Riwayat Ibnu Jarir Al-Thabary

Ibnu Jarir Al-Thabari dipandang sebagai tokoh pewaris terpenting dalam tradisi keilmuan Islam klasik, termasuk dalam bidang tafsir al-Qur’an. Tafsir Jami’ Al-Bayan, merupakan salah satu karya monumentalnya dalam bidang ini yang menjadi rujukan utama bagi kaum muslimin. Di samping itu, tafsir ini merupakan ensiklopedi komentar dan pendapat tafsir yang pernah ada sampai masa hidupnya. Kehadiran tafsir Al-Thabari yang begitu lengkap dan sempurna membawa perubahan yang sangat besar bagi kaum muslimin dari zamannya hingga saat ini. Sobat SQ-Blog, uraian mengenai tafsir al-Tabary, Tafsir Jami’ Al Bayan, Insya Allah postingannya akan menyusul dan kali ini kita sedikit mengkaji riwayat hidupnya.

Ibnu Jarir Al-Thabari dilahirkan di kota Amil, ibu kotaThabaristan pada akhir tahun 224 H, ada juga pendapat bahwa beliau lahir di awal tahun 225 H. Sebenarnya banyak sekali ulama yang lahir di kota ini, namun mereka tidak menisbatkan diri kepadanya, melainkan menisbatkan diri mereka kepada “Thabarstan”. Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib Al-Thabari. Beliau dikenal sebagai sosok yang berpenampilan rapi dan selalu menjaga kesehatan, serta berlaku sangat disiplin[1].


Ath Thabari menjalani hidupnya dengan perilaku yang sangat zuhud. Tidak sedikitpun ia silau pada kemilau kenikmatan dunia. Sikap ini dibuktikan dengan penolakannya terhadap tawaran jabatan dalam pemerintahan.Ia juga menolak imbalan harta yang disodorkan kepadanya. Ayah Al-Thabari tergolong orang yang berada dan terkenal sebagai pecinta ilmu dan ulama, ia pun senantiasa memotivasi dan mensupport putranya untuk menuntut ilmu. Al-Thabari pun menuruti perintah ayahnya dengan senang hati, lalu mulailah tampak tanda-tanda kecerdasan dan kecendikiawannya sejak awal menuntut ilmu. Ia mampu manghafal Al Qur’an pada usia tujuh tahun. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Pada usia delepan tahun sudah menjadi imam shalat, dan menulis hadis-hadis Nabi Saw sejak usia Sembilan tahun.

Al-Thabari memilih hidup membujang hingga akhir hayat. Karena itu, ia memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mencari ilmu. Hidupnya dihabiskan untuk belajar, mengajar dan menulis. Bisa dimaklumi bila beliau sanggup menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti sejarah, hadis, bahasa dan sastra[2]. Mula-mula Al-Thabari menuntut ilmu di negeri kelahirannya sendiri, yaitu Amul. Kemudian ia pindah ke negeri tetangga dan mencari para ulama guna menimba dari mereka. Ia pun mengerahkan seluruh kemampuannya, mulai dari mendengar penuturan gurunya secara langsung, menghafalnya, hingga membukukannya[3].

Sejak usia 12 tahun, Al-Thabari sudah merantau ke kota Ray, sebelah utara Persia. Di sanalah ia belajar hadits kepada Muhammad bin Hamid Al Razy ( W.284 H), seorang imam besar hadis. Sang guru inilah yang nantinya banyak mempengaruhi kitab sejarahnya. Ia juga berguru kepada Ahmad bin Hammad Ad Daulabi, seorang ulama terkenal sebagai ahli riwayat. Dari kota Ray ini, Al-Thabari menuju ke Irak, awalnya ia ingin ke Baghdad untuk berguru kepada Imam Ahmad bin Hambal (W.241 H), namun karena ia mendengar bahwa ulama tersebut sudah meninggal dunia, ia beralih ke Bashrah. Di sana ia berguru pada seorang penghafal hadits yang jenius, Abu Bakar Muhammad bin Basyar (W. 252 H). Setelah itu Al-Thabari menuju Kufah untuk belajar ilmu Hadits kepada Ismail bin Musa Al Fazari (W. 254 H ), Hannad bin Assiri Al-Darumi Al-Kufi (W.342 H) dan Abi Kuraib Muhammad bin Al A’la al Hamzani (W.284 H). Ilmu Qiraat dipelajarinya dari Sulaiman bin Khallad As Samiri (W. 261 H )[4].

