FILSAFAT HEGEL; Relativisme Kebenaran

Oleh Hasrul (NPM : 10.31.0264)
Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta

Proyek utama para filosof klasik bahkan sampai filosof sekarang tidak terlepas dari perdebatan mengenai sumber segala sesuatu yang ada. Perdebatan ini terjadi dalam setiap kurun sejarah filsafat dari masa ke masa. Setiap filosof memiliki pandangan yang berbeda dengan filosof lainnya dalam memandang alam ini dan segala hukum-hukum padanya. Namun, perbedaan itu semua muncul semata-mata masih dalam tahap pencapaian tujuan yang sama, yaitu tentang eksistensi dari segala sesuatu yang ada. Maka tidak mengherankan jika beberapa filosof lainnya dalam perdebatan yang sengit tersebut hanya melakukan proses dialektis dalam menganalisa teori-teori filosof sebelumnya.


Georg Wilhelm F. Hegel
Ilustrasi berbagai perdebatan para filosof dalam perkembangan filsafat sebenaranya sebuah keniscayaan. Hal ini sungguh rasional karena masing-masing diantar mereka hidup dalam kurun waktu yang berbeda pula. Sisi ini melahirkan sejumlah konsep yang berbeda, baik berupa gagasan, konsep, pandangan, pengalaman dan berbagai instrument ilmu lainnya yang turut mempengaruhi cara berpikir setiap orang. Dengan demikian, konsep yang melahirkan berbagai perdebatan dalam filsafat tidak terlepas dari konteks kesejarahan. Analisis inilah yang melahirkan salah satu konsep Filsafat Hegal yang menyatakan “sejarah adalah satu-satunya titik pasti dalam filsafat”. 

Georg Wilhelm Friedrich Hegel adalah seorang pemikir Romantisisme. Lahir di Stuttgart, Jerman pada 1770 dan meninggal pada tahun 1831. Bagi Hegel, sejarah itu seperti sungai. Sebuah sungai juga selalu berubah. Itu bukan berarti bahwa kamu tidak dapat membicarakan tentangnya. Tapi kamu tidak dapat mengatakan di tempat mana di lembah sungai tersebut merupakan sungai yang paling benar. Dengan demikian, seseorang tidak dapat mengkalaim teori filsafat zaman Yunani kuno (± 450 SM-200 SM) lebih unggul dibandingkan filsafat sebelumnya, yaitu filsafat klasik (± 600 SM-400 SM). Ini menunjukkan perkembangan dan kemajuan filsafat Yunani kuno tidak dapat dilepaskan dari pengaruh dan sumbangsi para filosof sebelumnya pada masa klasik. Bahkan dalam satu periode filsafat sekalipun memiliki konsep filsafat yang tidak dapat dipisahkan. Pada masa filsafat klasik misalnya, Thales beranggapan bahwa sumber segala yang ada ialah air. Berbeda dengan Anaximenes yang menyatakan udara, begitupun Paramenides menyatakan akal dan tibalah Heraklitus yang mengkompromikan teori-teori tersebut dengan konsep perubahan.

Pada generasi berikutnya, konsep-konsep tersebut terus dikaji dan dijabarkan secara detail. Salah satu pemikir tersebut ialah Empedeclus yang masih meragukan konsep filsafat sebelumnya. Ia kemudian menawarkan argumen baru bahwa sumber segala sesuatu adalah empat unsur, yaitu tanah, udara, api dan air. Empedocles percaya bahwa mata terdiri dari tanah, udara, api dan air sebagaimana segala sesuatu di alam. Maka, “tanah” di mataku melihat apa yang berunsur tanah di sekitarku, “udara” melihat apa yang berunsur udara dan begitupun pada unsur api dan air. Jika mata tidak mengandung salah satu dari keempat unsur tersebut tegas Empedocles, aku tidak dapat melihat seluruh alam. Garapan filsfat Empedeclus jelas terlihat akan keterkaitannya dengan filsafat-filsafat sebelumnya. 

Pada sisi yang lain, sebagian filosof terus melakukan pencarian dan berbagai observasi dalam mencari solusi yang lebih rasional akan kajian filsafat yang semakin rumit dan kompleks. Kajian mereka tidak sepenuhnya berfokus dengan hasil temuan filsuf sebelumnya melainkan hanya menjadikannya sebagai acuan dalam eksprimen mereka. Anaxagoras adalah filosof lain yang tidak setuju bahwa satu bahan dasar tertentu, mislanya air dapat di ubah menjadi segala sesuatu yang kita lihat di alam ini. Dia juga tidak menerima bahwa tanah, udara, api dan air dapat diubah menjadi darah dan tulang. 

