Klasifikasi Hadis Berdasarkan Tinjauan Nisbat

BAB 1 : PRAKATA

Puji syukur kehadirat Tuhan semesta Alam. Tuhan yang menciptakan , memelihara dan mengadakan segala sesuatu serta hanya kepada-Nyalah segala sesutu akan kembali. Segala bentuk pujian hanyalah Untuk-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Berkat segala limpahan Rahmat dan Hidaya-Nya sehingga kita semua masih dapat melakukan beragai macam aktivitas dalam hidup ini. Harapan kita, mudahan –mudahan kehidupan ini senantiasa penuh dengan ridha dan kasih sayang-Nya serta menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang selamat di Dunia dan di Akhirat. Amin !!!

Slawat dan Salam semoga senantiasa dihanturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, keluarga, dan para pengikutnya sampai dihari kiamat. Dalam sejarah awal perjuagan Islam di Makkah, Kehidupan manusia penuh dengan corak hidup Jahiliyah. Berkat risalah Nabi Muhammad-lah yang Beliau emban dengan penuh ketabahan dan kegigihan dapat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan ketika itu. Akhirnya, Ketentraman dan kedamaian hidup dapat dirasakan olah masyarakat Arab ketika itu. Kita semua sebagai ummat Nabi Muhammmad memiliki kewajiban untuk tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman tersebut yaitu dengan senantiansa berpedoman pada Al-Quran-Hadis. Rasulullah SAW bersabda :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ 

Artinya: “Aku tinggalkan dua perkara diantara kalian, tidaklah kalian tersesat selama kalian berpegang kapada keduanya yaitu, Kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya (Hadis)”

Hadis merupakan sumber hukum kedua dalam Islam setelah Al-quran. Karena itu, mempelajari Hadis merupakan salah satu kewajiban bagi ummat Islam. Sebagai realisasi dari hal itu, makalah ini kami persembahkan kepada seluruh insan yang berminat memperdalam pengetahuan tentang Hadis. Adapun tema pembahasan dalam makalah ini ialah:

Klasifikasi Hadis Berdasarkan Nisbat

Dalam karya tulis ini, pembaca akan menemui beberapa pembagian hadis berdasarkan kepada siapa hadis tersebut dinisbatkan. Disamping itu juga, penulis berusaha memberikan penjelasan yang semaksimal mungkin dan berupaya memadukan beberapa referensi dalam menyajikan setiap materi pembahasannya. Kami berharap, mudah-mudahan karya ini dapat menjadi Amal Ibadah disisi Allah SWT.

Akhirnya, makalah ini dapat kami selesaikan dengan harapan dapat menjadi salah satu media dan sumber pembelajaran Ulumul Hadis. Kami menyadari atas segala keterbatasan dalam menyusun makalah ini. Oleh karena itu, hal-hal yang berupa kritikan, saran dan masukan sangat kami nantikan dari segenap pelajar, pembaca dan khususnya para ahli dalam bidang hadis.


BAB 2 : PEMBAHASAN

A. MACAM-MACAM HADIS DITINJAU DARI SUMBER BERITA



Makalah ini memaparkan pembagian hadis ditinjau dari segi sumber berita/nisbat matan suatu Hadis. Klasifikasi Hadis dilihat dari sumber berita memiliki arti yang sama dengan ungkapan “dari siapa berita itu dimunculkan pertama kali”. Dalam hal ini terdapat 4 macam pembagiannya sebagaimana yang disebutkan oleh Dr. Abdul Majid Khon, M.Ag dalam bukunya Ulumul Hadis,[1] yaitu:

  1. Hadis Qudsi,
  2. Hadis Marfu,
  3. Hadis Mauquf, dan
  4. Hadis Maqthu.
Secara umum dapat dikatakan jika sumber berita dari Allah dinamakan hadis Qudsi, jika sumber berita datangnya dari Nabi disebut hadis Marfu, jika datangnya sumber berita itu dari sahabat disebut Hadis Mauquf dan jika datangnya dari Tabi’in disebut hadia Maqthu. Sumber utama di atas tidak dapat menentukan keshahihan suatu hadis sekalipun datangnya dari Allah atau Nabi. karena tinjauan kualitas shahih, hasan dan dha’if tidak hanya dilihat dari segi sumber berita akan tetapi lebih dilihat dari sifat-sifat para pembawa berita. Dengan demikian Hadis Qudsi, Marfu, Mauquf dan maqthu tidak mutlak keshahihannya. Terkadang Shahih, Hasan maupun Dha’if dan ini semua tergantung dari sifat-sifat para pembawa berita hadis tersebut.[2] Agar lebih jelas tentang Klasifikasi Hadis ini, dapat dilihat dalam bagan seperti di bawah ini:



Sebelum memasuki pembahasan hadis di atas, kami menekankan bahwa istilah pembagian hadis di atas hanya merupaka sebuah peristilahan dalam dunia Hadis. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan dalam memahami berbagai sistem peristilahan bagi setiap orang yang melakukan pengkajian terhadap Hadis.



