Tafsir QURAN KARIM Karya Mahmud Yunus

Perkembangan penafsiran al-Quran di Indonesia agak berbeda dengan perkembangan yang terjadi di dunia Arab yang merupakan  tempat turunnya al-Quran. Oleh karena itu, proses pemahaman al-Quran di tanah air terlebih dahulu dimulai dengan penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa Indonesia baru kemudian dilanjutkan dengan penafsiran yang lebih luas dan rinci.[1] Perlu diketahui bahwa pada perkembangan awal, para Mufassir belum mendokumentasikan penafsirannya dalam bentuk buku. Hal ini dimaklumi karena para mufassir ketika itu sekaligus sabagai juru dakwah yang berperan dalam menyebarkan Islam sehingga kesempatan untu menulis belum terpikirkan . Karena itu, hasil penafsiran mereka hanya berkembang secara lisan. Menjelang abad ke-17, tradisi pembukuan tafsir baru dilakukan yang dipelopori oleh Abdul Rouf Singkel dengan tafsirnya, Tarjuman al-Mustafid.

Perkembangan cara penerjemahan dan penafsiran al-Quran ke dalam bahasa Indonesia terdiri dari tiga generasi,[2] yaitu:
  • Generasi Pertama, dimulai kira-kira pada awal abad ke-20 hingga awal tahun 1960-an,
  • Generasi kedua, dimulai sejak pertengahan tahun 1960-an hingga menjelang tahun 1970-an, dan
  • Generasi ketiga, terhitung setelah tahun 1970-an hingga sekarang.
Sesuai dengan kategorisasi Federspiel diatas, maka salah satu karya terjemah dan tafsir di Indonesia yang tergolong dalam generasi kedua adalah Tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus, seorang ulama kelahiran Sumatera bagian barat. Inilah yang akan menjadi topik utama dalam tulisan ini. Mudah-mudahan dapat menjadi satu tambahan referensi baru dalam memahami tradisi penafsiran al-Quran di Indonesia. Baca Biografi Mahmud Yunus Disini.

A. KIPRAH MAHMUD YUNUS DALAM MENAFSIRKAN AL-QURAN

Karya Mahmud Yunus yang paling monumental dan memiliki pengaruh yang luas ialah Tafsir Quran Karim. Usaha beliau dalam menerjemahkan dan menafsirkan al-Quran merupakan langkah yang cukup berani. Kegiatan penerjemahan dan penafsiran al-Quran selain bahasa arab pada waktu itu belum dapat diterima oleh semua Ulama bahkan ada yang menganggap hukumnya haram. Mahmud Yunus melakukan terobosan ini sekitar akhir tahun 1922 Masehi yang merupakan bukti bahwa ia benar-benar mahir dalam bahasa Arab.


Menurut Howard M. Federspiel, ada 3 kitab Tafsir yang cukup representatif untuk mewakili tafsir-tafsir generasi kedua (Tahun 1960-an hingga menjelang tahun 1970-an),[3] yaitu:
  1. Tafsir al-Furqan, karya Ahmad Hassan
  2. Tafsir al-Quran Karya Hamidy, dan
  3. Tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus
Ketiga Tafsir diatas berawal dari karya-karya penting pada generasi penerjemahan pertama pada 25 tahun kedua abab ke-20. Adapun pada uraian berikut akan menyajikan sekilas tentang tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus.

a) Eksistensi Tafsir Quran Karim Karya Mahmud Yunus

Tafsir Quran Karim menurut keterangan penulisnya merupakan hasil penyelidikan selama kurang lebih 53 tahun, yaitu sejak penulisnya berusia 20 tahun hingga 73 tahun. Dalam rentang waktu yang cukup lama ini, reaksi keras dan protes terus bermunculan, baik dari kalangan umat Islam secara umum maupun dari kalangan ulama terkemuka sekalipun. Hal ini disebabkan kegiatan penfsiran ketika itu dianggap sebagai perbuatan langka yang diharamkan. Ada dua ulama besar yang masing-masing dari Yogyakarta dan Jatinegara yang pernah melakukan protes tertulis agar apa yang diupayakan Mahmud Yunus dihentikan.[4]

