Insan Berihsan : Wacana Akhlak di Mata Tasawuf

Ditulis Oleh:
Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta

Di dalam Islam, dikenal tiga landasan penting. Tiga landasan itu ialah Islam (syariat), iman dan ihsân. Jika dianalogikan, Islam sebagai media (sarana), iman sebagai prosedur (proses) dan ihsân adalah hasil dari proses itu. dengan demikian ihsân merupakan puncak dari setiap proses penghambaan diri seorang insan kepada penciptanya.

Syaikh Muhyiddin Mistu dan Musthafa Dieb al-Bugha menjelaskan bahwa ihsân ialah ikhlas dan berbuat sebaik mungkin (itqân). Yakni mengikhlaskan semua ibadah hanya untuk Allah dengan menyempurnakan pelaksanaanya seakan-akan melihat Allah saat beribadah. Jika tidak mampu melakukan yang demikian, maka pasti Allah menyaksikan perkara kecil dan besar yang ada pada dirimu.[1] Sebuah hadis yang diriwatkan oleh Muslim dari sahabat Umar bin Khattab menyebutkan kata ihsân. Potongan hadis itu bermakna: “Ihsân ialah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Dari hadis ini dapat dipahami bahwa ihsân merupakan hal yang diperintahkan dalam Islam. Dalam hadis ini juga dinyatakan bahwa ihsân ialah melihat atau seolah-olah melihat Allah. Selain itu, hadis itu juga memberikan pengertian bahwa selain Allah melihat kita, kita juga bisa melihat (merasakan kehadiran) Allah.

Dengan demikian, hadis ini menawarkan tiga tingkatan ihsân: Pertama, kita beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah tengah melihat kita. Kedua, kita beribadah dengan perasaan seperti (seolah-olah) melihat Allah. Ketiga, kita beribadah dengan merasakan kehadiran Allah. Pandangan ini dapat kita pahami jika melacak kalimat فإن لم تكن تراه فإنه يراك yang berarti “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka sungguh Dia tengah melihatmu.”

Seumpama si A berkata kepada si B :“Jika kamu tidak bisa datang, maka tidak apa-apa.” Ini berarti bahwa Si B seharusnya mampu datang jika dia berusaha untuk datang dan menghilangkan semua faktor yang menghalangi kedatangannya. Demikian pula redaksi hadis ini. Jika Nabi bersabda: “Jika kamu tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.” Berarti Nabi ingin menawarkan kepada sahabatnya dan kita semua tingkatan ihsân yang ketiga yaitu kita mampu melihat (merasakan kehadiran) Allah. Namun jika kita tidak mampu, maka cukuplah tingkatan ihsân yang kedua, yaitu seolah-olah melihat Allah, atau tingkatan pertama saja, yaitu penuh keyakinan bahwa Allah melihat. Hadis ini juga menunjukkan bahwa bersikap seolah-olah melihat Allah (tingkatan ihsân yang kedua) apalagi sampai melihat-Nya (tingkatan ihsân yang ketiga) bukanlah hal yang mudah. Hal itu memerlukan perjuangan dan ikhtiar yang serius. Karena sangat tidak mudahnya sampai Nabi memberikan alternatif lain yang lebih mudah dan tidak terlalu berat, yakni tingkatan ihsân yang pertama.

Beberapa ulama menerjemahkan redaksi ini dengan memakai takwil. Mereka menerjemahkannya dengan redaksi “Jika kamu tidak bisa (seolah-olah) melihat-Nya, maka sungguh Dia tengah melihatmu.” Terjemahan model demikian tentu memberikan asumsi bahwa tingkatan ihsân hanya dua tingkatan, yakni hanya sampai pada tingkatan seolah-olah melihat Allah. Demikianlah tiga tingkatan ihsân yang ditawarkan oleh Rasulullah untuk diterapkan oleh seluruh umatnya dalam kehidupannya. Akan tetapi, sebagai orang yang merasakan kehadiran Allah atau seolah-olah melihat Allah, orang yang ber-ihsân bukan hanya memelihara hubungannya kepada Allah, akan tetapi juga sangat memperhatikan hubungannnya dengan sesama insan, bahkan sesama makhluk, dengan kata lain berbudi pekerti yang luhur (akhlak).