B. HADIS QUDSI *

a. Definisi Hadis Qudsi

Menurut bahasa kata Al-qudsi adalah nisbah dari kata Al-quds ( اْلـقُـدْسُ ) yang artinya suci. Hadis ini dinamakan suci (al-qudsi) karena disandarkan kepada Zat yang Maha suci. Persefektif lain, dinisbahkan kepada Ilah (Tuhan) maka disebut Hadis Ilahi atau dinisbahkan kepada Rabb (Tuhan) maka disebut pula Hadis Rabbani.[3] Sedangkan Hadits Qudsi menurut istilah adalah:

مَا نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ إِسْنَادِهِ إِيَّاهُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ 

“Sesuatu yang dipindahkan dari Nabi SAW serta penyandarannya kepada Allah SWT” .[4] Atau:

كُلُّ حَدِيْثٍ يضيف فِيْهِ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلًا اِلَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ 

"Setiap hadis yang disandarkan Rasulullah SAW perkataannya kepada Allah Azza wa Jalla” [5]

b. Bentuk-bentuk Periwayatan Hadis Qudsi

Rasulullah kadang-kadang menyampaikan suatu berita atau nasihat yang beliau ceritakan dari Allah SWT, tetapi bukan wahyu yang diturunkan seperti Al-quran dan bukan perkataan yang tegas (sharih) yang nyata-nyata disandarkan kepada Beliau yang kemudian disebut dengan hadis Nabawi. Berita itu memang beliau sandarkan kepada Allah tetapi bukan Al-Quran karena redaksinya berbeda dengan redaksi Al-Quran. Itu adalah Hadis Qudsi yang maknanya diterima dari Allah melalui Ilham atau mimpi sedang redaksinya dari nabi sendiri. Dalam periwayatan Hadis Qudsi ada dua bentuk , yaitu :[6]

Pertama:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِى عَنْ رَبِّهِ تَعَالَى : ... 

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda Seperti yang diriwayatkannya dari Allah ‘azza wa jalla” : ...

Kedua:

قـَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْمَا رَوَاهُ عَـنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ... 

“Allah berfirman pada apa yang diriwayatkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” : ...

Hadits Qudsi sama dengan Hadits-hadits lain tentang keadaan sanad dan rawi-rawinya, yaitu ada yang shahih, hasan dan juga dha’if. Perbedaan umum antara Al-Quranul Karim, Hadits Qudsi dan Hadits Nabi diantaranya:
  1. Al Qur`anul Karim mempunyai lafal dan makna dari Allah SWT dan diturunkan secara berkala melalui malaikat Jibril,
  2. Sedangkan Hadits Nabi memiliki lafal dan makna yang bersumber dari Nabi SAW yang berdasarkan wahyu Allah dan ijtihad yang sesuai dengan wahyu, dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, dan
  3. Serta Hadits Qudsi, lafal Hadits berasal dari Nabi Muhammad tetapi maknanya dari Allah SWT, tidak berkala, dinitsbatkan kepada Allah SWT.
Perbedaan dalam bentuk penyampaiannya adalah : 
  1. Al-Quran selalu memakai kata "قال الله تعالى"
  2. Hadits Qudsi dengan "قال رسول الله فيما يرويه عن ربه"
  3. Hadits Nabawi memakai kalimat " قال رسول الله \ قال النبي"

c. Contoh Hadis Qudsi

1. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya:

حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِنِّي حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِي الظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِي فَلَا تَظَالَمُوا وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِنَحْوِهِ وَحَدِيثُ أَبِي إِدْرِيسَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ أَتَمُّ مِنْ هَذَا (رواه مسلم)[7]

2. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (رواه البخارى)[8]

