Rekonstruksi Moral Menuju Masyarakat Ideal

REKONSTRUKSI MORAL UMAT MENUJU MASYARAKAT IDEAL:
KRITIK ATAS FANATISME AGAMA


OLEH:

HASRUL


MAHASISWA
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN (IPTIQ)
JAKARTA SELATAN
(EMAIL : rul.19bs1@gmail.com)




I. ABSTRACT 



The dynamics of religious life today seems ripped from the pillars. Religion is merely a symbol of the social teachings misused to legitimize the interests of individuals or groups kepantingan. The verge of collapse, it is necessary to save the moral reconstruction of future generations and the hope of re-creation of an ideal society. The reconstruction process is characterized by a change from bad to good condition or a change to its original condition. The realization must begin with changing conditions subyektif, the mental attitude of the individual. 



Mental attitude of human nature is constant. Humans only required to preserve and maintain it. When the mentality it down, then when it's gone eksitensinya. As for the reverse, preservation mental attitude that caused his behavior is getting better, then it will live happily. This mental attitude is influenced by a person's character and morals. This is why, social life in perspective and morality as its function in the perspective of faith. This is a picture that shows the importance of a system of society in creating a generation that has the high solidarity to others. 

Clearly, social life would not be separated from religious dimension. Understanding and appreciation of the existence of religion in society will determine the future of a nation. Follow-up must be addressed in the reconstruction is pemahamaan moral and religious teachings of meaning within the scope of the community and the nation in order to eliminate religious fanaticism. This effort is expected to create an ideal homogeneous society. 

Keywords : reconstruction of moral, ideal society, mental attitude, religious fanaticism

II. PENDAHULUAN

Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam yang memuat beragam ajaran untuk menghasilakn sikap moral yang benar bagi tindakan manusia. Tindakan yang benar, baik dalam bidang politik, keagamaan ataupun sosial dipandang al-Quran sebagai Ibadah. Oleh karena itu, al-Quran mengutamakan semua penekanan moral dan faktor psikologis yang melahirkan kerangka berfikir yang benar bagi tindakan. 

Selama lebih dari 14 abad yang silam, Islam tumbuh dan berkembang menjadi sebuah agama dunia yang pemeluknya bisa ditemukan di segenap penjuru dunia. Dalam proses tersebut, sebuah tradisi monoteis agung yang memiliki banyak kesamaan dengan agama Yahudi dan Kristen mengubah kehidupan jutaan pemeluk sepanjang sejarah. Pergeseran zaman yang secara global semakin menuntut saling ketergantungan dan kesepahaman adalah hal yang penting sekaligus diperlukan. Memahami Islam maupun kebangkitan kembali politik dan masyarakat muslim bukan saja bermanfaat secara keagamaan, tetapi penting pula secara politik. 

Penekanan akhak dan moral dalam sendi ajaran Islam sebagaimana disebutkan dalam al-Quran menunjukkan akan eksitensinya yang sangat signifikan. Peranann moral akan menjadi tolak ukur pemahaman agama seseorang terhadap realisasinya dalam kehidupan. Itulah sebabnya, sebuah kehancuran umat dalam suatu bangsa selalu diawali dengan penyelewengan dan kebejatan moral. Allah tidak akan mengazab suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang memenuhi syarat terjadinya sebuah bencana. Ulasan ini dalam al-Quran disebut sebagai Kitab Ma’lum. Prinsip diatas menjadi landasan utama uraian berikut dalam menelaah sebuah konstruksi moral umat menuju masyarakat ideal. Dalam analisa judul tersebut mengantarkan sebuah kesimpulan bahwa agama adalah pondasinya yang menafikkan fanatisme agama. 


III. METODE PENELITIAN 

Penulisan ini bersifat kepustakaan murni atau library research. Artinya data-data yang digunakan berasal dari sumber kepustakaan baik primer maupun sekunder, baik berupa buku, ensiklopedi, jurnal, majalah dan lain sebagainya. Metode yang digunakan ialah deskriftif sintesis. Deskriftif ialah memberikan gambaran mengenai keadan sosial dalam kajian moral dalam masyarakat yang bersumber dari al-Quran dan beberapa analisa atas kebudayaan, psikologi dan sosial itu sendiri. Dalam hal ini, penulis berusaha memberikan penjelasan dan penggambaran mengenai hubungan signifikan antara moral dan kelangsungan masyarakat. Sintesis adalah suatu usaha mencari kesatuan dalam keragaman atau mencari titik temu antara dan nilai-nilai moral dalam relasinya denga masyarakat. Selain itu, penelitian ini mengarah dalam hubungan Kausal-komparatif yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tetapi tidak dengan jalan eksperimen melainkan dilakukan dengan pengamatan terhadap data yang diduga menjadi penyebab yaitu eksistensi moral akan menentukan keberlangsungan suatu masyarakat yang ideal. Bersaman dengan itu, moral dan masyarakat ideal akan menafikan paham fanatisme agama.


