Mushaf Litografi (Cetak Batu)

Sobat SQ - Tahukah anda bahwa keberadaan mushaf al-Quran juga mengikut perkembangan dunia percetakan? Dari tulis manual dengan tangan, Cetakan Batu (Litografi), Cetakan Logam (Tipografi), Cetakan Elektronik, hingga cetakan Digital yang berkembang pesaat saat ini. Adapun kesempatan ini, admin mengajak sobat melihat kebelakang sejarah perkembangan percetakan al-Quran dengan teknik Litografi (Cetakan Batu). Semoga dapat menambah wawasan sobat sekalian. Simak uraiaannya berikut ini.

Penyalinan al-Quran secara manual terus berlangsung sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 yang berlangsung diberbagai kota dan pusat kebudayaan Islam masa lalu. Beriring waktu, berhentinya penyalinan mushaf al-Quran secara manual tidak berarti tidak ada lagi proses produksi. Justru saat itulah mulai muncul teknik penyalinan yang lebih modern dan masif. [1] Diantaranya, percetakan al-Quran dengan tehnik litografi (cetak batu). Uraian berikut mencakup mushaf litografi dari India, Turki, Singapura dan Palembang.

Litografi adalah teknik yang ditemukan pada tahun 1798 oleh Alois Senefelder dan berdasarkan tolakan kimia minyak dan air. Pemilihan percetakan dengan teknik litografi dalam dunia Islam sebab Mushaf yang dicetak dengan teknik tifografi (sistem susun satuan huruf dari logam) tidak banyak memuaskan kaum muslimin. maka tidak mengherankan, meskipun di Eropa mushaf al-Qur’an telah mulai dicetak sejak abad ke-16, namun tidak berkembang di dunia Islam. [2] Beberapa mushaf cetakan ini yang dapat di amati ialah:

a. Mushaf Cetakan Palembang

Mushaf litografi yang masih ada hingga sekarang adalah mushaf yang selesai dicetak pada 20 Agustus 1848 di Palembang oleh Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah. sejauh yang diketahui hingga kini, inilah mushaf cetakan litografi tertua di Asia Tenggara. Mushaf ini dicetak menggunakan alat cetak paris Lithographique yang dibeli oleh Azhari di Singapur sepulang dia dari haji.

b. Mushaf Cetakan Singapura

Mushaf-mushaf cetakan batu lainnya yang banyak beredar di Nusantara pada akhir abad ke-19 adalah cetakan singapura. Tinggalan mushaf ini tersebar diberbagai daerah, dari Sumatera hingga Maluku. Pada saat itu Singapura menjadi salah satu pusat percetakan dan distribusi buku-buku keagamaan di Asia Tenggara.[3] Al-Quran cetakan Singapura ini selesai disalin pada 1 Syawal 1284 H (26 Januari 1868).

c. Mushaf Cetakan Bombay (India)

Mushaf cetak lainnya yang banyak beredar di Asia Tenggara terutama sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 adalah cetakan Bombay atau Mumbai, India. Kota di pantai barat India ini merupakan pusat percetakan buku-buku keagamaan yang diedarkan secara luar dikawasan Asia Tenggara. Luasnya peredaran itu dapat dilihat dari peninggalan mushaf cetakan India yang terdapat di beberapa daerah, yaitu Pelembang, Demak, Madura, Bima, Malaysia, hingga Filipina Selatan. Gaya tulisannya terlihat dari ciri huruf dan harakatnya yang tebal. [4]

d. Mushaf Cetakan Turki

Dalam sejarah al-Quran pojok di Turki, tercatat yang paling tua adalah sebuah mushaf bertahun 1598 dengan 14 baris tulisan. Pada awalnya, jumlah baris setiap halaman bervariasi, namun sejak paruh kedua abad ke-18 mushaf jenis ini selalu terdiri atas 15 baris dan ini menjadi standar sampai berakhirnya penyalinan naskah mushaf secara manual pada akhir abad ke-19.

