Kajian Hadis Mursal

Sekilas pengantar : Hadits Mursal adalah hadits yang diriwayatkan oleh tabi’in dari Nabi baik dari perkataan, perbuatan, atau persetujuan, baik tabi’in senior maupun yunior tanpa menyebutkan penghubung antara seorang tabi’in dan seorang Nabi SAW yaitu seorang sahabat ! Next,...

A. DEFINISI HADIS MURSAL

Dari segi bahasa, مُرْسَلٌ merupakan bentuk isim maf’ul dari kata أًرْسَلَ yang berarti أَطْلَقٌ, yaitu melepaskan atau bebas tanpa ikatan. Hadist disebut mursal seakan-akan pelakunya melepaskan sanad-sanadnya dan tidak menyebutkannya dengan seorang rawi yang populer.[1]

Dalam istilah ada beberapa pendapat tentang pengertian hadis Mursal ini,[2] yaitu :
  • Pendapat mayoritas muhadditsin diantaranya Al-Hakim, Ibnu Ash-shalah, Ibnu Hajar, dan lain-lain.

هُوَرِوَايَةُ التَّابِعِى مُطْلَقًا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Adalah periwayatan tabi’in secara mutlak (baik senior maupun yunior) dari Nabi SAW”
  • Pendapat Fuqaha, Ushuliyyun, dan segolongan dari muhadditsin diantaranya Al-Khathib Al-Baghdadi, Abu Al-Hasan bin Al-Qathan, dan An-Nawawi, ialah:

هُوَ مَا انُقَطَعَ إِسْنَادُهُ فِي أَيِّ مَوِضِعٍ مِنَ السَّنَدِ

“Adalah hadits yang terputus isnadnya dimana saja dari sanad”
  • Pendapat Al-Baiquni:
هُوَمَا سَقَطَ مِنْ سَنَدِهِ الصَّحَابِي

“Hadits yang gugur dari sanadnya seorang sahabat”
  • Pendapat Ahlul Ilmu:

هُوَ رِوَايَةُ التَّابعِي اْلكَبِيْرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Yaitu periwayatan tabi’in senior dari Nabi”
  • Menurut sebagian ulama muhadditsin:
هُوَما سقط من اخر إسناده من بعد التابعي

“Hadits yang gugur dari akhir sanadnya orang setelah tabi’in (sahabat)”

Dari beberapa definisi di atas dapat dikompromikan bahwa hadits mursal adalah hadits yang diriwayatkan oleh tabi’in dari Nabi baik dari perkataan, perbuatan, atau persetujuan, baik tabi’in senior maupun yunior tanpa menyebutkan penghubung antara seorang tabi’in dan seorang Nabi SAW yaitu seorang sahabat.[3]

Sebagian pendapat menegaskan, periwayatan tabi’in senior saja bukan tabi’in yunior, karena mayoritas periwayatan tabi’in senior dari sahabat, sedangkan periwayatan tabi’in yunior dari Nabi dimasukkan munqathi’. Berbeda dengan pendapat fuqaha dan Ushuliyyun yang memandang mursal lebih umum dimana saja penggugurannya. Misalnya seorang tabi’in mengatakan, bahwa Nabi SAW bersabda begini......atau berbuat begini.....dan seterusnya. Periwayatan seperti ini disebut mursal tabi’in. Skema Urutan Sanad dalam Hadis Mursal:[4]


Keterangan: [5]
  • Seperti yang terlihat pada bagan di atas, rangkaian sanat terputus pada tingkat sahabat. Demikianlah rangkaian sanad dalam hadist mursal.
  • Dalam prakteknya, hadis mursal bis adengan perkataan tabi’in, baik perkataan tabi’in besar atau kecil atau perkataan sahabat kecil yang menyandarkan sebuah perkataaan arau perbuatan kepada Rasulullah SAW hanya saja tidak menyebutkan dari sahabat mana diperoleh.
B. CONTOH HADIS MURSAL

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمُزَابَنَةِ

Pada hadits di atas terdapat Sa’id bin Al-musayyab yaitu seorang tabi’in besar, beliau meriwayatkan hadist dari Nabi sholallahu ‘alaihi wasalam tanpa menyebutkan penengah (sahabat) antara dia dan Nabi. Maka hadis ini jatuh akhir sanadnya, yaitu setelah tabi’in. 