IV. HASIL PENELITIAN
  1. Moral merupakan pilar utama dalam memelihara stabilitas dan eksistensi masyarakat, bangsa dan negara; 
  2. Islam adalah pandangan hidup yang total dan lengkap; oleh karena itu, agama integral dengan politik, sosial, budaya, hukum, masyarakat dan sendi-sendi kehidupan lainnya; 
  3. Kehidupan Moral dan masyarakat ideal yang taat akan menafikkan paham fanatisme agama. 


V. ISI / PEMBAHASAN

A. EKSISTENSI MORAL DAN UMAT



Moral atau akhlak adalah bagian original dari ajaran agama yang turut menentukan warna masyarakat. Pembinaan sikap dan tindakan merupakan hal yang diperlukan untuk menata masyarakat yang bermoral. Keseluruhan aspek manusia menjadi titik berat pembinaan itu, baik lahir batin, perbuatan kecil dan besar, maupun pribadi dan komunal. Pembinaan yang sistematik dan nterus menerus harus ditempuh agar sosialisasi sikap dan tindakan dapat menjadi sebuah kebutuhan dalam masyarakat.

Perbedaan-perbedaan dalam masyarakat adakah suatu kenyataaan kemanusian yang merupakan cerminan dari terdapatnya eksistensi yang lebih tinggi. Perbedaan kelompok bangsa maupun suku dengan berbagai aspeksnya dari warna kulit, bahasa dan budaya mempunyai peranan untuk
bangkitnya interaksi antara berbagai pihak sehingga terjadilah tukar-menukar informasi.oleh karenanya, meletakkan perbedaan suku, bangsa warna kulit dan bahasa sebagai faktor-faktor potensial bagi bangkitnya peropecahan dan konflik dalam sekelompok masyarakat adalah keputusan yang sangat bertentangan dengan al-Quran. Islam memandang perbedaan itu sebagai potensi bagi terjadinya perkenalan dan hubungan-hubungan sosial, bukan sebaliknya.[1]

a) Moral dan Masyarakat

Kehidupan sosial masyarakat dalam perspektif akhlak dan moral seperti fungsinya dalam perspektif akidah, pemahaman, dan syiar-syiar ritual lainnya. Ini menunjukkan peranan penting sebuah sistem masyarakat dalam menciptakan generasi yang memilki solidaritas tinggi terhadap sesama. Menurut Yusuf Qardhawy, masyarakat dalam kaitannya dengan moral berperan dalam tiga aspek, yaitu:[2]
  1. Aspek pengarahan, aspek ini berperan dalam mengatur sisi penerbitan, propaganda dan berbagai media penerangan (informasi) dan percerdasan serta berbagai media dakwah dan penyuluhan; 
  2. Aspek pemantapan, sisi ini berjalan melalui pengajaran jangka panjang pendidikan yang berakar mendalam pada lingkup keluarga, sekolah dan universitas; 
  3. Aspek perlindungan; aspek ini berjalan melalui kontrol kritis berupa opini umum masyarakat dengan memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, anti terhadap tindak penyelewengan dan membersihkan iklim masyarakat dari polusi moral.
Melalui optimalisasi fungsi masyarakat yang terdiri dari aspek pengarahan, pemantapan dan perlindungan, maka akan tercipta kehidupan yang bermoral, yaitu kehidupan yang dijalankan bukan atas kepentingan materi, tendensi politis, dominasi golongan lemah dan pertimbangan militer belaka. Maka dalam masyarakat ini, tidak ada dikotomi antara ilmu dan moral, seni dan moral, ekonomi dan moral, politik dan moral, perang dan moral. Oleh karena itu, moral atau akhlak merupakan unsur dominan yang menguasai semua urusan kehidupan dan prilakunya, kecil dan besarnya maupun individual dan komunitasnya.

b) Umat dan Bangsa

Kehidupan sosial juga tidak akan terlepas dari dimensi agama. Pemahaman dan penghayatan akan eksistensi agama dalam masyarakat akan menentukan masa depan suatu bangsa dan negara. Kehidupan umat dengan moral yang baik dalam suatu bangsa dan negara akan mengantarkan masyarakatnya kepada kehidupan yang tentram dan sejahtera. Sebaliknya, kehidupan umat dengan moral yang bejat, akan mengantarkan masyarakatnya pada jurang kehancuran. 


