AL-LU’LU’ WA AL-MARJAN; Hadis Tentang Zakat

Urian ini sekilas kajian hadis tematik tentang zakat yang terdiri atas:

  • Hadis tentang ketentuan jenis makanan untuk zakat
  • Hadis tentang infaq dan sedekah kepada kerabat
  • Hadis tentang pemberian zakat bukan pada tempatanya
  • Hadis tentang pahala sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia
  • Hadis tentang bersedekah sebelum ditolak





BAB I 
PENDAHULUAN

Apa perbedaan Zakat, Infaq dan Sedekah ?? Simak berikut !
Zakat merupakan salah satu pilar rukun Islam yang senantiasa perlu wahana kajian seiring perkembangan zaman. Pilar zakat sangat penting mengingat keberadaanya memuat unsur ta’abbudi dan ta’aqquli. Kedua sisi ini perlu dipahami dengan baik agar dapat diaplikasikan secara proporsional. Unsur ta’abbudi berkaitan erat dengan sebagai suatu perintah yang sakral, absolut dan cenderung kaku. Adapun unsur ta’aqquli berkaitan dengan ibadah muamalah yang cenderung fleksibel, situasional dan kondisional. 

Istilah zakat dalam al-Quran dan hadis serta dalam kehidupan sehari-hari seringkali diungkapkan dengan arti sedekah/shadaqah dan infaq. Ketiga istilah tersebut, zakat, sedekah dan infaq seringkali dalam penggunaannya saling bertukar tempat atau saling bergantian untuk makna dan maksud yang sama. Zakat (زكاة) merupakan kata dasar dari zakâ (زكا) yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik. Menurut lisan Arab, arti dasar dari kata zakat ditinjau dari sudut bahasa ialah, suci, tumbuh, berkah dan terpuji. Pedapat lain yang bersumber dari Wahidi dan lain-lain menyebutkan bahwa kata dasar zakat berarti bertambah dan tumbuh.[1] Bentuk zakat terbagi dua, yaitu zakat fitah dan zakat harta. Di dalam al-Quran dan hadis sering kali kata zakat disebut dengan kata sedekah. [Lihat Q.S. al-Taubah ayat 58 & 60 dan H.R. Al-Bukhari No. 1447, H.R. Muslim No. 2310]. 

Adapun sedekah (صدقة) terambil dari kata (صدق – صدقا و تصدقا) yang berarti benar. Sehubungan hal ini, Qadhi Abu Bakar menyatakan bahwa demikianlah sehingga zakat disamakan dengan sedekah sebab benar dalam hubungan dan sejalannya perbuatan dan ucapan serta kenyakinan. Itulah sebabnya Allah menggabungkan kata memberi dan membenarkan serta kata kikir dan dusta dalam Surah al-Lail.[2] Perhatikan ayat berikut: 

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى . وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى . فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى . وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى . وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى . فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى . ﴿سورة الليل : ٥ - ١٠﴾ 

Sedekah syar’iyyah dalam urusan harta memiliki tiga makna, Pertama: sedekah wajib tetapi bukan zakat. Kata sedekah wajib ini sering juga disebut infaq atau nafaqah; Kedua: sedekah wajib dengan makna zakat. Bentuk ini telah disinggung dalam paragraf di atas mengenai bentuk pengungkapan kata (صدقة) yang berarti zakat; ketiga: sedekah dengan arti sedekah sunnah.[3] Adapun infaq berasal dari kata nafaqa (نفَق) atau nafiqa – yanfiqu - nafqan (نفق – ينفق - نفقا) yang berarti habis laku terjual. Infaq menurut pengertian umum adalah mengeluarkan harta untuk memenuhi keperluan. Infaq dapat bermakna positif dan negatif. Mengeluarkan harta untuk membiayai kemaksiatan atau memerangi Islam termaksuk infaq. Oleh karena itu, ada infaq fi’ sabilillah dan infaq fi’ sabil al-Syaithan.[4]

Demikianlah uraian ringkas sekilas makna zakat, sedekah dan infaq. Mudah-mudahan dapat menjadi pengantar untuk memahami kajian dalam makalah ini yang memuat beberapa hadis terkait zakat yang bersumber dalam kitab Al-Lu’lu’ wa al’Marjan.


