Sistematika Penyusunan Ayat al-Quran

Ijma ulama sepakat bahwa urutan ayat sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dalam mushaf-mushaf adalah berdasarkan tauqifi (ketetapan Rasul atas petunjuk Wahyu). Jibril atas titah Allah memerintahkan Nabi untuk meletakkan ayat pada tempatnya masing-masing. Lalu nabi pun memerintahkan sekretarisnya untuk melaksanakan titah itu. Ra’yu dan Ijtihad tidak mamiliki kesempatan di dalamnya. Jibril membawa ayat-ayat itu kepada Rasulullah SAW dan memberikan bimbingan letak ayat itu dalam suratnya.[1]

Berbicara mengenai penempatan ayat-ayat dalam surah-surah Al-Quran berbeda dengan penempatan surah. Dalam pembahasan penyusunan surah perselisihan pendapat berlangsung cukup seru. Dalam hal ini nampak perimbangan antara pendukung tauqifi dan Ijtihadi boleh dibilang sama-sama kuat. Adapun dalam pembahasan penempatan ayat-ayat perselisihan tidak setajam di atas. Dalil-dalil naqli pun cukup kuat dalam persoalan ini.[2]

Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan ketiga orang pemilik kitab As-Sunan dari Riwayat Ibnu Abbas, dari Usman bin Affan dijelaskan bahwa apabila turun ayat kepadanya Nabi memanggil sebagian sekretarisnya dan bersabda: 

“letakanlah ayat ini pada surah yang di dalamnya terdapat ayat ini...ini...” 

Hadis diatas memberikan kepastian kuat bahwa susunan ayat pada mushaf Usman berasal dari bacaan sendiri. Dalam kaitan ini pun, para ulama telah sepakat bahwa susunan ayat itu bersifat tauqifi dan didukung oleh nash-nash yang shahih. Diantara hadis-hadis yang mendukungnya adalah berikut ini:[3]

1) Al-Bukhari telah mengeluarkan sebuah Hadis dari Ibnu Az-Zubair. Ibnu Az-Zubair berkata kepada Usman bin Affan, “ayat 240 dari surah Al-Baqarah telah dinasikh oleh ayat lain, lalu engapa engkau tetap menulisnya?” Usman menjawab, “wahai anak saudaraku, saya tidak akan mengurangi satu ayat pundari tempatnya”. Ibnu Az-Zubair memahami bahwa ayat yang telah dinasikh seharusnya tidak ditulis, tetapi Usman pun memahami bahwa perintah penetapan ayat pada tempanya berdasarkan tauqifi dan tidak ada seorang pun dapat merubahnya. 

2) Muslim mengeluarkan sebuah Hadis dari Umar. Umar pun berkata: “Aku belum pernah bertanya kepada Nabi sesering pertanyaanku tentang Kalalah sampai-sampai Beliau menunjuk dadaku dan Bersabda, “tidak cukupkah engkau dengan ayat Ash-Shahif pada surah An-Nisa?”. Dalam hadis ini, kita bisa melihat bahwa Nabi SAW menunjukan kepadanya tempat di mana ayat itu berada yakni pada surah An-Nisa’ sebagaimana yang kita lihat sekarang, yaitu firman Allah SWT: 

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ﴿ النساء : ١٧٦﴾ 

Sekilas Ibrah Eksistensi Mengetahui Hal-Ihwal Ayat

Al-Quran sebagai kitab suci Umat Islam merupakan pedoman hidup dunia-akhirat. Bagi umat Islam, dalam membahas masalah Al-Quran, tak ada sumber yang lebih bernilai ketimbang Al-Quran itu sendiri. Dalam hal ini, pemahaman terhadap ayat-ayatnya pun memiliki peranan penting untuk memahami Al-Quran. Adapun pemahaman terhadap ayat yang dimaksud ialah jumlah ayat, batas awal ayat, serta akhir sebuah ayat. 



Diantara manfaat yang dapat dipetik terhadap pemahaman ayat adalah mengetahui waqaf. Berhenti pada pangkal ayat menurut hadis merupakan kesunnahan. Disamping itu juga, mengetahui ayat-ayat, jumlahnya dan fashilah-fashilahnya memiliki sejumlah konsekuensi hukum. 

Disamping pemahaman tentang ayat, mengetahui yang pertama dan terakhir turun adalah sesuatu yang sangat penting. Diantara fungsi mengetahui yang pertama dan terakhir diturunkan adalah: 

  1. Dapat membedakan yang Nasikh dan yang di Mansukh. Bila ada dua atau lebih ayat yang memiliki objek yang sama, dimana hukum yang terkandung dalam salah satu ayatnya berbeda dengan hukum yang terkandung dalam ayat lainnya.
  2. Fungsi lainnya adalah mengetahui sejarah pembentukan hukum Islam, mengamati pentahapannya, mengenal kebijaksanaan dan strategi yang ditempuh Islam dalam mengadili masnyarakat, baik dalam menghancurkan kebatilan yang mereka lakukan ataupun dalam membangun prilaku positif yang belum mereka kenal.
  3. Disamping kedua fungsi diatas, yaitu menampakan sejauh mana perhatian yang diberikan Al-Quran Al-karim sehingga dapat diketahui yang pertama dan yang terakhir diturunkan, yang shafari dan yang hadhari, dan lain-lain.


ENDNOTE

[1]Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, Manahil Al- Urfan fii’ Ulum Al-Quran (Jakarta: Graya Media Pratama, 2001), Bab Ayat yang pertama dan terakhir diturunkan, hal 363
[2]Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran, Bab Surah dan Ayat Al-Quran, hal. 99.
[3]Drs. Rosihon Anwar, Mag, Samudera Al-Quran (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001), Bab Jumlah Ayat Al-Quran, hal 57-58

Disusun Oleh: Ahmad ZulkiMuhammad Saharuddin dan Hasrul
File PDF [Poin D & E] : Download

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.