Anaxagoras berpendapat bahwa alam diciptakan dari partikel-pertikel sangat kecil yang tidak dapat dilihat mata dan jumlah tak terhingga. Tekhnologi modern sekarang dengan menggunakan laser membuktikan bahwa yang dimaksud oleh Anaxagoras ialah hologram. Filosof lainnya ialah Demokritus. Ia sepaham dengan beberapa filsuf sebelumnya mengenai perubahan di alam ini yang tidak terjadi secara frontal. Demokritus percaya bahwa segala sesuatu diciptakan dari balok-balok tak terlihat yang sangat kecil yang masing-masing kekal dan abadi. Ia menamakan unit-unit kecil tersebut dengan atom. 

Demikianlah sekilas perdebatan berbagai teori dalam kesejarahan filsafat khususnya filsafat pada zaman klasik. Perbedaan pendapat diantara mereka tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya karena pada sisi yang lain saling berkaitan bahkan justru menguatkan argumen sebelumnya. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa garapan para filosof berada dalam titik yang sama, perbedaannya hanyalah sebuah proses perkembangan yang menunjukkan akan kemajaun filsafat dari masa ke masa. Oleh karena itu, Hegel mengungkapkan “kondisi material yang ada di sekitarmu ikut berpengaruh menetukan caramu berpikir. Sehingga, kamu tidak dapat menyatakan bahwa pemikiran tertentu benar selama-lamanya”.

Beberapa hal bisa jadi benar atau salah dalam kaitan dengan suatu konteks sejarah tertentu. Jika kamu mendukung perbudakan pada masa sekarang, paling-paling kamu akan dianggap tolol. Tetapi kamu tidak akan dianggap tolol 2.500 tahun yang lalu. Hegel juga mengemukakan bahwa akal itu dinamis. Hal ini nampak dari perjalanan filsafat yang kenyataanya terus berkembang yang menjadikan pengetahuan akan selalu berkembang dan maju. Sehingga, kamu sama sekali tidak dapat memisahkan filsafat tertentu atau pemikiran tertentu dari konteks sejarah. 

Setelah periode filsafat klasik berakhir dengan khas filsafat alam, filsafat selanjutnya lebih fokus dengan dinamika sosial dan kenegaraan. Periode ini sering disebut sebagai filsafat Yunani kuno yang dimulai dari zaman Socrates, kemudian Plato dan berakhir pada masa Aristoteles. Arah pemikiran filsafat zaman ini berbeda dengan sebelumnya dari sisi temporal maupun geografis. Socrates adalah filosof besar pertama yang dilahirkan di Athena dan salah satu muridnya ialah Plato. Plato (428-347) berusia dua puluh Sembilan tahun ketika Socrates minum racun cemara. Dia telah menjadi murid Socrates dan mengikuti pengadilan gurunyanya ketika itu dengan cermat. Baik Socrates maupun Plato, kedua-duanya memiliki pandangan filsafat secara rasional. Adapun Aristoteles memiliki orientasi filsafat Empiris. 

Setelah masa filsafat Yunani kuno, berbagai aliran filsafat baru muncul yang tidak lain hanya merupakan perkembangan dari filsafat sebelumnya. Berbagai paham tersebut islah, paham sinis (Anthistenes), paham stoik (Zeno), paham epicurean (Aristippus) dan paham neoplatonisme (Plotinus). Periode perkembangan paham-paham di atas disebut dengan masa Hellenisme/Hellenistik. Istilah Hellenistik mula-mula dipakai oleh ahli sejarah Jerman, Johan Gustav Droysen yang merujuk pada penyebaran peradaban Yunani pada bangsa bukan Yunani yang ditaklukkan oleh Aleksander Agung. Menurut Droysen, peradaban Hellenistik adalah gabungan dari peradaban Yunani dengan peradaban Timur Dekat. Dalam kurun waktu yang panjang, peradaban Yunani terus diminati di berbagai daerah, termasuk di wilayah timur dan barat melalui peradaban Hellenisme. Maka tidak mengherankan, di barat melahirkan sejumlah filosof, dianataranya St. Agustin yang merujuk filsafat Plato, Thomas Aquinas yang merujuk filsafat Aristoteles, Hildegard, Marsilio Picino, Pico Della, Galileo Galilei, Francis Bacon, Nicolas Copernicus, Johanne Kepler, Isaac Newton dan sejumlah filsafat lainnya. Masa ini dalam filsafat sering disebut sebagai periode Renaisans yang berarti “kelahiran kembali”, berlangsung pada abad ke-15 dan ke-16 M.