BAB II
PEMBAHASAN 

A. KETENTUAN JENIS MAKANAN UNTUK ZAKAT 

حديث أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه، قَالَ: كُنَّا نُعْطِيَهَا، فِي زَمَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ فَلَمَّا جَاءَ مُعَاوِيَةُ وَجَاءَتِ السَّمْرَاءُ، قَالَ: أَرَى مُدًّا مِنْ هذَا يَعْدِلُ مُدَّيْنِ. (رواه البخاري) 

Artinya: “Abu Sa’id al-Khudriy r.a berkata: ‘Pada zaman Nabi Saw kami memberi makan (mengeluarkan zakat fitri) satu sha’ dari makanan, satu sha’ dari kurma, satu sha’ dari gandum dan satu sha’ dari kismis (anggur kering). Ketika Mu’awiyah datang dan juga telah tersebar gandum Syam, ia berkata: Aku lihat samraa’ menyamai dua mud”.[5]

Ungkapan (صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ), konteksnya menunjukkan adanya perbedaan antara makanan dan kurma serta apa yang disebutkan sesudahnya. Al-Khattabi dan lainnya berkata, “maksud kata (طَعَامٍ) adalah hinthah (gandum) ketika disebutkan secara mutlak tanpa dikaitkan dengan sesuatu. Jika dikatakan pergilah ke pasar makanan, maka yang dipahami adalah pergilah ke pasar gandum. Namun argumentasi ini ditanggapi oleh Ibnu Al-Munayyar, ia berkata: “sebagian ulama mazhab kami mengira bahwa lafazh (صَاعًا مِنْ طَعَامٍ) menjadi dalil bagi mereka yang berpendapat satu sha’ hinthah (gandum), padahal ini adalah kesalahan yang mereka lakukan.[6] Hal ini dapat dipahami dari hadis berikut: 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ لَمْ تَكُنِ الصَّدَقَةُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ التَّمْرُ وَالزَّبِيبُ وَالشَّعِيرُ، وَلَمْ تَكُنِ الْحِنْطَةُ. (رواه ابن خزيمة) 

Artinya: “Dari Ibnu Umar, ia berkata: tidak ada yang dikeluarkan sebagai zakat fitrah pada masa Rasululllah Saw kecuali kurma, anggur kering dan syair.[7]

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan melalaui jalur Iyadh, dari Abu Sa’id al-Khudry: 

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ ثَلاَثَةِ أَصْنَافٍ الأَقِطِ وَالتَّمْرِ وَالشَّعِيرِ. (رواه مسلم) 

Artinya: “Kami mengelurkan zakat fitrah dari tiga macam, satu sha’ kurma, satu sha’ susu beku dan satu sha’ syair”.[8] (H.R. Muslim) 

Kedua hadis di ini menunjukkan bahwa maksud (طَعَامٍ) pada hadis di atas adalah selain hinthah (gandum). Maka, ada kemungkinan bahwa yang di maksud adalah jagung karena jagung merupakan makanan yang cukup dikenal oleh penduduk Hijaz serta termasuk makanan pokok di antara mereka. Ibnu Mundzir berkata, kami tidak mengenal riwayat akurat mengenai gandum yang dinukil dari Nabi Saw yang dapat dijadikan pegangan. Pada saat itu, di Madinah belum ada gandum (hinthah) kecuali sedikit. Ketika bahan makanan ini melimpah pada masa sahabat, maka mereka berpandangan bahwa setengah sha’ gandum sama dengan satu sha’ syair (salah satu jenis gandum).[9]