Term umat mencakup pengertian masyarakat dan lebih luas maknanya. Menurut Ali Syari’ati, kata umat yang berasal dari kata amma (bermaksud) dan azimah (berkeinginan kuat) mengandung tiga hal, yaitu gerakan, tujuan dan ketetapan hati yang sadar. Sepanjang kata tersebut mengandung arti “kemajuan” maka di dalamnya terkandung empat arti, yaitu usaha, gerakan, kamajuan dan tujuan. Dengan demikian, kepemimpinan dan keteladanan, jalan dan tempat yang dilalui tercakup pula dalam istilah umat. jadi, pengikat paling penting yang mempersatukan individu-individu adalah jalan yang dilalui. Atau dengan kata lain, umat adalah himpunan manusia yang seluruh anggotanya secara bersama menuju satu arah, bahu membahu dan bergerak secara dinamis di bawah kepemimpinan bersama.[3]


Kata umat dalam al-Quran sering dirangkaikan dengan kata “ajal” yang bermakna ajal kolektif. Secara umum, ajal kolektif dapat dipahami sebagai batas akhir eksistensi komunitas masyarakat bukan individu yang secara bersama-sama terhimpun dalam kesamaan arah tujuan, visi, ideologi, tradisi, adat istiadat, periode dan geografis, dalam satu kepemimpinan, baik terjadinya secara paksa atau kehendak masing-masing anggotanya. Menurut sayyid Qutb, ajal kolektif atau akhir eksistensi suatu umat kadang-kadang berupa kehancuran total yang bersifat indrawi, seperti bencana, gemap bumi, tsunami dan sejenisnya. Namun akhir eksistensi suatu umat bisa juga bersifat non indrawi. Artinya, secara lahiriyah tidak mengalami kahancuran secara fisik, tetapi mereka telah kehilangan eksistensinya seperti kasus orde baru.[4]

B. PSIKOLOGI KEHIDUPAN MANUSIA

Hidup adalah pemaksaan dan pilihan, dimana hidup terikat dengan sejumlah peraturan. Hidup harus tunduk dan mengikuti paraturan yang berlaku. Keterikatan pertama adalah antara diri sendiri dan alam yang menunutut untuk berinteraksi dengannya agar kehidupan tetap berlangsung. Orang mengatakan bahwa hidup ini adalah pilihan, tetapi tidak ada yang mengatakan bahwa semuanya adalah pilihan. Keterikatan selanjutnya ialah diri sendiri dengan motif bawaan. Motif merupakan kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup termasuk manusia. Motif-motif itulah yang mendorong makhluk hidup untuk memenuhi kebutuhannya dan mempertahankan eksistensinya untuk terus berkembang. Sangat wajar bahwa pemuasaan motif-motif tersebut merupakan persoalan penting yang dituntut oleh fitrah.[5]

a) Pergulatan Motif Manusia

Potensi motif pada manusia tidak selamanya berjalan normal karena problem internal antar motif itu sendiri. Keadaan semacam ini merupakan pergulatan antarmotif yang dikenal sebagai pergulatan psikologis. Al-Quran menggambarkan kondisi pergulatan psikologis yang diderita oleh banyak individu yang menyikapi iman dengan sikap yang bimbang dan ragu. Akibatnya, mereka tidak menghadap ke arah keimanan secara total dan tidak pula menghadap ke arah kekufuran secara total melainkan berdiri di antara keimanan dan kekufuran dengan sikap bimbang dan tidak sanggup membuat keputusan final dalam persoalan tersebut.[6] Allah SWT berfirman: 


قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (سورة الأنعام : 71)

artinya:
Katakanlah: Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfa'atan kepada kita dan tidak pula mendatangkan kemudharatan kepada kita dan apakah kita akan dikem
balikan ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): Marilah ikuti kami. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. (Q.S. al-An’am : 71) 

Untuk itulah, berbagai hukum dan perintah al-Quran datang berkaitan dengan persoalan motif-motif tersebu
t bersesuai dengan fitrah manusia. Jadi, hukum-hukum al-Quran mengakui dan mendorong pemuasaan motif-motif tersebut dalam batas yang diterangkan syariat. 

