Biografi Mahmud Yunus, Ahli Tafsir Indonesia

A) LATAR BELAKANG KEHIDUPAN MAHMUD YUNUS

Mahmud Yunus adalah buah hati dari pasangan Yunus B. Incek dan Hafsah binti Imam Sami’un. Beliau dilahirkan pada hari sabtu tanggal 30 Ramadhan 1316 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 10 Februari 1899 Masehi di desa Sunggayang, Batusangkar, Sumatera Barat.[1] Mahmud Yunus tumbuh dan berkembang dari keluarga sederhana yang taat beragama. Ayahnya seorang petani biasa dari suku Mandahiling dan ibunya yang biasa dipanggil dengan Posa berasal dari suku Chaniago.[2]


Walaupun dilahirkan dari keluarga yang sederhana, namun mempunyai nuansa keagamaan yang kuat. Ayah Mahmud adalah bekas pelajar surau dan mempunyai ilmu keagamaan yang cukup memadai sehingga dia diangkat menjadi Imam Nagari. Adapun Ibu Mahmud adalah seorang buta huruf karena tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah sebab pada waktu itu di desanya belum ada sekolah desa. Walaupun demikian ia dibesarkan dalam lingkungan yang Islami. Kakek Hafsyah adalah seorang ulama yang cukup dikenal, bernama Syekh Muhammad Ali yang dimasyhurkan masyarakat dengan Tuanku Kolok. Pekerjaan Hafsah sehari-hari adalah bertenun. Ia mempunyai keahlian menenun kain yang dihiasi benang emas, yaitu kain tradisional Minangkabau yang dipakai pada upacara-upacara adat.[3]

Pada saat Mahmud Yunus masih balita, Ayah dan Ibunya bercerai. Ia ikut Ibunya dan hanya sesekali Ayahnya menjenguknya. Itu sebabnya pada usia tujuh tahun (1906), Mahmud Yunus mulai belajar al-Quran pada sang Kakek, Engku Gading yang mendirikan sebuah Surau (semacam pesantren di Jawa).[4]


B) PRIBADI MAHMUD YUNUS 


Sejak kecil, Mahmud Yunus dikenal dengan anak yang cerdas. Bila dimalam hari diceritakan hikayat atau cerita yang menjadi salah satu kesanyangannya, siangnya ia sudah bisa menceritakan kembali dengan sempurna. Situasi sosial yang melatarbelakangi kehidupannya telah membentuk karakternya menjadi sosok yang ikut mengisi perjalanan sejarah. Ia telah berfikir dan berbuat untuk menjawab problema sosial, bangsa dan agamanya dengan memilih jalur pendidikan sebagai sisi yang ia anggap paling strategis pada waktu itu. 

Kecermelangan Mahmud Yunus dalam menerima pelajaran diakui oleh para Ustadz yang mengajarnya. Ketika usianya baru 16 tahun yaitu tahun 1917, Mahmud sudah mampu mengajar beberapa kitab, antar lain al-Mahally, al-Fiyah ibn Aqil dan Jam’al Jawami. Pengalaman ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi beliau ketika melanjutkan pendidikannya terutama ketika belajar di al-Azhar, Kairo.[4] Mahmud Yunus memiliki jasa yang sangat besar dalam meningkatkan sistem pendidikan yang masih dapat dirasakan sampai saat ini.