Jumlah hadis Qudsi menurut Syihab Al-Din Ibn Hajar Al-Haytami dalam Kitab Syarah Arba’in Al-Nawawiyah berjumlah lebih dari seratus.[9] Diantara kitab Hadis Qudsi adalah Al-Ittihafat As-Saniyah bi Al-Ahaditsi Al-Qudsiyah, karya Abdur Rauf Al-Munawi. Di dalamnya terkumpul 272 buah hadits.[10]


C. HADIS MARFU **

a. Defenisi Hadis Marfu

Al-Marfu’ اَلْـمَرْفُوْعُ )) menurut bahasa merupakan isim maf’ul dari kata rafa’a ( رَفَعَ ) yang berarti “yang diangkat”. Dinamakan marfu’ karena disandarkannya ia kepada yang memiliki kedudukan tinggi, yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan Hadits Marfu’ menurut istilah adalah:

مَااُضِيْفَ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلٍ اَوْ فِعْلٍ اَوْتَقْرِيْرٍأَوْصِفَــةٍ 

“Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW berupa perkataan , perbuatan, taqrir (ketetapan) atau sifat”[11]

Dari definisi di atas dapat difahami bahwa segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan, taqrir, ataupun sifat beliau disebut dengan hadis Marfu'. Orang yang menyandarkan itu boleh jadi Sahabat, atau selain sahabat. Dengan demikian, sanad dari hadis Marfu' ini bisa Muthasil, bisa pula Munqathi, Mursal, atau Mu'dhal dan Mu'allaq. Defenisi ini mengecualikan berita yang tidak disandarkan kepada Nabi Misalnya yang disandarkan kepada Sahabat yang nantinya disebut hadis Mauquf atau yang disandarkan kepada Tabi’in disebut dengan hadis Maqthu.[12]

b. Macam-macam Hadis Marfu

Mengingat bahwa unsur-unsur hadits itu dapat berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi maka apa yang disandarkan kepada Nabi itupun dapat diklasifikasikan menjadi marfu qauli, marfu fi’li dan marfu taqriri. Dari ketiga macam hadits marfu tersebut ada yang jelas dengan mudah dikenal rafanya dan ada pula yang tida jelas rafanya. Yang jelas (shahih) disebut marfu hakiki[13] dan yang tidak jelas disebut marfu hukmi.[14]



Secara rinci, pembagiannya dijelaskan dibawah ini :[15]

1. Marfu Qauly Hakiki

Marfu Qauly Hakiki Ialah ucapan yang jelas atau terang-terangan menunjukan kepada Marfu. Seperti pemberitaan sahabat yang menggunakan lapal qauliyah : 

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول …… كذا 

“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda ……… begini”

2. Marfu Qauly Hukmi

Marfu Qauly Hukmi Ialah ucapan tidak terang-terangan menunjukan kepada Marfu tetapi mengandung hukum Marfu. Seperti pemberitaan sahabat yang menggunakan kalimat : 

أمرنا بكذا ……. نهينا عن كذا 

“Aku diperintah begini…., aku dicegah begitu……”

3. Marfu Fi’li Hakiki

Marfu Fi’li Hakiki adalah apabila pemberitaan sahabat itu dengan tegas menjelaskan perbuatan Rasulullah saw. 

4. Marfu Fi’li Hukmi

Marfu Fi’li Hukmi Ialah perbuatan tidak terang-terangan menunjukan kepada Marfu tetapi mengandung hukum Marfu. 

5. Marfu Taqririyah Hakiki

Marfu Taqririyah Hakiki Ialah perbuatan tidak terang-terangan menunjukan kepada Marfu tetapi mengandung hukum Marfu. Ini juga berarti tindakan sahabat dihadapan Rasulullah dengan tiada memperoleh reaksi, baik reaksi itu positif maupun negatif dari beliau. 

6. Marfu Taqririyah Hukmy

Marfu Taqririyah Hukmy Ialah ketetapan tidak terang-terangan menunjukan kepada Marfu tetapi mengandung hukum Marfu.Dengan kata lain, pemberitaan sahabat diikuti dengan kalimat-kalimat sunnatu Abi Qasim, Sunnatu Nabiyyina atau minas Sunnati.