Penulisan Tafsir Quran Karim dimulai pada tahun 1922 dan berhasil diterbitkan untuk juz pertama, kedua dan ketiga. Pada tahun 1924, Usaha penulisan untuk sementara waktu berhenti karena penulisnya memutuskan melanjutkan pendidikan ke al-Azhar, Mesir. Satu pelajaran penting yang penulis dapatkan disana ialah kobolehan menerjemahkan al-Quran dan bahkan dianjurkan agar bangsa asing yang tidak mengetahui bahasa Arab dapat memahaminya juga. Setelah penulis dalam hal ini Mahmud Yunus telah menempuh pendidikan di al-Azhar dan Darr al-Ulum, ia pulang ke Indonesia dan kembali melanjutkan usahanya untuk menafsirkan al-Quran.[5]

Mahmud Yunus melanjutkan usaha ini pada tahun 1354 H / 1935 M dan yang terpenting pada saat itu ialah ia berikan nama Tafsir Quran Karim. Kegiatan penafsiran tersebut diterbitkan 1 juz tiap 2 bulan. Adapun dalam menerjemahkan juz 7 sampai juz 18 dibantu oleh AlMarhum H.M.K. Bakry. Pada bulan april 1938 tammatlah 30 juz.[6]

b) Mengenal Sistematika Penyusunan Tafsir Quran Karim

Uraian ringkas dari sitematika penyusunan Tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus dapat dilihat sebagai berikut:[7]
  1. Cover [1lembar] I
  2. Lembar Pengesahan [1 lembar] II
  3. Pendahuluan [5 lembar] III-VII
  4. Isi [924 lembar] 1-924
  5. Daftar Surat dan Isi Tafsir Quran Karim [25 lembar] I-XXV
  6. Daftar Isi Surat-surat Quran [2 lembar] XXV-XXVI
  7. Daftar Isi Juz-juz Quran [1 lembar] XXVI
  8. Kesimpulan Isi al-Quran [33 lembar] I-XXXIII 
c) Karakteristik Tafsir Quran Karim

Ada beberapa karakteristik yang setidaknya dapat memberikan gambaran utuh mengenai karya Tafsir Mahmud Yunus, yaitu sistematika penerjemahan dan penafsiran yang ia gunakan, teknik penerjemahan dan keterangan (catatan kaki), analisa istilah dan konsep-konsep serta kandungan kesimpulan al-Quran. Uraiannya dapat dianalisa dibawah ini:[8]
  • Sistematika Penerjemahan dan Penafsiran 
Karya tafsir Quran Karim memiliki komposisi yang cukup sederhana. Format penejemahannya dilakukan setelah mengetengahkan teks al-Quran dibagian kanan dan terjemahannya dibagian kiri. Hal ini memungkinkan semua orang mengetahui arti kata dari masing-masing ayat yang diterjemahkan. 

Pada sisi lain, birisi juga uraian panjang mengenai suatu objek tertentu. Contoh yang cukp mewakili hal ini ialah ketika Mahmud Yunus menjelaskan makna persatuan (integrasi) umat pada Surah al-Imran ayat 103 (وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُو). Demikian juga mengenai perpecahan (desintegrasi) umat pada Surah al-An’am ayat 159 (إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ). Hal terpenting dari uraian ini ialah penulis berusaha menyisipkan suatu pesan moral kepada pembaca agar dalam kehidupan bermasyarakat senantiasa menjaga nilai-nilai kebersamaan dan rasa persatuan. 
  • Teknik Penerjemahan dan Keterangan (catatan kaki) 
Hamper 60 persen karya Mahmud Yunus berisi terjemahan dari teks al-Quran dan 40 persen berisi keterangan dalam bentuk catatan kaki atas beberapa istilah dan beberapa konsep Agama. Untuk teknik penerjemahannya dengan penerjemahan literal (harfiyyah). Walaupun demikian, terdapat juga terjemahan maknawi yang ditandai dengan dua tanda kurung dan selebihnya dalam bentu catatan kaki. Sebagai contoh, ayat 29 surah al-Isra’ وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ oleh penulisnya diterjemahkan dengan kalimat “jangalah engkau jadikan tangan engkau terbelenggu ke kuduk engkau (jangan bakhil). Hal ini terlihat terutama pada ayat-ayat al-Quran yang menggunakan lafal konotatif dan bernuansa eupemistis. Mahmud Yunus mengakui bahwa terjemahan literal tidak memadai untuk memberikan pengertian yang sebenarnya tentang suatu ayat tampa dibarengi dengan terjemahan maknawi. 
  • Analisa Istilah dan Konsep-konsep 
Mahmud Yunus meiliki kecenderungan ketika menerjemahkan suatu kata (istilah) yaitu menekankan pada pengertian leksikal dan semantic kata tersebut sesuai dengan perkembangan bahasa yang terpakai. Sebagai contoh pada penerjemahan kata مُتَوَفِّي dalam ayat 55 surah al-Imran إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ. Kata (مُتَوَفِّي) dalam ayat ini diterjemahkan secara leksikal dengan mewafatkan karena pengertian ini menurut penerjemahnya adalah pengertian yang biasa terpakai dalam bahasa Arab dan tidak ada indikasi lain yang dapat memutar pengertian ini kepada pengertian lain. 
  • Kandungan Kesimpulan al-Quran 
Satu bentuk karakteristik lain dari karya yang sedang ditelaah ini adala uaraiannya yang secara khusus memuat kesimpulan isi al-Quran yang diletakkan pada bagian akhir sebanyak kurang lebih 32 halaman.