C) KELUARGA MAHMUD YUNUS



Mahmud Yunus merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya dan hanya memiliki satu adik perempuan, yaitu Hindun. Mahmud mempunyai lima orang istri,[6] yaitu:
  • Istri pertamanya bernama Hj. Darisah binti Pangeran dari Payakumbuh dan mempunyai satu orang anak laki-laki yang bernama Prof. Dr. H. Kamal Mahmud, SH yang lahir pada tahun 1923.
  • Istri kedua bernama Hj. Djawahir yang juga berasal dari Payakumbuh dan mempunyai lima orang anak yaitu Hj. Djawanis, Hafni, H. Fachrudin, Drs.H. Hamdi dan Elly.
  • Istri yang ketiga adalah Karniah dan mempunyai satu orang anak yang bernama Amlas. Ketiga istri Mahmud Yunus tersebut dinikahinya sebelum ia berangkat ke Mesir, maka pada waktu ia pergi belajar ke Mesir Mahmud menceraikan istri yang pertama yaitu Darisah binti Pangeran.
  • Istrinya yang keempat yang bernama Hj. Nurjani binti Jalil dari Padang dengan anak-anaknya bernama Fachri Mahmud, SH yang lahir tahun 1932, Hj. Suraiya, Dr. Neszli Harmaini, Hj. Sufna, dan Ir. Fachran. Mahmud Yunus menikahi Hj. Nurjani setelah beliau kembali dari Mesir.
  • Sedangkan Istri Mahmud Yunus yang kelima adalah Hj. Darisah binti Ibrahim yang mempunyai enam orang anak yang bernama Sufni (meninggal pada waktu masih bayi) yang lahir tahun 1939, Drs. H Yunus Mahmud lahir tanggal 29 November 1940, Dr. H Hamdi lahir taggal 3 Oktober 1942, Hj. Elina lahir tanggal 1 Februari 1946, Mahdiarti lahir tanggal 6 Maret 1948 dan Chairi lahir tanggal 17 Januari 1951. Hj. Darisah binti Ibrahim ini merupakan anak dari mamaknya Mahmud sendiri yaitu H. Ibrahim Dt. Sinaro Sati.
Berdasarkan data diatas, dari lima istri Mahmud Yunus, beliau memiliki anak sebanyak 18 orang.

D) PERJALANAN MAHMUD YUNUS MENUNTUT ILMU

Sejak kecil, Mahmud Yunus didik dalam lingkungan agama dan tidak pernah masuk ke sekolah umum. Belajar mengaji di surau adalah jalur pendidikan awal yang ditempuh oleh beliau. Ia belajar dengan kakeknya sendiri, Muhammad Thahir bin Muhammad. Mahmud mulai mengaji di surau kakeknya ketika berusia 7 tahun dan dalam waktu kurang dari satu tahun ia dapat menamatkan al-Quran. Mahmud pun dipercaya oleh kakeknya menjadi Guru Bantu untuk  mengajari anak-anak yang menjadi pelajar pemula sambil ia mempelajari dasar-dasar tata bahasa Arab dengan kakeknya.

Mahmud sempat masuk sekolah rakyat walaupun hanya betah sampai kelas tiga. Tahun 1908 M, ia memutuskan keluar karena pelajaran terlalu sering diulang dan menjemukkan baginya. Pada saat yang bersamaan, H.M. Thaib Umar mendirikan Madrasah School di Surau Tanjung Pauh. Tahun 1908, Mahmud pun dimasukkan oleh Ayahnya ke madrasah school tersebut. Di madrasah ini, ia belajar nahwu, sharaf, bahasa Arab dan matematika.[7] 

Sejarah mencatat bahwa H.M Thaib Umar amat berpengaruh terhadap pembentukan keilmuan Mahmud Yunus. Melalui karya-karya gurunya itu, Mahmud dapat menyerap semangat pembaruan demi peningkatan kesejahteraan umat dan perkembangan Islam.[8] Kedekatan Yunus secara pribadi dengan Thaib Umar membawanya ke forum rapat akbar Ulama Minangkabau pada tahun 1919 M di padang panjang. Ia datang menghadiri perkumpulan tersebut sebagai perwakilan H.M Thaib Umar. Setelah itu, ia membentuk perkumpuulan pelajar Islam di Sunggayang bernama Sumatera Thawalib pada tahun 1920 M. Kegiatan perkumpulan ini beragam, dainataranya menerbitkan Majalah al-Basyir. Di media ini, Yunus didaulat sebagai pemimpin Redaksi.[9]

