Profil Jamaluddin al-Qasimi


Malam Sobat SQ - BLOG, dimana pun berada ! Kembali pada kesmpatan ini, admin berbagi sedikit mengenai profil atau biografi salah satu ahli tafsir yang turut berandil besar dalam bidang ini, yaitu JAMALUDDIN AL-QASIMI. Oky sobat, langsung simak kisahya berikut:

Nama lengkapnya adalah Syekh Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Said bin Qasim bin Sholih bin Ismail bin Abu Bakr al-Qasim al-Damsyiqi. Dia termasuk ulama besar Syam (Syiria) yang Dilahirkan pada tahun 1283 H / 1866 M dan meninggal tahun 1332 H / 1914 M. Ia tumbuh dalam didikan ayahandanya sehingga memperoleh prinsip-prinsip dasar ilmu agama dari orangtuanya. Ia juga menerima ilmu lainnya dari ulama pada zamannya, di antara ulama yang terkemuka ialah Syaikh al-Bakri al-Atthar dan Syaikh Abdur Raziq al-Bithar.[1]

Al-Qasimi adalah Ahli hadits besar negeri Syam sebelum masa Ahmad Syakir dan Bahjat al-Baithar. Ahmad Syakir adalah salah satu muridnya, beliau pernah berkata tentang gurunya itu, “Pada saat kami menginjak dewasa, kami yang sangat ingin berhias dengan ilmu yang benar, yaitu ilmu al-Qur’an dan al-Sunnah. Kami sangat antusias dengan kitab-kitab a dan orang-orang yang datang setelah mereka yang berpegang teguh dengan petunjuk kenabian. Dan mereka mengikuti dalil yang shahih tanpa disertai ta’ashub terhadap suatu pendapat dan hawa nafsu serta tidak pula hanya taqlid buta”.[2]

a) Kepribadian dan Wawasan Keilmuan Jamaluddin al-Qasimi

Al-Qasimi tumbuh di tengah keluarga yang memegang teguh nilai-nilai ketakwaan dan dikenal memiliki wawasan ilmu yang luas. Ayahnya adalah seorang fakih dan juga ahli dalam bidang sastra. Cakrawala pemikirannya mulai terbentang di hadapannya sejak dini. Ia melakukan berbagai kajian dalam perpustakaan pribadinya yang didirikan oleh kakeknya dan diwariskan kepadanya dari ayahnya. Perpustakaan tersebut memuat banyak buku tentang tafsir, hadis, fiqih, bahasa, tasawuf, sastra, sejarah, ushul, sosial-kemasyarkatan, olahraga, hukum perbandingan, filsafat klasik dan kontemporer serta berbagai buku mengenai kelompok-kelompok Islam dan buku-buku tentang agama lain.

Jamaluddin al-Qasimi merupakan pengagum Ibnu Taimiyah sehingga termasuk pentolan madrasah salaf. Ia mencapai kemahiran yang luas dalam meneliti dan menguasai keilmuannya. Hingga ia sendiri menceritakan tentang dirinya bahwa Allah telah melimpahkan karunia-Nya. Ia mendengar shahih Muslim, baik secara riwayat atau dirayah di satu majelis selama 40 hari; sunan Ibnu Majah selama 21 hari; Muwatta selama 19 hari dan melihat sendiri kitab Taqrib al-Tahdzib karya Ibnu Hajar serta merevisi kesalahan yang ada di dalamnya, memperkokoh dan mensyarahnya dari catatan yang amat sah dan ia berkata “kitab ini saya baca diiringi dengan yang lainnya lalu aku berjuang dengan diri dan penglihatanku hingga aku sakit mata”. Ia dituduh jadi da’I mazhab baru yang dikenal dengan nama mazhab Jamali. Ia ditangkap dan diminta keterangan. Akan tetapi ia menjawab tuduhan itu dan membuktikan ketidakbenarannya dan ia pun dilepaskan.[3]

Amir al-Bayan, Syakib Arsalan memujinya dan berkata: “Tersebut pada dekade akhir ini, Jamal Damaskus dan Jamal al-Qatthar al-Syami seluruhnya dalam limpahan keutamaannya, luas ilmunya, tajam indranya, tinggi akhlaknya dan pengetahuan yang mumpuni. Ia tinggal dalam keutamaan dan kemuliaan hingga ia dan Syaikh Abdur Raziq al-Bithar, dua orang alim dari pemuka ahli Syam yang ada kemiripan, sebagaimana yang dikatakan oleh Amir Syakib dalam hal toleran terhadap makhluk, kemampuan berpikir, agungnya cita-citanya dan melimpahnya ilmu mereka, yang memadukan antara rasio dan wahyu, antara riwayat hadis dan pemahaman, tiada yang lebih mulia dari keduanya di masa itu baik dibidang pemikiran. Mereka memiliki pandangan lebih jauh menembus jiwanya dalam memahami kitab dan nash, juga dalam membedakan lafal yang umum atau yang spesifik, disamping itu keberadaan mereka merupakan pukulan yang telak terhadap aliran Hasywiyah, yaitu golongan al-Mujassamah dalam aqidah.