Jika melihat keadaan yang nyata, sungguh sudah sangat parah penyakit moral sebagian anak-anak Adam, penghuni bumi ini. Mereka nyaris tak peduli dengan keluhuran budi pekerti. Tak sedikit yang mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi sayang sekali budi pekertinya tidak terdidik. Tak jarang juga pengkaji ilmu agama yang hanya memerhatikan agamnya dari segi ritual saja, tanpa disadari bahwa ternyata buah dari setiap ritual yang dilakukan setiap saat adalah budi pekerti yang luhur, baik terhadap Sang Pencipta, diri sendiri maupun terhadap sesama insan, bahkan sesama makhluk. Inilah makna ihsân yang sebenarnya. Allah sungguh ingin mengingatkan dan mengangkat kembali derajat manusia bahwa pada dasarnya manusia itu suci, baik dan mulia, dan jika mereka ingin tetap ada sifat-sifat tersebut dalam dirinya maka melalui latihan-latihan spiritual dan pengendalian diri akan bisa menimbulkan kekuatan fitrahnya yang suci, baik lagi mulia itu serta dapat mengalahkan godaan nafsu sehingga keselamatan dan kesejahteraan hidup akan terwujud.

Ketika mempelajari tasawuf ternyata pula al-Quran dan hadis sangat mementingkan akhlak. Al-Quran dan hadis menekankan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong-menolong, murah hati, pemaaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, ramah, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, berpikiran lurus dan sebagainya. Nilai-nilai seperti ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim, bahkan harus dimasukkan ke dalam dirinya sejak masih balita. Ternyata pula ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam al-Quran dikaitkan dengan takwa yang berarti malaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Perintah Tuhan berkaitan dengan perbuatan-perbuatan baik sedang larangan-Nya berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Dengan demikian orang bertakwa ialah orang yang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, yakni orang yang berbuat baik dan jauh dari hal-hal yang tidak baik. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan mencegah dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang bertakwa ialah orang yang berakhlak mulia.

Selanjutnya al-Quran dan hadis mengaitkan pelaksanaan ibadah dengan penjauhan diri dari perbuatan yang tidak baik. Allah mengatakan: ”Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” Demikian pula hadis menjelaskan, Salat yang tidak menjauhkan pelakunya dari perbuatan jahat, sebenarnya bukanlah salat. Hadis Qudsi menyebutkan, salat yang Aku terima hanyalah salat yang membuat pelakunya merendahkan diri terhadap kebesaran-Ku, tidak bersikap sombong terhadap makhluk-Ku, tidak menentang perintah-Ku, tetapi senantiasa mengingat-Ku, menaruh kasih sayang terhadap orang miskin, terlantar, musafir, janda dan orang yang susah.[2] Dalam hal ibadah salat, kesadaran vertikal spiritual dan aksi sosial itu disimbolisasikan dengan ucapan takbir di permulaan salat dan diakhiri dengan salam seraya menengok ke kanan ke kiri. Keduanya (takbir dan salam) merupakan bahasa performatif dan deklaratif bahwa setiap muslim yang selalu menegakkan salat baru akan bermakna salatnya kalau diiringi dengan sikap kepedulian sosial secara nyata.[3]

Mengenai puasa, hadis mengatakan, Orang yang tidak meninggalkan berkata bohong, maka tiada gunanya ia menahan makan dan minum. Hadis lain menjelaskan, Puasa bukanlah menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan diri dari kata-kata yang sia-sia dan tidak sopan, jika kamu dimaki maka katakanlah: “aku berpuasa.” Ibadah puasa yang diniati sebagai wujud ketaatan kepada Allah namun efeknya harus bermanfaat bagi manusia sehingga di penghujung Ramadan ditutup dengan mengeluarkan zakat fitrah serta mendirikan salat berjamaah dan bermaaf-maafan sembari memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid. Setiap muslim diajak meresapi bahwa Yang Maha Agung dan Maha Terpuji hanyalah Allah. Sertiap muslim bersyukur telah selesai menunaikan ibadah puasa dan dalam waktu yang sama akan merasa malu dan risih di hadapan Allah jika di dalam hatinya masih melekat perasaan bahwa dirinya hebat, besar, berkuasa dan haus akan pujian orang lain. Dalam tradisi kebanyakan orang Indonesia, pada hari lebaran idul fitri setiap orang mengenakan baju baru yang sesungguhnya secara filosofis dimaksudkan sebagai ekspresi atau verbalisasi simbolik dari suasana jiwa yang baru dan serba bersih setelah sebulan melakukan penyucian diri. 