Ilmu pengetahuan Mahmud Yunus kurang menonjol dalam bidang adat Minangkabau, sehingga H. Ibrahim Dt. Sinaro Sati (Saudara sepupu Ibu Mahmud) menginginkan arahan agama untuk kemenakannya. Melihat perkembangan Mahmud dari kecil, maka Ibrahim pun membantu biaya pendidikan Mahmud Yunus. Bahkan dia tak berkeberatan menanggung semua biaya yang diperlukan untuk keperluan itu hingga Mahmud dapat melanjutkan pelajarannya ke tingkat yang lebih tinggi.[10] Begitu pun Ibunya sendiri yang bekerja sebagai ahli penenun dengan benag emas selalu memberikan dukungan khususnya secara ekonomi. Mahmud Yunus dibawah asuhan H.M Thaib Umar mempelajari beragam kitab. Antara lain, Fath al-Qarib, Iqna’, Fath al-Wahhab, Fath al-Muin, Alfiyah Ibnu Aqil, asymuni, Taftazani, Umm al-Barahin, Balaghah kitab al-Jauhar al-Maknun, Talkhish, jam’u al-Jawami, Ihya Ulumuddin dan Minhaj al-A’bidin. Karena itulah, dalam usia 16 tahun Mahmud Yunus sudah dapat Mengajarkan al-Mahalli, Al-fiyyah Ibn Aqil dan Jam’u al-Jawami.[11]

Pada tahun 1924 M, Mahmud Yunus mendapat kesempatan belajar di Universitas al-Azhar, Kairo. Di sana ia mempelajari ilmu ushul fiqh, ilmu tafsir, fikih Hanafi dan sebagainya. Hanya dalam tempo setahun, dia berhasil mendapatkan Syahadah Alimiyah dari al-Azhar dan menjadi orang Indonesia kedua yang memperoleh predikat itu. Setelah lulus dari al-Azhar, Mahmud merasa bahwa ilmu yang didapatkannya hanya tentang Agama dan Bahasa. Maka ia pun tertarik untuk melanjutkan studinya guna mempelajari ilmu pengetahuan umum. Ia pun masuk ke universitas Darr al-Ulum, Mesir dan tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang masuk Darr al-Ulum. Kuliah Mahmud Yunus berakhir dengan lancar, tahun 1929, ia berhasil memperoleh diploma dengan spesialisasi di bidang pendidikan.[12] Setelah itu, dia kembali ke kampung halamannya di Sunggayang Batusangkar. Gerakan pembaruan di Minangkabau saat itu makin berkembang dan keadaan tersebut menggembirakan Mahmud Yunus untuk menghembuskan angin perubahan. Beliau memiliki harapan yang besar untuk menyampaikan segala pengetahuan yang telah didapatnya setelah meninggalkan kampung halamannya kurang lebih 6 tahun.

E) KARIR MAHMUD YUNUS DALAM PENDIDIKAN

Diantara karir kependidikan Mahmud Yunus ialah sebagai berikut:[13]
  • Memimpin al-Jami’ah al-Islamiyyah di Sunggayang 
Mahmud Yunus sekembalinya dari Mesir, ia kemudian mendirikan dua pendidikan Islam pada tahun 1931 yang salah satunya adalah al-Jami’ah al-Islamiyyah di Sunggayang. Namun sanagat disayangkan al-Jami’ah al-Islamiyyah gulung tikar pada tahun 1933 karena kekurangan tenaga pengajar.
  • Memimpin Normal Islam di Padang 
Normal Islam (Kulliyyatul Mu’allimin al_Islamiyyah) didirikan di Padang oleh Mahmud Yunus bersama kerabatnya yang bergabung Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) pada bulan April 1931. Madrasah ini dimaksudkan untuk mendidik calon guru. 
  • Memimpin Sekolah Islam Tinggi (SIT) di Padang 
  • Mendirikan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) dan sekaligus menjadi dekannya (1957-1960)
Pada tahun 1960, ADIA dilebur dengan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) dan namanya berubah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang kini menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta. 
  • Mendirikan dan Memimpin Sekolah Menengah Islam (SMI) di Bukittinggi 
  • Tahun 1960, diangkat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  • Memimpin IAIN Imam Bonjol di Padang 
Pada 20 nevember 1966, IAIN Imam Bonjol berdiri di Padang, Sumater Barat dan Mahmud Yunus diangkat menjadi Rektor sampai pension pada tahun 1970

