Mengenal Tafsir Jami’ Al bayan - Karya Al-Thabary


A. PENDAHULUAN

Kitab “Jami’ Al bayan fi Tafsir Al Qur’an” karya Al-Thabari ini dinilai sebagai literatur penting dalam bidang tafsir bil ma’tsur, bahkan dalam bidang tafsir bir ra’yi. Hal ini karena tafsir ini memadukan berbagai pendapat dan mencari pendapat yang paling kuat. Oleh karena itu, tafsir ini dinilai sebagai tafsir yang paling agung, paling shahih dan paling lengkap, karena memuat pendapat para sahabat dan tabi’in. Bahkan para pengkaji tafsir menilai tafsir ini tidak ada duanya di bidang tafsir. An Nawawi berkata, "Belum ada karya tulis yang ditulis oleh orang semisal dengan Kitab tafsir Ibnu Jarir ath Thabari[1]”. Dalam dunia tafsir, karya Al-Thabari merupakan generasi pertama yang dibukukan dan masih utuh sampai sekarang. Ini tidak berarti sebelum Al-Thabari belum ada kesadaran membukukan tafsir, namun perkembangan tafsir pada saat itu sangat lamban dan terpencar-pencar[2].


Al-Thabari dipandang sebagai tokoh penting dalam jajaran mufassir klasik lewat karya monumentalnya “ Jami’ul Bayan fi Tafsir Al Qur’an” dimana ia mampu memberikan inspirasi baru bagi mufassir sesudahnya. Kelahiran Tafsir ini memberikan nuansa dan aroma baru dalan blantika penafsiran di mana struktur penafsiran yang monolitik sejak zaman sahabat hingga abad III H. Kitab ini memuat eksplorasi dan kekayaan sumber yang heterogen terutama dalam hal makna kata dan penggunaan bahasa Arab yang telah dikenal secara luas di kalangan mayarakat. Di samping itu, tafsir ini sangat kental dengan riwayat-riwayat sebagai sumber penafsiran yang disandarkan kepada pendapat dan pandangan para sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in melalui hadits yang mereka riwayatkan. Kitab ini juga didukung dengan nalar untuk membangun pemahaman-pemahaman obyektifnya.

B. METODE PENAFSIRAN

Mengenai metodenya, kitab ini dianggap sebagai dasar bagi semua tafsir karena adanya metode khas yang memadukan antara tafsir bil ma’tsur dengan tafsir bir ra’yi yang disertai dengan pendapat yang terkuat. Imam Asy Syuyuti berkata, “Kitab Ibnu Jarir merupakan tafsir palinh agung, karena kitab ini memaparkan pilihan berbagai pendapat, I’rab dan istinbath. Dengan karakteristik inilah sehingga kitab ini mengungguli kitab-kitab tafsir klasik”.

Al Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun kitab tafsir yang ada di tangan masyarakat, maka yang paling shahih adalah tafsir Muhammad Ibnu Jarir Ath Thabari. Kitab ini menuturkan pendapat-pendapat kaum salaf dan sanad-sanadnya., tidak memuat bid’ah dan tidak mengutip dari orang-orang yang tertuduh dusta”.

