Contoh Penafsiran Jamaluddin al-Qasimi

Berikut beberapa contoh penafsiran ayat dari tafsir Mahasin al-Ta’wil karya Muhammad Jamaluddin al-Qasimi:

a) Surah al-Mu’minun ayat 71-74

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ ﴿٧١﴾ أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ ﴿٧٢﴾ وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ﴿٧٣﴾ وَإِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ عَنِ الصِّرَاطِ لَنَاكِبُونَ ﴿٧٤﴾ (سورة المؤمنون : ٧١-٧٤)

Artinya: Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. Atau kamu meminta upah kepada mereka?, maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezki Yang Paling Baik. Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). (Q.S. al-Mu’minun : 71-74)

Tafsirnya:[1]

(وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ), yakni sekiranya kebenaran yang mereka benci seperti tauhid dan keadilan yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. kebenaran itu ikut hawa nafsu mereka yang bertebaran dalam kebatilan yang timbul dari nafsu mereka yang gelap dan menggelapkan. Jika demikian adanya, hukum kausalitas ini akan rusak karena ketergantungan hukum alam ini tiada lain kecuali pada tauhid dan keadilan. Di sini terdapat urusan kebenaran dan peringatan atas ketinggian kedudukannya yang tidak samar. (بَلْ أَتَيْنَاهُمْ), satu contoh dari mencela mereka dan kebenciannya, pindah dari menegur sikap mereka ke pelarian dari apa yang digemari setiap jiwa, yaitu dari kebaikannya, yakni sebenarnya ia bukan kebencian tetapi pelajaran bagi mereka seandainya mereka mengambilnya sebagi pelajaran. Atau bagi kesombongan dan kebanggaan mereka karena mereka kelak berkata “Sekiranya kami memiliki ajaran dari orang-orang terdahulu niscaya kami menjadi orang yang ikhlas berbakti”. (فَهُمْ مُعْرِضُونَ), yakni berpaling dari peringatan. Allah mengulangi lafal ذِكْرِهِمْ sebagai pengagungan dan disandarkan kepada mereka karena seperti tersebut semula, dan di surat al-Anbiya : 42, Zikri Rabbihim, karena memastikan apa yang sebelumnya (أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا), yakni pajak dalam menyampaikan risalah, dan karena alasan itu mereka lalu tidak beriman. (فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ), yakni karunia dan ayat seterusnya (لَنَاكِبُونَ) bermakna berpaling.

Al-Qasyani berkata, Sirat al-mustaqim yang didakwahkan nabi kepada mereka ialah jalan tauhid yang memastikan untuk membuahkan keadilan dalam jiwa, adanya rasa cinta di hati dan menyaksikan Keesaan. Sedangkan orang yang tertutupi dengan gulita dari alam cahaya degan najis dari kesucian, sesungguhnya mereka bergelimang dalam kezaliman dan kebencian, permusuhan dan condong pada yang berlebihan, sebenarnya mereka telah berpaling dari jalan kebenaran maka mereka berada dalam jurang kebinasaan. Imam Zamakhsyari berkata, “Allah telah menetapkan hujjah-Nya dalam ayat ini dan menanggalkan alasan-alasan mereka dan mengemukakan kepada mereka bahwa nabi yang diutus kepada mereka adalah seorang lelaki yag telah diketahui kepribadian dan keberadaannya. Telah diberitakan baik degan jelas atau tersembunyi, ia adalah makhluk yang tepilih untuk menyampaikan risalah dari kalangan mereka, dan risalah itu tidak ditawarkan kepadanya hingga dakwah yang mulia ini tidak dituduh dengan kebatilan. Dan ia berserah diri padanya untuk memperoleh urusan dunia mereka dan pemberian harta mereka. Dia tidak mengajak mereka kecuali kepada agama Islam yang jadi siratal mustaqim serta menampakkan penyakit-penyakit mereka yang tersembunyi, yaitu kesalahan dan kefatalan mereka dalam berpikir dan merenungi nenek moyang mereka yang sesat tampa ada dalil yang kuat. [2]

b) Surah al-Nisa ayat 3

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا ﴿ النساء: ٣﴾

Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka (kawinilah) seorang saja , atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Q.S. al-Nisa: 3) 