Muhammad Rasyid Ridha berkata tentang dia “Dia adalah orang alim dari Syam yang langka, pembaru ilmu-ilmu keislaman, penghidup sunnah dengan ilmu dan amal dalam pengajaran dan terpelajar, dalam karya dan termasuk dari lingkaran pertemuan antara petunjuk salaf dan perkembangan yang dibutuhkan zaman. Ia seorang ahli Fiqih, Mufassir, ahli Hadis, ahli Sastra, Seniman yang takwa dan selalu kembali kepada Allah yang memiliki karangan melimpah dan bahasan yang diterima”. Riwayat hidup al-Qasimi tidak sepi dari pengembaraan dan perjalanan. Ia pergi ke Mesir dan ziarah ke Madinah dan kembali ke Damaskus. Dia menyendiri di rumahnya untuk mengarang dan menyampaikan studi, baik yang khusus maupun yang umum di bidang tafsir, sastra, ilmu Agama, hingga Allah mewafatkannya di bulan Rajab 1332 H. semoga Allah merahmati dan menjadikan ilmunya bermanfaat bagi umat manusia. [4]

b) Karya-karya Jamaluddin al-Qasimi

Imam Jamaluddin al-Qasimi memulai kehidupan ilmiyahnya sebagai pengajar di masa hidup ayahnya, setelah ayahnya wafat ia menggantikan kedudukannya di Masjid Sananin Damaskus. Ia mengembangkan semangatnya dalam keilmuan, dalam menyusun, mensyarah, kritik dan reformasi sehingga karangannya berkembang dan karyanya yang banyak hingga jumlahnya tidak kurang dari 80 buah, baik yang dicetak maupun yang masih berupa dokumen asli (makhtuthat).[5] Abdul Majid al-Muhtasab mengatakan juga bahwa di usianya yang belum genap lima puluh tahun telah meninggalkan 100 karya, bahkan lebih.

Para penulis yang sezaman dengan al-Qasimi menganggap sajak dalam bidang karya kepenulisan sebagai pesona utama. Keindahan sastra telah menjadi panutan yang senantiasa diikuti oleh para penulis dalam karya tulis mereka. Setelah itu, berkembanglah gaya penulisan prosa (thariqah tharassul). Muhammad Abduh adalah salah satu ulama yang menggunakannya bahkan menganjurkan penyebarannya. Al-Qasimi merupakan pengagum Muhammad Abduh, dia kemudian menggunakan sajak dengan prosa dalam banyak tulisannya setelah perkenalannya dengan Muhammad Abduh pada tahun 1904 M. [6] Berikut beberapa karya Muhammad Jamaluddin al-Qasimi:[7]
  1. Mahasin al-Ta’wil Fi Tafsir Quran al-Karim
  2. Faslu al-Karim fii Haqiqat audi Ruh ilal Mayyiti hina al-Kalam
  3. Al-Bahsu fii Jami’il al-Qira’ati al-Utarif alaiha
  4. Dalail at-Tauhid
  5. Mauidzatul Mukmin min Ihya’Ulumuddin
  6. Qawaid at-Tahdis Fi Funun Mutstalah al-Hadis.
Mudah-mudahan sekilas uraian ini bermanfaat dan insya Allah di lain kesempatan kami akan posting sekilas corak dan karakteristik salah satu karya besarnya, yaitu Tafsir Mahasin al-Ta'wil !

ENDNOTE




[1] Mani’ Abdul Halim Mahmud,, Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir terjemahan Faisal Shaleh dan Syahdianor dari judul asli “Manhaj al-Mufassirin” (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006 M), Cet. I, hal. 232
[2] Artikel: Biografi Ulama Sunnah, Diposkan Oleh Abu Abdillah al-Sundawi, dikutip dari Pengantar Kitab al-Mashu’ala al-Jaurabain karya al-Qasimi, Vol. Minggu, 08 November 2009 M
[3] Mani’ Abdul Halim Mahmud, Metodologi  Tafsir: Kajian  Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir, hal. 234
[4] Mani’ Abdul Halim Mahmud, Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir terjemahan Faisal Shaleh dan Syahdianor dari judul asli “Manhaj al-Mufassirin” (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006 M), Cet. I, hal. 234-235
[5] Mani’ Abdul Halim, Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir , hal. 232
[6] Abdul Majid Al-Muhtasib, Visi dan Paradigma: Tafsir al-Quran Kontemporer, judul asli “Ittijaahaat al-Tafsir al-Ashri al-Rahim” (Surabaya: Pustaka Insan Madani, 1997 M), Cet. I, hal. 36
[7] Mani’ Abdul Halim Mahmud, Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir terjemahan Faisal Shaleh dan Syahdianor dari judul asli “Manhaj al-Mufassirin” (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006 M), Cet. I, hal. 235

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.