Konsepsi Sahabat dalam Islam

Pemahaman akan seluk beluk mengenai Sahabat merupakan tema penting dalam memahami beberapa kajian hadis. Bahkan pembicaraan mengenai sahabat tidak dapat dinafikan dalam kajian ini. Sebab, merekalah transmisi utama dan pertama (sanad) dalam menerima kemudian menyampaikan hadis-hadis dari nabi Muhammad Saw. Olehnya, mungkin beberapa info berikut dapat bermanfaat bagi sobat SQ terkait pemahaman sahabat.

a) Definisi Sahabat


Sahabat secara bahasa diambil dari kata masdar yaitu ( اَلصَّحَابَة ) dengan makna  "اَلصُّحْبَةُ" (Persahabatan), اَلصَّحَابِي dan اَلصَّاحِبُ (yang punya atau yang menyertai) dan jamaknya yaitu أَصْحَابٌ dan صَحْب . Adapun dalam penggunaanya banyak menggunakan kata اَلصَّحَابَةُ (sahabat) dengan makna ( أَصْحَابٌ )I.[1]

Menurut istilah Sahabat yaitu orang yang melihat Rasulullah dalam keadaan islam dan meriwayatkan sesuatu dari beliau. Pendapat lain menurut Muhadditsin Sahabat adalah: 

مَنْ لَقِيَ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْلِمًا وَمَاتَ عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَلَوْ تَخَلَّتْ ذَلِكَ رِدَّةُ عَلَى اْلأَصَحِّ

Artinya: “Orang yang bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan beragama Islam dan mati dalam Islam sekalipun dipisah murtad di tengah-tengah menurut pendapat yang benar”.[2]

Definisi diatas berarti tergolong sahabat siapa saja seorang muslim yang bertemu dengan Nabi Muhammad baik sbentar atau dalam waktu lama, baik meriwayatkan suatu hadis atau tidak, berperang bersama beliau atau tidak, melihat nabi sekalipun tidak duduk bersama beliau dan sekalipun tidak melihat Nabi seperti orang yang buta. Uraian ini sebagaimana mayoritas pendapat Ulama. Berbeda dengan pengertian sahabat yang ditawarkan oleh Ushuliyyun yaitu setiap orang yang lama persahabatannya dengan Nabi dan mengikutinya.[3]

b) Faidah Mengetahui Sahabat

Mengetahui sahabat adalah ilmu yang mulia yang mempunyai faidah yang sangat besar. Diantara faidahnya ialah mengetahui hadis Mutthasil dan hadis Mursal. Persambungan sanad dalam sebuah hadis akan mudah dipahami melalui pemahaman terhadap para sahabat sebagai generasi terdekat dengan Rasulullah SAW.

Jumlah para sahabat tidak terhitung besarnya atau sulit dihitung karena mereka terpencar-pencar ke berbagai negara dan daerah setelah masa perluasaan wilayah pada Zaman Khulafaurrasyidin. Namun, ada sebagian ulama yang menghitungnya lebih dari 100.000 orang sahabat, bahkan Abu Zarah ar-Razi menghitungnya sebanyak 114.000 orang sahabat.[4] 

Sahabat yang paling akhir meninggal dunia dari mereka adalah Abu Ath-Thufail Amir bi Watshilah Al-Laitsi di Makkah pada tahun 100 H dan sebelum itu Anas bin Malik di Basrah pada tahun 90 H. Diantara mereka yang lebih dahulu masuk Islam dari kalangan laki-laki dewasa Abu Bakar, dari kaum wanita Khadijah, dari kalangan anak-anak Ali bin Abi Thalib, dari kalangan mawali Zaid bin Haritsah dan dari kalangan budak adalah bilal bin Rabbah.[5]

c) Thabaqat Sahabat

Para ulama berbeda dalam menentukan Thabaqat sahabat, diantara mereka ada yang melihat dari segi masuk Islam lebih dahulu, dari segi hijranya atau dilihat dalam keikutsertaan dalam berbagai peperangan penting. Pendapat yang paling masyhur sebagaimana dikemukakan oleh Hakim yang membagi menjadi 12 thabaqat, yaitu:[6]
  1. Pendahulu penduduk mekkah yang masuk Islam,
  2. Sahabat yang masuk Islam sebelum sidang di Dar An-Nadwah,
  3. Sahabat yang hijrah ke Habasyah,
  4. Sahabat yang hadir di bait Aqabah pertama,
  5. Sahabat yang hadir di bait Aqabah kedua,
  6. Sahabat yang hijrah ke madinah sedang Nabi masi di Quba,
  7. Sahabat perang Badar,
  8. Sahabat yang hijrah antara Badar dan Hudaibiyyah,
  9. Sahabat yang hadir dalam Bait Ridwan di Hudibiyyah,
  10. Sahabat yang hijrah antara Hudaibiyyah dan Fathu Makkah,
  11. Kaum muslimah yang turut dalam fathu makkah, dan
  12. Anak-anak yang melihat Nabi pada hari kemenangan pada haji Wada’.


ENDNOTE



[1]  Mahmud Thohan, Taysir Musthalahul Hadis (Beirut: Da’rul Fakr), hal. 164
[2]  Ibid. Hal. 164
[3]  Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), hal. 111
[4]  Mahmud Thohan, Taysir Musthalahul Hadis (Beirut: Da’rul Fakr), hal. 166
[5]  Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), hal. 111-112
[6]  Ahmad Hasyim, Qawa’id Ushulul Hadis (Beirut: A’lihul Kutub, 1997), hal. 217 
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.