Istri sebagai Kebun, Suami adalah Petani (Al-Baqarah 223)

ASBAB AL-NUZUL

--KAJIAN KONTEKSTUALISASI--
* Al-Baqarah Ayat 223 *

Disusun oleh - Hasrul
Dosen Pembimbing Dr. Ahmad Khusnul Hakim, MA
[Pakar Tafsir dan Ulum al-Quran Institut PTIQ Jakarta]


Ibrah Kajian:

  • Datangilah istrimu di tempat anak lahir (vagina) dan di tempat yang anak tidak mungkin lahir (dubur) jangan didekati;
  • Istri sebagai ladang mengisyaratkan bahwa anak yang lahir adalah buah dari benih yang ditanam ayah. Istri hanya berfungsi sebagai ladang yang menerima benih. Kalau demikian, jangan salahkan istri jika dia melahirkan anak perempuan sedangkan anda menginginkan anak lelaki;
  • Seorang suami harus cerdas memilih ladang yang subur. Dalam artian, seorang petani tidak baik menanam benih di tanah yang gersang. Pandai-pandailah memilih tanah garapan dan pandai-pandailah memilih pasangan. Tanah yang subur harus di atur masa dan musim tanamnya.
  • Dasar untuk membanagun generasi masa depan yang yang baik dan tangguh, semuanya berawal dari pembinaan kehidupan keluarga. heheee, pastinya jagan lupa baca ini sobat  - 8 Tips Bina Keluarga

A. SURAH AL-BAQARAH AYAT 223

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ ﴿سورة البقرة : ٢٢٣﴾

Artinya: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. [Q.S. al-Baqarah: 223]

B. ASBAB AL-NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 223

Adapun sekilas riwayat-riwayat terkait asbab al-nuzul dari surah al-Baqarah ayat 223, sebagai berikut:

1) Pertama:

وأخرج أحمد و الترمذي عن ابن عباس قال : (جاء عمر إلى الرسول الله صلى اله عليه وسلم فقال : يا رسول الله هلكت قال : وما أهلكك ؟ قال : حولت رحلي الليلة فلم يرد عليه شيئا) فأنزل الله الآية (نساؤكم حرث لكم فاتوا حرثكم أنى شئتم) أقبل و أدبر واتق الدبر والحيضة.

Artinya: Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, berkata: Umar suatu ketika datang menghadap Rasulullah Saw dan berkata: “Ya Rasulullah, celakalah saya! “Nabi bertanya: “apa yang menyebabkan kamu celaka?” Ia menjawab: aku pindahkan ‘sukdufku’ (berjimak dengan istri dari belakang) tadi malam.” Nabi Saw Terdiam dan turunlah ayat ini yang kemudian beliau lanjutkan: “Berbuatlah dari muka ataupun dari belakang, tetapi hindarkanlah dubur (anus) dan bilamana istri sedang”. [1]

2) Kedua:

أن رجلا أصاب امرأة في دبرها في زمن رسول الله صلى الله عليه و سلم فأنكر ذلك فأنزل الله (نساؤكم حرث لكم)

Artinya: seseorang menjima’ istrinya dari arah belakang. Maka, orang-orang pun menyalahkan karena hal itu. Lalu turunlah firman Allah (نساؤكم حرث لكم)-a- ”.[2]

3) Ketiga:

أخبرنا سعيد بن محمد الجنائي قال: أخبرنا أبو علي بن أبي بكر الفقيه قال: حدثنا أبو القاسم البغوي قال: حدثنا علي بن جعد قال: حدثنا شعبة، عن محمد ابن المنكدر قال سمعت جابرا قال: قالت اليهود: إن الرجل إذا أتى امرأته باركة كان الولد أحول، فأنزل الله عز وجل: (نساؤكم حرث لكم) الآية.