b) Pengendalian Motif Manusia

Al-Quran tidak menyuruh untuk membinasakan motif-motif alamiah, akan tetapi, al-Quran mendorong untuk mengatur pemuasaan dorongan-dorongan itu, mengontrol dan mengarahkan motif-motif itu secara benar dengan memperhatikan kemaslahatan individu dan masyarakat. Misalanya, al-Quran melarang manusia berlaku dzalim dan bermusuhan dengan orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Bahkan al-Quran memerintahkan manusia agar bergaul dengan orang-orang secara baik dan lemah lembut.[7] Firman Allah: 



إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (سورة الأحزاب : 58) 



artinya: 

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Q.S. al-Ahzab : 58) 



Al-Quran juga mendorong manusia agar mengendalikan dorongan pemilkan, al-Quran melarang kikir, menimbun harta kekayaan, riba, memakan harta orang lain secara batil dan mencuri. Sebaliknya, al-Quran menyuruh manusia berinfaq, bersedaqah kepada fakir miskin dan menunaikan zakat. Allah berfirman: 

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ (سورة آل عمران : 180) 


artinya: 

Dan Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. (Q.S. al-Imran : 180)

c) Arah Pengendalian Motif Manusia

Pengekangan motif pada manusia diarahkan untuk mengendaliakan hawa nafsu dan agar kehidupan sosial dapat terwujud. Hal ini merupakan kontruksi awal dalam membangun kehidupan masyarakat yang ideal, yaitu penataan kembali sisi dalam pada manusia agar dapat tunduk dan patuh dibawah satu kepemimpinan. Dari sudut pandang ini, kehidupan masyarakat diarahkan lebih elastis dalam setiap problematikan kehidupan. Rasa persamaan dan persatuan akan terbangun yang saling mengokohkan dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Kerangka inilah yang menjamin keharmonisan kehidupan antar sesama dan antar umat beragama.

Jika kita bayangkan bahwa setiap individu berdiri sendiri, tidak terikat dengan sebuh sistem, maka jelas
 keharmonisan mustahil tercipta bahkan tidak mungkin terbentuk masyarakat yang syarat dengan nilai kebersamaan. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa keluarga adalah sel terkecil dari masyarakat. Eksistensinya merupakan cerminan sebuh masyarakat, dan masyarakat tunduk pada sebuah pemerintahan yang kita kenal dengan bangsa atau negara.[8] Dalam pandangan al-Farabi dan filosof yang mengikutinya, keharmonisan sosial adalah sesuatu yang ideal. Keadaan itu terdapat pada negara yang penduduknya berada dalam bimbingan penguasa yang bijaksana yang dapat membawa mereka pada kerja sama yang sempurna.[9] Salah satu bentuk kerja sama itu ialah usaha melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Firman Allah SWT: 



ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (الأنفال: 53) 



artinya: 

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Q.S. al-Anfal : 53)

C. KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT



Abad kedua puluh yang lalu telah digambarkan sebagai era migrasi. Sejumlah besar orang telah melintasi perbatasan, menjadikan setiap daerah benar-benar polietnis dalam komposisinya. Abad itu dinyatakan pula sebagai abad nasionalisme karena semakin banyak kelompok bangsa di seluruh dunia mengerahkan dan menyatakan identitas mereka. Akibatnya aturan-aturan kehidupan politik yang sudah mapan di banyak negara ditantang oleh politik perbedaan kebudayaan baru.[10] Gambaran sosial tersebut semakin kompleks dan rumit. Ini menunjukkan arus globalisasi dan perkembangan zaman dapat menghembuskan nilai-nilai baru pada stabilitas sosial yang telah mapan. Dampak ini tidak bisa dihindari melainkan melakukan proses integrasi melalui proses yang selektif. 



Penajaman sekat-sekat sosial dalam masyarakat merupakan salah satu akibat modernisasi. Dalam perkembangan lain terjadi proses kristalisasi sekat-sekat kultural yang biasanya sangat mewarnai hubungan-hubungan sosial. Dalam situasi seperti ini, kita berharap norma-norma yang ada untuk ditingkatkan agar dapat meminimalisir konflik-konflik kultural serta kesenjangan sosial lainnya.[11] Semua sistem nasional di dunia kini cenderung kehilangan identitas dan wawasan kebangsaan pun mengalami masalah eksistensi. problematika ini juga tidak lupuk di Indonesia yang banyak terpengaruh melalui arus komunikasi dan informasi. 



