Tazkiyatun Nafs

Artikel Oleh:
Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta

Nafs - Secara lateral atau harfiah, nafs berarti “esensi”, dan “esensi sesuatu” disebut “jiwa” sesuatu, atau “realitas” (haqiqah) nya. Dalam terminologi Aristotelian, kata itu berarti “jiwa” , entah jiwa yang bersifat materiel, seperti jiwa nabati dan jiwa hewani, atau bersifat abstrak, seperti jiwa benda samawi dan jiwa rasional manusia. Dalam terminologi etika, nafs berarti khayalan dan angan-angan palsu dari ego manusia yang terpisah dan independen. Kata ini juga berarti jiwa jasmani atau hawa nafsu­­, tempat nafsu berbagai hasrat dan keinginan, Kaum sufi memahaminya dalam artian terahir ini.[1]

Al-Ghazali dalam bukunya Pilar-pilar Rohani menyebutkan bahwa nafs merupakan gabungan dari dua makna (polisme): pertama, yang menghimpun dua kekuatan amarah dan syahwat dalam diri manusia. Penggunaan kata ini sudah lazim dikalangan kaum sufi. Mereka mengartikan nafsu sebagai asal yang menghimpun sifat-sifat tercela manusia. Mereka mengatakan, “Mengendalikan nafsu dan syahwat merupakan sebuah keharusan.” Hal itu ditunjukkan oleh sabda Rasulullah saw, “Musuhmu yang paling besar adalah nafsumu yang berada dalam dirimu. Kedua, luthf yang telah kami sebutkan, yaitu hakikat, diri, dan esensi manusia. Nafs, yang dipandang mampu melakukan penyucian, adalah nafs yang memiliki sifat-sifat hewani yang bernama nafs al-ammarah atau jiwa yang selalu meyuruh kepada kejahatan. Nafs ini biasanya mempunyayi kecenderungan pada kejahatan serta menyuruh kita berbuat jahat. [2] Allah berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

…sungguh, jiwa (manusia) menyuruh pada kejahatan,…[3]

Apabila jiwa ini disucikan dan mulai menjahui kejahatan, maka ia mulai mencela (dan dengan demikian memperbaiki) dirinya sendiri. Kemudian ia disebut an-nafs al-lawwamah atau jiwa yang mencela.

… dan aku bersumpah demi jiwa yang mencela dirinya sendiri…

Manakala jiwa ini benar-benar sudah disucikan dan mencapai kebahagiaan atau cinta Allah, maka iapun mengembangkan fakultas atau kemampuannya untuk berbuat baik dan benar, dan bukan lagi menjadi sumber kejahatan. Ia sudah memperoleh sifat-sifat malakutinya, serta melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah. Yang tidak pernah menolak dari melakukan perintah-perintah yang mereka terima dari Allah, tapi mereka mengerjakan apa yang mereka diperintahkan kepada mereka. Nafs ini kemudian menjadi sumber yang darinya mengalir semua amal kebaikan dan pikiran-pikiran baik. Demikianlah Khawaj Baha’uddin Naqsyaband mengatakan:

Kini, aku memiliki dari sedemikian sehingga jika aku tidak mematuhi perintah-perinyahnya, maka yang demikian itu berarti bahwa aku tidak mematuhi Allah.

Disini khawaja menyinggung-nyinggung jiwa tersebut diatas. Jiwa itu disebut an-nafs al-muthma’innah atau jiwa yang tenang, yang disebut-sebut dalam al-Quran demikian:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

…Wahai jiwa yang tenang kembalilah! kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai olehnya…[4]

Meski dicatat bahwa jiwa tungal sajalah yang diseru dan dipanggil dengan nama-nama yang berbeda, dengan menunjukkan tahap-tahap perkembangnnya yang berbeda serta menegaskan berbagai macam sifatnya. Begitu pula, dalam terminology dokter, jiwa yang sama, seperti embun lembut, disebut jiwa hewani dalam qalbu, jiwa sensual dalam hati, dan jiwa fisik dalam otak. Perubahan nama-nama itu disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat, sementara objek yang dinamainya sama belaka.

