Bincang-bincang Mengenai Tuhan

Salam Sobat SQ Blog, dimana pun berada, moga baik dan sehat selalu, amin..! Admin setelah beberapa lama jeda memberikan postingan blog ini, malam ini kembali membagikan satu pembahasan baru dalam blog ini. Isinya sich relatif berat, sedikit menyita pikiran sebab menyinggung mengenai filsafat, yaitu pembicaraan mengenai Tuhan. Tulisan ini admin telah presentasikan dalam mata kuliah filsafat umum beberapa waktu lalu di bawah bimbingan Prof. Dr. Zainun Kamal, F, M.A.

Sebelum panjang lebar, sobat semuanya apakah termasuk penggemar filsafat atau sebaliknya? Jika tidak ya juga tidak apa-apa. Mengutip salah satu istilah dalam filsafat, "aku berpikir, karena itu aku ada." Jadi sobat semuanya, semoga aja kita semuaya termasuk orang yang senantiasa berpikir, dan filsafat adalah  salah satu ruang pelampiasannya. hehe...

Kembali ke topik, perbincangan mengenai Tuhan. Tulisan ini admin kelompokkan ke dalam tiga pembahasan yaitu:
  1. Pendahuluan; Bincang-bincang mengenai Tuhan
  2. Konsep Tuhan dalam Islam
  3. Konsep Tuhan dalam Ilmu Pengetahuan
Pada kesempatan kali ini, ulasan pertama adalah sebuah Pendahuluan dengan topik Bincang-bincang Mengenai Tuhan. Berikut uraiannya sobat:

>> Topik Tuhan dalam Sejarah

Perkembangan dan pertumbuhan manusia dari kecil hingga besar turut serta diiringi dengan rasa ingin tahu yang terus bergejolak. Dalam lubuk hati yang dalam, memancar kecenderungan untuk tahu berbagai rahasia yang masih merupakan misteri yang terselubung. Dari arus pertanyaan yang mengalir dalam bisikan hati itu, terdapat suatu cetusan yang mempertanyakan tentang penguasa tertinggi alam raya ini yang harus terjawab. Pada tahap ini, bukan saja naluri yang bergejolak tetapi otak dan logika mulai untuk membentuk pengertian dan mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan.[1]

Demikianlah fitrah manusia bergejolak mencari dan merindukan Tuhan, mulai dari bentuk yang dangkal dan bersahaja berupa perasaan sampai ke tingkat tinggi berupa penggunaan akal (filsafat). Berbagai cara ditempuh orang, sepanjang sejarah manusia, karena ingin mengetahui; Adakah Tuhan? Di mana Dia? Siapa Dia? Bagaimana? Para Nabi Nabi sudah datang member tuntunan melalui agama. Manusia tak pernah puas. Ingin mencari sendiri melalui akal pikiran. Dalam sejarah filsafat sejak ribuan tahun yang silam, yang juga dikenal sejak masa filsafat sofisma Yunani, sudah mempersoalkan Tuhan dari segi filsafat dan sampai sekarang.[2]

Sehubungan hal ini, Abbas Mahmud Aqqad dalam bukunya menyebutkan bahwa awal mulanya orang-orang kuno menganggap adanya Tuhan dengan kekuasaan yang terbatas, karena mereka mempercayai banyak Tuhan atau adanya dua Tuhan. Mereka saling berlaga dan kalah-mengalahkan, dalam perannya masing-masing sebagai Tuhan (dewa) kebaikan dan Tuhan keburukan, atau Tuhan cahaya dan Tuhan Kegelapan.[3] Asumsi ini dipahami bahwa kenyakinan terhadap Tuhan di awali dalam bentuk paham politeisme.

Keterangan di atas ditanggapi dengan mengutipWilhem Schmidt dalam bukunya The Origin og the Idea of God, Armstrong berpendapat bahwa paham monoteisme muncul lebih dahulu. Paham monoteisme ini sudah dikenal sejal dahulu sebelum orang-orang kemudian beralih menyembah Tuhan-tuhan yang banyak (politeisme). Dengan demikian ajaran monoteisme yang didakwakan oleh agama-agama semitik sesungguhnya bukanlah hal yang baru, melainkan mempertegas dan memperjelas kembali paham yang pernah tumbuh tetapi karena berbagai faktor lalu menjadi samar-samar. Dalam sejarahnya, manusia menyembah Tuhan yang Maha Esa dan mutlak itu dengan berbagai nama dan istilah, namun secara subtansial beragam nama itu menunjuk kepada Zat yang sama.[4]