F) GAGASAN DAN PERJUANGAN MAHMUD YUNUS 

Salah satu tokoh pembaru itu yang melakukan penyesuaian dengan memasukkan ilmu umum dalam kurikulum pendidikan Islam adalah Mahmud Yunus. Untuk lebih lanjut mengenai mengenai gagasan-gagasan dan perjuanagan Mahmud Yunus akan diuraikan dibawah ini, diantaranya:
  • Pembaharuan Metode Pengajaran Agama Islam dan Bahasa Arab
Mahmud Yunus mencurahkan dirinya untuk mengerahkan potensi, gagasan dan perjuangannya dalam bidang pendidikan Islam. Ini terlihat dari beberapa kiprahnya dalam memajukan pendidikan agama Islam sebagai yang telah dikemukakan diatas. Beliau menerapkan metodologi baru dalam pengajaran Bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman lainnya dengan memadukannya dengan ilmu pengetahuan umum dengan bingkai akhlak al-karimah. 

Mahmud Yunus adalah peletak dasar pengajaran Bahasa Arab di Indonesia. Ia menekankan pengajaran bahasa Arab karena merupakan pintu masuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman lainnya. Ia dikenal sebagai pendidik yang memadukan antara konsep dan praktik. Pondok Pesantren Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur merupakan pesantren diluar Sumatera yang pertama kali menerapkan metodologi pengajaran Mahmud Yunus.[14]
  • Memasukkan Pelajaran Agama ke Kurikulum Sekolah Pemerintah 
Salah satu kepeloporan Mahmud Yunus yang hingga saat ini hampir-hampir dilupakan oleh sejarah adalah usaha yang dilakukannya untuk menempatkan mata pelajaran agama Islam dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah pemerintah. Di masa pemerintahan Jepang, tepatnya pada tahun 1943 Mahmud Yunus terpilih mewakili Majlis Islam Tinggi (MIT) sebagai penasehat Residen (Syu-Cho-Kan) di Padang. Kedekatan Mahmud Yunus dengan pemerintahan inilah yang kemudian dia manfaatkan agar pendidikan agama Islam diberikan di sekolah-sekolah pemerintah. Usulan Mahmud ini dapat dipertimbangkan oleh Jepang untuk diterima. Sejak saat itu pelajaran agama Islam diberikan di sekolah-sekolah pemerintah pada waktu itu dan sekaligus Mahmud Yunus diangkat menjadi pengawas pendidikan agama pada pemerintahan Jepang. Pada waktu yang bersamaan ia juga memimpin Normal Islam di Padang.[15]

Upaya untuk memasukkan mata pelajaran agama Islam ke dalam kurikulum pendidikan umum (pemerintah) juga dilakukan oleh Mahmud Yunus setelah kemerdekaan. Melalui proses yang panjang maka usaha tersebut berhasil keluarnya peraturan tentang pendidikan agama Islam telah masuk dengan resmi ke sekolah-sekolah negeri dan berlaku juga untuk sekolah-sekolah partikelir, mulai dari SR, SMP, SMA dan sekolah-sekolah kejuruan.
  • Memperjuangkan Sekolah Agama Pemerintah dan Merintis IAIN 
Pada tanggal 1 September 1950 Mahmud diangkat menjadi Kepala Penghubung antara pusat  Kementerian Agama RIS dan pusat Kementerian RI Yogyakarta. Dalam jabatan inilah Mahmud lebih banyak berhasil mengajukan rencana-rencana pendidikan agama Islam diantaranya seperti yang telah disebutkan diatas. Hal ini juga terbukti dengan keluarnya peraturan bersama Menteri PP & K dan Menteri Agama tentang PTAIN (1951) serta keluarnya keputusan Menteri PP & K dengan persetujuan Menteri Agama tentang penghargaan ijazah-ijazah madrasah. Rangkaian usaha Mahmud Yunus selama memegang jabatan tersebut yang telah membawa prospek lebih baik bagi pendidikan agama di Indonesia pada umumnya.[16]