d) Metodologi Tafsir Quran Karim

Untuk analisa metodologi terhadap Tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus, dapat lihat dari beberapa segi,[9] yaitu:
  • Metode Penulisan 
Segi cara penafsiran Tafsir Quran Karim ialah ayat demi ayat dan suh demi surah sesuai dengan urutan dalam mushaf dan dilakukan secara singkat dan global tampa urutan yang panjang lebar. Maka dapat disimpulkan, tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus menggunakan metode global (ijmali). Tafsir ini juga memiliki uraian tentang asbab al-Nuzul dan keterangan ringkas makna ayat-ayat al-Quran.[10]
  • Metode Penafsiran 
Metode penafsiran yang digunakan Mahmud Yunus sebagian besar masih bersifat sederhana. Hal ini terlihat dalam penyajian tafsirnya yang dilakukan pertama kali ialah member arti dengan ayat-ayat al-Quran. Setelah itu, memberikan penafsiran secara global. Selanjutnya penafsirannya dilakukan dengan mencantumkan catatan kaki pada ayat-ayat yang dianggap penting untuk dijelaskan.
  • Metode Pemikiran Tafsir 
Metode pemikiran tafsir Mahmud Yunus cenderung kea rah penafsiran bi al-Riwaya, yakni metode penafsiran yang menggunakan riwayat-riwayat para sahabt dan para tabi’in sebagai dasar pijakan. Metode ini kurang memberikan porsi yang besar terhadap akal dan lebih banyak berpegang pada arti harfiahnya. Salah satu contoh dalam permasalahan ini seperti ketika menafsirkan Surah al-Fath ayat 10 (يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ) dan surah al-Imran ayat 26 dan 73 yang masing-masing ada kata (بِيَدِكَ الْخَيْرُ) dan (بِيَدِ اللَّهِ). Mahmud mengartikan kata يَدُ dengan tangan yang didasarkan pada riwayah bahwa ayat ini turun ketika orang-orang yang bersetia teguh kepada Nabi Muhammad, berjabat tangan dengan Nabi Muhammad dan mengumpamakan tangan Nabi Muhammad sebagai tangan Allah. 

e) Corak Tafsir Quran Karim 

Menurut analisa kami, corak yang dimiliki Tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus, setidaknya ada dua yang sangat menonjol, yaitu:
  • Corak Sosial
Salah satu tujuan Mahmud Yunus menulis tafsirnya ialah untuk menyampaikan dakwah Islamiyyah dan menjadikan ajaran-ajaran dasar al-Quran sebagai petunjuk universal. Latar belakang inilah yang dibangun Mahmud Yunus dalam tafsirnya yang membedakannya dengan tafsir-tafsir lain. Ini jelas berbeda dengan tafsir-tafsir sebelumnya yang kebanyakan membahas sisi kebahasaan dari al-Quran. Adapun tafsir karya Mahmud Yunus sangat menonjol dalam menyampiakn nilai-nilai social. 