Artinya: Dari Jabir, berkata: orang-orang Yahudi beranggapan “apabila menggauli istrinya dari belakang ke farjinya, maka anaknya akan lahir bermata juling”. Lalu Allah menurunkan ayat (نساؤكم حرث لكم)-a-”.[3]


C. PEMAHAMAN DAN KONTEKSTUALISASI AYAT 


Allah SWT memberi peluang bagi suami-istri untuk menikmati seks dalam bentuk apapun selama hal itu dilakukan di tempat persemaian. Allah SWT menggunakan kata harts di sini untuk menerangkan bahwa penanaman di lakukan pada tempatnya. (حَرْثٌ) harts ialah tempat tumbuhnya tumbuhan, bisa berbentuk sawah atau kebun. Maka pengertian (فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ) ialah datangilah istrimu di tempat anak lahir (vagina) dan di tempat yang anak tidak mungkin lahir (dubur) jangan didekati. Sebagian manusia salah menafsirkan firman Allah (فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ) dengan tafsiran datangilah istrimu dari mana saja. Ini salah, karena (حَرْثَكُمْ) artinya tempat penanaman (vagina) dan hasil tanaman bagi suami-istri adalah keturunan berupa anak.[4] Dubur bukanlah tempat bercocok tanam, maka tidak mengandung kemungkinan adanya pilihan tempat lain selain dari tempat keluarnya anak. 

Ayat ini mengandung jawaban dari pertanyaan dan beberapa keadaan ketika turunnya; apakah diperbolehkan mendatangi istri pada kemaluannya tetapi dari belakangnya. Maka Allah SWT memberitahukan bahwa hal itu tidaklah mengapa asalkan tetap pada kemaluan (vagina) dan wanita itu suci dari darah haidh dan nifas. Wanita dinamakan lading karena rahimnya dapat mendatangkan anak sebagaimana tumbuh-tumbuhan tumbuh pada bumi yang subur. Jika masalahnya seperti itu, maka seorang suami dapat mendatangi istrinya kapan dia mau, dari depan atau dari belakang selama tujuannya tercapai, yaitu terjaga dari perbuatan keji dan untuk memperoleh keturunan yang baik.[5]

Istri sebagai ladang bukan saja mengisyaratkan bahwa anak yang lahir adalah buah dari benih yang ditanam ayah. Istri hanya berfungsi sebagai ladang yang menerima benih. Kalau demikian, jangan salahkan istri jika dia melahirkan anak perempuan sedangkan anda menginginkan anak lelaki. Sebab, dua kromosom yang merupakan faktor kelamin yang terdapat pada wanita sebagai pasangan homolog adalah (XX) dan pada lelaki sebagai pasangan yang tidak homolog adalah (XY). Jika X pada jantan/lelaki bertemu dengan X yang ada pada wanita, maka anak yang lahir perempuan. Adapun, jika Y pada jantan/lelaki bertemu dengan X pada wanita, maka anak yang lahir lelaki. Jadi bukankah wabita hanya lading dan suami adalah petani yang menabur. 

Namun, seorang suami juga harus cerdas memilih ladang yang subur. Dalam artian, seorang petani tidak baik menanam benih di tanah yang gersang. Pandai-pandailah memilih tanah garapan dan pandai-paidailah memilih pasangan. Tanah yang subur harus di atur masa dan musim tanamnya. Jangan menanam benihsetiap saat, jangan paksa ia berproduksi setiap waktu. Begitupun seorang suami, pilihlah waktu yang tepat, atur masa kehamilan, jangan setiap saat anda panen karena ini merusak ladang.[6] (وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ) Dan kerjakanlah amal baik untuk dirimu. Ayat ini mencegah muslim dari pemahaman bahwa semua itu dilakukan semata-mata demi tersalurnya kepuasaan seksual. Allah memerinthakan agar dengan kepuasaan seksual itu tercapai perlindungan atas apa yang dilahirkan hingga terjamin kelangsungan umat manusia. Hubungan seksual jangan sampai menjadi tujuan utama, tetapi jadikanlah ia sarana untuk mencapai tujuan yang mulia. Untuk itu, setiap muslim dianjurkan mengikuti sunnah Rasul tatkala menikmati hubungan seksual dengan berdoa: 

اللهم جنبي الشيطان و جنبي الشيطان مما رزقتني. 

