Sekilas Kajian 'Illat dan Syadz dalam Hadis

A. 'ILLAT


Pengertian ‘illat menurut bahasa adalah penyakit dan menurut istilah adalah sebab tersembunyi yang dapat merusak keshahihan sebuah hadits[1].


a. Macam-macam Illat

Al-Hakim dalam kitabnya “Ulumul hadits “telah membagi jenis-jenis ‘illat menjadi sepuluh macam, yang dinukil berikut contohnya oleh Imam as-Suyuthi dengan kesimpulan bahwa mcam-macam ‘illat adalah sebagai:

1. ‘ Illat Pada Sanad

Contoh hadis:

Hadits yang diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid at-Thanafisi, dari Sufyan ats-Tsauri, dari Amru bin Dinar, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kedua orang yang berjual beli itu dapat melakukan Khiyar”.(al- hadits)

Keterangan:

Sanad pada hadits ini adalah muttashil atau bersambung, diceritakan oleh orang yang ‘adil dari orang yang ‘adil pula, tapi sanadnya tidak shahih karena terdapat’illat didalamnya. Sedangkan matannya shahih tanpa ada ‘illat. Letak ‘illat terdapat pada sanad, karena riwayat Ya’la bin Ubaid terdapat kesalahan pada Sufyan dengan mengatakan “Amru bin Dinar” padahal yang benar adalah “Abdullah bin Dinar”. Demikian yang diriwayatkan oleh para Imam dari murid-murid Sufyan ats-Tsauri, seperti Abi Nu’aim al-Fadhl bin Dakin, Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Makhlad bin Yazid, dan yang lainnya[2], mereka meriwayatkan dari Sufyan, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar bukan dari Amru bin Dinar, dari Ibnu Umar.

2. ‘Illat Pada Matan

Contoh hadis:

Hadits yang diriwayatkan Imam muslim dalam shahihnya dari riwayat al-Walid bin Muslim: “ Telah bercerita kepada kami al-Auza’I, dari Qatadah, bahwasanya dia pernah menulis surat memberitahukannya kepadanya tentang Anas bin Malik yang telah bercerita kepadanya, dia berkata, ’Aku pernah shalat dibelakang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, mereka memulainya dengan membaca: “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin tidak menyebut “Bismillahirrahmanirrahim” pada awal maupun pada akhir bacaan’.

Keterangan:

Imam Muslim juga meriwayatkan dari al-Walid, dari al-Auza’I, telah memberitahukan kepadaku Ishaq bin Abdillah bin Abi Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas menyebut demikian.

Ibnu ash-Shalah dalam kitab “Ulumul Hadits” berkata “Sebagian kaum mengatakan bahwa riwayat tersebut diatas (yang menafikan bacaan basmalah) terdapat ‘llat.Mereka berpendapat bahwa kebanyakan riwayat tidak menyebut basmalah tapi membaca hamdalah dipermulaan bacaan, dan ini yang muttafaqun ‘alaih menurut riwayat Bukhari dan Muslim dalam shahihnya.Mereka mengatakan bahwa lafazh tersebut adalah riwayat yang difahaminya secara maknawi, yaitu lafazh: (Artinya: “Mereka membuka bacaan shalat dengan membaca alhamdulillahi rabbil ‘alamin”), difahami bahwa mereka tidak membaca basmalah, maka meriwayatkan seperti apa yang dipahaminya, dan ternyata salah, karena maknanya bahwa surat yang mereka baca adalah surat Al-Fatihah yang tidak disebutkan padanya basmalah. Ditambah lagi dengan beberapa hal, yaitu: sahabat Anas ditanya tentang iftitah dengan basmalah, lalu dia menyebutkan bahwa dia tidak mengetahui sesuatu pun dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. tentang itu.[3]

3. ‘Illat Pada Sanad dan Matan

Contoh hadis:

Diriwayatkan Baqiyah dari Yunus, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Jum’at dan shalat lainnya maka telah mendapatkan shalatnya.”Abu Hatim Ar-Razi, berkata, “Hadits ini sanad dan matannya salah. Yang benar adalah riwayat Az-Zuhri dari Abi Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka itu telah mendapatkannya.” Sedangkan lafazh: “shalat Jum’at” tidak ada dalam hadits ini. Dengan demikian terdapat ‘llat pada keduanya.


B. SYADZ


a. Definisi Syads Menurut Bahasa dan Istilah

Secara bahasa syadz merupakan bentuk isim fa’il dari syadz yang maknanya adalah sendiri dan kata syadz (fa’il) maknanya adalah yang menyendiri dari kebanyakan. Secara istilah pengertian syadz menurut Ibnu Hajar adalah: “Hadits yang diriwayatkan oleh perawi terpercaya yang bertentangan dengan perawi yang lebih terpercaya, bisa karena lebih kuat hafalannya, lebih banyak jumlahnya atau karena sebab-sebab lain,”

b. Macam Syads

1. Syadz Dalam Sanad

Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari jalur ibnu ‘Uyainah dari Amr bin Dinar dari Ausajah dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang meninggal di masa Rasulullah dan ia tidak meninggalkan ahli waris kecuali bekas budaknya yang ia merdekakan. Maka Rasulullah memberikan semua harta warisannya kepada bekas budaknya.” Hammad bin Yazid menyelesihi Ibnu Uyainah, karena ia meriwayatkan hadits tersebut dari Amr bin Dinar dari Ausajah tanpa menyebutkan Ibnu Abbas.

Masing-masing dari Ibnu Uyainah, Ibnu Juraij dan Hammad bin Yazid adalah para perawi yang terpercaya. Namun Hammad bin Yazid menyelisihi Ibnu Uyainah dan Ibnu Juraij, karena meriwayatkan hadits di atas secara mursal (tanpa menyebutkan sahabat: Ibnu Abbas). Sedangkan keduanya merewayatkannya secara bersambung dengan menyebut perawi sahabat. Oleh karena keduanya lebih banyak jumlahnya, maka hadits yang diriwayatkan Ibnu Juraij dan Ibnu Uyainah dinamakan hadits mahfuzh. Sedangkan hadits Hammad bin Yazid dinamakan hadits Syadz.

2. Syadz Pada Matan

Contohnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan At Tirmidzi, dari hadits Abdul Wahid bin Ziyad, dari Al A’masyi, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah secara marfu’: “Jika salah seorang di antara kalian selesai shalat sunnah fajar, maka hendaklah ia berbaring di atas sebelah badannya yang kanan.” Imam Baihaqi berkata, “Abdul Wahid menyelisihi banyak perawi dalam hadits ini.Kerena mereka meriwayatkan haidts tersebut dari perbuatan Rasullullah bukan dari sabda beliau. Berarti Abdul Wahid menyendiri dengan lafazh tersebut dari para perawi yang terpercaya dari teman-teman Al-A’masyi. Maka hadits yang diriwayatkan dari jalur Abdul Wahid (ia adalah perawi yang terpercaya) adalah hadits syadz. Sedangkan yang diriwayatkan dari para perawi terpercaya yang lain dinamakan hadits mahfuzh.”


ENDNOTE



[1] Manna’ al-Qaththan,”Mabahits fi ‘Ulum al-Hadits”,terj.Mifdhol, Pustaka al-Kautsar: 2004, hal.152
[2]Tadrib ar-Rawi, hal.254
[3] Ibid.

SEKIAN, MOGA BERMANFAAT

Disusun Oleh Mahasiswa Fakultas Ushuluddin
Angkatan 2010
Institut PTIQ Jakarta
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.