Dalam penyampaianya ada beberapa kalimat yang bisa menjadi tanda dari Hadits Marfu diantaranya:

Pertama: Jika yang berbicara sahabat [16]
  1. Kami telah diperintah (امرنا )
  2. Kami telah dilarang (نهينا عن)
  3. Telah diwajibkan atas kami (اوجب علينا)
  4. Telah diharamkan atas kami (حرم علينا)
  5. Telah diberi kelonggaran kepada kami (رخص لنا)
  6. Telah lalu dari sunnah (مضت السنة)
  7. Menurut sunnah (من السنة)
  8. Kami berbuat demikian di zaman Nabi (كنا نفعل كذا فى عهد النبي ص)
  9. Kami berbuat demikian padahal Rasulullah masih hidup (كنا نفعل كذا و النبي ص. حي) 
Kedua: Jika yang meriwayatkanya tabi`in 
  1. Ia merafa`kanya kepada Nabi SAW (يرفعه)
  2. Ia menyandarkanya kepada Nabi SAW (ينميه)
  3. Ia meriwayatkanya dari Nabi SAW (يرويه)
  4. Ia menyampaikanya kepada Nabi SAW (يبلغ به)
  5. Dengan meriwayatkan sampai Nabi SAW (رواية) 

Ketiga : Jika akhir sanad ada sebutan (مرفوعا) artinya keadaanya dimarfu`kan 

Keempat: Jika sahabat menafsirkan Al Qur`an [17]
  • Asbabun nuzul, contoh:
عن البراء قال : كانوا اذا احرموا فى الجاهلية اتوا البيت من ظهره فانزل الله : وليس البر بأن تأتوا البيوت من ظهورها ولكن البر من اتقى. وأتوا البيوت من ابوابها. (رواه البخارى )

Artinya: dari Bara` ia berkata: “adalah orang-orang apabila mengarjakan ibadah haji di zaman jahiliyah, mereka keluar masuk rumah dari sebelah belakangnya. Lalu Allah turunkan ayat: “bukanlah kebajikan itu karena kamu keluar masuk rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu, ialah orang yang berbakti. Oleh karena itu, keluar dan masuklah rumah-rumah dari pintu-pintunya”. (HR. Bukhari) 

Dari contoh Hadits diatas bias kita tarik kesimpulan bahwa sahabat menceritakan asbabun nuzul dari surat Al Baqarah ayat 189. Hadits ini disebut Marfu karena Nabi-lah yang bersabda demikian atau Nabi membenarkan perkataan sahabatnya. 
  • Keterangan dari sebuah ayat atau kalimat dalam Al Qur`an, Contoh: 
عن عبد الله فى هذه الاية : الذين يدعون يبتغون الى ربهم الوسيلة. قال : ناس من الجن يعبدون فأسلموا. (البخارى )

Artinya: dari Abdullah Bin Mas`ud tentang ayat ini yaitu: “yang orang-orang menyerukan (sebagai tuhan) mereka, mengharapkan kedekatan kepada tuhan mereka” ia berkata : “adalah satu golongan dari jin disembah oleh manusia, lalu jin-jin itu masuk islam”. (R. Bukhari)



c. Contoh Hadis Marfu

1. Marfu Qauly Hakiki

عَنْ اِبْنُ عَمَرٌ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: إِنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صَلاَةُ اْلجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ اْلفَذِّ بِسَبْعٍ وَ عِشْرِيْنَ دَرَجَةً  (رواه البخاري و مسلم ) [18]

“Warta dari Ibn Umar r a, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : Shalat jama’ah itu lebih afdhal dua puluh tujuh tingkat dari pada shalat sendirian” ( HR Bukhari dan Muslim) 

2. Marfu Qauly Hukmi

أُمِرَ بِلاَلٌ اَنْ يَشْفَعَ اْلأَذَنَ وَ اَنْ يُّوْتِرَ الإِقَامَةَ ( متفق عليه ) 

“Bilal r.a. diperintah menggenapknan adzan dan mengganjilkan iqamah” (HR Mutafaqqun ‘Alaih) [19]

3. Marfu Fi’li Hakiki

عَـنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ رَسُوْلَ للهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُوْا فِى الصَّلاَةِ, وَيَقُوْلُ: (اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلمَأُثَمِ وَ اْلمَغْرَمِ) (رواه البخارى) 



“Warta dari ‘Aisyah r.a. bahwa rasulullah saw mendo’a di waktu sembahyang, ujarnya: Ya Tuhan, aku berlindung kepada Mu dari dosa dan hutang” (HR Bukhari) [20]

4. Marfu Fi’li Hukm

قال جابر: كنّا نأكل لحوم الخيل على عهدى رسول الله (رواه النسائى)

