Tafsir Corak Ilmi

Tafsir ilmi adalah kajian tentang arti-arti ayat atau Hadis dalam tinjauan validitasnya dari ilmu pengetahuan alam (sains).[1] Definisi lain menyebutkan bahwa tafsir ilmi merupakan corak penafsiran ayat-ayat kauniyyah dalam al-Quran yang mengaitkannya dengan ilmu modern. Menurut Husein al-Zahabi, tafsir ini membahas istilah-istilah ilmu pengetahuan dalam penuturan ayat-ayat al-Quran, serta berusaha menggali dimensi keilmuan dan mengungkap pandangan-pandangannya secara falsafi.[2]

Keberkahan dari al-Quran maupun Hadis sebenarnya hanya diperoleh dengan menghayati dan memahaminya, menuruti serta memanfaatkan petunjuk-petunjuknya. Pemanfaatan tersebut tentu tidak terlepas dari upaya penghayatan, penjelasan dan perincian hasil yang dikehendaki ayat-ayat al-Quran, maupun Hadis.[3] Kerangka inilah yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu tafsir, termasuk tafsir ilmi. Pemahamn terhadap ayat-ayat al-Quran melalui penafsiran mempunyai peranan sangat penting bagi maju mundurnya umat Islam. Demikian juga Hadis atau Sunnah telah menjadi faktor pendukung utama kemajuan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat Islam.[4]

Menurut Arkoun, seorang pemikir Aljazair kontemporer bahwa al-Quran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tidak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk penafsiran (interpretasi) baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal.[5] Memang diakui bahwa bahwa sains (ilmu pengetahuan) itu relatif, sekarang benar, bisa jadi besok salah. Tetapi, bukankah itu ciri dari semua hasil pemikiran manusia, sehingga di dunia tidak ada absolut kecuali Tuhan. Hasil pikiran manusia juga bersifat akumulatif. Ini berarti ilmu akan saling melengkapi dari masa ke masa sehingga ia akan selalu berubah.[6]

Disini manusia dituntut untuk selalu berijtihad dalam rangka menemukan kebenaran. Apa yang dilakukan para ahli hukum, teologi, dan sufi di masa silam dalam memahami ayat-ayat al-Quran merupakan ijtihad baik, sama halnya dengan usaha memahami isyarat-isyarat ilmiah dengan penemuan modern. Usaha tersebut tentu dibarengi dengan sikap kehati-hatian dan kerendahan hati. Tafsir apa pun bentuknya, hanyalah sebuah upaya manusia yang terbatas untuk memahami maksud kalam Tuhan yang tidak terbatas. Kekeliruan dalam penafsiran sangat mungkin terjadi, namun tidak akan mengurangi kesucian al-Quran. Kekeliruan dalam usaha penafsiran ilmiah dapat diminimalkan atau dihindari dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ditetapkan para ulama. Berikut prinsip dasar dalam penyusunan tafsir ilmi:[7]
  1. Memperhatikan arti dan kaidah-kaidah kebahasaan;
  2. Memperhatikan konteks ayat (asbab al-nuzu>l) dan korelasi (munasab) ayat;
  3. Memperhatikan dan tetap mengacu pada hasil-hasil penafsiran bi al-ma’s}u>r (penafsiran dengan riwayat);
  4. Tidak menggunakan ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah menghukumi benar atau salahnya sebuah hasil penemuan ilmiah;
  5. Memahami betul isyarat-isyarat ilmiah yang menyangkut dengan segala objek bahasan ayat, termasuk penemuan-penemuan ilmiah yang berkaitan dengannya; dan
  6. Tidak menggunakan penemuan-penemuan ilmiah yang masih bersifat teori dan hipotesis sehingga dapat berubah.
Tafsir ilmi diharapkan dapat memberikan pemaknaan baru terhadap segala aspek kehidupan dan lebih utama dapat merangsang untuk melahirkan tekhnologi yang bermanfaat. Ini dibutuhkan sebagai media dalam mengungkap rahasia kemukjizatan terkait informasi-informasi sains yang mungkin belum dikenal pada masa turunnya sehingga menjadi bukti kebenaran bahwa al-Quran bukan karangan manusia, namun wahyu Sang Pencipta dan pemilik alam raya.[8] Ranah ini akan berperan penting dalam mengembangkan misi dakwah Islam di tengah kemajuan ilmu pengetahuan.

Oleh: Hasrul

ENDNOTE



[1] Abdul Majid bin Aziz Al-Zindani, at. al., Mukjizat al-Quran dan al-Sunnah tentang IPTEK (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), cet. I, Jilid 2, hal. 25
[2] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxi-xxii
[3] M. Ali al-S}abu>ni>, Studi Ilmu al-Quran terj. Aminuddin dari judul asli Al-T{ibya>n fi> Ulum al-Quran” (Bandung: Pustaka setia, 2008), Cet. X, hal. 240-241
[4] Zaghlul al-Najjar, Sains dalam Hadis (Jakarta: Amzah, 2011), cet. I, Kata Pengantar oleh Mulyadhi Kartanegara, hal. ix
[5] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2009), cet. XVI, hal. 213
[6] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxvi
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxvi-xxvii
[8] Qurais Shihab, et.al., Sejarah dan Ulum al-Quran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. IV, hal. 183

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.