C. MACAM-MACAM HADIS MURSAL

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa sanad yang gugur adalah pada tingkat sahabat (sanad terakhir). Sedang yang mengugurkan bisa dilakukan oleh tabi’in atau sahabat kecil. Karena itulah, ditinjau dari segi orang yang menggugurkan sekaligus dengan sifat-sifatnya, Hadis mursal dibagi menjadi beberapa macam,[6] yaitu: 

1) Mursal Jaly. Yaitu bila pengguguran yang dilakukan rawi (tabi’in), tampak secara jelas, dapat diketahui oleh umum, bahwa orang yang menggugurkan (mursil) itu tidak hidup semasa dengan orang yang digugurkan . Model Hadis yang pertama ini hukumnya dha’if, karena tidak adanya ketersambungan sanad (ittisal al-Sanad). 

2) Mursal Shahaby. Yaitu Hadist yang disampaikan sahabat yang disandarkan kepada Nabi solallahu ‘alaihi wasalam , hanya saja dia tidak mendengar atau menyaksikan sendiri Hadisnya, disebabkan di saat Rasulullah solallahu ‘alaihi wasalam masih hidup, dia masih kecil atau terakhir masuk agama islam. 

Hadist mursal model kedua ini dihukumi shahih. Karena pada umumnya, dia tidak meriwayatkan Hadist selain dari para sahabat yang lainnya. Dan para sahabat sudah diakui keadilannya. Contohnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari Ibnu Syihab, dari Ubaidillah bin Abdillah bin Atabah dari Abdullah bin Abbas Rhadiallahu ‘anhu riwayat hadistnya adalah: 

عَنْ مَالِكٍ ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، خَرَجَ إِلَى مَكَّةَ عَامَ الْفَتْحِ فِي رَمَضَانَ ، فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ الْكَدِيدَ . ثُمَّ أَفْطَرَ ، فَأَفْطَرَ النَّاسُ. 

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah solallahu ‘alaihi wasalam keluar menuju Makkah, pada hari Futuh Makkah di bulan Ramadhan. Karena itu, beliau puasa sampai al-Kadid. Setelah beliau berbuka, kemudian orang-orang juga berbuka.”(HR. Malik.) 

Menurut al-Qabisyi, hadist di atas dikatagorikan sebagai Hadist mursal shahaby, karena Ibnu Abbas bepergian bersama Rasulullah Solallahu ‘alaihi wasalam tetapi beliau ada di rumah (Makkah) bersama dengan orang tuanya. Jadi, belliau tidak menyaksikan kisah perjalanan tersebut. Hal itu diketahuinya dari sahabat yang lain. 

3. Mursal Khafi. Yaitu Hadis yang diriwayatkan oleh tabi’in yang semasa dengan sahabat, hanya saja dia tidak pernah mendengar dari padanya. Hadist mursal model ketiga ini, hukumnya dha’if. Contoh hadis yang diriwayatkan oleh Al-Awam bin Hausyab dari Abdullah bin Abu Aufa berkata: 

كَانَ لنَّبِيُّ إِذَا قَالَ بِلَالٌ : قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ نَهَضَ وَكَبَّرَ 

“Adalah Nabi SAW ketika bilal membaca: telah berdiri shalat iqamat maka beliau bergerak dan takbir”

Al-Awam bin Hausyab tidak pernah bertemu dengan Abdullah bin Aufa padahal mereka hidup semasa. Unruk mengetahui mursal khafi’ ini memlalui keterangan sebagian Imam bahwa seorang perawi ini tidak pernah bertemu dengan pembaw berita itu atau tidak pernah mendengar dari pembawa berita atau dengan jalan sanad lain yang menambah anatara dua orang yakni antar perawi dan pemberitaaanya.[7]