“Jabir r.a. berkata : kami makan daging Kuda diwaktu Rasulullah saw masih hidup” (HR Nasai)

5. Marfu Taqririyah Hakiki

Seperti pengakuan Ibnu Abbas r.a:

كنّا نصلّ ركعتين بعد غروب الشمس و كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يرانا ولم يأمرنا ولم ينهنا

“Kami bersembahyang dua rakaat setelah matahari tenggelam, Rasulullah saw mengetahui perbuatan kami, namun beliau tidak memerintahkan dan tidak pula mencegah” 

6. Marfu Taqririyah Hukmy

Perkataan Amru Ibnu ‘Ash r.a kepada Ummul Walad: 

لا تلبسوا علين سنّة نبيّنا (رواه ابو داود)

“Jangan kau campur-adukkan pada kami sunnah nabi kami.” (HR. Abu Dawud‎)

  
d. Kehujjahan Hadis Marfu

Hukum hadis Marfu' tergantung pada kwalitas dan bersambung atau tidaknya sanad. sehingga memungkinkan suatu hadis Marfu' itu berstatus shahih, hasan, atau dha’if. Hadits Marfu yang shahih dan hasan dapat dijadikan hujjah, sedangkan hadits marfu yang dha’if boleh dijadikan hujjah hanya untuk menerangkan fadha’ilil ‘amal.



D. HADIS MAUQUF ***

a. Defenisi Hadis Mauquf

Secara etimologi Al-Mauquf ( الموقوف ) berasal dari kata waqafa ( وقف ) yang berarti berhenti. Seakan-akan perawi menghentikan sebuah hadits pada shahabat. Beberapa ulama hadis memberikan terminologi hadis Mauquf sebagai berikut : 

هُـوَمَا أُضِيْفَ اِلىَ الصَّحَا بِي قَوْلاً كَانَ أَوْ فِعْلاً أَوْ تَـقْـرِيْرًا , مُتَّـصِلاً كَانَ أَوْ مُـنْـقَـطِعًا

“Yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat dalam bentuk perkataan, perbuatan, atau taqrir beliau, baik sanadnya muttashil atau munqathi[21] Atau: 

مَا أُضِيْفَ اِلَى الصَّحَا بِي مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِ يْـــرٍ

“Sesuatu yang disandarkan kepada sahabat berupa perkataan, perbuatan, atupun taqrir beliau[22]

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang diriwayatkan atau dihubungkan kepada seorang sahabat atau sejumlah sahabat baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, disebut hadis mauquf, dan sanad hadis mauquf tersebut boleh jadi muttashil atau munqathi. Hadits mauquf dapat disifati hadits shahih atau hasan tetapi tidak ada kewajiban untuk menjalankannya, tetapi boleh dijadikan sebagai penguat dalam beramal karena sahabat dalam hal ini hanya berkata atau berbuat yang dibenarkan oleh Rasulullah SAW.



b. Contoh Hadis Mauquf

1. Mauquf Qauli (perkataan)

عن عبد الله بن مسعود قال : لا يقلدن احدكم دينه رجلا فان امن امن وان كفر كفر ( رواه ابو نعيم )

Dari Abdullah (Bin Mas`Ud), ia berkata : “jangan lah hendaknya salah seorang dari kamu taqlid agamanya dari seseorang, karena jika seseorang itu beriman, maka ikut beriman, dan jika seseorang itu kufur, ia pun ikut kufur”. (HR. Abu Na`im) 

Abdullah Bin Mas`ud adalah seorang sahabat Nabi, maka ucapan diatas disandarkan kepada Abdullah Bin Masu`ud. 

2. Mauquf Fi’li (perbuatan)

Apa yang dikatakan oleh Imam Bukhari r.a. :[23]

وَأَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ مُتَيَمِّمٌ

"Dan Ibnu Abbas menjadi Imam Shalat padahal ia bertayammum"

3. Mauquf Taqriry 

عن الزهري ان عاتكة بنت زيد بن عمرو بن نفيل كانت تحت عمر ابن الخطاب وكانت تشهد الصلاة فى المسجد فكان عمر يقول لها : و الله انك لتعلمين ما احب هاذا. فقالت : و الله لا انتهي حتى تنهان. فقال عمر : فاني لا انهاك. (المحلى)