Pada tahun 253 H, Ath Thabari meninggalkan Irak dan menuju Mesir. Sebelum sampai di Mesir, ia singgah di beberapa kota penting dalam penyebaran hadits. Setelah sampai di Mesir, ia berjumpa dengan seorang sejarawan ternama, Ibnu Ishaq. Atas jasanyalah, Al-Thabari mampu menyusun karya sejarah yang berjudul Tarikh al Umam Wa al Muluk[5]. Selama di Mesir, nama Al-Thabari menjulang tinggi dan sempat menggemparkan daerah itu karena ketinggian ilmunya. Banyak ilmuwan yang mendatanginya untuk menguji kapasitas keilmuannya, dan ia pun berhasil melewati setiap ujian, sehingga nama besarnya sama sekali tidak tergoyahkan[6].

Al-Thabari terus melanjutkan perjalanannya mencari majelis ilmu dan menjumpai para ulama, tidak peduli dengan perjalanan yang jauh dan melelahkan serta bekal yang tidak mencukupi. Segala yang mahal dinilainya murah untuk mendaapatkan ilmu pengetahuan. Sampai suatu ketika beliau terpaksa menjual sebagian pakaiannya karena terlambat menerima kiriman bekal dari orang tuanya[7]. Dari Mesir, Thabari kembali ke Baghdad, dan dari Baghdad ia kembali ke tanah kelahirannya di Tabarstan. Namun, ia tidak lama tinggal di sana, akhiranya ia pun kembali ke Baghdad dan bermukim di sana hingga ia wafat pada tahun 310 H[8].

Dalam rangka menuntut ilmu Al-Thabari tidak cukup hanya dengan usaha yang keras dan sabar, akan tetapi ia juga dinilai sebagai sosok yang jujur, ikhlas, zuhud, wara’, dan amanah. Hal ini dapat terlihat dalam karyanya “Adab An-Nufus”. Ia meninggalkan gemerlap dunia dan tidak mencari kenikmatan yang ada padanya[9]. Sisi kehidupan Al-Thabari yang spesifik ini dicatat oleh para sahabatnya dan para ulama lain sezamannya, mereka mengatakan : “Tidak ada seorang pun dari para ulama yang mengingkari ketinggian ilmunya, kezuhudannya di dunia dan sifat qana’ahnya. Ketika Al Khaqani menjabat sebagai menteri, ia mengirimkan uang kepadanya, namun ia enggan menerimanya. Ia pun ditawari untuk menduduki jabatan Qadhi, namun ia menolaknya. Ketika para sahabatnya mengeluh dan mengatakan kepadanya, Anda mendapat pahala dengan menduduki jabatan ini dan anda dapat menghidupkan sunnah yang anda telah pelajari. Mereka sangat berantusias agar Al-Thabari mau menerima tawaran itu, namun Thabari tetap menolaknya.”[10]