Negara-negara barat memahami bahwa kenyakinan-kenyakinan agama dan nilai-nilai nasionalisme setiap bangsa merupakan identitas bangsa, seperti Indonesia. Kita masih kurang menyadari bahwa nilai-nilai tersebut berperan sebagai unsur penguat bentuk perlawanan dalam menghadapi serangan dan budaya dan ekonomi dari barat. Karena itu, negara-negara adidaya telah melakukan berbagai upaya untuk merusak nilai-nilai keagamaan dengan serangan propaganda yang sangat halus. Dampak ini akan berpengaruh kepada sistemik dalam kehidupan sosial.[12]

a) Interaksi antar Kelompok

Interaksi antara kaum muslimin dengan kelompok lainnya baik yang berada dalam wilayah kekuasaan kuam muslimin atau yang berada di luar batas kekuasaan berporos pada prinsip-prinsip penghargaan terhadap kemerdekaan dan dihormatinya hak hidup manusia. Asas ini mendasari segala bentuk perhubungan serta merupakan patokan bagi lankah-langkah apabila terjadi permasalahan di dalamnya.[13]



Pada hakikatnya Islam menghendaki kedamaian di antara umat manusia sebgai penghargaan terhadap free will manusia. Allah melarang Rasulullah untuk melakukan pemaksaan terhadap kemerdekaan orang lain. Firman Allah: 



لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا (البقرة: 256) 



artinya: 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. (Q.S. al-Baqarah : 256) 



Ayat di atas meligitimasi bahwa pendirian seorang terhadap kenyakinan agamanya dihargai bahkan ibadahnya pun di akui. Persaudaraan dibina dalam masyarakat sebenarnya berdiri pada tali keimanan. Oleh karena itu, berbagai teror dan tindakan anarkis atas umat lain atas nama agama justru sebuh perbuatan yang tidak mencerminkan nilai-nilai iman. Permasalahan ini sepele namun memiliki dampak yang sangat besar dalam kelangsungan kehidupan umat. Perspektif ini perlu diluruskan agar tidak terwariskan pada generasi depan untuk mempersiapkan terciptanya masyarakat yang yang lebih baik. Islam tidak mengenal perpecahan dan peperangan yang disebabkan masalah ras, suku, warna kulit, bahasa, adat dan juga agama.

b) Egalitarian, Utilitarian atau Libertarian

Sikap arus utama dalam berkehidupan masyarakat bisa mengutamakan persamaan, manfaat atau kebebasan. Sesuai analisa moral diatas, sikap kita dalam masyarakat semestinya egalitarian. Sikap egalitarian berakar pada kenyakinan bahwa semua manusia ¾ intra dan antar generasi dan ¾ sama sama terikat dalam kontrak sosial yang menetapkan bahwa semua orang harus diperlakukan sama secara moral. Hal ini cukup beralasan karena setipa orang memiliki dua sifat esensial pribadi moral, yaitu kemampuan untuk merasakan ada atau tiadanya keadilan dan kenyataan bahwa sebagai perseorangan dan masyarakat kebangsaan tidak cukup, malainkan saling tergantung dalam pola-pola kerja sama sosial tertentu.[14]


Adapun utilitarian tidak membenarkan perlakuan dan pemberian kesempatan yang sama kepada semua orang. Panganut utilit
arianisme memang tidak menginginkan sejumah besar diantara kaum miskin dawasa ini mati kelaparan. Mereka juga menganggap tidak baik kalau generasi sekarang menyegsarakan generasi-generasi mendatang dengan ulah generasi sekarang. Adapun libertarianisme tidak mengutamakan persamaan sebab yang dipentingkan adalah hak perseorangan. Sering kepentingan perseorangan dari elite penguasa yang berKKN dan pengusaha kaya raya dikemas sebagai kepentingan publik, dan dipaksakan dengan menggususr kaum marginal secera legal.[15]

c) Bentuk Konflik Sosial


Konsep tentang masyarakat merujuk pada semua metodologi dan problematika yang dipakai dalam ilmu-ilmu sosial, politik, dan humaniora saat ini. Bidang-bidang keilmuan tersebut menunjukkan luasnya muatan akan term masyarakat yang menuntut analisa dan pandangan yang lebih cermat dan teliti dalam merespon problematika kehidupan. Sisi ini akan selalu diwarnai dengan eksistensi masyarakat sebagai subjek utama. Masyarakat dibawah komando pemerintahan akan menghadapi dualisme bentuk pemerintahan, yaitu antara kebebasan dan pemaksaan.[16]