Secara umum, Ath Thabari memiliki metode dan langkah-langkah penting dalam menafsirkan, yaitu sebagai berikut:
  1. Biasanya Ath Thabari memulai dengan menetapkan dan membatasi tema yang akan dibahasnya, baik itu berupa ayat, dan penafsirannya atau penjelasan sebuah hadits, kemudian menyimpulkan bebagai pendapat mengenai aqidah, hukum fiqih, qira’at, suatu pendapat, atau permasalahan yang diperselisihkan.
  2. Apabila tema telah ditetapkan, ia mulai mengumpulkan bahan-bahan ilmiah yang berkaitan dengannya dan berusaha semaksimal mungkin agar bahan yang ia kumpulkan lengkap dan menyeluruh demi kesempurnaan tema yang dibahasnya. Semua ini dilakukan sebelum memulai penulisan.
  3. Jika semua bahan kajian telah terkumpul, ia pun memulai meneliti dan mempelajarinya, dan membaginya menjadi beberapa bagian atau pendapat serta menyebutkan dalilnya masing-masing sesuai dengan permasalahan yang berhubungan dengannya. Terkadang ia menjelaskannya secara panjang lebar yang tampak pada penguraian sanad, riwayat dan dalil, hingga ia yakin bahwa tidak ada kepincangan dalam masalah yang dikajinya.
  4. Selain metode deduktif tersebut, ia juga membandingkan antara sanad dengan dalil dan mengindikasikan kelemahan atau pertentangan yang terjadi pada yang lebih kuat dalam pengambilan dalil atau argumentasi. Ketika ia menjelaskan mana dalil yang lebih kuat, ia sering menggunakan ungkapan-ungkapannya, seperti; Ash shwab minal qaul (yang benar dari pendapat ini), Ash shawab minal qaulain (yang benar dari dua pendapat ini), ash shwab minal aqwal (yang benar dari beberapa pendapat ini), fi dzalika ‘indi (dalam masalah itu menurut saya), ‘indana (menurut kami). Ungkapan-ungkapan ini banyak berulang dalam buku-bukunya yang mengulas tentang pendapat, perkataan, penyebutan sumber dan dalilnya[3].
Di samping metode-metode umum di atas, dalam menafsirkan, Al-Thabari menempuh metode dan langkah-langkah khusus sebagai berikut:
  1. Mengawali penafsiran dengan mengatakan: “Pendapat tentang takwil firman Allah” begini...
  2. Kemudian menafsirkan ayat dan menguatkan pendapatnya dengan apa yang diriwayatkannya dengan sanadnya sendiri dari para sahabat atau tabi’in.
  3. Menyimpulkan pendapat umum dari nash Al Qur’an dengan bantuan atsar-atsar yang diriwayatkannya.
  4. Menyebutkan atsar-atsar yang berasal dari Rasulullah Saw, sahabat, dan tabi’in dengan menuturkan sanad-sanadnya , dimulai dari sanad yang paling kuat dan paling shahih.
  5. Menguatkan pendapat yang menurutnyakuat dengan menyebutkan alasan-alasannya.
  6. Melanjutkannya dengan menjelaskan pendapat ahli bahasa, seperti bentuk kata dan maknanya, baik tunggal maupun gabungan serta menjelaskan makna yang dimaksud dalam nash yang bersangkutan.
  7. Melanjutkannya dengan menjelaskan qira’at-qira’atnya dengan menunjukkan qira’at yang kuat dan mengingatkan akan qira’at yang tidak benar.
  8. Menyertakan banyak sya’ir untuk menjelaskan dan mengukuhkan makna nash.
  9. Menuturkan I’rab dan pendapat para ahli nahwu untuk menjelaskan makna sebagai akibat dari perbedaan I’rab.
  10. Memaparkan pendapat-pendapat fiqih ketika menjelaskan ayat-ayat hukum, mendiskusikannya dan menguatkan pendapat yang menurutnya benar.
  11. Kadang-kadang ia menuturkan pendapat ahli kalam dan menjuluki mereka dengan ahli jadal (ahli teologi dialektis)-, mendiskusikannya, kemudian condong kepada pendapat ahlussunnah wal jama’ah.
  12. Memberikan tempat yang tinggi kepada ijma’ umat ketika memilih suatu pendapat[4].
Di samping metode-metode tersebut di atas, Al-Thabari juga menggunakan metode yang sistematis, yaitu menggunakan metode ilmiah yang memiliki unsur-unsur yang jelas dan sempurna. Ia menggabungkan antara riwayat, dirayat, dan ashalah (keautentikan).