Jenis makanan yang disebutkan dalam hadis di atas menunjukkan beragamnya bentuk zakat yang disesuaikan dengan makanan pokok tiap-tiap daerah. Dalam Al-Umm, Imam Syafi’i menyebut istilah makan pokok dengan qut, yaitu makanan harian yang mengeyangkan. Apabila seseorang berqut dengan biji-bijian seperti, syair, gandum, zabib, dan tamr, maka saya lebih menyukai supaya dibayarkan dengan gandum. Sebaliknya, jika orang itu berqut dengan gandum, lalu ia bermaksud mengeluarkan zabib, tamr atau syair maka hukumnya makruh.[10] Disebutkan juga dalam al-Ikhtiyarat, zakat fitrah boleh ditunaikan dengan jenis makanan pokok negeri masing-masing, seperti beras dan sebagainya. Hal ini bisa dianggap sebagai kiasan terhadap jenis-jenis makanan yang disebutkan dalam hadis di atas dan merupakan pendapat mayoritas ulama.[11]



Apabila dicermati, bahan-bahan makanan yang disebutkan dalam hadis ini meskipun nilainya berbeda, namun ukuran zakat yang dikeluarkannya adalah sama. Maka seakan-akan yang dimaksud adalah mengeluarkan jumlah tersebut dari bahan makanan jenis apapun tidak ada perbedaan anatar gandum jenis hinthah dan bahan makanan lainnya. Sedangkan para ulama yang mengatakan setengan sha’ hinthah sama dengan stu sha’ sya’ir ditetapkan berdasarkan ijtihad atas pertimbangan harga hintah yang relative mahal dibandingkan jenis makanan lainnya. Ketetapan harga dalam hal ini berkonsekuensi seiring waktu dan tempat sehingga ukurannya berbeda-beda dan tidak pasti. Ibnu Abbas ketika menjabat sebagai khalifah Basrah, ia memerintahkan agar mereka mengeluarkan zakat fitrah seraya menjelaskan bahwa zakat tersebut berupa satu sha’ kurma,… atau setengah sha’ gandum. Demikain juga ketika Ali menjabat sebagai khalifah dan menetapkan kebijakan menurunkan harga, maka Ibnu Abbas berkata: keluarkanlah zakat satu sha’ dari setiap bahan makanan.[12] Keterangan ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas menetapkan kadar jenis makanan untuk zakat berdasarkan harga. 


Kata (فَلَمَّا جَاءَ مُعَاوِيَةُ) ketika Muawiyah datang, Imam Muslim memberi tambahan dalam riwayatnya, (فَلَمْ نَزَلْ نُخْرِجُهُ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا), kami senantiasa mengeluarkan zakat demikian hingga Muawiyah datang menunnaikan haji dan umrah lalu di berkhutbah. Ibnu Khuzaimah menambahkan, dan ketika itu sebagai khalifah. Muawiyah berkata (أَرَى مُدًّا مِنْ هذَا يَعْدِلُ مُدَّيْنِ), semua jenis makanan yang disebutkan di atas, jagung, tamr, syair (jenis gandum) dan anggur kering pada zaman nabi zakatnya dikeluarkan sebesar satu sha’. Ketika ada gandum coklat dari negeri Syam sampai ke Madinah pada masa Muawiyah dan gandum tersebut samapi ke Madinah pada tahun hajinya, ia berkata: “Aku melihat bahwa satu mud gandum coklat sama dengan dua mud dari gandum jenis lainnya”. Hal ini disebabkan kualitasnya yang bagus dan manfaatnya.[13]

Sebelum mengakhiri penjelasan hadis di atas, perlu diketahui bahwa satu sha’ Satu dengan empat mud. Satu mud setara dengan 675 Gram. Jadi satu Sha’ sama dengan 2700 gr (2,7 kg). Demikian menurut madzhab Maliki. Sedangkan menurut al-Rafi’i dan madzhab Syafi’i, sama dengan 693 1/3 dirham. Jika dikonversi ke dalam satuan gram, sama dengan 2751 gram (2,75 kg). Dari kalangan Hanbali berpendapat, satu sha’ juga sama dengan 2751 gram (2,75 kg). Adapun Imam Hanafi ukuran satu sha menurut madzhab ini lebih tinggi dari pendapat para ulama yang lain, yakni 3,8 kg. [14] Di Indonesia, berat satu sha’ dibakukan menjadi 2,5 kg. dalam ukuran liter, 1 sha’ setara dengan 2,5 liter atau ada juga yang menggenapkannya menjadi 3 liter. Jumlah ini tidak terlepas dengan kondisi dan harga barang yang bersangkutan.