Ragam bentuk pem
erintahan, baik sistem demokrasi maupun sitem diktator, akan salalu nampak jurang pemisah antara kaya dan miskin, elit dan golongan bawah serta sekat-sekat sosial lainnya. Berhubungan dengan ini, filosof beranggapan bahwa konflik masyarakat elit dan masyarakat biasa merupakan hal yang alamiah. Dalam sitem perundangan, Plato juga berpandanagan akan fundamental antara penguasa dan yang dikuasai serta menggambarkan ketegangan yang alamiah dab permanen di antara mereka. Dia juga menganjurkan untuk menghindari keadaan ekstrem terlalu kaya atau terlalu miskin sebab hal ini akan mengundang permusuhan di antara manusia.[17]



Bentuk konflik lainnya yang sering timbul dalam masyarakat ialah karena perbedaan status dan posisi, latar belakang dan minat intelektual dan budaya serta kecenderungan politik. Bahkan telah diperdebatkan juga bahwa banyak orang arab monnoteis yang ikut serta dalam penaklukan pada masa lampau yang dimotivasi oleh orientasi egaliter yang berasal dari kenyakinana mereka. Mereka berharap agar keegaliteran itu diterapkan baik di bidang agama maupun kemasyarakatan. Harapan-harapan ini meninggalakn bekas pada literatur yang ada pada abad pertama dan pertengahan awal abad kedua. Sebagian diantarannya berisi desakan akan adanya kesetaran sosial di kalangan orang beriman yang dikaitkan dengan Umar dan Ali. Sedangkan yang lain berisi usaha-usaha agar gagasan keegaliteran memiliki implikasi sosial.[18]



Dalam kehidupan maodern saat ini, kehidupan sosial semakin bergeser eksistensinya dan semakin kompleks sehingga membutuhkan sebuah starategi intelektual dalam meminamilisir faktor konflik berlatar agama dalam masyarakat. Langkah ini menuntut kehatian agar pandangan ortodoks dapat dimaknai dengan adil dan obyektif. Lebih jauh, setiap kelompok berkompetisi dengan kelompok lain, baik untuk memperluas lingkungan dominasinya atau sekedar mempertahankan eksistensinya.[19] Dalam kerangka inilah, bentuk saling menyalahkan dan egoisme muncul yang berujung pada fanatisme buta.

D. TENDENSI AGAMA DAN IDEOLOGI DALAM SOSIAL KEMASYARAKATAN

Agama adalah sistem kepercayaan, kenyakinan dan pengetahuan yang sampai kini masih mendominasi dan mengatur keberadaan banyak masyarakat. Khususnya Islam, kenyataan tersebut menjadi sangat penting karena berbagai gerakan revollusioner yang dikenal luas dan diasosiasikan dengan Islam menimbulkan berbagai pristiwa menakjubkan yang semuanya mengatasnamakan Tuhan dan ajaran-Nya.[20]

Dewasa ini, sebagian kelompok sosial berpandangan bahwa ideologi sebagai sebuah visi konseptual diklaim dapat melindungi identitas mereka dan pada akhirnya memperluas pada kelompok lain. Tentu saja merupakan suatu hal yang tak dapat dihindarkan bahwa agama dimanipulasi oleh banyak kelom
pok sosial yang kemudian mentransformasikannya kedalam bentuk ideologi. Kita haru meluruskan pandangan ini karena Agama merupakan suatu perspektif terbuka yang memungkinkan munculnya makna-makna dan aktualisasi eksistensi dan ko-eksistensi manusia. Adapun ideologi hanya terbatas pada kondisi-kondisi serta tujuan-tujuan budaya, ekonomi dan politik yang sulit. 



Agama dan ideologi mempunyai fungsi yang sama, tetapi keduanya memainkan perangakat yang berbeda dan membuka jalan yang juga berbeda. Keduanya mempunyai tatanan imajiner dan tatanan nyata masyarakat, keduanya menimbulkan harapan, baik skala individual maupun kelompok dan memberikan dukungan imajiner pada tatanan etnis dan politis. Namun, pada sisi lain Agama merujuk pada sesuatu yang sifatnya transenden dan memperkuat momentum mistik menuju yang absolut. Adapun ideologi, mengarah pada suatu bentuk tatanan praktis dan terbatas yang di idealkan oleh suatu kelompok saja. Menurut pernyataan tersebut, Agama tidak bisa hanya dipertentangkan dengan sekularisasi sebagaimana yang sering dilakukan dalam tradisi keilmuan barat. Kita menyadari kehidupan masyarakat muslim belum sepenuhnya menjawab dinamika itu sehingga masih mennjadi hambatan besar untuk bergerak menuju rasionalitas baru. Kesabaran, keteguhan dan waktu dibutuhkan untuk menerobos batu karang yang tidak bisa dihindari yang diwarisi dari masa lalu dan rintangan-rintangan baru yang diciptakan oleh tata politik dan ekonomi modern. Kita semua menghadapi tantangan yang sama dan harus menentukan sutu jalan untuk memperkenalkan sebuah praktik simbolik dan semantik baru yang dibutuhkan pada abad ke-21.[21] Salah satu soslusinya ialah rekonstruksi kembali ajaran-ajaran agama dalam perspektif sosial kemasyarakatan.

