Term "Manusia" dalam al-Quran

Menurut Quraish Shihab, Ada tiga kata yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada manusia, yaitu:[1]
  1. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif (أ), nun (ن), dan sin (س) semacam insan (إنسان), ins (إنس), nas (ناس), atau unas (أناس),
  2. Menggunakan kata basyar (بشر), dan
  3. Menggunakan kata Bani Adam (بني آدم) dan zuriyat Adam (ذرّيّة آدم).

Secara rinci, uraian dari masing-masing istilah diatas dapat dilihat sebagai berikut:

a) Konsep Insan (إنسان)

kata insan (إنسان) terambil dari kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Ada pula yang mengaitkan kata insan dengan nasiya yang berarti lupa. Misalnya Ibnu Abbas yang mengungkapkan bahwa manusia itu disebut insan karena ia sering lupa kepada janjinya. Namun dari sudut pandang Al-Quran, pendapat yang mengatakan Insan terambil dari kata Uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak adalah lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata Nasiya (lupa) dan Nasa-Yanusu (berguncang).[2]

Dalam Al-Qur’an, kata insan disebut sebanyak 61 kali. Kata insan di dalam kebanyakan konteks pembicaraanya dalam Al-Quran lebih mengarah kepada arti manusia dengan sifat psikologisnya.[3] Makna ini dapat dilihat dalam ayat berikut:

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ ﴿الزخرف : ۱٥﴾

Artinya: “Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya . Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (QS. Az-Zukhruf : 15)

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ﴿الفجر : ۱٥﴾

Artinya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. (QS. al-Fajr : 15)

Menurut Quraish Shihab, kata insan digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Bahkan Bintusy Syathi’ menegaskan bahwa makna kata insan inilah yang membawa manusia sampai pada derajat yang membuatnya pantas menjadi khalifah di muka bumi, menerima beban dan amanat kekuasaan.[4]

Potensi manusia menurut konsep al-Insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi.[5] Jelas sekali bahwa dari kreativitasnya, manusia dapat menghasilkan sejumlah kegiatan berupa ilmu pengetahuan, kesenian, ataupun benda-benda ciptaan. Kemudian melalui kemampuan berinovasi, manusia mampu merekayasa temuan-temuan baru dalam berbagai bidang. Dengan demikian manusia dapat menjadikan dirinya makhluk yang berbudaya dan berperadaban.

b) Konsep Ins (إنس)

Kata ins (إنس) merupakan salah satu turunan dari kata anasa (أنس). Kata ini juga sering pula diperhadapkan dengan kata al-jinn (الجن). Misalnya dalam beberapa ayat berikut:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا ﴿ الإسراء : ۸۸﴾

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ﴿الأنعام : ۱۱۲﴾

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا ﴿ الجن : ٦﴾

Kedua jenis kata ini (الإنس والجن) tentu sangat bertolak belakang bahwa yang yang pertama bersifat nyata (kasat mata), sedangkan yang kedua bersifat tersembunyi. Ada sebanyak 17 kali Allah menyebutkan kata al-ins yang disandingkan dengan al-jinn atau jan. Dalam pemakaiannya, kata ins dalam Al-Quran mengarah kepada jenis dan menunjukkan manusia sebagai nomina kolektif. Secara keseluruhan, penyebutan al-Ins dalam Al-Quran sebanyak 22 kali.[6] Pendapat lain menyebutkan, sisi kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata al-Ins dalam arti “tidak liar” atau “tidak biadab” merupakan kesimpulan yang jelas bahwa manusia yang nampak itu merupakan kebalikan dari jin yang bersifat metafisik dan identik dengan liar atau bebas.[7]

Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dalam konsep al-ins yang berarti manusia selalu di posisikan sebagai lawan dari kata jin yang bebas. Kata ini mengandung makna bersifat halus dan tidak biadab. Adapun Jin adalah makhluk bukan manusia yang hidup di alam yang tak terinderakan.

c) Konsep Nas (ناس)

Konsep al-Nas (ناس) pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial.[8] Tentunya sebagai makhluk sosial, manusia harus mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial artinya tidak boleh sendiri-sendiri Karena manusia tidak bisa hidup sendiri. 

Asal mula terjadinya manusia yang bermula dari pasangan laki-laki dan wanita (Adam dan Hawa) kemudian berkembang menjadi masyarakat. Dengan kata lain, adanya pengakuan terhadap spesis di dunia ini menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara dan tidak boleh saling menjatuhkan. Secara sederhana, inilah sebenarnya fungsi manusia dalam konsep an-Naas. Mengenai asal kejadian keturunan umat manusia, dijelaskan dalam ayat berikut: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿ النساء : ۱﴾

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. an-Nisa’ : 1)

d) Konsep Unas (أناس)

Kata unas (أناس), seperti halnya kata ins terdiri dari tiga huruf yang berarti manusia. Dari sini pula terbentuk kata anasiyyu (أناسي). Pemakaian kata ini dalam ayat-ayat Al-Quran selalu menunjukkan kepada sejumlah manusia sehingga mengandung makna suku atau kabilah. Kata ini ditemukan sebanyak 5 kali dalam Al-Quran yaitu QS. Al-Baqarah : 60; QS. Al-A’raf : 82, 160; QS. Al-Isra’ 71; dan QS. An-Naml : 56.[9] Lebih lanjut, teks ayatnya dapat diperhatikan dibawah ini:

وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِن رِّزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ ﴿ البقرة : ٦٠﴾

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”.(QS. al-Baqarah : 60)

e) Konsep Basyr (بشر)

Kata Basyr (بشر) bermakna pokok tampaknya sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama, lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang yang lain.[10] Oleh karena itu, kata basyar dalam Al-Quran secara khusus merujuk kepada tubuh dan lahiriah manusia.

