Esensi Akhlak dalam Masyarakat dan Eksistensi Umat

Akhlak adalah bagian original dari ajaran agama yang turut menentukan warna masyarakat. Pembinaan sikap dan tindakan merupakan hal yang diperlukan untuk menata umat yang bermoral. Semua aspek manusia menjadi titik berat pembinaan itu, baik lahir batin, perbuatan kecil dan besar, maupun pribadi dan komunitas. Pembinaan yang sistematik dan terus menerus harus ditempuh agar sosialisasi sikap dan tindakan dapat menjadi sebuah kebutuhan dalam masyarakat.

A. RUANG LINGKUP AKHLAK

Kata akhlak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama, asal katanya tidak ditemukan dalam al-Quran. Al-Quran hanya menyebutkan bentuk tunggalnya, yaitu khuluq sebagaimana disebutkan dalam surah al-Syu’ara ayat 137 dan surah al-Qalam ayat 4. (Quraish Shihab, 2007: 253) Dengan demikian, kata akhlak yang merupakan jamak dari kata khuluq merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak mempunyai akar kata.


Kemudian, jika diperhatikan lebih lanjut bahwa kata khuluq yang berakar dari kata khaluqa membentuk pula makna al-Khaliq (pencipta) dan al-Makhluq (ciptaan). Ini menunjukkan bahwa akhlak itu pada garis besarnya terdiri atas akhlak terhadap Allah SWT dan akhlak terhadap sesama makhluk. (Jurnal Kordinat, 2002: 82) Sehubungan hal ini, berikut dimensi akhlak menurut imam al-Ghazali (Muh. Ardani, 2005: 28):
  • Dimendsi diri, yakni orang dengan dirinya dan Tuhannya seperti ibadah dan shalat,
  • Dimensi sosial, yakni masyarakat, pemerintah dan pergaulannya dengan sesamanya,
  • Dimensi metafisis, yakni aqidah dan pegangan dasarnya.
Akhlak sangat berkaitan dengan moral. Hubungan diantara keduanya dapat dianalisis dari seluruh ajaran yang terdapat dalam agama berorientasi utama pada pembentukan moral. Perintah mengerjakan shalat ditujukan agar terhindar dari perutan keji dan mungkar. Keterkaitan selanjutnya dapat dilihat dari anjuran mengeluarkan zakat ditujukan untuk menumbuhkan kepedulian sosial. Bahkan, jika di dalam al-Quran terdapat kisah para Nabi atau orang-orang yang durhaka maka tujuannya adalah untuk membina moral. (Said aqil Husin al-Munawar, 2005: 29-30)

Secara filosofis, nilai-nilai moral yang lahir dari kajian filsafat nilai atau etika merupakan tolak ukur prilaku manusia dan berbagai aspek kehidupannya. Sumber-sumbernya bisa merupakan hasil pemikiran, adat istiadat, ideologi bahkan dari agama. Dalam konteks etika pendidikan Islam, maka sumber utamanya adalah al-Quran dan Sunnah Nabi Saw. hanya saja, perlu ditegaskan bahwa ahlak dalam Islam tidak identik dengan budi pekerti atau moral, meskipun akhlak mencakup keduanya. (Jurnal al-Burhan, 2013: 3) Akhlak dalam Islam mencakup beberapa dimensi sebagaimana telah disebutkan di atas.

B. TERM MASYARAKAT MENURUT AL-QURAN

Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum khas, dan hidup dalam hidup bersama. Ada beberapa kata yang digunakan al-Quran untuk menunjuk kepada masyarakat atau kumpulan manusia. Antara lain; qawm, ummah, syu'ub, dan qabail. Al-Quran banyak sekali berbicara tentang masyarakat. Ini disebabkan karena fungsi utama Kitab Suci ini adalah mendorong lahirnya perubahan-perubahan positif dalam masyarakat. (Quraish Shihab, 2007: 323)

Al-Quran sarat dengan uraian tentang hukum-hukum yang mengatur lahir, tumbuh, dan runtuhnya suatu masyarakat. Hal ini bergantung dengan sistem nilai yang dianutnya karena mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat yang bersangkutan. Pada tahap inilah sebuah masyarakat akan dihadapkan pada dua bentuk perubahan, yaitu, perubahan masyarakat dari kondisi baik menjadi buruk atau sebaliknya. Mengenai faktor penyebab perubahan ini, al-Quran lebih mengunggulkan faktor mental dan moral dari pada pranata-pranta sosial-ekonomi. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ekonomi yang kuat akan menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan. Hanya saja, kebutaan spiritual biasanya akan tersebar luas di kalangan mereka yang memiliki kekuasaan materi dan politik untuk jangka waktu yang lama. (Ahmad Khusnul Hakim, 2011: 132) Keadaan tersebut berpotensi menimbulkan kekuasaan tanpa rasa keadilan dan kejujuran.