Didirikannya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) juga tidak dapat dipisahkan dari usaha yang dilakukan oleh Mahmud Yunus. Pada waktu ia menjabat sebagai Dekan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta, Muncul ide dari Mahmud Yunus untuk menyatukannya dengan Perguruan Tinggi Agama Islam ( PTAIN) di Yogyakarta yang sebelumnya sudah terbentuk juga.  Respon Menteri Agama yang pada waktu itu dijabat oleh K.H. Wahib Wahab sangat menyetujui usulan tersebut. Dengan demikian, keluarlah Peraturan Presiden Nomor Tahun 1960 tentang pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN).[17]



G) KARYA TULIS MAHMUD YUNUS

Mahmud Yunus selain seorang pendidik, ia juga seorang pengarang yang produktif. Pada ulang tahun beliau yang ke-70, para anak didik dan kawan-kawan Mahmud Yunus menyusun daftar-daftar buku karangannya yang telah diterbitkan. Menurut daftar yang ada, karangan beliau dalam bahasa Arab berjumlah 27 judul, terdiri dari 37 jilid dan dalam bahasa Indonesia berjumlah 34 judul, terdiri dari 42 jilid.[18]

Sumber lain menyebutkan bahwa Mahmud Yunus menulis tak kurang dari 82 buku dan yang ditemukan dari karya-karyanya hanya 65. Mahmud memulai menulis sejak tahun 1920 dalam usia 21 tahun. Karirnya sebagai penulis tetap ditekuninya pada masa-masa selanjutnya. Dia senantiasa mengisi waktunya untuk menulis dalam situasi apapun. Pada waktu perang kemerdekaan ketika mengikuti perang gerilya, dia tetap menyempatkan diri untuk menulis. Buku “Marilah Sembahyang” yang terdiri dari 4 jilid adalah merupakan hasil karangan Mahmud sewaktu dia beserta pejuang-pejuang lainnya berada dalam pengungsian dari ancaman perlawanan tentara Belanda (Nica) di Batusangkar pada tahun 1949.[19]

Sebagian besar buku-buku karya Mahmud Yunus dipergunakan bagi para pelajar dari sekolah dasar (Ibtidaiyah) hingga ke perguruan tinggi. Karya beliau yang mempunyai pengaruh banyak diluar madrasah dan pondok pesantren adalah terjemahan Quran Karim yang diterbitkan pada tahun 1938 dan sudah mengalami cetak ulang berkali-kali. Adapun daftar buku-buku karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus sebagai berikut:[20]

