Hidup Damai, Nasaruddin Umar


Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar (Saat ini juga sebagai Rektor Institut PTIQ Jakarta) menyatakan kalau semua pemeluk agama menghayati agamanya, kekerasan tidak akan terjadi. Hal itu disampaikan Wamenag ketika menyampaikan pandanganya sebagai keynote speech pada International Conference on Islam, Civilization, and Peace di Jakarta (23/4).

Penegasan Nasaruddin tersebut menyikapi kejadian tragedi Boston di AS di mana pelaku pemboman menganggap terorisme sebagai sesuai yang mereka kerjakan, dan dengan terorisme bisa menanggulangi apa yang yang mereka resahkan selama ini.

Nasaruddin mengungkapkan, banyak dalam Alqur’an ayat yang bisa dikutip, yang menyatakan bahwa apapun etniknya, apapun agamanya, selama anak cucu Adam, wajib umat Islam untuk menghormati mereka. Sikap toleransi, menurut Nasaruddin juga dikedepankan Nabi Muhammad SAW ketika merumuskan sejumlah ketentuan dalam perjanjian Hudaibiyah.

Lebih lanjut, Nasaruddin mengungkapkan ada sejumlah pihak yang menyalahartikan sejumlah ayat dalam Al-Quran yang bisa memicu konflik, salah satunya oleh seorang murtad (orang yang keluar dari Agama Islam) padahal orang tersebut seorang Profesor lulusan dari Al-Azhar. Orang tersebut menggunakan nama samaran Gabriel yang mengatakan yang teroris itu Qur’an, bukan orang Islam. Orang tersebut mengutip ayat Al-Quran yang dipotong dan dikeluarkan dari konteksnya. “ Berbahaya sekali kalau memahami ayat Al-Quran tanpa memahami penyebab turunnya (asbabunnuzul) dan asbabul wurud sebuah hadist”, ujar Nasaruddin.

Dalam uraian lainnya, Nasaruddin mengungkapkan ada persoalan konseptual yang harus diselesaikan dalam diri kita sendiri. Menurutnya, perkembangan sejarah keagamaan tidak selalu mulus dengan dengan sejarah ilmu pengetahuan. Setiap 6 abad terjadi pergumulan ilmu dan agama. Abad 6 Sebelum Masehi sampai 1 Masehi dimenangkan lmu fisalafat, hal ini ditandai lahirnya sejumlah filosof seperti Plato, Aristoteles dan sebagainya dan tidak melahirkan tokoh atau ilmuwan agama yang mumpuni. Abad pertama yang ditandai kelahiran Nabi Isa AS sampai abad 6 adalah kemenangan agama yang ditandai lahirnya Nabi Muhammad SAW. Abad 6 s.d abad 12 adalah puncak peradaban dunia ditandai yang dengan kelahiran nabi Muhammad SAW, saat itu bersanding ilmu pengatahuan dan agama.

Abad 12 s.d. 18 ditandai berbaliknya unsur peradaban jahiliyah, dan abad 18 s.d. sekarang adalah abad kegersangan. Akibatnya menurut Nasaruddin, ilmu menjadi kering, dan Barat menjajah Islam hanya memperkenalkan ilmu dan tidak menerangkan ma’rifah. Pengetahuan yang dengan nalar kita sebut ilmu dan yang dengan batin kita sebut dengan hikmah. “Agama yang bisa aktual dengan ilmu di masa depan adalah yang bisa bersanding antara ilmu dan agama” terang Nasaruddin.

Lebih lanjut Nasaruddin menyampaikan, bahwa kalau kita bicara agama, sepertinya kualitatif, sementara persoalan agama sangat kuantatif (angka). Kita sering kali bicara agama seperti deduktif, padahal realitasnya sangat induktif. Untuk itu “Jangan ada jarak antara agama dengan pemeluknya”, ujar Nasaruddin. (MN)

Sumber : Kemenag
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.