Sisi riwayat ia peroleh dari studi terhadap sejarah, sirah Nabawiah, bahasa, syair, qira’at, dan ucapan-ucapan orang-orang terdahulu. Semua ini menjadi bekal utama baginya untuk menyususn tema-tema dan mengetahui perinciannya. Adapun sisi dirayat, ia peroleh dari perbandingannya terhadap pendapat-pendapat para fuqaha setelah ia ketahui dalil-dalil dari masing-masing mereka dan cara pentarjihannya. Kemudian dari pengetahuannya terhadap ilmu hadits yang menyangkut studi sanad, kondisi perawi dan kedudukan hadits. Dan dari sisi keautentikan Al-Thabari, yaitu berpikir panjang untuk sesuatu yang ingin dilakukan dan mempersiapkan diri dengan matang. Bahkan terkadang ia berpikir dan merenung sampai beberapa tahun untuk kemudian terjun ke “medan Laga”[5].

C. KARAKTERISTIK DAN CORAK PENAFSIRAN

Untuk melihat seberapa jauh karakteristik sebuah tafsir, dapat dilihat paling tidak pada aspek-aspek yang berkaitan dengan gaya bahasa, corak penafsiran, akurasi dan sumber penafsiran, konsistensi metodologis, sistematika, daya kritis, kecederungan madzab yang diikuti dan objektivitas penafsirnya.

Dari sisi linguistik, Al-Thabari sangat memperhatikan penggunaan bahasa arab sebagai pegangan dengan bertumpu pada sya’ir-sya’ir Arab kuno dalam menjelaskan makna kosa kata, acuh terhadap aliran-aliran gramatika bahasa dan penggunaan bahasa arab yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat. Sementara itu, ia sangat kental dengan riwayat-riwayat sebagai sumber penafsiran, yang disandarkan pada pendapat para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in melalui hadis yang mereka riwayatkan (bil Ma’tsur). Aspek penting lainnya dalam kitab tersebut adalah pemaparan qira’at secara variatif, dan analitis dengan cara menghubungkan dengan makna-makna yang berbeda, kemudian mengambil salah satu qira’at tertentu yang dianggap paling kuat dan tepat. Di sisi yang lain, Al-Thabari sebagai seorang ilmuan, selalu berusaha untuk menjelaskan ajaran-ajaran Islam (kandungan Al Qur’an) tanpa melibatkan diri dalam perselisihan dan perbedaan paham yang dapat menimbulkan perpecahan. 

Kitab tafsir Jami’ Al Bayan atau dikenal dengan nama tafsir Al-Thabari ini merupakan tafsir yang boleh dikatakan tafsir terlengkap di antara tafsir-tafsir yang lain hingga saat ini. Hal ini dapat kita pahami dari lengkapnya unsur-unsur yang digunakan dalam penafsiran dengan menyebutkan riwayat dan sanad yang begitu lengkap, pendapat ulama yang begitu lengkap, penyajian I’rab, bahkan wajah qira’atnya dan segala aspek yang dapat menunjang kelengkapan tafsirnya. 

Kelengkapan yang dimiliki inilah yang menjadi ciri utama tafsir Al-Thabari. Adapun corak penafsiran yang merupakan ciri khusus tafsir Al-Thabari ini yang mungkin berbeda dengan tafsir lainnya adalah memadukan dua sisi yaitu bil ma’tsur dan bir ro’yi. Bagi orang-orang yang belum mengkaji secara mendalam, maka ia menganggap tafsir ini sebagai tafsir bil ma’tsur. Hal ini karena ia hanya melihat dhahirnya saja yang lengkap dan banyak memuat hadits-hadits dan isnad. Bahkan dalam tafsir ini terdapat sejumlah riwayat hadits yang lengkapnya melebihi tafsir bil ma’tsur yang ada pada masanya[6]

Padahal para ulama spesialis yang sudah mengkaji tafsir ini menilai sebagai tafsir ilmiah yang yang cenderung mengedepankan sisi analisa dari pada sisi atsar. Oleh karena itu kita dapat katakan bahwa tafsir ini merupaka titik langkah perubahan dalam metode pembuatan tafsir yang memiliki dampak sangat jauh[7]. Di samping itu, ada juga sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu ciri utama utama tafsir Al-Thabari ini dapat kita lihat pada istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan yang ia gunakan dalam tafsirnya ini, sebagaimana yang tertera pada pembahasan sebelumnya. Adapun corak penafsirannya adalah penggabungan antara bil ma’tsur dan bir ro’yi.