Tafsir ini sejak digagas untuk pertama kalinya pada 1922 dan 1950-an, karya ini dicetak sebanyak 200.000 eksemplar hingga tahun 1983 karya ini telah mengalami cetak ulang sebanya 23 kali. Ini menunjukkan juga bahwa tafsir tersebut dismabut baik oleh masyarakat luas.[11]
  • Corak Intelektual 
Karya ini, seperti yang telah diakui oleh penafsirnya bermula dan lahir dari hasil penyelidikan yang mendalamselam bertahun-tahun. Karya ini hadir ditengah-tengah masyarakat yang belum banyak mengerti akan bahasa kitab sucinya, al-Quran. Kenyataan ini menunjukkan bahwa karya ini berhasil diselesaikan ini menjadi karya yang sangat berharga. 

Tafsir Quran ini merupakan sebuah jawaban yang lebih khusus menjadi suber utama pada zaman penulisannya. Hal ini menunjukkan sebagai sebuah medium untuk mengantarkan generasi intektual dan sebuah perubahan yang besar dalam membimbing umat manusia mengamalkan ajaran-ajara islam. Meskipun agak sedikit dini untuk mengatakannya sebagai karya tafsir, namun uraiannya cukup memberi kejelasan dalam memahami ayat-ayat tertentu dalam al-Quran, maka paling tidak karya ini dapat disebut sebagai karya tafsiriyyah.[12]

B. CONTOH PENAFSIRAN TAFSIR QURAN KARIM KARYA MAHMUD YUNUS

Berikut beberapa contoh penafsiran ayat dari tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus:

a) Surah al-Fi’il 

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ ﴿١﴾ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ ﴿۲﴾ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ ﴿٣﴾ تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ ﴿٤﴾ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ ﴿٥﴾ (سورة الفيل : ١-٥) 

Artinya: Tiadakah engakau tahu, bagaimana Tuhanmu memperbuat terhadap orang-orang yang mempunyai gajah (1); Tiadakah ia menjadikan tipu daya mereka jadi sia-sia (2); Dan mengirim kepada meraka burubf berbondong-bondong (3); Yang melempar mereka dengan batu dari tanah yang keras (4); lalu Allah jadikan mereka seperti daun yang dimakan (ulat) (Q.S. al-Fi’il : 1-5)[13]

Tafsirnya:

Adapun balatentara yang bergajah itu, ialah Raja Yaman yang datang ke Negeri Makkah hendak meruntuhkan Ka’bah dengan membawa lascar dan gajah yang kuat. Setelah mereka hamper masuk ke Negeri Makkah, lalu beberapa burung menjatuhkan batu (tanah yang keras), boleh jadi didalamnya banyak hama penyakit cacar, sehingga mereka semuanya dihinggapi penyakit itu, akahirnya badan mereka hancur luluh seperti daun kayu dimakan binatang atau ulat. Pendeknya maksud mereka hendak meruntuhkan Ka’bah tiadalah berhasil adanya.[14]

b) Surah al-Fushshilat ayat 13 

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ ﴿سورة فصلت : ١٣﴾ 

Artinya: Jika mereka berpaling katakanlah : Aku beri peringatan kamu dan petir (sikas), seumpama siksa (yang menimpa kaum) ‘Ad dan Tsamud. (Q.S. Fushshilat : 13) [15]

Tafsirnya: 

Arti (صَاعِقَةِ) yang jama’nya adalah (صواعق) ialah Petir, geledek, halilintar, yaitu bunyi yang keras sekali diudara dan baisanya bersama kilat. Dalam Quran ada tiga tafsirnya: 
  • Mati seperti (فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ) : maka matilah siapa yang dilangit dan siapa yang dibumi,
  • Azab seperti (أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ) : Aku beri peringatan kamu dan petir (siksa), seumpama siksa (yang menimpa kaum) ‘Ad dan Tsamud, dan
  • Api (kilat) seperti (وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ) : Dia mengirim api (kilat), lalu mengenai siapa yang dikehendakinya. Sebenarnya ketiga-tiganya itu adalah hasil dari petir.
الصيحة : teriakan yang keras (Surah al-Hijr ayat 73) ditafsirkan dengan Shaa’iqah ini, bukan dengan teriakan Jibril seperti dalam Tafsir Jalalain.[16]

c) Surah Quraisy ayat 4 

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ﴿سورة قريش : ٤﴾ 

Artinya: Yang telah memberi makan kepada mereka karena kelaparan dan telah mengamankan mereka karena ketakutan. (Q.S. Quraisy : 4) 