Menurut penelitian yang dilakukan Jalaluddin Rahmat, Islam ternyata menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah. Ia menyimpulkan empat hal dalam al-Quran tentang kepedulian terhadap masalah sosial. Pertama, al-Quran dan kitab-kitab hadis, proporsi terbesar ditujukan pada urusan sosial; kedua, dalam kenyataan bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan); ketiga, bila ibadah mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perorangan; keempat, bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal karena melanggar pantangan tertentu, maka kafaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.[22]

Islam adalah agama yang menjadikan seluruh bumi ini Masjid, tempat mengabdi kepada Allah. Konsekuensi pandangan diatas tentunya tidak melupakan sisi luar sosial Islam dalam menjalin kerukunan umat beragama. Merujuk pada pasal 29 ayat 2 UUD 1945 (kemerdekaan agama), kita menyaksikan meluasnya diversifikasi kegiatan lembaga-lembaga agama hingga menjangkau banyak bidang, tak terkecuali bidang politik dan sosial itu sendiri.[23] Kondisi seperti ini secara tidak langsung melibatkan peranan negara atau bangsa pada satu sisi. Melihat perkembangan yang ada, justru menunjukkan kontradisksi antara realita dan konteks. Meluasnya budaya kekerasan, kolusi, korupsi, kriminalitas dimana-mana dan lebih ironisnya disertai kemerosotan mental dan spritual. Kesalahan sepenuhnya terletak pada pribadi masing-masing yang memberi dampak gagalnya sistem menanggapi realita yang ada. Ini adalah salah satu tawaran untuk merekonstruksi moral umat untuk menciptakan masyarakat yang ideal. Pertimbangannya bahwa perubahan sistem tidaklah menjamin perbaikan yang signifikan karena sistem hanyalah sebuah kendali yang monoton. 

Pencapaian utama dalam rekonstruksi moral umat adalah perubahan kondisi dari buruk ke baik atau perubahan menuju kondisi semula. Realisasi tersebut harus diawali dengan merubah kondisi subyektifnya, yakni sikap mental. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ekonomi yang kuat akan menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan. Hanya saja, menurut mazheruddin didasarkan pada Surah Saba ayat 37, bahwa kebutaan spritual biasanya akan tersebar luas dikalangan mereka yang memiliki kekuasaan materi dan politik untuk jangka waktu yang cukup lama. Demikian ini karena kekuatan spritual dan moral tidak dapat diukur melalui statistik kekayaan dan, jumlah penduduk atau kesenangan dan fasilitas yang mereka nikmati. Argumen ini secara jelas digambarkan oleh al-Quran melalui kisah Qarun yang membuktikan bahwa kekayaan tampa disertai kekuatan spritual, sikap rendah hati dan rasa tanggung jawab kepada Allah, justru menuntun sesorang kapada jurang kehancuran.[24] Proses pelembagaan prilaku keagamaan melalaui mazhab-mazhab sebgaimana halnya yang terdapat dalam teologi jelas diperlukan. Antara lain berfungsi untuk mengawetkan ajaran agama dan juga berfungsi sebagai pembentukan karakter pemeluknya dalam rangka membangun masyarakat ideal menurut pesan dasar agama. Tetapi, ketika tradisi agama secara sosiologis mengalami reifikasi atau pengentalan, maka bisa jadi spirit agama yang paling hanif lalu terkubur oleh simbol-simbol yang diciptakan dan dibakukan oleh para pemeluk agama itu sendiri. Pada taraf ini sangat mungkin orang lalu tergelincir menganut dan menyakini agama yang mereka buat sendiri, bukan lagi agama yang asli.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

Sikap eksklusufisme teologis dalam memandang perbedaan dan pluralitas agama tidak saja merugikan bagi agama lain, tetapi juga merugikan diri sendiri karena sikap semacam itu sesungguhnya mempersempit masuknya kebenaran-kebenaran baru yang bisa membuat hidup ini lebih lapang dan lebih kaya dengan nuansa. Inilah yang selanjutnya dapat dijadikan landasan untuk membangun konsep toleransi dalam beragama. 