D. CONTOH PENAFSIRAN

Adapun contoh penafsiran Al-Thabari yang kami akan singgung di sini adalah penafsiran kata (الصراط المستقيم) pada kalimat اهدنا الصراط المستقيم dalam surah Al Fatihah ayat 6. Al-Thabari berkata: Para ahli tafsir bersepakat bahwa kata الصراط المستفيم artinya “jalan lurus yang tidak berliku”, sebagaimana yang didefinisikan oleh orang Arab. Seperti ucapan Jarir bin Athiyah Al Khathfi dalam sya’irnya: 



“Amirul mu’minin berada pada jalan yang lurus, 
meskipun jalan-jalan yang lain berliku” 

Juga ucapan penya’ir Rajiz

“Lalu ia menghalangi dari mengikuti jalan yang lurus”[8]

Mengenai pentakwilan kata الصراط المستقيم ini, terdapat sejumlah pendapat yang berbeda dari para ahli Al Qur’an, dimana semuanya mencakup pentakwilan yang kami pilih.[9] Di antaranya adalah sebagai berikut: 
  1. Riwayat Ali bin Abi Thalib dari Rasulullah, bahwa beliau menyebutkan Al Qur’an, lalu bersabda: هو الصراط المسنتقيمIa adalah jalan yang lurus[10]
  2. Ahmad bin Ishaq menceritakan kepada kami, katanya Abu Ahmad Az Zubairi menceritakan kepada kami, katanya Hamzah Az Ziyat menceritakan kepada kami, dari Abu Mukhtar Ath Tha’I, dari Ibnu Akhi Al Harits Al A’war, dari al Harits, dari Ali, ia berkata, “Jalan yang lurus ialah Kitabullah Ta’ala”[11].
  3. Musa bin Sahl Ar Razi menceritakan kepada kami, katanya Yahya bin Auf menceritakan kepada kami, dari Al Furat bin As Sa’ib dari Maimun bin Mahran, dari Ibnu Abbas tentang jalan yang lurus disini ialah “Islam”[12]
  4. Al Matsanna menceritakan kepada kami, katanya Abub shalih menceritakan kepada kami, katanya Muawiyah bin shalih menceritakan kepada kami bahwa Abdurrahman bin Jubair menceritakan kepadanya dari bapaknya, dari Nawwas bin Sam’an Al Anshari, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Allah membuat parumpamaan jalan yang lurus,” dan jalan yang lurus itu adalah Islam.[13]

Dan masih banyak lagi riwayat yang lain yang memiliki makna yang sama. Al-Thabari berkata: Allah menyebutnya dengan mustaqim karena ia benar dan tidak ada kesalahan padanya. Menurutku, makna yang paling benar dalam pentakwilan ayat (اهدنا الصراط المستقيم) adalah: Berilah kami taufiq untuk tetap konsisten dalam mengikuti perkataan dan perbuatan yang Engkau ridhoi seperti orang-orang shalih yang Engkau telah beri nikmat, dan itulah jalan yang lurus. Karena barang siapa yang diberi taufiq seperti orang-orang shalih, para nabi, orang-orang jujur, para syuhada’, maka ia telah diberikan taufiq kepada Islam, membenarkan para Rasul, berpegang teguh pada Kitab Allah, mengikuti apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi laranganNya, mengikuti manhaj Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan setiap hamba yang Shalih, maka semua itu termasuk “jalan yang lurus”[14].