D. BERHUJJAH DENGAN HADIS MURSAL

Pada dasarnya hadis mursal tidak dapat diterima kehujahannya (mardud). Meskipun begitu, masih ada perbedaan pendapat dikalangan ulama . Di antaranya:[8]

1) Menurut pendapat yang populer dari Imam Abu Hanifah (w. 150 H), Imam Malik bin Anas (w. 179 H) dan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), bahwa hadis mursal dapat diterima sebagai landasan hukum dalam islam (hujjah). Beliau beralasan, bahwa menurut logika, periwayatan Hadits menggugurkan rawi-rawinya karena mereka sudah dianggap adil. Seandainya rawi-rawi tersebut tidak adil, tentu mereka mencantumkannya. Beliau juga beralasan dengan sabda Nabi SAW yang memuji generasi tabi’in berikut ini: 

حَدَّثَنَا آدَمُ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، حَدَّثَنَا أَبُو جَمْرَةَ قَالَ : سَمِعْتُ زَهْدَمَ بْنَ مُضَرِّبٍ قَالَ : سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (رواه البخاري) 

“Imran bin Hushain berkata: Rasulullah solallahu ‘alaihi wasalam bersabda: ‘Sebagus –bagusnya kalian adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya dan kemudian generasi yang sesudahnya". (HR. Bukhari) 

2) Mayoritas ulama dan Imam Syafi’i (w. 204 H), memandang bahwa Hadits mursal adalah dha’if. Karenanya, ia tidak bisa dijadikan landasan hukum (hujjah). Kedha’ifan ini disebabkan rawi yang digugurkan tidak diketahui identitasnya. Jadi tidak jelas, apakan yang digugurkan itu seorang sahabat atau tabi’in yang mendengar dari orang yang mengaku sahabat. 

Meski demikian, kalangan ulama jumhur dan Imam Syafi’i tidak mengatakan kedha’ifan Hadist ini secara mutlak. Hadits mursal juga bisa diterima, dengan adanya beberapa persyaratan berikut ini: 
  • Hadits mursal dari Ibnu Musayyab. Sebab, pada umumnya, ia tidak meriwayatkan Hadits selain dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu (mertuanya).
  • Hadits mursal yang dikuatkan dengan musnad, baik dhaif maupun shahih. Contoh Hadits mursal yang dikuatkan dengan Hadits musnad yang dha’if: 
كَانَ رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ آمِينَ. 

“Rasulullah Solallahu ‘alaihi wasalam membaca amin.” 

Hadits di atas dikuatkan oleh Hadits Imam Daruqutni, yang bersanad: Hafsin bin Umar Malik Ibnu syihab Ibnu Musayyab Abu Hurairah yang semakna dengan Hadits di atas. Dalam Hadits ini Hafsin menyendiri dalam meriwayatkannya (gharib). Oleh sebab itu, Haditsnya dha’if. 
  • Hadits mursal yang dikuatkan denga qiyas. Misalnya Hadits riwayat Imam Syafi’i yang disampaikan oleh rawi-rawi yang tsiqat (terpercaya) melalui az-Zuhri, yaitu:
كَانَ رَسُولُ اللهِ يَأمُرُ المُؤَذِنُ فِي العِيدَينِ فَيَقُولُ: الصَلَاةُ جَامِعَةً 

“Rasulullah pernah memerintahkan muadzin pada shalat dua hari raya (‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri) menyeru: ash-Shalatu jami’ah.” 

Hadits di atas mursal, hanya saja dikuatkan dengan qiyas, yaitu qiyas pada shalat gerhana, seperti yang disampaikan oleh Aisyah berikut ini: 

خَشَفَت الشَمسُ فِي عَهدِ الرَسُولُ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا : الصَلَاةُ جَامِعَةً (رواه مسلم) 

“Gerhana matahari telah terjadi pada masa Rasulullah solallahu ‘alaihi wasalam. Kemudian beliau memerintahkan kepada Mu’adzin untuk menyeru dengan: ash- Shalatu jami’ah” (HR. Muslim). 
  • Hadis mursal yang dikuatkan oleh Hadits-Hadis mursal lainnya. Misalnya, Hadis Malik yang bersanadkan Yazid bin Aslam dan Ibnu Musayyab berikut: 
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ اللَّحْمِ بِالْحَيَوَانِ. 