Dalam pengertian yang lebih spesifik, Renaisans diartikan sebagai suatu periode sejarah di mana perkembangan k ebudayaan Barat memasuki periode baru dalam semua aspek kehidupan manusia, seperti ilmu-ilmu pengetahuan, teknologi, seni dalam semua cabang, perkembangan sistem kepercayaan, perkembangan sistem politik, institusional, bentuk-bentuk sistem kepercayaan yang baru dan lain-lain. Secara historis Renaisans adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman di mana orang merasa dirinya telah dilahirkan kembali dalam keadaban. Di dalam kelahiran kembali itu orang kembali pada sumber-sumber murni bagi pengetahuan dan keindahan. Dengan demikian orang memiliki norma-norma yang senantiasa berlaku bagi hikmat dan kesenian manusia. Renaisans mempunyai arti penting dalam sejarah kebudayaan Barat. Karena masa ini merupakan masa kekuasaan, kesadaran, keberanian, kepandaian yang luar biasa, kebebasan dan seringkali semua itu tidak ada batasnya. 

Beriringan dengan perkemabangan zaman, zaman renaisans sedikit demi sedikit tergeser dengan peradaban dan kebudayaan baru khususnya dalam kesenian. Semua orang benar-benar merasakan kebebsasa dan hanya mementingkan keindahan di atas segalanya melalui berbagai pertunjukkan kesenian. Periode ini dikenal dengan zaman Barok. Beberapa filosof terkenal pada zaman ini ialah William Shakespeare, Peter Dass, Thomas Hobbes, Le Mettric, Laplace dan beberapa filososf lainnya. Pada masa selanjutnya sebelum memasuki zaman pencerahan, muncul beberapa filosof terkenal dengan gagasan Rasionalis ataupun Empiris diantaranya, Descartes (rasional), Spinoza (rasional), Locke (empiris), Hume (empiris), dan Berkeley (Empiris). 

Rasionalisme merupakan suatu paham yang menyatakan bahwa realitas hanya bisa dijelaskan dengan rasio atau akal. Adapun, empirisme merupakan paham yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman inderawi manusia. Perdebatan ini layaknya tradisi filosof-filosof sebelumnya yang juga mengalami hal yang serupa. Perdebatan tersebut cair pada zaman pencerahan atas konsep filasafat Immanuel Kant. Kant percaya bahwa ilmu pengetahuan tentu saja didasarkan pada fakta-fakta empiris. Namun, ilmu pengetahuan pun mengakui adanya pengetahuan a priori. A priori merupakan pengetahuan yang tidak diperoleh dari pengalaman, melainkan dari rasio atau akal.

Konsep di atas juga termasuk salah satu garapan filsafat Hegel. Ia percaya bahwa sejarah itu sendiri mengungkapkan pola dialektis. Hasil dialektis tersebut dinamakan Hegel negasi atau negasi. Setiap pemikiran atau pernyataan akan dihadapkan pada pemikiran atau penyataan lain yang akan menghasilkan ketegangan. Tapi ketegangan itu akan dicairkan oleh pemikiran ketiga yang dapat merujukkan hal-hal terbaik dari kedua sudut pandang tersebut. Filosofis sebelum Socrates membicarakan substansi asal dan perubahan. Lalu, kaum Eleatik menyatakan bahwa perubahan adalah mustahil. Hegel menamakan Pemikiran Eleatik tersebut dengan “negasi”. Ketegangan ini mencair ketika Empedocles mengemukakan bahwa kedua pernyataan itu separuh benar dan separuh salah. 

Hegel juga menyebut ketiga tahap tersebut dengan tesis, antitesis dan sintesis. Namun, pada titik sintesis masih mungkin terdapat perenungan lain atau triad. Sebab, suatu sintesis juga akan dihadang oleh suatu antitesis lain. Hegel mengingatkan, ditengah serunya diskusi semacam itu, tidak mudah memutuskan pendapat mana yang lebih rasional. Kita menyerahkan kepada sejarah untuk memutuskan yang benar dan yang salah. Yang masuk akal itulah yang akan berumur panjang.


Sekilas Kajian Filsafat Hegel
"Sejarah merupakan titik pasti dalam filsafat "


DAFTAR PUSTAKA

Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam, cet. VI, Jakarta: Bulan Bintang, 1996
Maksum, Ali. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme, cet. V, Yogyakarta: Al-Ruzz Media, 2011
Hatta, Mohammad. Alam Pikiran Yunani, cet. III, Jakarta: Ui-Press, 2006
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1, cet. XXVII, Yogyakarta: Kanisius, 1980
Gaarder, Jostein. Dunia Sophie terj. Rahmani Astuti dari judul asli “Sophie’s World”, cet. VI, Bandung: Mizan, 2012


pdf Download

SEKIAN 

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.