Uraian hadis di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 
  1. Jumlah makanan pokok untuk zakat adalah satu sha’ dari setiap jenis makanan. Adapun jika terdapat berbedaan harga atau kualitas makanan, maka jumlahnya berbeda pula tetapi hakikatnya ukurannya adalah sama. Contoh, pada zaman Ali, setengah sha’ Hinthah setara dengan 1 sha’ sya’ir karena harga hinthah ketika itu mahal;
  2. Hinthah menjadi zakat pada zaman sahabat;
  3. Jenis dan Jumlah zakat yang dikeluarkan tergantung dengan daerah/negeri masing-masing;
  4. Penetapan hinthah sebagai zakat telah disepakati beberapa sahabat senior sebelumnya ketika Muawiyah menyamakan 1 mud hinthah setara dengan 2 mud gandum jenis lainnya.
B. INFAQ DAN SEDEKAH KEPADA KERABAT 

كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ أَنْصَارِيٍّ بِالْمَدِينَةِ نَخْلاً ، وَكَانَ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءٍ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ فَلَمَّا أُنْزِلَتْ )لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ( قَامَ أَبُو طَلْحَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ )لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ( وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءٍ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : بَخْ ذَلِكَ مَالٌ رَايِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَايِحٌ وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الأَقْرَبِينَ قَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ. (رواه البخاري) 

Artinya: “Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha’ (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah Saw sering mamasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Anas berkata: Ketika turun firman Allah dalam surah al-'Imran ayat 92 yang artinya: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”. Abu Thalhah kemudian mendatangi Rasulullah Saw lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”, sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’ itu dan sekarang dia menjadi shadaqah di jalan Allah dan aku berharap kebaikannya dan sebagai simpanan pahala di sisi-Nya. Maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepada Tuan. Maka Rasulullah Saw bersabda: beruntunglah, itu adalah harta yang menguntungkan, itulah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar perkataanmu dan menurutku engkau harus membagikannya kepda kerabatmu. Abu Thalhah berkata: “Aku akan segera melaksanakannya wahai Rasulullah”. Lalu kebun itu dibagi-bagikan oleh Abu Thalhah kepada kerabat dan anak-anak pamannya”.[15] (H.R. Bukhari, No. 4554) 

Menurut Al-Munayyar, sisi penetapan hadis di atas dalam bab ini untuk menegaskan bahwa pahala sedekah sunnah kepada kaum kerabat tidak berkurang meskipun dengan tujuan mempererat hubungan kekeluargaan. Hal penting yang dapat dipahami dari hadis di atas terletak pada sabda nabi (أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الأَقْرَبِينَ) engkau harus membagikannya kepada kerabatmu. Dalam hadis disebutkan: 

الصدقة على المسكين صدقة و هي على القريب صدقتان : صدقة و صلة. (رواه ابن خزيمة) 

Artinya: “Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, sedangkan kepada kerabat ada dua: sedekah dan silaturahmi.[16] (H.R. Ibnu Khuzaimah, N0. 2067) 

Menurut Al-Ismaili, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil bolehnya memberikan zakat kepada kaum kerabat. Kecuali apa bila yang dimaksud adalah menetapkan dalil bahwa kaum kerabat yang tergolong penerima zakat lebih berhak mendapatkan zakat tersebut. Jadi, Al-Ismaili memandang bahwa hadis ini hanya menegaskan mendahulukan kerabat dalam memberikan sedekah sunnah, bukan zakat.[17] Terkait penyaluran zakat pada zaman sekarag, tentunya dibawah tanggung jawab amil zakat, baik pengumpulannya maupun penyalurkannya kepada masing-asing mustahiq.