Pada dasarnya dalam kalangan para salik dan sufi, tarekat merupakan organisasi yang memiliki tujuan yang satu, yaitu taqarrub kepada Allah.[5] Akan tetapi sebagai organisasi para salik yang kebanyakan diikuti masyarakat awam, dan para talib al-mubtadin, maka akhirnya dalam tarekat terdapat tujuan-tujuan lain yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pertama dan utama tersebut. Sehingga secara garis besar dalam tarekat terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tata cara dan jenis-jenis amaliyah kesufian. Diantara ketiga tujuan pokok tersebut ialah Tazkiyat an-nafs:

Tazkiyat al-Nafs - Tazkiyat al-Nafs atau pencucian jiwa adalah suatu upaya atau pengkondisian jiwa agar merasa tenang, tentram dan senang berdekatan dengan Allah (ibadah), dengan penyucian jiwa dari semua kotoran dan penyakit hati atau penyakit jiwa. Tujuan ini merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang salik atau ahli tarekat. Bahkan dalam tradisi tarekat, tazkiyat al-Nafs ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan bersihnya jiwa dari berbagai macam penyakitnya akan secara otomatis menjadikan seseorang dekat kepada Allah. Proses dan sekaligus tujuan ini dilaksanakan dengan merujuk kepada firman Allah Swt:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: Dan demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan celakalah bagi orang yang mengotorinya. 

Tazkiyat al-Nafs ini pada tataran prakteknya, kemudian melahirkan beberapa metode yang merupakan amalan-amalan kesufian, seperti zikir, ‘ataqah, menetapi syari’at, dan mewiridkan amalan-amalan sunnah serta berperilaku zuhud dan wara’. [6]

a. Zikr

Zikr berasal dari perkataan ‘’zikrullah’’. Ia merupakan amalan khas yang mesti ada dalam setiap tarekat. Yang dimaksud dengan zikr dalam suatu tarekat ialah mengingat dan menyebut nama Allah, baik secara lisan maupun secara batin (jahri dan sirri atau khafi). Di dalam tarekat, zikr diyakini sebagai cara yang paling efektif dan sfisien untuk membersihkan jiwa dari segalam macam kotoran dan penyakit-penyakitnya. 

b. ‘Ataqah atau fida’ akbar 

‘Ataqah atau penebusan ini dilakukan dalam rangka membersihkan jiwa dari kotoran atau penyaki-peyakit jiwa. Bahkan cara ini dilakukan oleh sebagian tarekat sebagai penebus harga syurga, atau penebus pengaruh jiwa yang tidak baik (untuk mematikan nafsu). 

Bentuk dari cara ini atau ‘ataqah adalah amalan yang dilakukan secara serius seperti membaca surah al-Ikhlas sebanyak 100.000 atau membaca kalimat tahlil sebanyak 70.000 kali, dalam rangkaian penebusan nafsu amarah atau nafu-nafsu yang lain dan biasanya dilaksankan oleh masyarakat santri pulau jawa untuk orang yang sudah meninggal dunia. 

c. Mengamalkan syariat

Dalam tarekat yang kebanyakan merupakan jam’iyyah para sufi suni, menetapi syari’at merupakan bagian dari tasawuf (meniti jalan mendekati kepada Tuhan). Karena menurut keyakinan para sufi sunni, justru prilaku kesufian itu dilaksanakan dalam rangka mendukung tegaknya syari’at. 