D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TAFSIR AL-THABARY
  • Kelebihan 
  1. Tafsir Al-Thabari mengandung banyak cabang ilmu yang menunjang kelengkapan dan kesempurnaannya, seperti ilmu Bahasa, Nahwu, Riwayat, qira’at dan sebagainya.
  2. Dengan kandungan yang begitu lengkap dapat berperan penting bagi pengkajinya dalam menambah wawasan.
  3. Disebutkannya berbagai pendapat atau atsar yang mutawatir, baik yang bersumber dari Nabi, para sahabat, tabi’in, tabi’ at tabi’in, serta para ulama sebelumnya menujukkan kehati-hatiannya dalam menafsirkan, sehingga mengecilkan kemungkinan ia berpendapat yang salah.
  4. Kelengkapan dan kesempurnaan penjelasan menyebabkan orang yang mengkajinya dapat memahami tafsirnya dengan baik. 
  • Kelemahan atau Kekurangan 
  1. Karena banyaknya riwayat yang dimuatnya, ia pun mengomentarinya, namun terkadang ada juga riwayat yang tidak dikomentarinya[1], sehingga dibutuhkan lagi penelitian lebih lanjut pada riwayat yang tidak dikomentarinya tersebut.
  2. Pada umumnya ia tidak menyertakan penilaian shahih atau dho’if terhadap sanad-sanadnya.[2]
  3. Kelengkapan penjelasan yang disajikan menyebabkan dalam mengkaji dan mendalami tafsirnya membutuhkan waktu yang sangat lama, serta membutukan kesabaran.
  4. Karena tafsir ini termasuk tafsir yang ilmiah, maka dalam mengkaji dan mendalaminya butuh perhatian dan kejeniusan, sehingga sedikit mempersulit bagi orang yang masih awam. Di samping itu, karena banyaknya pendapat yang termuat di dalamnya menyebabkan orang kesulitan dalam menentukan pendapat yang paling benar.


DAFTAR PUSTAKA

  • Al- Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir( 2007), Jami’ Al Bayan Fi Ta’wil Al Qur’an, penerjemah: Ahsan Askan, Jakarta: Pustaka Azzam
  • Abidu, Yunus Hasan(2007), Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufassir,Jakarta: Gaya Media Pratama
  • Ghafur, Saifullah Amin (2007), Profil Para Mufassir Al Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani
  • Ilyas, Hamim (2004), Studi Kitab Tafsir, Yogyakarta : Penerbit TERAS


ENDNOTE

[1]Dr. Yunus Hasan Abidu(2007),” Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufassir Dalam menafsirkan al Qur’an”, Jakarta:Gaya Media Pratama, hal. 69.
[2]  Saifullah Amin Ghofur (2007),” Profil para Mufassir”, Yogyakarta:Pustaka Insan Madani, hal. 67.
[3]  Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari (Penerjemah: Ahsan Askan, 2007) “Jami’ Al bayan fi Ta’wil Al Qur’an”,   Jakarta:Pustaka Azzam, Jilid 1, hal 35,36,37
[4] Dr.Yunus Hasan Abidu(2007),” Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufassir Dalam menafsirkan al Qur’an”, Jakarta:Gaya Media Pratama, hal. 70-71.
[5]Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari (Penerjemah: Ahsan Askan, 2007) “Jami’ Al bayan fi Ta’wil Al Qur’an”,   Jakarta:Pustaka Azzam, Jilid 1, hal 33,34
[6] Lihat At Tafsir wal Mufassirun (1/268) dan selanjutnya
[7]Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari (Penerjemah: Ahsan Askan, 2007) “Jami’ Al bayan fi Ta’wil Al Qur’an”,   Jakarta:Pustaka Azzam, jilid 1, hal. 43.
[8]Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari (Penerjemah: Ahsan Askan, 2007) “Jami’ Al bayan fi Ta’wil Al Qur’an”,   Jakarta:Pustaka Azzam, jilid 1, hal 248
[9] Ibid
[10]Ibid, hal 249
[11]Ibid
[12]Ibid, hal 250
[13]Ibid, hal 252
[14].Ibid
[15]Dr.Yunus Hasan Abidu(2007),” Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufassir Dalam menafsirkan al Qur’an”, Jakarta:Gaya Media Pratama, hal 71
[16]Ibid



DISUSUN OLEH


SEKIAN

MOGA BERMANFAAT - SALAM SQ BLOG

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.