“Bahwa Rasulullah melarang menjual daging dengan hewan” 

Hadits riwayat Malik di atas dikuatkan oleh Hadits mursal Imam Baihaqi yang bersanadkan: al-Hasan dan Samurah bin jundub yaitu: 

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ يُبَاعَ حَىٌّ بِمَيِّتٍ

“Beliau Rasulullah melarang dijualnya binatang yang hidup dengan yang mati”. (HR. al-Baihaqi). 

Terkait dengan Hadits di atas, ulama Hadits memperselisihkan apakah Al-Hasan mendengar sendiri dari Samurah? Sebagian ahli Hadits menyatakan, dia tidak mendengar sendiri, sehingga Haditsnya mursal. 

3) Menurut Imam as-Syaukani, bahwa Hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah secara mutlak, karena ada keragu-raguan dan tidak diketahuinya keadaan rawi. Inilah pendapat yang paling rajih (unggul) menurut para ahli Hadits.[9]

E. KITAB YANG MEMUAT HADIS MURSAL

Diantara kitab-kitab yang memuat hadis Mursal adalah:[10]
  1. Al-marasil, karya Abu Daud
  2. Al-marasil, karya Ibnu Abi Hatim
  3. Jami’ Ath-Tahs’hil li Ahkam Al-Marasil, karya Al-Ala’i
  4. At-Tafshil li Mubham Al-Marasil, karya Al-Khathib.

DAFTAR PUSTAKA

As-Suyuti, Jalaluddin Abu Al-Fadlu Abdur Rahman. Tadribu-r-Rawi fii Syarhi Taqribu an-Nawawi.  Beirut: Darul        Fikr, 2006
At-thahan, Mahmud.  Taisir   mustolahul hadisBeirut:  Dar  Al-qur’an  Al-karim, 1399 H / 1979 M
Hasyim, Ahmad. Qawa’id Ushulul Hadis. Beirut: A’ilah Al-Kitab, 1997
Khon,  Abdul Madjid, Ulumul Hadis. Jakarta : AMZAH, 2009
Rifa’i, Zuhdi.  Mengenal Ilmu Hadits. Jakarta: Penerbit Al-Ghuraba, 2009
.

ENDNOTE

[1] Mahmud Thohan, Taysir Musthalahul Hadis (Beirut: Da’rul Fakr), hal. 166
[2] Dr. H. Abdul Majid Khon, M. Ag, Ulumul Hadits (Jakatra: AMZAH), 169-170.
[3]  Dr. H. Abdul Majid Khon, M. Ag, Ulumul Hadits (Jakatra: AMZAH), 169-170.
[4]  Zuhdi Rafi’i, Mengenal ilmu hadist (Jakarta: Al-Ghuraba, 2009)  hal. 203
[5]  Ibid. Hal. 203
[6]  Zuhdi Rafi’i,  Mengenal ilmu hadist  (Jakarta: Al-Ghuraba, 2009)  hal. 203
[7]  Dr. H. Abdul Majid Khon, M. Ag, Ulumul Hadits (Jakatra: AMZAH), 171-172
[8]  Zuhdi Rafi’i, Mengenal ilmu hadist (Jakarta: Al-Ghuraba, 2009)  hal. 205-208
[9]  Zuhdi Rafi’i, Mengenal ilmu hadist (Jakarta: Al-Ghuraba, 2009)  hal. 205-208
[10]  Dr. H. Abdul Majid Khon, M. Ag, Ulumul Hadits (Jakarta: AMZAH, 2009), hal. 173

pdf DOWNLOAD : DISINI
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.