Aborsi Menurut Islam


Uraian berikut menyajikan empat kasus khusus dalam menanggapi kehamilan dan hukumnya melakukan aborsi. Kasus-kasus tersebut ialah kehamilan dalam kaitannya dengan faktor ekonomi, kehamilan akibat pergaulan seks bebas, kehamilan akibat pemerkosaan dan kehamilan dengan kemungkinan menghasilkan janin yang cacat. Keempat kasus diatas membuka peluang untuk mengakhiri kehamilan dengan aborsi. Walaupun demikian, pemahaman lebih lanjut mengenai kasusnya harus tetap berdasarkan pada ajaran-ajaran agama untuk menentukan apakah kebolehan melakukan aborsi pada masing-masing kasus di atas dapat dibenarkan. 


Pertama: Kasus kehamilan dalam relasinya dengan faktor ekonomi. Zaman Jahiliyah, orang musyrik membunuh anak perempuan dengan menguburnya hidup-hidup karena faktor sosial. Sekarang pun tampaknya pristiwa sejarah itu berulang lagi karena alasan ekonomi bahkan dalam perspektif yang berbeda. Jika zaman dahulu dibunuh setelah kelahirannya, adapun sekarang kadang-kadang belum lahir sudah mengalami pembunuhan. Firman Allah SWT:


وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ. ﴿سورة الأنعام : ۱٥۱﴾

Qurais Shihab menyebutkan bahwa motifasi pembunuhan yang dibicarakan dalam ayat diatas adalah kekhawatiran seorang ayah akan semakin terpuruk dalam kesulitan hidup akibat lahirnya anak. Karena itu, Allah segera memberi jaminan kepada sang ayah dengan menyatakan (نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ), “Kamilah yang memberi rezki kepadamu dan kepada mereka”. Pada ayat lain, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا. ﴿ سورة الإسراء : ۳۱ ﴾

Keterangan ayat diatas hampir sama dengan dengan ayat sebelumnya. Perbedaanya yaitu pada surah diatas, kemiskinan belum terjadi dengan kata lain baru dalam bentuk kekhawatiran yang ditunjukkan oleh kata “خَشْيَةَ” yang berarti takut. Kedua ayat diatas menekankan bahwa setiap insan dijamin rezeqinya oleh Allah. Dengan demikian, kasus kehamilan yang melakukan aborsi karena faktor kekhawatiran tidak sanggup menafkahi keluarganya atau kemiskinan yang dialaminya sama sekali tidak dibenarkan. Hal ini menunjukkan bahwa pembunuhan secara aborsi dalam kasus ini sama saja dengan pembunuhan setelah lahirnya dari perut ibunya sebagaimana yang telah dilakukan dahulu kala.

Kedua: Seks bebas dan Kehamilan. Prilaku ini diduga sebagai salah satu pemicu tingginya penyebaran HIV Aids. Pemecahan secara Islami terhadap hasil pergaulan seks bebas tentu saja tidak dengan memilih jalan aborsi. Islam justru mengecam perbuatan semacam ini dan menganggapnya sebagai kejahatan. Firman Allah SWT:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا ﴿۳۱﴾ وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا ﴿۳۲﴾ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا ﴿۳۳﴾. (سورة الإسراء : ۳۱ - ۳۳)

Kesimpulan dari ayat diatas dapat mengantarkan kita bahwa membunuh jiwa adalah haram selama tidak karena unsur yang membolehkannya. Dalam hal ini, aborsi terhadap kehamilan akibat pergaulan bebas sama halnya dengan membunuh jiwa karena palakunya melakukan hal tercela tersebut dengan unsur kesengajaan. Dalam Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia NOMOR: 4 TAHUN 2005 tentang ketentuan hukum memutuskan salah satu diantaranya bahwa Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina.