"Dari Zuhri, bahwa Atikah Binti Zaid Bin Amr Bin Nufail jadi hamba Umar Bin Al khattab adalah Atikah pernah turut shalat dalam mesjid. Maka umar berkata kepadanya: demi Allah engkau sudah tahu, bahwa aku tidak suk perbuatan ini. Atikah berkata: demi Allah aku tidak mau berhenti sebelum engkau melarang aku. Akhirnya Umar berkata: aku tidak mau melarang di kau”. (Al Muhalla) 

Umar adalah sahabat Nabi SAW. Dalam riwayat tersebut ditunjukan bahwa ia membenarkan perbutan Atikah yaitu shalat di mesjid.

c. Kehujjahan Hadis Mauquf

Diantara hadis mauquf terdapat hadis yang lafadz dan bentuknya mauquf, namun setelah dicermati hakikatnya bermakna marfu' yaitu berhubungan dengan Rasul SAW. Hadis yang demikian dinamai oleh para ulama hadis dengan al-Mauquf lafdzhan al-Marfu' ma'nan,yaitu secara lafaz berstatus mauquf, namun secar mkana bersifat marfu'. Jadi, Hadis Mauquf dan hadis Marfu’ memerlukan penyelidikan.[24] Apabila suatu hadis mauquf berstatus hukum marfu sebagaimana yang dijelaskan diatas dan berkwalitas shahih atau hasan, maka ststus hukumnya pun sama dengan hadis marfu. Akan tetapi jika tidak berstatus marfu, maka para ulama hadis berbeda pendapat tentang kehujahannya. 

Menurut ulama Syafi’iyah dalam Al-jadid, jika perkataan sahabat itu tidak populer di masyarakat maka perkataan itu bukanlah ijma dan tidak pula dijadikan hujjah. Apapun tingkatan atau martabatnya tidaklah diterima sebagai hujjah atau dalil bagi ajaran Islam, sebab yang dapat diterima sebagai hujjah itu hanyalah Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Sehingga Pada prinsipnya hadits mauquf itu tidak dapat dibuat hujjah, kecuali ada qarinah yang menunjukkan atau yang menjadikannya marfu.



E. HADIS MAQTHU ****

a. Defenisi Hadis Maqthu

Menurut bahasa, Kata Al-Maqtu (المقطوع ) berasal dari kata قطع – يقطع – قطعا – قاطع – وهو مقطوع yang berarti terpotong yang merupakan lawan dari kata Mausul yang berarti bersambung. Sedangkan, secara istilah adalah sebagai berikut : 

وَهُوَ مَاأُضِيْفَ اِلَى التَّابِعِيِّ قَوْلاً كَانَ اَوْفِعْلاً أَوْفِعْلاً [25]

"Yaitu sesuatau yang disandarkan pada Tabiin baik perkataan maupun perbuatan tabi'in tersebut". Atau

ماأضيف الى التابعي[26] أو من دونه من قول أوفعل[27]

"Sesuatu yang disandarkan kepada tabi'i atau generasi yang datang sesudahnya berupa perkataan atau perbuatan" 

Hadis Maqthu tidak sama dengan munqhati, karena maqthu adalah sifat dari matan, yaitu berupa perkataan Tabi'in atau Tabi at-Tabi'in, sementara munqathi adalah sifat dari sanad, yaitu terjadinya keterputusan sanad.

b. Contoh Hadis Maqthu

1. Maqthu Qauli (perkataan)

عن عبد الله بن سعيد بن ابي هند قال : قلت لسعيد بن المسيب : ان فلانا اعطس والامام يخطب فشمته فلان. قال : مره فلا يعودن (الاثر)

“Dari Abdillah Bin Sa`Id Bin Abi Hindin, ia berkata: aku pernah bertanya kepada Sa`id Bin Musayyib; bahwasanya si fulan bersin, padahal imam sedang berkhutbah, lalu orang lain ucapkan “yarhamukallah” (bolehkan yang demikian?) jawab Sa`Id Bin Musayib “perintahlah kepadanya supaya jangan sekali-kali diulangi”. (al-atsar) 

Sa`id Bin Musayyib adalah seorang tabi`in dan Hadits diatas adalah Hadits Maqthu. Tidak mengandung hukum. 