d. Melaksanakan amalan-amalan sunnah

Diantara cara untuk membersihkan jiwa, yang diyakini dapat membantu untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoran dan penyakit-penyakitnya adalam amalan-amalan sunnah. Sedangkan dari amalan- amalan tersebut yang diyakini memiliki dampak besar terhadap proses dan sekaligus hasil dari tatkiyat al-nafs adalam membaca al-Quran dan menghayati isi kandungannya, melaksanakan sholat malam, berzikir disepanjang hari, memperbanyak puasa sunnah serta bergaul dengan orang-orang yang shaleh. 

e. Berprilaku zuhud dan wara’

Kedua prilaku sufharistik ini akan sangat mendukung upaya tazkiyat al-nafs, karena prilaku zuhud adalah tidak ada ketergantungan hati pada harta, dan wara’ adalah sikap hidup yang selektif, orang yang berprilaku demikian tidak berbuat sesuatu, kecuali benar-benar halal dan benar-benar dibutuhkan. Dan rakus terhadap harta akan mengotori jiwa demikian juga banyak berbuat yang tidak baik, memakan yang syubhat dan berkata sia-sia akan memperbanyak dosa dan menajauhkan diri dari Allah, karena melupakan Allah.[7]

Upaya penyucian jiwa - Roh atau jiwa juga bisa menjadi kotor akibat memakan makanan haram, lisan yang mengeluarkan kata-kata lucah dan ugkapan-ungkapan yang menyakiti isi hati orang, telinga yang mendengar fitnah dan mengupat orang, tangan yang melakukan perbuatan yang tidak baik, kaki yang pergi ketempat maksiat atau mengikuti langkah-langkah orang zalim, kemaluan yang melakukan zina dan sebaginya.[1] Maka butuh penyucian diri untuk membersihkan kotoran tersebut melalui jalan yang sangat sulit dan mustahil dilakukan oleh manusia tanpa mendapatkan karunia dari Allah. Oleh karena itu ada dua hal yang harus dilakukan yaitu bersungguh-sungguh dalam menyucikan diri dan berdoa kepada Allah agar diberikan kemampuan dalam meyucikan diri serta konsisten dalam pelaksanaannya. Sebagai mana dikatakan oleh Dr. Mir Valiuddin dalam bukunya Contemplative Disciplines in Sufism: 

Duhai! Barang siapa tidak berusaha keras, maka ia tidak akan pernah mendapatkan pembendaharaan.[2]

Ada beberapa upaya untuk menyucikan diri yaitu memaafkan dan melapangkan hati terhadap orang yang melakukan perbuatan jelek kepada kita, tidak mengikuti langkah-langkah setan karena setan adalah zat yang selalu mengajak kepada perbuatan keji dan kemungkaran, tidak senang menyebarkan kejelekan yang dilakukan orang-orang beriman dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji baik secara langsung ataupun tidak, menjaga lisan dari menuduh orang lain atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati orang-orang yang beriman, kecuali memiliki bukti-bukti yang kuat. Inilah beberapa perkara yang berkaitan dengan menyucikan diri (tazkiyatun nafs) yang kita petik dari beberapa ayat al-Quran. 

Objek tazkiyat al-nafs - Said hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs membagikan kriteria penyakit-penyakit yang harus disucikan dari diri manusia. 

1. Penyakit-penyakit hati yang disebabkan perbuatan syirik dan cabang-cabangnya. Allah berfirman yang artinya:’’Dan perumpamaan kalimat yang buruk [3] seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS.Ibrahim: 28). Sesungguhnya perbuatan syirik memiliki cabang-cabang yang cukup banyak, diawali dari menyembah selain Allah, yaitu kepada perbuatan-perbuatan yang sesat dan perilaku-perilaku yang jelek seperti dengki, sombong, sekutu dengan setan sehingga upaya utama yang harus dilakukan dalam penyucian diri ialah menghilangkan kemusyrikan dan cabang-cabangnya dalam hati. 