C. TERM UMAT MENURUT AL-QURAN

Kata umat terambil dari kata amma yang berarti menuju, menempu dan meneladani. Menurut Ali Syari’ati bahwa kata ini mengandung arti “kemajuan” yang di dalamnya terkandung empat arti, yaitu usaha, gerakan, kamajuan dan tujuan. Dengan demikian, kepemimpinan dan keteladanan, jalan dan tempat yang dilalui tercakup pula dalam istilah umat. (Ahmad Khusnul Hakim, 2011: 89)

Menurut Quraish Shihab, pilihan kata umat untuk menunjuk bangsa tidaklah meleset. Sebab, lahirnya suatu bangsa diperlukan adanya sekian banyak kesamaan yang terhimpun pada satu kelompok manusia, misalnya kesamaan cita-cit, sejarah, wilayah, bahasa, asal usul dan lain-lain. Kata umat dalam arti bangsa juga menjadi pilihan Ensklopedia Filsafat karya akademisi Rusia. (Quraish Shihab, 2011: 692)

Kata umat dalam al-Quran sering dirangkaikan dengan kata “ajal” yang bermakna ajal kolektif. Secara umum, ajal kolektif dapat dipahami sebagai batas akhir eksistensi komunitas masyarakat bukan individu. Menurut sayyid Qutb, ajal kolektif atau akhir eksistensi suatu umat kadang-kadang berupa kehancuran total yang bersifat indrawi, seperti bencana, gemap bumi, tsunami dan sejenisnya. Namun akhir eksistensi suatu umat bisa juga bersifat non indrawi. Artinya, secara lahiriyah tidak mengalami kahancuran secara fisik, tetapi mereka telah kehilangan eksistensinya seperti kasus orde baru. (Ahmad Khusnul H., 2011: 90)

Dengan demikian sobat SQ, akhlak khususnya para pemegang peranan penting dalam suatu negara akan menentukan eksistensi negara bersangkutan. Perlu ditekankan bahwa penekanan utamannya ada hubungan antara makhluk, baik sesama manusia dengan mencerminkan rasa keadilan, kasih-sayang, penuh tanggung jawab dan begitu pun terhadap lingkungan dengan tetap melestarikannya. Oleh karena itu, boleh jadi suatu negara mayoritas Islam, menyatakan dirinya beriman kepada yang ESA tetapi akhlak masyarakatnya jauh dari nilai-nilai Islam juga akan mendapatkan azab dan kehilangan eksistensiya sebagaimana sunnatullah umat-umat sebelumnya. Sebaliknya, mungkin saja suatu negara penduduknya mayoritas non-Muslim tetapi kehidupan negaranya menempatkan segala sesuatunya sebagaimana mestinya, penuh rasa keadilan, bertanggung jawab terhadap sesama, menumbuhkan rasa kasih sayang akan nampak tentram dan sejahtera dalam kehidupan dunianya.

Hal inilah yang melanda mayoritas dunia Islam saat ini, terlalu mengagung-agungkan ajarannya dan membiarkan orang lain yang menerapkannya dan hanya menjadi penonton setia tanpa ada upaya menjadi pemain. Akhirnya kita berharap, mudah-mudahan wajah-wajah pemimpin kita di masa yang akan datang benar-benar memiliki kapasitas akhlak sesuai dengan ajaran Islam, yaitu permata yang tak tergoyahkan dengan harta, wanita dan apapun itu. Soo,.. Semoga dalam PILPRES 2014 juli mendatang kita berdoa agar dapat berjalan sukses dan dapat menghasilkan pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab, Amin !         

Daftar Bacaan
  • Shihab, Quraisy. Membumikan al-Quran: Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan, Jilid 2, Cet. I, Tangerang: Lentera Hati, 2011
  • Hakim, A Husnul. Mengintip Takdir Ilahi: Mengungkap makna sunnatullah dalam al-Quran, Depok: Lingkar Studi al-Quran, 2011
  • Shihab, Quraisy. Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Cet. XVIII, Bandung: Mizan, 2007
  • Jurnal al-Burhan, Volume XIII, No. 1, Oktober 2013, Jakarta: Institut PTIQ, 2013
  • Jurnal Kordinat, Volume III, No. 1, April 2002, Jakarta: KOPERTAIS, 2002
  • Aqil Husin, Said. Aktualisasi NIlai-nilai al-Quran dalam Sistem Pendidikan Islam, Cet. II, Tangerang: Ciputat Press, 2005
  • Ardani, Muhammad. Akhlak-Tasawuf: Nilai-nilai Akhlak/Budi Pekerti dalam Ibadat dan Tasawuf, Cet. II, Jakarta: Karya Mulia, 2005

By. 
Hasrul
(Mahasiswa IPTIQ Jakarta)




Baca juga;
Refleksi Akhlak Suatu Bangsa
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.