Penciptaan Manusia dalam al-Quran


Pagi cerah ini sedikit berbagi lagi, masih terkait mengenai Kajian manusia yaitu Penciptaan Manusia dalam al-Quran setelah sebelumnya telah memposting Term Manusia dalam al-Quran serta Rating dan Potensi Manusia dalam al-Quran. Kajian ini tentunya bersifat tematik dalam melihat sisi manusia dalam perspektif al-Quran. Untuk post kali ini pembahasannya sekilas:
  1. Produksi dan Reproduksi Manusia
  2. Penciptaan Awal Manusia
  3. Penciptaan Keturunan Adam
Sebenarnya posting kali ini masih menyisahkan sebuah isu hangat terkait pembahasan ini, yaitu penciptaan perempuan khususnya Hawa (Istri Nabi Adam a.s). Insya Allah, uraiannya kami posting di lain kesempatan !!!
Al-Quran telah memberikan informasi kepada kita bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari materi dan roh. Unsur materi dan roh pada manusia tidak bisa dijadikan terpisah atau berdiri sendiri satu sama lain, tetapi keduanya berpadu secara bersamaan dalam satu kesatuan yang saling melengkapi dan harmonis. Dari perpaduan yang saling melengkapi dan harmonis ini, terbentukah diri manusia dan kepribadiannya.


A) PRODUKSI DAN REPRODUKSI MANUSIA

Al-Quran menguraikan produksi dan reproduksi pada manusia. Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama, al-Quran menunjuk kepada Sang Pencipta dengan menggunakan pengganti nama berbentuk tunggal.[1] Hal ini seperti diungkapkan dalam beberapa ayat berikut:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ ﴿ ص: ٧۱﴾

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”.(QS. Shad : 71)

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿ ص: ٧٥﴾

Artinya: “Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (QS. Shad : 75)

Adapun ayat-ayat al-Quran jika berbicara tentang reproduksi manusia secara umum, Yang Maha pencipta ditunjuk dengan menggunakan bentuk jamak. Perhatikan ayat berikut:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ﴿ التين: ٤﴾

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. at-Tin : 4)

Keterangan diatas menunjukkan perbedaan proses kejadian manusia secara umum dan proses kejadian Adam a.s. Penciptaan manusia secara umum, melalui prosses keterlibatan tuhan bersama selain-Nya, yaitu ibu dan bapak. Keterlibatan ibu dan bapak mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik dan psikis anak, sedangkan dalam penciptaan adam tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak.[2] Hal serupa dalam penciptaan Nabi Isa a.s yang tidak melibatkan seorang bapak. Keterangan ini termaktub dalam ayat berikut:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ﴿ آل عمران: ٥٩﴾

Artinya: “Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia”. (QS. al-Imran : 59)

B) PENCIPTAAN AWAL MANUSIA

Secara sederhana dapat kita sebut bahwa asal-usul manusia dari tanah. Adam diciptakan dari tanah, sementara anak cucunya dari saripati (ekstrak) tanah yang terkandung dalam spermatozoa dan ovum. Allah SWT telah mengemukakan fase-fase penciptaan manusia di beberapa tempat berbeda pada al-Quran. Disatu tempat, Allah SWT menyatakan bahwa dia menciptakan Adam dari tanah. Pada tempat lainnya dari tanah lumpur, yaitu campuran tanah dan air. Di tempat lain dari tanah liat yang dibentuk, yaitu tanah yang berubah karena pengaruh cuaca. Disisi lain diungkapkan dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dapat dibentuk, yaitu lumpur yang kering dan bisa mengeluarkan suara berdenting bila diketok. Kemudian pada tempat lainnya lagi, dari tanah kering seperti tembikar, yaitu tanah yang benar-benar telah kering sebagaimana yang terjadi ketika mengubah tanah menjadi tembikar melalui pembakaran.

Proses diatas diterjemahkan dari beberapa term yang digunakan Al-Quran, yaitu 
  • Turab (تُرَاب), 
  • Tin (طِين), 
  • hama’in masnun (حَمَإ مَسْنُون), dan
  • salsal (صَلْصَال). 
Term-term ini dalam bahasa arab memiliki makna berbeda sehingga dapat dikatakan bahwa unsur-unsur tersebut mengalami suatu proses kreatif kemudian ditiupkannya padanya roh dari ciptaan Allah sehingga menjadi bentuk yang sama sekali berbeda dengan unsur awalnya.[3]. Keempat term yang mengandung unsur tanah yang dsebut oleh al-Quran dapat dicermati dalam ayat-ayat dibawah ini:[4]
  • Term Turab (تُرَاب)
Term Turab (تُرَاب), diartikan sebagai sebagai tanah atau partikel debu tanah. Kata ini dalam kaitannya dengan penciptaan manusia dapat ditemukan pada QS. al-Imran : 59; QS. al-Kahfi : 37, QS. al-Hajj : 5; QS. ar-Rum : 20; QS. Fatir : 11; QS. Gafir : 67. Salah satu diantara ayat-ayat itu adalah sebagai berikut:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴿ فاطر: ۱۱﴾