Ibnu Rasyid berkata, “pandangan yang dipilih oleh imam Bukhari dapat disimpulkan dari hadis Abu Thalhah tentang pemahamannya terhadap ayat (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ). Kata (تُنْفِقُوا) pada ayat ini mencakup sedekah wajib (zakat) ataupun sedekah sunnah. Dalam keterangan ayat di atas, Abu Thalhah telah mengamalkannya dengan memberikan sedekahnya kepada kaum kerabatnya. Langkah Abu Thalhah memilih kerabatnya karena sekaligus tergolong penerima zakat.[18] Dengan demikian, hal ini sejalan dengan tidak bertentangan dengan pernyataan Al-Ismaili sebelumnya. Hadis lain menyebutkan: 



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ. (رواه البخاري) 


Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “sebaik-baik sedekah adalah yang ia sendiri berkecukupan. Maka mulailah memberikan sedekah kepada tanggungan-tanggunganmu.[19] (H.R. Bukhari, No. 5356) 

Maksud hadis ini adalah mendahulukan anak istri, orang-orang yang dalam tanggungan, membayar utang dan kebutuhan primer lainnya baru berbagi dengan yang lainnya. Itulah sebanya, sedekah dalam hal ini sering juga disebut infaq atau nafaqah. Seperti disebutkan dalam sebuah hadis: 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيدَ سَمِعَ أَبَا مَسْعُودٍ الْبَدْرِيَّ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : نَفَقَةُ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ صَدَقَة. (رواه البخاري) 

Artinya: “Dari Abdullah bin Yazid, ia mendengar dari Abu Mas’ud al-Badri dari nabi Saw bersabda: “Nafaqah seorang kepada keluarganya adalah sedekah”.[20] (H.R. Al-Bukhari, No. 4006) 

Diriwayatkan bahwa Zainab, isteri Abdullah berkata: Aku pernah berada di masjid lalu aku melihat Nabi bersabda: “Bersedekahlah kalian walaupun dari perhiasan kalian”. Pada saat itu Zainab berinfaq untuk Abdullah dan anak-anak yatim di rumahnya. Zainab lalu berkata kepada Abdullah: “Tanyakanlah kepada Rasulullah, apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfaqkan shadaqah (zakat) ku kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam rumahku”. Maka Abdullah berkata: “Tanyakanlah sendiri kepada Rasulullah” Maka aku berangkat untuk menemui Nabi dan aku mendapatkan seorang wanita Anshar di depan pintu yang sedang menyampaikan keperluannya seperti keperluanku. Kemudian Bilal lewat di hadapan kami maka kami berkata: “Tolong tanyakan kepada Nabi: “apakah aku akan mendapat pahala bila aku meninfaqkan shadaqah (zakat) ku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku?”. Bilal masuk lalu menyampaikan pertanyaan tersebut kepda Rasulullah. Maka Beliau bersabda: “Ya benar, baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya”.[21]

Riwayat di atas dijadikan dalil tentang bolehnya wanita memberikan zakat hartanya kepada suaminya. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Al-Tzauri, sahabat Abu Hanifah, dan salah satu riwayat Imam Malik dan Ahmad. Bahkan sebagian ulama membolehkannya secara mutlak.[22] Ada perbedaan pendapat mengenai kondisi sebaliknya, yaitu suami memberikan zakatnya kepada istrinya. Ibnu Mundzir mengatakan, “mereka telah sepakat bahwa laki-laki tidak boleh meberikan zakatnya kepada istrinya karena pemberian nafkah itu merupakan kewajibannya. Jika suami yang membayar zakat kepada istrinya maka seakan-akan zakat suami kembali kepadanya dan hakikatnya ia belum mengeluarkannya.[23] Adapun mazhab Hanafi dan Hanbali mengenai zakat istri terhadap suaminya bahwa hal yang demikian tidak boleh karena zakat akan kembali kepadanya saat suami meberikan nafkah kepada istrinya.