Tafsirnya:

Pembahasan penting: al-Rozi menjelaskan bahwa kaum sudda (suku kuhti yang berada di dekat zabid, Yaman) berpendapat mengenai diperbolehkannya menikah dengan jumlah berapapun yang dikehendaki. Mereka berargumentasi dengan al-Quran dan Hadis. Mengenai argumentasinya dari al-Quran, mereka telah berpegang teguh terhadap ayat tersebut dengan tiga alasan, pertama; bahwa firman Allah (فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ) memutlakkan semua jumlah, kedua; bahwa Firman-Nya (مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ) tidak layak dijadiakn sebagai takhsis terhadap keumuman ayat di atas, ketiga; bahwa huruf (waw) di dalam ayat tersebut berfungsi untuk penjumlahan secara mutlak sehingga, firmannya (مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ) menunjukkan jumlah, yaitu 9. Bahkan yang benar menunjukkan jumlah 18 belas. Sebab مَثْنَى tidak menunjukkan arti 2 saja tetapi dua-dua sehingga مَثْنَى diartikan 4 dan begitu pun seterusnya. Kemudian argumentasi hadis, ada 2 alasan; pertama; telah dinyatakan dengan mutawatir bahwa Nabi Saw telah meninggalkan 9 istri, kedua; bahwa sunnah seseorang itu esensinya merupakan tuntutanannya. 

Al-Qasimi kemudian mengetengahkan beberapa pandangan al-Rozi yang melemahkan pemahaman tersebut. Dia juga mengetengahkan pendapat al-Syaukhani untuk mendukung pemahaman tersebut. Dia juga menampilakan pandangan Ibnu Abdul al-Barr untuk menilai kecacatan hadis. Dimana Rasulullah Saw memerintahkan Ghailan bin Salamah ketika dia memeluk Islam sementara dia mempunyai 10 istri. Rasul memerintahkannya memilih empat diantara mereka dan menceraikan yang lain. Selain itu, ia juga menampilkan pandangan ulama seperti Imam Syafi’i, Ibnu Abi Syaibah, al-Timidzi dal lain-lain yang menshahihkan hadis tersebut. 

Dari keterangan di atas, nampak bahwa al-Qasimi mencantumkan beragam pendapat terkait ayat tersebut dengan memberikan masing-masing argumennya. Ia tidak berpihak pada salah satu pandangan dalam memberikan ulasannya, melainkan memberikan wewenang kepada pembaca untuk mengambil pendapat yang dinyakininya benar. Hal inilah yang merupakan keunikan tersendiri dari tafsirnya dengan pembahasan yang panjang lebar mengenai ayat yang banyak menjadi bahan perdebatan. Namun pada sisi lain, ini jugalah yang menjadi kelemahan tafsir ini karena memuat sebuah potret tentang benturan yang terus-menerus dalam tubuh Islam.[3] Walaupun demikian, al-Qasimi juga secara tegas memberikan pandangnnya mengenai problematika sosial kehidupan masyarakat dan dalam berbagai konteks lainnya selain perdebatan yang sanagt signfikan seperti kasus diatas. 

Wallahu A’lam !!!


[1] Muhammad Jamaluddin al-Qasimy, Tafsir Mahasin al-Ta’wil, (Beirut: Darr al-Fikr, 1398 H / 1978 M), Cet. II, Jilid 1, Juz 2, hal 94-95
[2] Muhammad Jamaluddin al-Qasimy, Tafsir Mahasin al-Ta’wil, hal 95
[3] Abdul Majid Al-Muhtasib, Visi dan Paradigma: Tafsir al-Quran Kontemporer, judul asli “Ittijaahaat al-Tafsir al-Ashri al-Rahim” (Surabaya: Pustaka Insan Madani, 1997 M), Cet. I, hal. 50

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.