a) Bidang Pendidikan ada 6 karya 
  1. Pengetahuan Umum dan Ilmu Mendidik
  2. Metodik Khusus Pendidikan Agama
  3. Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia
  4. Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran
  5. At-Tarbiyyah wa at-Ta’lim (Bahasa Arab)
  6. Pendidikan di Negara-Negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat 
b) Bidang Bahasa Arab ada 16 karya 
  1. Pelajaran Bahasa Arab I (Bahasa Arab)
  2. Pelajaran Bahasa Arab II (Bahasa Arab)
  3. Pelajaran Bahasa Arab III (Bahasa Arab)
  4. Pelajaran Bahasa Arab IV (Bahasa Arab)
  5. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah ala Thariqati al-Haditsah I (Bahasa Arab)
  6. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah ala Thariqati al-Haditsah II (Bahasa Arab)
  7. Metodik Khusus Bahasa Arab
  8. Kamus Arab Indonesia
  9. Penterjemah atau Pentafsir Al-Quran
  10. Contoh Tulisan Arab (Bahasa Arab)
  11. Muthala’ah wa al-Mahfuzhaat (Bahasa Arab)
  12. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah I (Bahasa Arab)
  13. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah II (Bahasa Arab)
  14. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah III (Bahasa Arab)
  15. Muhadatsah al-Arabiyyah (Bahasa Arab)
  16. Al-Mukhtaraat li al-Muthala’ah wa al-Mahfuzhat (Bahasa Arab)
c) Bidang Fiqh ada 17 karya 
  1. Marilah Sembahyang I
  2.  Marilah Sembahyang II
  3. Marilah Sembahyang III
  4. Marilah Sembahyang IV
  5. Puasa dan Zakat
  6. Haji ke Mekkah
  7. HukumWarisan dalam Islam
  8. Hukum Perkawinan dalam Islam
  9. Pelajaran Sembahyang untuk Orang Dewasa
  10. Manasik Haji untuk Orang Dewasa
  11. Soal Jawab Hukum Islam
  12. Al-Fiqhu al-Wadhih juz 1 (Bahasa Arab)
  13. Al-Fiqhu al-Wadhih juz 2 (Bahasa Arab)
  14. Al-Fiqhu al-Wadhih juz 3 (Bahasa Arab)
  15. Mabadi`u Fiqhu al-Wadhih (Bahasa Arab)
  16. Fiqhu al-Wadhih An-Nawawy (Bahasa Arab)
  17. Al-Masailu al-Fiqhiyyah ala Mazahibu al-Arba’ah (Bahasa Arab) 
d) Bidang Tafsir ada 15 karya 
  1. Tafsir al-Quran Al-Karim (30 juz)
  2. Tafsir al-Fatihah (Bahasa Arab)
  3. Tafsir Ayat Akhlak (Bahasa Arab)
  4. Juz Amma dan Terjemahannya
  5. Tafsir al-Quran Juz 1 – 10 (Bahasa Arab)
  6. Pelajaran Huruf al-Quran (Bahasa Arab)
  7. Kesimpulan Isi al-Quran
  8. Alif Ba Ta wa Juz Amma (Bahasa Arab)
  9. Muhadharaat al-Israiliyyaat fi al-Tafsir wa al-Hadits (Bahasa Arab)
  10. Tafsir al-Quran Karim Juz 11-20
  11. Tafsir al-Quran Karim Juz 21-30
  12. Kamus al-Quran I
  13. Kamus al-Quran II
  14. Kamus al-Quran (juz 1 – 30)
  15. Surat Yaasin dan Terjemahannya (Arab Melayu) 
e) Bidang Akhlak ada 9 karya 
  1. Keimanan dan Akhlak I
  2. Keimanan dan Akhlak II
  3. Keimanan dan Akhlak III
  4. Keimanan dan Akhlak IV
  5. Beriman dan Berbudi Pekerti
  6. Lagu-Lagu Baru Pendidikan Agama / Akhlak
  7. Akhlak Bahasa Indonesia
  8. Moral Pembangunan dalam Islam
  9. Akhlak 
f) Bidang Sejarah ada 5 karya 
  1. Sejarah Pendidikan Islam
  2. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
  3. Tarikh al-Fiqhu al-Islamy (Bahasa Arab)
  4. Sejarah Islam di Minangkabau 
  5. Tarikh al-Islam (Bahasa Arab) 
g) Bidang-bidang lainnya 
  1. Ilmu Perbandingan Agama
  2. Al-Adyaan (Bahasa Arab)
  3. Pedoman Dakwah Islamiyyah
  4. Muzakaraat Ushulu al-Fiqh (Bahasa Arab)
  5. Durusu at-Tauhid (Bahasa Arab)
  6. Ilmu al-Nafs
  7. Beberapa Kisah Nabi dan Khalifahnya
  8. Do’a-Do’a Rasulullah
  9. Pemimpin Pelajaran Agama I
  10. Pemimpin Pelajaran Agama II
  11. Pemimpin Pelajaran Agama III
  12. Kumpulan Do’a
  13. Marilah ke Al-Quran 
  14. Asy-Syuhuru al-Arabiyyah fi Biladi al-Islamiyyah (Bahasa Arab)
  15. Khulashah Tarikh al-Ustaz Mahmud Yunus (Bahasa Arab) 
H) AKHIR HAYAT MAHMUD YUNUS