Sehubungan hal tersebut, penerbit Menara Kudus yang melakukan kegiatan cetak al-Quran pojok tidak mencantumkan nama penulis “Qur’an Pojok” yang dicetaknya. Pada sisi lain dari perbandingan tulisan dapat diketahui secara pasti bahwa al-Quran tersebut adalah reproduksi (copy ulang) sebuah al-Quran yang diterbitkan oleh Percetakan Usman Bik, Turki. Di bagian belakang mushaf terdapat kolofon bahwa mushaf ini ditulis oleh Mustafa Nazif, dan telah ditashih oleh Hai’ah Tadqiq al-Masahif asy-Syarifah pemerintah Turki di Percetakan Usman Bik, Jumada al-Ula 1370 H (Februari-Maret 1951). Di bagian flap sampul terdapat tulisan “Muhammad Salih Ahmad Mansur al-Baz al-Kutubi bi-Bab al-Islam bi-Makkah al-Mukarramah”. Informasi ini menguatkan bahwa menara kudus melakukan cetak ulang pada jenis al-Quran pojok yang berasal dari Turki.

Walaupu demikian, tidak semua “al-Quran Pojok” yang beredar di Indonesia merupakan hasil cetak ulang atas al-Qur’an dari Turki. Penerbit Wicaksana, Semarang, Jawa Tengah pada tahun 2001 menerbitkan al-Qur’an hasil karya Safaruddin dari Panunggalan yang selesai ditulisnya pada tahun 1418 H (1997-1998).

Nah Sobat, untuk melihat beberapa aspek teks dan visual pada mushaf yang dicetak dengan teknik litografi dapat dilihat di bawah ini:

Mushaf Dunia Islam
NO MUSHAF ASPEK TEKS DAN VISUAL
1 Palembang Aspek Teks
(1) Rasm (2) Khat/Tulisan (3) Kertas
Imla'i Naskhi Dicetak dengan Paris Lithographi Que
Aspek Visual
(4) Periode (5) Iluminasi (6) Ukuran
Dicetak pada 20 Agustus 1848 Memiliki Iluminasi dengan latar emas yang istimewa -
2 Singapura Aspek Teks
(1) Rasm (2) Khat/Tulisan (3) Kertas
- - -
Aspek Visual
(4) Periode (5) Iluminasi (6) Ukuran
Abad ke-19
Selesai di salin pada 1 Syawal 1284 H
(26 Januari 1868 M)
Setiap halaman beriluminasi nan-indah -
3 India
(Bombay)
Aspek Teks
(1) Rasm (2) Khat/Tulisan (3) Kertas
Usmani Naskhi -
Aspek Visual
(4) Periode (5) Iluminasi (6) Ukuran
- - -
4 Turki Aspek Teks
(1) Rasm (2) Khat/Tulisan (3) Kertas
- Naskhi -
Aspek Visual
(4) Periode (5) Iluminasi (6) Ukuran
Tahun 1598 - 19,5 x 13, 5 cm
Tebal 5 cm

Demikian sekilas sejarah mushaf litografi (catak batu) dari Palembang, Singapura, India dan Turki yang disajikan secara rinci dalam resume ini. Mudah-mudahan dapat menambah wawasan para pembaca dimana saja terhadap sejarah mushaf-mushaf al-Quran baik di dunia Islam maupun nusantara khususnya mengenai mushaf litografi.


            ENDNOTE


[1] Abdul Hakim Syukrie, Mushaf Al-Qur’an di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang & DIklat DEPAG RI), hlm. 21
[2] Ibid,  hlm. 22
[3] Ali Akbar, Mushaf Al-Qur’an di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang & DIklat DEPAG RI), hlm. 6
[4] Ibid, hlm. 7

            REFERENSI

[1] Abdul Hakim Syukrie, Mushaf Al-Qur’an di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang & DIklat DEPAG RI), hlm. 21
[2] Ibid,  hlm. 22
[3] Ali Akbar, Mushaf Al-Qur’an di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang & DIklat DEPAG RI), hlm. 6
[4] Ibid, hlm. 7


SEKIAN

Mushaf Litografi (Cetakan Batu), Mushaf Litografi, Mushaf Cetakan Logam

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.