C. OBJEK ZAKAT BUKAN PADA TEMPATNYA 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم - قَالَ قَالَ رَجُلٌ لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ . فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِى يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ . فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ . فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِى يَدَىْ زَانِيَةٍ ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ . فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ ، لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ . فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِى يَدَىْ غَنِىٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِىٍّ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ ، عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِىٍّ . فَأُتِىَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ ، وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا ، وَأَمَّا الْغَنِىُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ. (رواه البخاري و مسلم) 

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda,: “Ada seorang laki-laki berkata: Aku pasti akan bershadaqah. Lalu dia keluar dengan membawa shadaqahnya dan ternyata jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia telah memberikan shadaqahnya kepada seorang pencuri. Mendengar hal itu orang itu berkata,: “Ya Allah segala puji bagi-Mu, aku pasti akan bershadaqah lagi”. Kemudian dia keluar lagi dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang pezina. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia tadi malam memberikan shadaqahnya kepada seorang pezina. Maka orang itu berkata, lagi: Ya Allah segala puji bagi-Mu, ternyata shadaqahku jatuh kepada seorang pezina, aku pasti akan bershadaqah lagi. Kemudian dia keluar lagi dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan paginya orang-orang kembali ramai membicarakan bahwa dia memberikan shadaqahnya kepada seorang yang kaya. Maka orang itu berkata: Ya Allah segala puji bagi-Mu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya. Setelah itu orang tadi bermimpi dan dikatakan padanya: “Adapun shadaqah kamu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya; sedangkan shadaqah kamu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali; dan shadaqah kamu kepada orang yang kaya mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfaqkan harta yang diberikan Allah kepadanya”.[24]

Kata (قَالَ رَجُلٌ), dalam riwayat imam Ahmad sehubungan hadis ini disebutkan bahwa kejadian ini terjadi pada bani Israil. Selanjutnya lafazh (لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ) di ulangi pada tiga tempat dalam hadis di atas. Hal ini sehubungan dengan keinginannya untuk bersedekah hingga sampai kepada orang yang berhak menerimanya. Kasus pertama, ternyata sedekahnya jatuh pada tangan pencuri, selanjutnya yang kedua dan ketiga masing-masing jatuh pada tangan pezina dan orang kaya. Laki-laki tersebut berkata pada tiap kejadian tersebut: (اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ) Ya Allah, bagimu segala puji. Maksud ungkapan tersebut bahwa orang itu pasrah dan menyerahkan segala urusan kepada Allah dan ridha dengan keputusan-Nya. Maka dia pun memuji Allah atas semua itu sebab Allah Maha Terpuji atas segala keadaan. Telah dinukil melalui jalur shahih bahwa Nabi Saw apabila melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji atas segala keadaan. Lalu ia di datangi dalam mimpi dan dikatakan sesuatu kepadanya (فَأُتِىَ فَقِيلَ لَهُ). Dalam riwayat Al-Thabrani disebutkan (فساءه ذلك فَأُتِىَ في منامه) hal ini telah mengganggnya maka ia didatangi di dalam tidurnya. Al-Karmani berkata: Lafazh (فَأُتِىَ) didatangi yakni diperlihatkan dalam mimpinya, mendengar bisikan dari malaikat ataupun selainnya, diberitahukan oleh seorang Nabi atau ia diberi fatwa oleh seorang ulama.[25]

Laki-laki tersebut kemudian mengetahui bahwa Adapun shadaqanya kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya; sedangkan shadaqahnya kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali; dan shadaqahnya kepada orang yang kaya mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfaqkan harta yang diberikan Allah kepadanya. Keterangan hadis di atas memberikan isyarat bahwa sedekah pada masa itu khusus bagi orang-orang baik yang membutuhkan. Oleh sebab itu mereka merasa heran terhadap sedekah yang diberikan kepada tiga golongan tersebut. 