Artinya: “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”. (QS. Fatir : 11)
  • Term Tin (طِين)
Term tin yang diartikan sebagai tanah liat atau ekstrak tanah liat dijumpai dalam QS. al-Maidah : 110, QS. al-An’am : 2, QS. al-A’raf : 12, 17, 61, QS. al-Mu’minun : 12, as-Sajadah : 7, QS. Shad : 71, 76. Salah satu ayat yang jelas-jelas menyatakan penciptaan awal manusia dari tanah liat adalah:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ﴿ السجدة: ٧﴾

Artinya: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. as-Sajadah : 7)
  • Hama’in masnun (حَمَإ مَسْنُون)
Term hama’in masnun dimaknai sebagai lumpur hitam yang pekat. Kata ini dijumpai dalam ayat ke-26, 28 dan 33 dari surah al-Hijr yang semuanya berhubungan dengan proses penciptaan manusia. Proses pada tahap hama’in masnun merupakan proses transisi antara tin dan salsal. Surah al-Hijr : 26 menjelaskan sebagai berikut:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ﴿الحجر: ۲٦﴾

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. al-Hijr : 26)
  • Salsal (صَلْصَال)
Term salsal yang diartikan tembikar kering sebelum proses pembakaran. Seperti disebutkan dalam ayat berikut:

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ ﴿الرحمن: ۱٤﴾

Artinya: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”. QS. ar-Rahman : 14)

Ketika proses awal penciptaan manusia secara fisik sampai pada tahap salsal, Allah meniukan roh padanya sehingga terciptalah manusia secara utuh.[5] Penjelasan ini ditegaskan di dalam surah al-Hijr : 28-29 sebagai berikut:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ . فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ ﴿ الحجر: ۲۸-۲٩﴾

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (QS. al-Hijr : 28-29).

C) PENCIPTAAN KETURUNAN ADAM

Setelah proses penciptaan manusia pertama yang unik, lahirlah anak cucu yang berkembang biak dari generasi ke generasi. Surah an-Nisa’ ayat 1 menjelaskan tentang ini: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿ النساء : ۱﴾

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. an-Nisa’ : 1)

Manusia keturunan adam (bani/zurriyat adam) beregenerasi dengan pola pertemuan antara sel laki-laki dan sel perempuan. Setelah pertemuan ini terjadilah pembuahan yang kemudia berproses menjadi janin. Pertumbuhan dan perkembangannya diterangkan dengan sangat jelas di dalam al-Quran. Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan hal ini, dua diantaranya sangat terperinci. Masing-masing surah al-Mu’minun ayat 12 sampai ayat 14 dan surah al-Hajj ayat 5. Berikut uraian surah al-Mu’minun ayat 12-14:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ﴿١٢﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ﴿١۳﴾ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ﴿١٤﴾ 

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”. (QS. al-Mu’minun : 12-14)

Secara komprehensif, Umar Shihab memaparkan bahwa proses penciptaan manusia terbagi ke dalam beberapa fase kehidupan sebagai berikut.[6]
  1. Fase awal kehidupan manusia berupa tanah. Manusia berasal dari tanah disebabkan oleh dua hal yaitu manusia adalah keturunan Nabi Adam a.s. yang diciptakan dari tanah dan sperma atau ovum yang menjadi cikal bakal manusia bersumber dari saripati makanan yang berasal dari tanah,
  2. Saripati makanan yang berasal dari tanah tersebut menjadi sperma atau ovum, yang disebut oleh Al-Qur’an dengan istilah nutfah,
  3. Kemudian sperma dan ovum tersebut menyatu dan menetap di rahim sehingga berubah menjadi embrio (‘alaqah),
  4. Proses selanjutnya, embrio tersebut berubah menjadi segumpal daging (mudghah),
  5. Proses ini merupakan kelanjutan dari mudghah. Dalam hal ini, bentuk embrio sudah mengeras dan menguat sampai berubah menjadi tulang belulang (‘idzaam),
  6. Proses penciptaan manusia selanjutnya adalah menjadi daging (lahmah),
  7. Proses peniupan ruh. Pada fase ini, embrio sudah berubah menjadi bayi dan mulai bergerak, dan
  8. Setelah sempurna kejadiannya, akhirnya lahirlah bayi tersebut ke atas dunia.


ENDNOTE



[1] Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2007), Cet. I, Hal. 369
[2] Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2007), Cet. I, Hal. 370
[3] Hanafi , Muchlis., (ed.), Spiritualitas dan Akhlak “Tafsir Tematik Al-Quran”, (Jakarta : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2010), Cet. I, Hal. 39
[4] Hanafi , Muchlis., (ed.), Spiritualitas dan Akhlak “Tafsir Tematik Al-Quran”, (Jakarta : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2010), Cet. I, Hal. 39-40
[5] Hanafi , Muchlis., (ed.), Spiritualitas dan Akhlak “Tafsir Tematik Al-Quran”, (Jakarta : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2010), Cet. I, Hal. 40
[6] Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur’an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur’an (Jakarta: Penamadani, 2005), hlm. 105-106.



pdf DOWNLOAD : DISINI
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.