Ketimpangan Jender dalam Hukum Fiqih

Perbedaan laki-laki dan perempuan masih menyimpan beberapa masalah, baik dari segi substansi kejadian maupun peran yang diemban dalam masyarakat. Perbedaan anatomi biologi antara keduanya cukup jelas. Akan tetapi, efek yang timbul akibat perbedaan itu menimbulkan perdebatan karena ternyata perbedaan jenis kelamin secara biologi (seks) melahirkan seperangkat konsep budaya. Interpretasi budaya terhadap perbedaan jenis kelamin inilah yang disebut jender. (Nasaruddin Umar, 2010: 1) Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan martabat seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun dalam realitasnya, ajaran agama banyak sekali yang ditawarkan sepotong dan tidak utuh. Akibatnya yang muncul bukan ajaran melainkan paham atau sikap yang sudah diwarnai oleh pengaruh kultur tertentu.

Ajaran jelas lebih luas daripada paham atau sikap. Islam yang bersumber pada al-Quran dan sunnah sejak awal telah dipersiapkan sesuai dengan segala umat dan zaman dengan latar belakang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, sebagai misal aturan tentang hubungan laki-laki dan perempuan telah ditetapkan dan sebagaimana layaknya teks hukum agama tidak akan mengalami perubahan. Adapun yang mengalami perubahan hanyalah pemahaman atas teks yang tidak berubah itu sesuai dengan konteksnya. (Amir Syarifuddin, 2005: 182)

Permasalahan wanita nampaknya akan tetap aktual dan kontroversial. Semua ini tentunya paralel dengan pergeseran peran perempuan yang tidak lagi terbatas ruang lingkup keluarga, tetapi seluas ruang kehidupan modern sekarang ini. Berdasarkan kenyataan ini, maka pembahasan mengenai perempuan menurut informasi al-Quran dan hadis menjadi sangat penting. Tentunya dalam konteks yang bervariatif, mulai dari asal kejadiannya, sampai kepada hak-hak dan kewajibannya, baik di dalam maupun di luar rumah.

Pada kenyataannya, Kedudukan perempuan dalam pandangan ajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau dipraktekkan sementara masyarakat. Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan. Muhammad al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam kontemporer berkebangsaan Mesir, menulis: “Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Keadaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan”. (Membumikan al-Quran)

Fenomena inilah yang merangsang munculnya analisis kritis yang mendasar dan tajam terhadap sejumlah wacana keagamaan konservatif yang selama ini ada. Para pemikir baru yang cenderung kritis dan menilai stagnasi dan konservatisme telah memarginalkan, mengalienasi dan bahkan menciptakan ketertindasan kaum muslimin dalam kehidupan modern dan global yang tidak bisa lagi dibendung. (Husein Muhammad, 2004, 79-80)

Sejumlah ilmuwan kontemporer menyakini bahwa pemahaman kita dalam agama terhadap perempuan masih bias dan memarjinalkan. Hal ini mereka simpulkan setelah mengkaji dan menganalisa Islam dalam beberapa perspektif, diantaranya fiqih. Fiqih selama ini sering dipahami sebagian besar orang sebagai doktrin keagamaan, normatif dan keputusannya tidak boleh dikritisi. Pada sisi inilah kita harus ingat bahwa fiqih sebenarnya merupakan interpretasi orang terhadap teks-teks suci, yaitu al-Quran dan hadis. Interpretasi orang tentu bisa berbeda-beda karena ada banyak hal yang turut mempengaruhinya. Oleh karena itu, objek inilah yang akan menjadi tema dalam tulisan ini dengan judul: “Ketimpangan Jender dalam Hukum Fiqih”.

Sobat, untuk efisiensi pembahasan, kami meramunya dalam bentuk slide Power Point. Next on at preview:

 

Nah, langsung download aja filenya (edisi Power Point) dibawah ini:
SERVER SATU
SERVER DUA
Untuk analisa lebih lanjut kajian ini, berikut preview PDF-nya:



DOWNLOAD EDISI PDF-NYA

SERVER TIGA -  GOOGLE.COM
SERVER EMPAT - SHOWGOOGLE.COM

Note: Uraian ini sama sekali tidak menyalahi atau menghukumi akan keabsahan hukum fiqih, semata-mata kami sajikan untuk menjadi perenungan dalam meretas kebekuan ijtihad dalam dunia Islam khususnya dalam merespon wacana kontemporer. 

SALAM SQ - wahana ilmu dan amal

Semoga Bermanfaat !!!

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.