Para ulama berbeda pendapat bila yang demikian itu terjasdi pada zakat wajib karena hadis di atas tidak ada indikasi yang menyatakan sah dan yang melarangnya. Menurut keterangan Ibnu Hajar bahwa hukumnya dapat dilihat pada teks hadis yang menyebutkan bahwa sedekah itu dapat menjaga diri penerimanya. keterangan tersebut merupakan dalil bahwa hukumnya tidak hanya terbatas pada pelaku kisah itu sendiri. Bahkan, sedekah yang berkaitan dengan sebab-sebab tadi seharusnya diterima.[26]



D. PAHALA SEDEKAH UNTUK ORANG YANG MENINGGAL DUNIA 



عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أُمِّى افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ. (رواه البخاري و مسلم) 

Artinya: “Dari Aisyah r.a bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara tiba-tiba dan aku kira apabila dia sempat berbicara, dia akan bersedekah. Apakah aku boleh bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab: “Ya”.[27] (H.R. Bukhari, No. 1388 & H.R. Muslim, No. 1672) 

Terkait hadis di atas, Ibnu Hajar mengisyaratkan bahwa maksud (أَنَّ رَجُلاً) yang tidak disebutkan dalam hadis ini ialah Sa’ad bin Ubadah. Hadis Ibnu Abbas menyatakan: Sa’ad bin Ubadah berkata: “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia dan ia masih memiliki nadzar”. Dalam kitab Muwaththa disebutkan: “Sa’ad bin Ubadah keluar berperang bersama Rasulullah dan ketika itu ibunya menghadapi kemataian di Madinah. Maka dikatakan kepadanya, berwasiatlah! Ia berkata: “Apa yang aku wasiatkan? Yaitu harta, harta pada Sa’ad”. Lalu, dia meninggal dunia sebelum Sa’ad kembali ke Madinah.[28]

Pelajaran yang daapt di ambil dari hadis di atas ialah boleh bersedekah atas nama mayit dan pahalanya akan sampai kepadanya serta lebih utama apabila berasal dari anaknya. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dan Fath al-Ba’ri, sedekah atas mayit dikhususkan dari cakupan umum firman-Nya: 

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى. ﴿سورة النجم : ٣۹﴾ 

Artinya: “Tak akan ada bagi manusia kecuali apa yang ia usahakan”. (Q.S. al-Najm : 39)

E. BERSEDEKAH SEBELUM DITOLAK 

عَنْ حَارِثَةَ بْنَ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « تَصَدَّقُوا فَإِنَّهُ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يَمْشِى الرَّجُلُ بِصَدَقَتِهِ ، فَلاَ يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا يَقُولُ الرَّجُلُ لَوْ جِئْتَ بِهَا بِالأَمْسِ لَقَبِلْتُهَا ، فَأَمَّا الْيَوْمَ فَلاَ حَاجَةَ لِى بِهَا. (رواه البخاري) 

Artinya: “Dari Haritsah bin Wahab berkata; Aku mendengar Nabi Saw bersabda: “Bersedekahlah karena akan datang kepada kalian suatu zaman yang ketika itu seseorang berkeliling dengan membawa sedekahnya namun dia tidak mendapatkan seorangpun yang menerimanya. Lalu seseorang berkata: “Seandainya kamu datang membawanya kemarin pasti aku akan terima. Adapun hari ini aku tidak membutuhkannya lagi”.[29] (H.R. Al-Bukhari, No. 1411) 

Dalam hadis di atas, Rasulullah mengabarkan bahwa akan datang suatu masa dimana tidak ditemukan orang-orang yang membutuhkan sedekah. Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya menyebutkan empat hadis yang mengandung peringatan akan datangnya suatu masa dimana tidak akan ditemukan orang-orang yang mau menerima sedekah. Al-Munayyar berkata: maksud hadis ini adalah anjuran untuk tidak menunda-nunda sedekah karena bersedekah merupakan suatu kesempatan untuk meraih pahala. [30]