Demikianlah kepribadian seorang Al-Thabari yang enggan menerima harta dan kedudukan, bahkan enggan menerima jabatan yang berkaitan dengan kapasitas ilmunya semata-mata karena takut terjerumus dalam jurang kehancuran. Mungkin ia berusaha adil, tetapi ada sesuatu yang menghalanginya, atau berusaha menghindar dari tindakan aniaya, namun malah terjerumus kedalamnya tanpa sengaja. Oleh karena itulah Al-Tahabari dan para ulama sekelasnya lebih memilih menghindar dan tidak menerima jabatan yang berat semacam ini. Dalam hal ini, mereka memiliki teladan yang baik dari para salafus shalih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan yang lainnya.[11] Al-Thabari merupakan sosok yang mulia, wara’, qana’ah, dan pemurah. Adapun syair-syair yang ditulisnya berikut ini menunjukkan kebenaran hal tersebut, ia melantunkan:[12]

Jika aku mengalami kesusahan, maka temanku tidak mengetahuinya,
karena aku merasa cukup, maka temanku pun tidak memerlukannya.
Rasa Maluku menjaga kehormatanku,dan sedikitnya kebutuhan menjadi teman setiaku.

Kiranya aku berkenan mengorbankan kehormatanku, niscaya jalan kekayaan sangatlah mudah


Catatan sejarah membuktikan bahwa karya-karya Ath Thabari meliputi banyak keilmuan,dan hanya sebagian yang sampai kepada kita. Sejumlah karya berdasarkan klasifikasi substansi materialnya, sebagai berikut:[13]

a. Bidang Hukum:
  • Adab al Manasik
  • Al Adar fil Ushul
  • Basit
  • Lathif Al Qaul fi Ahkam Syar’il Islam
  • Ikhtilaf
  • Mujaz
  • Khafif
  • Radd ’ala Ibn Abdul Hakam.
b. Bidang Al Qur’an
  • Fashl Bayan fil Qira’at
  • Jami’ Al Bayan fi Ta’wil al Qur’an
  •  Kitab Al Qira’at.
c. Bidang Hadits 
  • ‘Ibarah ar ru’ya
  • Fadho’il
  • Tahzib
  • Al Musnad Al Mujarrad
d. Bidang Teologi
  • Dalalah
  • Radd ‘ala zi Al asfar
  • Fadha’il Ali bin Abi Thalib
  • Sarih.
  • Radd ‘Ala al Harqusiyyah
  • Al basyir fi Ma’alim al Diin
e. Bidang etika keagamaan
  • Adab An Nufus al jayyidah wa al akhlaq al Nafisah
  • Fadhail dan Mujaz
  • Adb Al Tanzil
f. Bidang Sejarah
  • Zayl al Muzayyil
  • Tarikh al Umam wa al Muluk
  •  Tahzib al atsar.

ENDNOTE



[1] Saifullah Amin Ghofur (2007),” Profil para Mufassir”, Yogyakarta:Pustaka Insan Madani, hal 63
[2]Ibid, hal 64.
[3]Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari (Penerjemah: Ahsan Askan, 2007) “Jami’ Al bayan fi Ta’wil Al Qur’an”, Jakarta:Pustaka Azzam, Jilid 1, hal 9.
[4] Saifullah Amin Ghofur (2007),” Profil para Mufassir”, Yogyakarta:Pustaka Insan Madani, hal 65
[5]Ibid, hal 66
[6]Ibid.
[7] Lihat Tajuddin Abu Nashr Abdul Wahhaab As Sabki, “Thabaqot Asy Syafi’iyyah Al Kubro” 8 Lihat Tarikh Baghdad (2/163)
 [9] Mu’jam Al Ubada’ (17/60,61)
[10]Tabaqot as Sabki, 3/125. Menteri yang dimaksud adalah Abu Hasan Abdullah bin Yahya bin Khaqan, lihat Syi’ar An Nubala’ (14/172)
[11]Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari (Penerjemah: Ahsan Askan, 2007) “Jami’ Al bayan fi Ta’wil Al Qur’an”,   Jakarta:Pustaka Azzam, Jilid 1, hal 11,12
[12]Tarikh Baghdad (2/165,166)
[13]Hamim Ilyas (2004), “Studi Kitab Tafsir”, Yogyakarta: TERAShal 24,25,26
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.