Terlepas dari perbedaan tersebut, apakah monoteisme muncul lebih awal baru kemudian terjadi perkembangan ke arah politeisme dan berakhir pada monoteisme, namun dari perbedaan keduanya dapat dipastikan bahwa manusia telah memiliki naluri bertuhan sejak awal. Boleh jadi fitrah ini sama sekali tertutup kabut kegelapan sehingga nampak manusia tidak mau tahu siapa penciptanya, namun kekuatan fitrah ini tidak dapat dihapuskan sama sekali. Dia sewaktu-waktu muncul ke permukaan lautan kesadaran memanifestasikan kecenderungannya merindukan Tuhannya yang begitu baik budi. Dan betapa bahagianya para hamba yang disambut mesra oleh penciptanya dalam bentuk petunjuk yang diwahyukan-Nya melalui Rasul-rasul-Nya. Disinilah terdapat perpaduan antara naluri, akal, dan wahyu yang membuahkan ma’rifah terhadap Tuhan dengan sebenar-benarnya.[5]

Sejalan dengan keterangan di atas, Hamka mengungkapkan bahwa orang yang menolak atau membantah agama sebagai petunjuk dari Tuhan, maka dia sebenarnya membantah jiwa murninya sendiri yang fitrah.[6] Dengan demikian, dalam sejarah pemikiran manusia, sejak awal manusia sudah mampu menangkap tentang adanya satu kekuatan yang mengatasi dan maha kuat, yang diyakininya sebagai pencipta dan penguasa kehidupan umat manusia. Ini artinya bahwa pengetahuan tentang adanya satu Tuhan telah secara sadar dimiliki oleh setiap orang. Inilah kemudian yang menjadikan manusia disebut sebagai homo religious.[7]

>> Lahirnya Filsafat Ketuhanan

Filsafat ketuhanan atau teologi filsafat adalah hikmah (kebijaksanaan) menggunakan akal pemikiran dalam menyelidiki Ada dan Esa-Nya Tuhan. Para filsuf mengemukakan kesimpulannya bahwa faham ketuhanan bukan hanya suatu dogma belaka atau suatu kepercayaan yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya melalui akal fikiran, melainkan suatu kepercayaan yang berakar pada pengetahuan yang benar.[8] Quraish Shihab dalam mencari padanan kata “dogma” merujuk pada kata “usthurah” yang berarti uraian yang tidak memiliki dasar. Sungguhpun demikian, beliau menyadari bahwa kata tersebut tidak terlalu tepat, karena dogma merupakan ajaran yang harus diterima sebagai kebenaran sehingga tidak boleh dibantah lagi atau didiskusikan apapun alasannya.[9]

Tegasnya, ketuhanan adalah suatu kebenaran yang logis yang dapat dibuktikan melalui kaidah-kaidah logika. Namun dapat dinyatakan bahwa ini hanyalah salah satu pilihan dalam permasalahan ini. Sebab akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan dengan hal-hal yang gaib. Walaupun tidak dipungkiri akan peranannya dalam mendiskusikan akan Ada dan Esa-Nya Tuhan. Dalam konteks al-Quran, sesungguhnya bukan akal yang lemah dan tidak sanggup, namun kesucian akan dan hati yang diperlukan ketika melakukan proses pencarian Tuhan. Dalam ilmu tentang eksistensi Tuhan dan penyingkapan tentang Rohani terdapat 3 macam ilmu,[10] yaitu:
  • Ilmu yang rasional (rational science), yaitu ilmu yang berdasarkan rasio, logis dan dialektika;
  • Ilmu yang irasional (irrational science), yaitu ilmu yang sulit dijangkau oleh akal dan diluar pengetahuan manusia. Ilmu ini bukan di artikan sebagai tidak rasional, tetapi sulit dicerna akal. Tetapi bila ilmu tersebut telah dapat diungkapkan. Maka derajatnya turun dari irasional menjadi transraisional; dan
  • Ilmu transraisonal, yaitu ilmu dapat dicerna akal, tetapi sulit untuk menggambarkannya. Wilayah cakupannya antara metafisis dan logika.
Pembagian tingkatan ilmu di atas menunjukkan akan keterbatasan akal dalam beberapa hal khususnya hal-hal yang menyangkut perkara gaib. Dengan demikian, akal memiliki wilayahnya yang tidak dapat dilampauinya. Wilayahnya adalah alam fisika, sedangkan alam metafisika adalah wilayah agama. Namun, baik akal maupun agama harus saling mengakui dan tidak boleh bertentangan. Begitu dia bertentangan, maka ada salah satunya yang keliru. Namun, sekali lagi harus digarisbawahi bahwa ada perbedaan antara sesuatu yang bertentangan dengan akal dan sesuatu yang tidak atau belum dimengerti akal.[11] Inilah yang dimaksud ilmu irasional seperti disebutkan di atas. Oleh karena itu, harus ditekankan bahwa ajaran agama tidak satu pun yang bertenatangan dengan agama, namun ada yang tidak dipahami oleh akal.