Tafsirnya:

Arti مِنْ “min” banyak, diantaranya: [17]
  • Min untuk permulaan (mulai dari) seperti أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى “dia memperjalankan hambanya pada malam hari dari masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa”.
  • Untuk menerangkan setengah seperti وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا “dan setengah (diantara) manusia ada yang berkata : kami beriman”.
  • Untuk arti ganti seperti (khudz haadza min dzaalika) “ambillah ini ganti itu”.
  • Untuk menerangkan yaitu atau yakni seperti مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ “(Syetan itu), yaitu jin dan manusia”.
  • Untuk arti karena seperti أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ “Dia memberi makan mereka karena kelaparan”
  • Untuk zaidah (tambahan saja) seperti وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ “Tidak datang Nabi kepada mereka melainkan mereka perolok-olokkan”.


C. SUMBER RUJUKAN TAFSIR QURAN KARIM KARYA MAHMUD YUNUS


Adapun sumber-sumber rujukan tafsir Quran Karik karya Mahmud Yunus sebagai berikut:[18]
  1. Tafsir al-Thabary, juz 1, halaman 42
  2. Tafsir Ibnu Katsir, juz 1, halaman 3
  3. Tafsir al-Qasimy, juz 1, halaman 7
  4. Fajrul Islam, juz 1, halaman199
  5. Zhuhrul Islam, juz 2 halaman 40-43 dan juz 3 halam 37


ENDNOTE



[1] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 80

[2] Howard M. Federspiel (1996), Kajian al-Quran di Indonesia terjemahan Tajul Arifin dari judul asli Popular Indonesia Literature of the Quran, Bandung: Mizan, hal. 129
[3] Howard M. Federspiel (1996), hal. 129
[4] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 84
[5] Mahmud Yunus (1981),  Tafsir   Quran   Karim,  Jakarta:  PT    Hidakarya    Abang, Pendahuluan, hal. III
[6]  Mahmud Yunus (1981),  Pendahuluan, hal. III-IV
[7] Mahmud Yunus (1981),  Tafsir   Quran   Karim,  Jakarta:  PT    Hidakarya    Abang
[8] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 87-102
[9] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 105-109
[10] Saiful  Amin  Ghofur, (2008), Profil  Para  Mufassir  al-Quran, Yogyakarta:  Pustaka  Insan  Madani,  hal. 201
[11] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 111
[12] Sulaiman Ibrahim (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, hal. 117
[12] Mahmud Yunus (1967), Tarjamah  al-Quran  al-Karim,  Bandung:  PT al-Ma’arif, hal. 540-541
[14] Mahmud Yunus (1981),  Tafsir   Quran   Karim,  Jakarta:  PT    Hidakarya    Abang, hal. 918-919
[15] Mahmud Yunus (1967), Tarjamah  al-Quran  al-Karim,  Bandung:  PT al-Ma’arif, hal. 431
[16] Mahmud Yunus (1981),  Tafsir   Quran   Karim, hal. 705
[17] Mahmud Yunus (1967), Tafsir Quran Karim,  hal. 919
[18] Mahmud Yunus (1981),  Tafsir   Quran   Karim,  Jakarta:  PT    Hidakarya    Abang, Pendahuluan, hal. VI




DAFTAR PUSTAKA


Federspiel,  Howard  M.  (1996),  Kajian  al-Quran   di   Indonesia   terjemahan  Tajul Arifin  dari  judul  asli “Popular  Indonesia  Literature  of  the  Quran”, Bandung: Mizan,
Ghofur, Saiful Amin (2008), Profil Para Mufassir al-Quran, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani
Ibrahim, Sulaiman (2011), Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, Jakarta: LEKAS, Cet. I
Muhammad, Herry, dkk (2006), Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, Cet I
Rina, Malta (2011), Artikel: “Pemikiran dan Karya-karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus tentang Pendidikan Islam”, Sumatera Barat
Yunus,   Mahmud   (1981),  Tafsir   Quran   Karim,  Jakarta:  PT    Hidakarya    Abang
Yunus,  Mahmud (1967), Tarjamah  al-Quran  al-Karim,  Bandung:  PT al-Ma’arif, Cet I



PDF DOWNLOAD

>> Scrib Link   :  Disini     >> SlideShare  :  Disini

SEKIAN

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.