Ketiga: Perkosaan dan kehamilan. Perkosaan sama sekali tidak sama dengan perzinaan karena perkosaan melibatkan pemaksaan dan kekerasan. Untuk penyelesaian permasalahan ini dalam kaitannya dengan aborsi pada kehamilan akibat pemerkosaan dapat dilihat dalam Surah al-An’am ayat 151:

أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ. ﴿سورة الأنعام : ۱٥۱﴾

Hamka dalam tafsirnya, al-Azhar terkait ayat diatas menyebutkan lima perkara yang haram dilanggar dan wajib dilaksanakan yaitu, Hubungan dengan Allah; hubungan dengan kedua orang tua; memelihara anak keturunan; memelihara kesucian diri dari melakukan perbuatan zina dan memelihara kesucian diri dari melakukan pembunuhan. Terkait dengan hal ini, maka dapat dikatakan dalam kasus pemerkosaan telah melanggar hukum Allah, mengecewakan harapan kedua orang tua, merusak hubungan anak keturunan serta menodai diri dengan perbuatan yang tercela. Untuk kasus ini, kita simak pendapat Imam Qurtubi “air mani bukanlah sesuatu yang pasti (yaqinan) dan tidak ada konsekuensinya jika wanita segera mengeluarkannya sebelum ia menetap dalam rahim”. Ini artinya, secara medis dalam kasus perkosaan, diperbolehkan bagi korban untuk segera mendapat pengobatan dalam mencegah kehamilan.

Pertimbangan lainnya seperti disebutkan kaidah fiqih: Pertama, Menghindarkan kerusakan (hal-hal negatif) diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatan; kedua, Keadaan darurat membolehkan hal-hal yang dilarang (diharamkan). Sehingga dapat disimpulakan bahwa aborsi dapat dilakukan karena kehamilan akibat pemerkosaan. Penulis juga memandang bahwa aborsi kategori ini termasuk pengecualian yang dimaksud dalam ayat (وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ) yang boleh dibunuh karena dengan alasan yang dibenarkan syariat.

Keempat: Pertumbuhan Janin Mengalami Cacat. Kemajuan dalam bidang teknologi biomedis modern sekarang tentunya memberikan kemudahan dalam kasus semacam ini. Kasus ini memerlukan analisa pada persoalannya yang diteliti sampai pada akar penyebabnya. Hal ini diperlukan agar kobelahan melakukan aborsi dalam kasus ini tidak dianggap sebagai jalan pintas dan juga untuk meminalisir pelecehan seksual. Sebab, menurut beberapa penelitian bahwa dalam kasus pelecehan seksual akan mengakibatkan janin yang dikandungnya mengalami cacat. Itulah sebabnya, Arab Saudi berfatwa mengenai aborsi dalam masalah ini sama sekali tidak dibolehkan.

Kita tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa takdir dari janin catat tentu saja merupakan persoalan yang kompl. Sejauh meyangkut masalah janin cacat, Islam menganjurkan untuk mengambil langkah-langkah pencegahan guna menghindari lahirnya bayi-bayi cacat daripada mengugurkan mereka. Fatwa MUI menyebutkan keadaan darurat dan hajat tentang kehamilan dengan pertumbuhan janin cacat yang membolehkan aborsi adalah: (1) Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter; (2) Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu; (3) Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetik yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan.

Menurut kami, solusi dalam masalah ini dapat disimpulkan bahwa hukum aborsi terhadap janin yang mengalami pertumbuhan Janin catat adalah haram kecuali jika terdapat pertimbangan lain yang lebih maslahat. Para ulama sangat ketat dalam menetapkan hukum mengenai hal ini karena sumber persoalannya akibat pelakunya sendiri seperti dalam kasus pelecehan seksual dan semacamnya. Adapun kebolehan melakukan aborsi dalam kasus ini karena atas pertimbangan kemaslahatan sehingga dalam perspektif ini tidaklah haram. Ini berarti termasuk apa yang dimaksud pada redaksi ayat (وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ). Aborsi jenis ini dikalangan Ulama disebut dengan istilah Isqath al-Dharury atau Isqath al-Ilajiy yang berarti aborsi darurat atau aborsi pengobatan. Marilah kita renungkan nasihat yang diberikan oleh Nabi Muhammad dalam sabdanya: “Nikahilah suku yang jauh (bukan family) untuk menghindari keturunan yang lemah”.

Wallahu A’lam bi al-Shawab!

PDF DOWNLOAD [ARTIKEL] & [MAKALAH]
                                  
Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta]
Label: ,

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.