2. Terkadang, hati seseorang ditutupi oleh kegelapan yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan keji seperti munafik, kufur, fasik, keraguan atas kebenaran dan dosa-dosa lainnya. Oleh karenanya upaya yang harus dilakukan dalam penyucian diri ialah dengan menghilangkan semua kegelapan yang ada dalam hati yaitu dengan memasukkan cahaya ilahi sehingga hati nya bercahaya dengan kebenaran. 

3. Dalam setiap jiwa manusia terdapat syahwat, sedangkan syahwat memiliki kategori yang cukup banyak, diantaranya adalah syahwat secara lahiriah (hissi) dan syahwat secara maknawi. Syahwat secara kahiriah misalnya senang makan dan minum. Syhwat secara ma’nawiah misalnya pendendam, senang dengan kedudukan, mau menang sendiri. Sebagian dari syahwat itu ada yang diperbolehkan seperti keinginan untuk menikah agar melaksanakan syahwat berhubungan badan dengan lawan jenis dan ada sebagian syahwat yang diharamkan seperti syahwat untuk berjudi, berzina, korupsi dan lainnya. Oleh karena itu, syahwat-syahwat yang diharamkan atau yang dikerjakan itu mengandung hukum haram, maka ini merupan bagian yang harus dihilangkan dalam upaya menyucikan diri (tazkiyatun nafs). 

4. Adapun bagian yang harus dibersihkan dalam upaya penyucian diri selanjutnya yaitu penyucian diri dari penyakit hati dan jiwa seseorang yang terkadang mengalami penyakit, seperti sakitnya badan, sakit yang terdapat dalam hati, seperi sombong, suka membanggakan diri, dengki, menipu, dan dendam. 

Ini lah 4 objek penyucian jiwa yang harus di bersihkan, Barang siapa yang megetahui beberapa poin diatas, maka ia akan mengetahui bagaimana pentingnya penyucian diri (tazkiyatum nafs). SEKIAN.


DAFTAR PUSTAKA
  • Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, Bandung; Pustaka Hidayah, 1996.
  • Penerjamah, Irwan kurniawan, diterjemahkan dari Rawdah ath-Thalibin wa Umdah as- Salikin (Pilar-Pilar Rohani) karya Al-Ghazali, Jakarta: Lentera, 1998
  • Wahib Mu’thi, dalam bukunya, Tarekat sejarah Timbulnya, Macam-Macam, dan Ajaran-Ajaran Tasawuf Bandung: Pustaka Hidayah, 1996
  • Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, Surabaya: Dunia Ilmu, 1998
  • Syeh Abdul Qadir al- Jailani, Kesufian Ahli Sufi Singapura: Pustaka National PTE LTD, 1999.
  • Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, penerbit: Darus- Salam, 2005.

ENDNOTE

[1] Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1996), cet. Pertama, hal. 46-47.
[2] Penerjamah, Irwan kurniawan, diterjemahkan dari Rawdah ath-Thalibin wa Umdah as- Salikin (Pilar-Pilar Rohani) karya Al-Ghazali, (Jakarta: Lentera, 1998), cet.1, hal. 41.
[3] QS. 12:53.
[4] QS. 89:27-30.
[5] Karena sebenarnya istilah tarekat sendiri terambil dari kata Tariqat atau metode. Yaitu jalan untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Sebagaimana dikutip oleh, Drs Kharisudin Aqib, M.Ag. dari A. Wahib Mu’thi, dalam bukunya, Tarekat sejarah Timbulnya, Macam-Macam, dan Ajaran-Ajaran Tasawuf (cet. 1; bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hal. 45.
[6] Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), cet.1, hal. 36.
[7] Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), cet.1, hal. 37.
[8] Syeh Abdul Qadir al- Jailani, Kesufian Ahli Sufi (Singapura: Pustaka National PTE LTD, 1999), cet. 1, hal. 142.
[9] Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1996), cet. Pertama, hal. 48.
[10]  Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, (penerbit: Darus- Salam, 2005), cet.3, hal. 193-195.
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.