Tentang haji, Allah mengatakan: “Haji adalah beberapa bulan yang ditentukan, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata tidak sopan, mencaci dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.”[4] Berkenaan dengan zakat, sejumlah hadis mengatakan bahwa zakat tidak hanya sebatas pengeluaran harta, tetapi mencakup senyuman kepada sesama, seruan kepada kebaikan dan larangan dari kejahatan, menunjukkan jalan bagi orang tersesat, membuang duri dari jalan umum, memberikan sesuatu pada yang berhajat, menuntun orang yang lemah penglihatannya dan sebagainya.

Semua ayat dan hadis di atas menjelaskan secara gamblang bahwa tujuan utama dari setiap ibadah yang dilakukan adalah hanya untuk membina akhlak, baik ibadah yang termasuk rukun Islam maupun ibadah yang lain. Misalnya dalam hadis yang lain disebutkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi tentang seorang wanita yang rajin mendirikan salat serta puasa dan banyak bersedekah, tetapi lidahnya banyak menyakiti hati orang lain, maka Nabi menjawab: “Ia masuk neraka.” Kemudian orang itu bertanya tentang seorang wanita yang sedikit melakukan salat dan puasa serta sedikit pula bersedekah, tetapi tidak pernah meyakiti hati orang lain, maka Nabi menegaskan: “Ia masuk surga.”

Jelas kiranya bahwa tujuan akhir dan utama dari pelaksanaan ibadah adalah pembinaan dan pendidikan akhlak yang mulia, dan bukan semata-mata menjauhkan diri dari neraka dan masuk surga, tetapi tujuan yang di dalamnya terdapat dorongan bagi kepentingan pembinaan akhlak (budi pekerti) yang menyangkut kepentingan masyarakat. Masyatakat yang baik dan bahagia adalah masyarakat yang para anggotanya memiliki akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur.[5] Demikianlah betapa tujuan akhir dan utama dari setiap ibadah yang ada hanyalah pada akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur. Budi pekerti yang luhur adalah hasil dari setiap ibadah yang ada. Oleh karena itu, seseorang yang taat beribadah di masjid belumlah dikatakan berhasil menjadi orang yang ber-ihsân jika belum memiliki budi pekerti yang luhur, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun terhadap sesama makhluk Tuhan yang lain.

DAFTAR PUSTKA
  • Al-Quran Al-Karim, Kementerian Agama Republik Indonesia.
  • Al-Bugha, Musthafa Died, dan Mistu, Syaikh Muhyiddin, Al-Wafi Syarh Hadits Arbai’in Imam Al-Nawawi
  • Penerjemah: Iman Sulaiman, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002.
  • Nasution, Harun, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran Harun Nasution , Bandung: Mizan, 1995
  • Hidayat, Komaruddin, Tuhan Begitu Dekat, Jakarta: Paramadina, 2002.


ENDNOTE



[1] Dr. Musthafa Died al-Bugha dan Syaikh Muhyiddin Mistu, Al-Wafi Syarh Hadits Arbai’in Imam Al-Nawawi  Penerjemah: Iman Sulaiman, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002), Cet. II, hal. 12-15.
[2] Prof. Dr. Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran Harun Nasution , (Bandung: Mizan, 1995), hal. 57.
[3] Dr. Komaruddin Hidayat,  Tuhan Begitu Dekat, (Jakarta: Paramadina, 2002), Cet. II, hal. 67.
[4] QS. Al-Baqarah: 197.
[5]  Harun Nasution, Islam Rasional , hal. 58-59.
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.