Artinya: Ya Allah, jauhilah saya dari syetan dan jauhilah apa yang kamu rezekikan kepadaku dari syetan. 

Seorang suami hendaknya berlaku baik terhadap istrinya yang dapat membahagiakannya dan memperpanjang harapan kamu berdua. Jangan tinggalkan ia sendirian, hindarkan darinya segala ganguan, beri ia segala yang sesuai guna menyiapkan pertumbuhan dan perkembangan janin yang akan atau sedang dikandungnya. Bila tiba saatnya ia mengandung, maka beri perhatian lebih besar, kemudian setelah melahirkan, pelihara anakmu hingga dewasa agar dapat bermanfaat untuk orang tuanya, keluarga bahkan kemanusiaan serta bangsa dan tanah air. 

(وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ) dan bertakwallah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. Makna “bertakwalah kepada Allah” yaitu hindarilah murka Allah dan tetap bertakwa dengan prinsip yang tidak diragukan lagi bahwa kamu pasti bertemu dengan-Nya.[7] Jika demikian, jangan sembunyikan sesuatu terhadap pasangan yang seharusnya ia ketahui dan jangan membohonginya. Disisi lain, jangan membongkar rahasia rumah tangga yang sarusnya dirahasiakan. Kalaupun ada cekcok, selesaikan ke dalam dan jangan selesaikan melalui orang lain kecuali jika terpaksa. Allah kelak akan menyelesaikannya karena kelak kamu semua akan menemui-Nya. Demikian kesan al-Haralli, seorang ulama dan pengamal tasawuf yang banyak dikutip pendapatnya oleh al-Biqa’i.[8]

Melihat keadaan sosial saat ini khususnya dalam kaitannya dengan pergaulan bebas sungguh bertentangan dengan pesan ayat ini. Banyak dan mudahnya dijangkau berbagai media informasi merupakan salah satu faktor rusaknya mental dan maraknya pergaulan remaja sekarang. Ini merupakan awal dari rusaknya generasi masa depan umat. Hal inilah yang diisyartakan dalam ayat di atas bahwa hubungan yang baik antara suami-istri akan melahirkan keturunan yang baik pula. Dari sini jugalah dasar untuk membanagun generasi masa depan yang yang baik dan tangguh. Ini semuanya berawal dari pembinaan kehidupan keluarga yang akan melahirkan keturunan. Dengan demikian, awal dan akhir yang baik semuanya berawal dari kita juga.


ENDNOTE



[1] Jalaluddin  al-Suyuti,  Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby, 2011M/1432 H), hal. 41
[2]  Jalaluddin  al-Suyuti,  Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, hal. 42
[3] Al-Wahidy,  Asbab al-Nuzul (Hadramaut: Darr al-Kitab al-Islamiyah, 2010), Cet. I, hal. 48
[4] Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi (Medan: Duta Azhar, 2006), Cet. I, Jilid 1, hal. 711
[5] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006), cet. I, jilid. I,  hal. 365
[6] Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2001), Cet. I, Volume 1, hal. 449
[7] Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi (Medan: Duta Azhar, 2006), Cet. I, Jilid 1, hal. 712
[8] Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2001), Cet. I, Volume 1, hal. 450


REFERENSI PEMBAHASAN

Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti, cet. I, Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006

Al-Suyuti, Jalaluddin. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Darr al-Kitab al-Araby, Cet. V, 2011

Al-Wahidy, Asbab al-Nuzul, cet. I, Hadramaut : Darr al-Kitab al-Islamiyah, 2010

Shihab, Quraish. Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, Cet. I, 2001

Sya’rawi, Mutawalli. Tafsir Sya’rawi, cet. I, jilid I, Medan: Duta Azhar, 2006


pdf Free Download : HERE



SEKIAN - SALAM SQ BLOG

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.