Al-Quran menggunakan kata ini sebanyak 37, yaitu 36 kali dalam bentuk mufrad dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Dalam pengertian ini, dapat kita temukan dalam QS. Al-Kahfi 110:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ ﴿ الكهف : ۱۱٠﴾

Artinya: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. (QS. al-An’am : 110)

Pada konteks lain, ayat-ayat Al-Quran yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar melalui tahap-tahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.[11] Hal ini ditegaskan di dalam QS. Al-Rum : 20:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ ﴿ الروم : ۲٠﴾

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”. (QS. ar-Ruum : 20)

Sejalan dengan keterangan diatas, maryam mengungkapkan keherananya “bagaimana mungkin aku memperoleh anak padahal belum pernah disentuh oleh basyar, yakni manusia dewasa yang mampu melakukan hubungan seksual”.[12] Keterangan ini ditegaskan dalam QS. al-Imran : 47:

قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ﴿ آل عمران : ٤٧﴾

Artinya: “Maryam berkata: ‘Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. QS. al-Imran : 47)

Disamping itu, ditemukan pula kata basyiruhunna (بَاشِرُوهُنَّ) yang juga berakar dari kata basyara (بشر) dengan arti hubungan seksual. Kata ini disebutkan dua kali di dalam satu ayat, yakni QS. al-Baqarah : 187.[13]

f) Konsep Bani Adam (بني آدم) dan Zurriyat Adam (ذرّيّة آدم)

Adapun kata bani adam (بني آدم) dan zurriyat Adam (ذرّيّة آدم), yang berarti anak Adam atau keturunan Adam digunakan untuk menyatakan manusia bila dilihat dari asal keturunannya. Dalam Al-Qur’an istilah bani adam disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 ayat.[14] Penggunaan kedua kata ini dapat dilihat dibawah ini:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴿ الأعراف: ۳۱﴾

Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. al-Baqarah : 31)

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ﴿ مريم: ٥۸﴾

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni'mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.(QS. al-Baqarah : 58)

Menurut Thabathaba’i dalam Samsul Nizar (2001: 52), penggunaan kata bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu: 
  1. Anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, di antaranya adalah dengan berpakaian guna manutup aurat,
  2. Mengingatkan pada keturunan Adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak kepada keingkaran,
  3. Memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka ibadah dan mentauhidkan-Nya. Kesemuanya itu adalah merupakan anjuran sekaligus peringatan Allah dalam rangka memuliakan keturunan Adam dibanding makhluk-Nya yang lain.
Lebih lanjut, Jalaluddin mengatakan konsep Bani Adam dalam bentuk menyeluruh adalah mengacu kepada penghormatan kepada nilai-nilai kemanusian. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manusia dalam konsep Bani Adam adalah sebuah usaha pemersatu (persatuan dan kesatuan) tidak ada perbedaan sesamanya yang juga mengacu pada nilai penghormatan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian serta mengedepankan HAM.[15] Adapun yang membedakan hanyalah ketaqwaannya kepada Pencipta. Sebagaimana yang diutarakan dalam QS. Al-Hujarat: 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿ الحجرات: ۱۳﴾

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. al-Hujurat : 13)


ENDNOTE



[1] Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2007), Cet. I, Hal. 367
[2] Sahabuddin., (ed.). Ensiklopedi Al-Quran : Kajian Kosakata, (Jakarta : Lentera Hati, 2007), Cet. I, Hal. 1040
[3] Ibid, Hal 1040
[4] Aisyah Bintusy Syati, Manusia Dalam Perspektif AL-Qur’an,  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1955),  Hal. 14
[5] Jalaluddin. Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), Hal. 23
[6] Sahabuddin., (ed.). Ensiklopedi Al-Quran : Kajian Kosakata, (Jakarta : Lentera Hati, 2007), Cet. I, Hal. 1040
[7] Aisyah Bintusy Syati, Manusia Dalam Perspektif AL-Qur’an,  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1955),  Hal. 5
[8] Jalaluddin. Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), Hal. 24
[9] Sahabuddin., (ed.). Ensiklopedi Al-Quran : Kajian Kosakata, (Jakarta : Lentera Hati, 2007), Cet. I, Hal. 1040-1041
[10] Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2007), Cet. I, Hal. 367
[11] Ibid, Hal. 368
[12] Sahabuddin., (ed.). Ensiklopedi Al-Quran : Kajian Kosakata, (Jakarta : Lentera Hati, 2007), Cet. I, Hal. 1040-1041
[13] Sahabuddin., (ed.). Ensiklopedi Al-Quran : Kajian Kosakata, (Jakarta : Lentera Hati, 2007), Cet. I, Hal. 1040-1041
[14] Abdul Mukti Ro’uf. Manusia Super, (Pontianak: STAIN Pontianak Press, 2008.), Hal. 39
[15] Jalaluddin. Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), Hal. 27


PRESENTED BY : HASRUL
DOSEN PEMBIMBING : Dr. ALI NURDIN, MA

pdf DOWNLOAD : DISINI
Label:

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.