Dalam hubungan ini menarik sekali apa yang dikatakan M. Qurais Shihab. Menurutnya bahwa dengan menggali ajaran-ajaran agama, meninggalkan fanatisme buta serta berpijak pada kenyataan, jalan akan dapar dirumuskan. Bukankah agama-agama monoteisme dengan ajaran ketuhanan Yang Maha Esa pada hakikatnya menganut universalisme. Tuhan Yang Maha Esa itulah yang menciptakan manusia. Pandangan ini merupakan modal besar. Disamping itu, diyakini secara sempurana oleh setiap penganut Agama bahwa Tuhan yang merupakan sumber ajaran agama, tidak membutuhkan pengabdian manusia. Ketaatan dan kedurhakaan manusia tidak menambah dan mengurangi kesempurnaan-Nya. 

Dengan demikian, karakteristik ajaran Islam dalam visi keagamaanya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakandan saling menghargai karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian pada Tuhan. 


Kita harapkan dengan memaknai nilai-nilai ajaran agama dapat memberikan warna dalam tindakan kita. Sebab inilah buah yang dapat dipetik dalam menjalankan agama serta dapat mengangkat marbat manusia. Beragama tanpa disertai tindakan lanjut yang real adalah hampa. Progresif kita ke depan dengan modal moralitas yang terpuji diharapkan terciptanya komunitas yang homogen sebagai langkah awal menuju masyarakat yang ideal.




VI. ENDNOTE

[1] AM. Syaefuddin 1987, h. 138
[2] Yusuf Qardhawy 1999, h. 91-92
[3] A. Khusnul Hakim 2011, h. 89-90
[4] A. Khusnul Hakim, h. 90
[5] M. Utsman Najati 2005, h. 23
[6] M. Utsman Najati, h. 69
[7] M. Utsman Najati, h. 84
[8] A. Khalid Adam, dkk 2005, h. 223
[9] Louise Marlow 1999, h. 73
[10] Will Kymlicka 2002, h. 293
[11] Andi Abdul Muis 2001, h. 159
[12] AM. Syaefuddin 2010, h. 138-139
[13] AM. Syaefuddin 1987, h. 143
[14] Liek Wilardjo 2006, h. 248
[15] Liek Wilardjo, h. 249-248
[16] A. Khalid Adam, dkk, h. 228
[17] Louise Marlow, h. 73
[18] Louise Marlow, h. 106
[19] Muhammed Arkoun 2001, h. 101-102
[20] Muhammed Arkoun, h. 99-100
[21] Muhammed Arkoun, h. 145
[22] Abuddin Nata 2009, h. 2
[23] Andi Abdul Muis, h. 297
[24] A. Khusnul Hakim, h. 132

VII. DAFTAR PUSTAKA 
  • Allan, A. Khalid, dkk. (2005). Al-Quran dalam Keseimbangan Alam dan Kehidupan, Jakarta: Gema Insani. 
  • Arkoun, Muhammed. (2001). Islam Kontemporer: Menuju Dialog antar Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 
  • Hakim, A Husnul. (2011). Mengintip Takdir Ilahi: Mengungkap makna sunnatullah dalam al-Quran, Depok: Lingkar Studi al-Quran () 
  • Kimlicka, Will. (2002). Kewargaan Multikultural, Jakarta:Pustaka LP3ES 
  • Marlow, Louise. (1999). Masyarakat Egaliter: Visi Islam, Bandung: Mizan. 
  • Muis, Andi Andul. (2001). Komunikasi Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya 
  • Najati, M. Utsman. (2005). Psikologi dalam Al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia. 
  • Nata, Abuddin. (2009). Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT RawaGrafindo Press. 
  • Qardhawy, Yusuf. (1999). Anatomi Masyarakat Islam, Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 
  • Saefuddin, AM. (2010). Islamisasi Sains dan Kampus, Jakarta: PT PPA Consultans 
  • Syaefuddin, AM. (1987). Wawasan Kebudayaan Islam dalam Mewujudkan Tata Sosial yang Maju, dalam “Perspektif Islam dalam Pembangunan Bangsa”, Yogyakarta: PL2PM. 
  • Wilardjo, Liek, dkk. (2006). Ilmu, Etika dan agama: Menyingkap Tabir Alam dan Manusia, Yogyakarta: CRCS.

Salam Buat Semua !!! BUAT IndonesiaQ yang lebih Baik...

Download PDF :

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.