdebatan apakah Tuhan bisa dipahami dan dijelaskan, atau sebaliknya oleh nalar manusia sesungguhnya sudah merupakan persoalan klasik. Oleh karenanya, pembahasan mengenai hakikat Tuhan sejak dahulu terdapat perbedaan jelas antara religious language dan scientific language. Walaupun sebelumnya telah dijelaskan bahwa para saintis akhirnya turut serta memberikan sumbangsih dalam membuktikan ekssistensi tuhan melalui berbagai sudut pandang analisa ilmu pengetahuan. Namun, masih ada juga di antara mereka yang menghasilkan kesimpulan lain yang mengarah pada kesangsian akan keberadaan Tuhan.


Para pemikir kenamaan seperti Bertrand Russel, Alfred J. Anyer maupun August Comte berpendapat bahwa semua deskripsi yang diletakkan pada Tuhan tidak bisa diverifikasi kebenarannya maupun kesalahannya karena Tuhan diyakini sebagai yang Maha Abstrak yang berada diluar dunia manusia. Bagaimana mungkin manusia menpertahankan pendapatnya mengenai Tuhan kalau sejak awal mereka sudah sepakat bahwa Tuhan jauh di luar wilayah jangkauan manusia? Oleh karenanya, bagi penganut agnostisisme, pernyataan Tuhan ada ataupun tidak ada, keduanya sama saja nilainya karena kedua proposisi itu tidak bisa diverifikasi.[9]

Dari gambaran filsafat Ketuhanan yang terjadi pada zaman modern di atas, melahirkan fenomena menarik dalam beragama di Barat pada dekade terakhir, yaitu:[10]
  1. Pertama, kelompok yang tetap nempertahankan tradisi lamanya tanpa peduli perkembangan apa pun di sekitarnya. Mereka tetap mempertahankan tradisi keagamaan mereka yang diwarisi secara turun-temurun dari leluhur mereka. Di wilayah Timur, kelompok ini dianggap sebagai kelompok mainstream dan mayoritas, tetapi di Barat kelompok ini diposisikan sebagai kelompok sempalan (fringe).
  2. Kedua, mengakui adanya Tuhan tetapi cenderung tidak percaya terhadap intuisi dan pranata agama. Mereka tetap percaya keberadaan Tuhan tetapi tidak mau terikat dengan tradisi keagamaan. Mereka berkenyakinan Tuhan hanya satu untuk semua agama, karena itu bebas untuk mengikuti ritual-ritual kebaktian agama lain.
  3. Ketiga, kelompok Ateis yang memang sudah tidak mau mengakui adanya Tuhan atau tidak mau pusing apakah Tuhan itu ada atau tiada. Kelompok ini sebetulnya juga belum bisa disebut Ateis sejati karena mereka masih tetap respek terhadap kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Mereka masih percaya terhadap kecenderungan suara hati nurani dan bagi mereka itu lebih penting ketimbang ajaran agama atau sabda Tuhan.
  4. Keempat, kelompok yang mengalihkan perhatian dan kegelisahannya pada nilai-nilai ketimuran, khususnya nilai-nilai keislaman. Mereka tidak puas dengan agama yang dianutnya selama ini tetapi mereka tidak berani menjadi Ateis. Mereka juga masih sangat percaya adanya Tuhan dan masih menganggap perlunya agama berperan di dalam kehidupan, meskipun dalam skala yang terbatas.
Sekian, by ADMIN


ENDNOTE


[1] Nasaruddin Umar, Islam Fungsional; Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman (Jakarta: Gramedia, 2014), Cet. I, h. 185.
[2] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 46.
[3] Abbas Mahmud Aqqad, Tuhan Disegala Zaman, terj. M. Adib Bisri dan A. Rasyad dari judul asli “Allah” (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), Cet. I, h. 239-242.
[4] Abbas Mahmud Aqqad, Tuhan Disegala Zaman, terj. M. Adib Bisri dan A. Rasyad dari judul asli “Allah” (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), Cet. I, h. 254-255.
[5] Abbas Mahmud Aqqad, Tuhan Disegala Zaman, h. 256-257.
[6] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 35.
[7] Komaruddin Hidayat dan M. W. Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. h. 45.
[8] Komaruddin Hidayat dan M. W. Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. h. 46-47.
[9] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 28.
[10] Nasaruddin Umar, Islam Fungsional; Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman (Jakarta: Gramedia, 2014), Cet. I, h. 188-189.

ilmu dan filsafat, tuhan, Tuhan dalam ilmu pengetahuan, Tuhan di zaman modern

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.