Jika orang yang mengeluarkan sedekah telah diberi pahala karena niatnya meski tidak menemukan orang yang menerimanya, maka orang yang menemukan penerima sedekah diberi balasan setimpal ditambah dengan pahala keutamaan. Hadis di atas mengindikasikan bahwa kejadian tersebut berlangsung di akhir zaman sehingga sebagian orang menyebutnya sebagai tanda-tanda kiamat kubra. Ibnu Al-Tin berkata: “sesungguhnya yang demikian akan terjadi saat turunnya Isa ketika bumi mengeluarkan keberkahannya dan kekeyangan dirasakan oleh semua orang. Hal ini senada dengan ungkapan Ibnu Baththal bahwa secara dzhahir hal ini terjadi pada saat harta banyak dan melimpah menjelang hari kiamat.[31]


endnote



[1] Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat terj. Salman Harun (Bandung: Mizan, 1996), cet. IV, hal. 34
[2] Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, hal. 39
[3] Wawan Shofwan. S, Risalah Zakat, Infaq dan Sedekah (Bandung: Tafakur, 2011), cet. I, hal. 22-24
[4] Wawan Shofwan. S, Risalah Zakat, Infaq dan Sedekah, hal. 18-19
[5] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ wa al-Marjan terj. Ahmad Fadhil (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2011), cet. I, hal 287-288, [Bukhari, Kitab Zakat, No. 1508]
[6] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), cet. III, jilid 8, hal. 347-348
[7] Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah (Beirut: Maktabah al-Islamiyyah, 1970), juz. IV, No. 2406, hal. 85
[8] Muslim, Shahih Muslim (Beirut: Darr al-Ji’ll, tt), juz III, No. 2333, hal. 69
[9] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), cet. III, jilid 8, hal. 350
[10] Al-Syafi’i, Al-Umm (Kuala Lumpur: Victory Agencie, 1989, cet. I, hal 405)
[11] Faishal bin Abdul Aziz, Nailu Authar terj. Amir H.F. (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), cet. I, hal. 335
[12] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin, hal. 351
[13] Al-Bazzam, Syarah Bulughul Maram terj. Thahirin. S, dkk (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), hal 411
[14] Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Beirut, Dar al-Fikr, tt), juz II, hal. 909-911
[15] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ wa al-Marjan terj. Ahmad Fadhil (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2011), cet. I, hal 293-294, [Bukhari, Kitab Zakat, No. 4554]
16] Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah (Beirut, Maktabah al-Islamiyyah, 1970), juz. III, No. 2067, hal. 278

[17] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), cet. III, jilid 8, hal. 198
[18] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin, hal. 198-199
[19] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Kairo: Darr al-Sya’ab, 1987), cet. I, juz 7, No. 5356, hal. 81
[20] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, No. 4006, hal. 107
[21] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), cet. III, jilid 8, hal. 204-205
[22] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddi, hal. 207
[23] Faishal bin Abdul Aziz, Nailu Authar terj. Amir H.F. (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), cet. I, hal. 330, Lihat juga: Al-Bazzam, Syarah Bulughul Maram terj. Thahirin. S, hal 437
[24] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ wa al-Marjan terj. Ahmad Fadhil (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2011), cet. I, hal. 303, [Al-Bukhari, Kitab Zakat, No. 1421] & [Muslim, Kitab Zakat, No. 1698]
[25] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), cet. III, jilid 8, hal. 90
[26] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin, hal. 91
[27] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ wa al-Marjan terj. Ahmad Fadhil (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2011), cet. I, hal 296-297
[28] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin, jilid 15, hal. 489
[29] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ wa al-Marjan terj. Ahmad Fadhil (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2011), cet. I, hal 298-299
[30] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), cet. III, jilid 8, hal. 63
[31] Ibnu Hajar,  Fathu Ba’ri terj. Amiruddin, hal. 64


SEKIAN
by : Hasrul [Mahasiswa PTIQ Jakarta]

pdf Free Download

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.