2. Maqthu Fi’li (perbuatan)

عن قتادة قال : كان سعيد بن المسيب يصلي العصر ركعتين. (المحلى)

“Dari Qatadah, ia berkata: adalah Sa`Id Bin Musaiyib pernah shalat dua rakaat sesudah ashar”. (Al-Muhalla) 

Sa`id Bin Musayyib adalah seorang tabi`in, dan Hadits diatas adalah Hadits Maqthu berupa cerita tentang perbuatannya yang tidak mengandung hukum. 

3. Maqthu Taqriry

عن الحكم بن عتيبة قال : كان يؤمنا فى مسجدنا هذا عبد فكان شريح يصلي فيه. (المحلى) 

“Dari hakam bin utaibah, ia berkata: adalah seorang hamba mengimami kami dalam mesjid itu, sedang syuraih (juga shalat disitu)”. (Al-Muhalla) 

Syuraih ialah seorang tabi`in. riwayat Hadits ini menunjukan bahwa syuraih membenarkan seorang hamba jadi imam.



c. Kehujjahan Hadis Maqthu

Hadis Maqthu' tidak dapat dijadiakan sebagai hujjah atau dalil untuk menetapkan suatu hukum, karena status dari perkataan Tabi'in sama dengan perkataan Ulama lainnya. Disamping itu, Hadis maqthu yang merupakan perkataan tabi’in bukanlah hadis sebagaimana yang bersumber dari Nabi. Menurut Imam Zarkasyi, adapun perkataan Maqthu dimasukan ke dalam hadis merupakan sesuatu yang mempermudah.[28] Sehingga Hadits Maqthu tidak bisa dipergunakan sebagai landasan hukum, karena Hadits Maqthu hanyalah ucapan dan perbuatan seorang muslim. Tetapi jika didalamnya terdapat qarinah yang baik, maka bisa diterima dan dapat menjadi Marfu’ Mursal.[29]

d. Kitab yang banyak Mengandung Hadis Mauquf dan Hadis Maqthu

Diantara kitab-kitab yang dipandang banyak mengandung Hadis Mauquf dan Hadis Marfu adalah :[30]


  • Mushannaf Ibnu Abi Syaibah
  • Mushannaf Abdurrazzaq
  • Kitab-kitab tafsir, seperti karya Ibnu Jarir; Ibnu Abi Hatim; dan Ibnul Mundzir.

BAB 3 : KESIMPULAN
  • Hadis adalah sesuatu yang disandarkan kepada nabi baik berupa perkataan, perbuatan atau ketetapan beliau. Akan tetapi jika dicermati secara mendalam maka akan ada beberapa klasifikasi yang ditinjau kepada siapakah hadis tersebut disandarkan. Yaitu: hadis qudsi, hadis marfu’, hadis Mauquf, dan hadis Maqthu’
  • Hadits marfu adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi saw, tidak dipersoalkan apakah itu memiliki sanad dan matan yang baik atau sebaliknya. Hadits marfu itu dapat mencakup hadits mutawatir dan ahad, dapat mencakup hadits muttashil dan ghair muttashil seperti hadits mursal, munqathi, mu’dhal, mu’allaq, serta dapat mencakup hadits shahih, hasan dan dha’if.
  • Hadits marfu ditinjau dari segi sandarannya dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu : Hadis Shahih, Hadis Hasan dan Hadis Dha’if.
  • Kehujjahan hadits marfu yang shahih dan hasan dapat dijadikan untuk menentukan suatu hukum.
  • Hadits mauquf dapat berupa hadits shahih, hasan dan dha’if dilihat dari bersambung atau tidaknya sanad.
  • Hadits mauquf yang dha’if namun jika terdapat qarinah dari sahabat yang lain maka derajatnya menjadi shahih atau hasan.
  • Hadits maqthu tidak dapat dijadikan hujjah, ada juga yang menyamakannya dengan pendapat sahabat yang berkembang dalam masyarakat yang tidak didapati bantahan dari seseorang yakni dipandang sebagai suatu ijma.
  • Hadis Maqthu tidak sama dengan munqhati karena maqthu adalah sifat dari matan, yaitu berupa perkataan Tabi'in atau Tabi at-Tabi'in sementar munqathi adalah sifat dari sanad, yaitu terjadinya keterputusan sanad.