Aktivitas-aktivitas Mahmud dalam bidang-bidang lain tidak mejadi rintangan bagi aktivitasnya dalam mengarang. Hal ini dapat dilihat dari tulisan yang dihasilkan justru pada saat aktivitasnya yang lain lebih memuncak terutama dalam bidang pendidikan. Hingga pada saat ia menjalani masa pensiun, ia tetap menulis bahkan pada tahun-tahun terakhir dari kehidupannya pa tahun (1982) masih ia sempatkan untuk selalu menulis.[21] Awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Tahun 1982, dia memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Pada tahun ini juga pada tanggal 16 januari, Mahmud Yunus meninggal dunia di Jakarta.[22]


Kiprah Mahmud Yunus dalam dunia pendidikan pada umumnya dan dalam pengajaran Bahasa Arab khususnya akan tetap menajdi amal shaleh yang tak akan putus. Beliau adalah salah satu tokoh Islam yang berpengaruh pada abad ke 20 yang patut dijadikan tauladan dan lebih utama lagi berusaha melanjutkan usaha-usaha yang beliau telah rintis selama hidupnya. Pengorbanan dan usaha beliau sangat besar dalam membentuk pondasi serta perubahan sistem pendidikan di Indonesia yang masih dapat kita rasakan saat ini. Semoga generasi muda akan menyadari hal ini dan menjadikannya sebagai langkah perubahan yang lebih baik di masa mendatang.


ENDNOTE

[1] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 5

[2] Malta Rina (2011), Artikel: “Pemikiran dan Karya-karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus tentang Pendidikan Islam”, Sumatera Barat,  hal. 2
[3] Malta Rina (2011), hal. 3
[4] Herry Muhammad, dkk (2006), Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, Cet I, hal. 85-86
[5] Herry Muhammad, dkk (2006), hal. 86
[6] Malta Rina (2011), Artikel: “Pemikiran dan Karya-karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus tentang Pendidikan Islam”, Sumatera Barat,  hal. 6
[7] Saiful  Amin  Ghofur, (2008), Profil  Para  Mufassir  al-Quran, Yogyakarta:  Pustaka  Insan  Madani,  hal. 198
[8] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 5
[9] Saiful  Amin  Ghofur, (2008), Profil  Para  Mufassir  al-Quran, Yogyakarta:  Pustaka  Insan  Madani,  hal. 198
[10] Malta Rina (2011), Artikel: “Pemikiran dan Karya-karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus tentang Pendidikan Islam”, Sumatera Barat,  hal. 4-5
[11] Sulaiman Ibrahim (2011), hal. 7-8
[12] Herry Muhammad, dkk (2006), Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, Cet I, hal. 86
[13] Herry Muhammad, dkk (2006), Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, Cet I, hal. 87-91
[14] Herry Muhammad, dkk (2006), hal. 90
[15] Irhash A. Shamad (http://irhashshamad.blogspot.com), Tokoh Pendidikan Islam : Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, (1899-1982)
[16] Ibid, No. 18
[17] Ibid, No. 18
[18] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 42
[19] Malta Rina (2011), Artikel: “Pemikiran dan Karya-karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus tentang Pendidikan Islam”, Sumatera Barat,  hal. 176
[20] Malta Rina (2011), hal. 176-180
[21] Malta Rina (2011), Artikel: “Pemikiran dan Karya-karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus tentang Pendidikan Islam”, Sumatera Barat,  hal. 180
[22] Saiful  Amin  Ghofur, (2008), Profil  Para  Mufassir  al-Quran, Yogyakarta:  Pustaka  Insan  Madani,  hal. 200



DAFTAR PUSTAKA



Ghofur, Saiful Amin (2008), Profil Para Mufassir al-Quran, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani
Ibrahim, Sulaiman (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, Cet. I
Muhammad, Herry, dkk (2006), Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, Cet I
Rina, Malta (2011), Artikel: “Pemikiran dan Karya-karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus tentang Pendidikan Islam”, Sumatera Barat
Yunus,   Mahmud   (1981),  Tafsir   Quran   Karim,  Jakarta:  PT    Hidakarya    Abang

PDF DOWNLOAD


>>  SlideShare  :  Disini
>>  Scrib Link   :  Disini

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.