>> Ruang Lingkup Filsafat Ketuhanan

Diskusi tentang Tuhan merupakan salah satu cabang dari objek kajian dalam filsafat. Konsepsi mengenai Tuhan adalah Zat yang ada secara mutlak, yakni zat yang wajib adanya, tidak tergantung kepada apa dan siapa pun juga. Adanya tidak berpemulaan dan tidak berpenghabisan, Ia terus menerus ada karena adanya dengan pasti. Ia merupakan asal adanya segala sesuatu. Ini disebutkan orang dengan istilah “Tuhan”, dalam bahasa Yunani disebutThe-odicea dan dalam Bahasa Arab disebut “Allah” atau “Ilahi”.[12]

Suatu istilah yang lazim dipergunakan dalam ilmu Ketuhanan antara lain perkataan “teologi”. Teologi terdiri dari kata “theos” yang berarti Tuhan dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu Ketuhanan. Dalam encyclopaedia Everyman’s menyebutkan tentang teologi dengan. “pengetahuan tentang Tuhan dan manusia dalam pertaliannya dengan Tuhan”. Dalam ranah ini, filsafat memiliki peranan penting terhadap agama, yaitu dengan mensistematisasikan, membetulakan dan memastikan ajaran agama yang berdasarkan wahyu.[13]

Walaupun demikian. Terdapat pendapat-pendapat yeng memandangnya kurang tepat karena seorang ahli teologi dapat melakukan penyelidikannya secara bebas tanpa terikat oleh sesuatu agama. Karena itu memandang lebih tepat kalau dikatakan kalau teologi dapat dihayati oleh agama dan dapat juga tidak bercorak agama tetapi bercorak filsafat (natural teologi atau philosophical teologi). Untuk mengetahui lapangan pembahasannya secara khusus biasanya perkataan “teologi” dikaitkan dengan keterangan kualifikasi, misalnya teologi filsafat, teologi masa kini, teologi Kristen, teologi Katholik, teologi wahyu, teologi pikiran, teologi islam dan lain-lain. Tegasnya, teologi adalah ilmu yang membahas Ketuhanan dan pertaliannya dengan manusia, baik disandarkan kepada wahyu maupun disandarlam kepada penyelidikan akal-pikiran (rational theology).[14]

Perbedaan antara filsafat ketuhanan dengan Agama didapati di dalam system yang dipergunakan. Agama mengajarkan manusia mengenal Tuhannya atas dasar wahyu (Kitab Suci) yang kebenarannya dapat dipuji dengan akal fikiran. Sebaliknya, filsafat ketuhanan mengajarkan manusia mengenal Tuhan melalui akal-fikiran semata-mata yang kemudian kebenarannya didapatkan sesuai dengan wahyu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa baik agama maupun filsafat Ketuhanan sama-sama bertolak dari pangkan pelajaran mengenai Tuhan, tetapi jalan yang ditempuh berbeda. Masing-masing menempuh cara dan jalannya sendiri, namun keduanya akan bertemu kembali di tempat yang dituju dengan kesimpulan yang sama; Tuhan Ada dan Maha Esa.[15]

SEKIAN

Oleh: Hasrul

Nantikan 2 topik terkait berkut:
Konsep Tuhan dalam Islam
Konsep Tuhan dalam Ilmu Pengetahuan

ENDNOTE:


[1] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 10.
[2] Ali Audah, Dari Khasanah Dunia Islam (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), Cet. I, h. 304-305.
[3] Abbas Mahmud Aqqad, Tuhan Disegala Zaman, terj. M. Adib Bisri dan A. Rasyad dari judul asli “Allah” (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), Cet. I, h. 236.
[4] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 24-25.
[5] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 10.
[6] M. Abduh Almanar, Pemikiran Hamka; Kajian filsafat dan Tasawuf (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1993), Cet. I, h. 25
[7] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 36.
[8] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan, h. 20.
[9] M. Quraish Shihab, Logika Agama; Batas-batas Akal dan Kedudukan Wahyu dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005), Cet. II, h. 85
[10] Samudra, Azhari Aziz dan Setia Budi, Hakekat Akal Jasmani dan Rohani Bagian 1 (t.tp.: Yayasan Majelis Ta’lim HDH, 2004), Cet. I, h. 15-16.
[11] M. Quraish Shihab, Logika Agama; Batas-batas Akal dan Kedudukan Wahyu dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005), Cet. II, h. 92-93
[12] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 18.
[13] Abdul Halim, Teologi Islam Rasional; Apresiasi Terhadap Wacana dan Praktis Harun Nasution (Jakarta: Ciputat Pers, 2001), Cet. I, h. 135
[14] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 21-22.
[15] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan, h. 24-25.

Filsafat, ketuhanan, filsafat ketuhanan, berfikir

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.