ENDNOTE


[1] Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Hal. 217, Bab macam-macam hadis dari berbagai tinjauan
[2] Ibid, Hal. 217
[3] Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Hal. 217, Bab macam-macam hadis dari berbagai tinjauan
[4] Ibid. Hal. 218
[5] Munzier Suparta, Ilmu hadis, Hal. 16, Bab Hadis Qudsi
[6] Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Hal. 219-220, Bab macam-macam hadis dari berbagai tinjauan
[7]  Ibnu Mukti, Hadis Qudsi, Hal. 11
[8]  Kamil Uwaidah, Hadis Qudsi, Hal 49, Bab Berbaik sangka kepada Allah
[9]  Munzier Suparta, Hal 17, Bab pengertian Hadis Qudsi
[10] Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Hal. 222, Bab macam-macam hadis dari berbagai tinjauan
[11] Dr. M. Tohan, Mustalahatul Hadis, Hal. 105, Bab Taksimul Khabar binnisbati ila man isnida ilaihi
[12] Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Hal. 223, Bab macam-macam hadis dari berbagai tinjauan
[13] Marfu’ secara Hakiki maksudnya penyandarannya secara tegas kepada Rasulullah SAW
[14] Marfu’ secara hukum maksudnya adalah isinya tidak terang dan tegas menunjukkan marfu’, namun dihukumkan marfu’ karena bersandar pada beberapa indikasi
[15] Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Hal. 224-226, Bab macam-macam hadis dari berbagai   tinjauan
[16] Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Hal. 225, Bab macam-macam hadis dari berbagai tinjauan
[17] Ibid. Hal. 225-226
[18] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Juz 4, Hal. 153, Bab keutamaan shalat berjamaah
[19] Ibid.  Hal. 16, Bab adzan dua kali-dua kali
[20] Ibid.  Hal. 688, Bab Do’a sebelum salam
[21] DR. Ahmad Umar Hasyim,  قـواعـدأصول الحـد يـس , Hal. 114, Bab  تقسم الحديس باعتبارمن أضيف إضيف إلـيه
[22] Dr. M. Tohan, Mustalahatul Hadis, Hal. 107, Bab Taksimul Khabar binnisbati ila man isnida ilaihi
[23] Abul Haris Muhammad, Kaedah Dasar Ilmu Hadis, Hal 81, Bab Mauquf
[24] Drs. M. Anwar, Ilmu Musthalah Hadis, Hal. 127, Bab hadis Marfu’_Mauquf_Maqthu
[25] Ahmad Umar Hasyim, قواعداصول الحديث, Hal 115, Bab تقسيم الحد يث باعتبار من أضيف إليه
[26]  التابع : هـومالقى الصحابي مسلما ومات على السلام
[27] Dr. M. Tohan, Mustalahatul Hadis, Hal. 109, Bab Taksimul Khabar binnisbati ila man isnida ilaihi
[28] Mohammad Anwar, Ilmu Musthalahah Hadis, Hal. 34 , Bab Hadis Marfu’-Mauquf-Maqthu
[29] Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Hal. 233, Bab macam-macam hadis dari berbagai tinjauan
[30] Ibid.  Hal. 232


DAFTAR PUSTAKA
  1. Al-khatib, M. Ajaj. Usul al-hadis : Ulumuhu wa Mustlahuhu”: Dar al-fikr, 1409H/1989 M
  2. Anwar, Mohammad. Ilmu Musthalahah Hadis. Surabaya-Indonesia: Al-Ikhlas, 1931
  3. At-tohal Mahmud, Taisir Mustalah al-Hadis. Beirut: Dar Al-qur’an Al-karim, 1399 H / 1979 M
  4. Hasyim, Ahmad Umar. قواعداصول الحديث . Beirut-Libanon: A’lahul Kitab, 1997 M / 1417 H
  5. Khon, Abdul Madjid, Ulumul Hadis. Jakarta : Amzah, 2009
  6. Muhammad, Abul Harits. Kaedah dasar Ilmu Hadis. Mantung Tengah-Sanggrahan: Maktabah Al-Ghuroba, 2006
  7. Soffandi, Wawan Djunaidi. Syarah Hadis Qudsi. Jakarta: Pustaka Azzam, 2006
  8. Suparta, Mundzir. Ilmu Hadis. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002
  9. Tohan, Muhammad. Musthalahah Hadis. Beirut: Da’rul Fikar, ــــــــــــــ
  10. Uwaidah, Kamil. Hadis qudsi. Jakarta Pusat: Pena Pundi Aksara, 2007
  11. Yuslem Nawir, Ulumul-Hadis. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya 200

FREE PDF DOWNLOAD

Link 1
Link 2

SEMOGA BERMANFAAT
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.