Perspektif Berfikir dalam al-Quran

Secara fitrah, Manusia dan Hewan sama-sama mempunyai kemampuan persepsi indrawi. Akan tetapi, Allah SWT menganugerahkan juga akal kepada manusia. Dengan akal itulah manusia dapat melampaui segala sesuatu yang dapat dipersepsi. Manusia dapat memikirkan pengertian-pengertian yang abstrak. Misalnya tentang kebaikan dan keburukan, keutamaan dan kehinaan serta kebenaran dan kebatilan. Hanya saja, kemampuan akal manusia dalam persepsi dan pengetahuan itu terbatas. Dalam Al-Qur’an, tema persepsi manusia diangkat dan digabungkan dalam penceritaan sebuah peristiwa historis. Dalam kisah Nabi Musa a.s. misalnya, tatkala Musa tampil dengan mukzijat yang dianugrahkan Allah padanya. Raja Fir’aun mempersepsikan sebagai korban sihir sebagaimana ia sering saksikan. Surat Al-Israa’ ayat 101 memperjelas: 

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا ﴿الإسراء : ١٠١﴾ 

artinya: 
“Dan Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, Maka Tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu, Hai Musa seorang yang kena sihir". 

Persepsi adalah tindak lanjut dari sensasi. Tidak ada persepsi tanpa sensasi karena persepsi adalah pemberian makna pada stimulus yang ditangkap oleh alat-alat indra. Persepsi dan sensasi amat bergantung pada fakta personal dan situasional. Persepsi membantu manusia bertindak dan memahami dunia sekelilingnya karena persepsi adalah mata rantai terakhir dalam suatu peristiwa yang saling terkait. Sekuler dan Blake (1985:1) memaparkan bahwa “perception is the final linkin a chin of related events. Mata rantai itu dimulai dari faktor eksternal yang ditangkap oleh organ-organ indra, selanjutnya dikirim dan diproses didalam otak untuk mendapat kopi arsip yang telah tersimpan. Namun, hasil persepsi mengandung dua kemungkinan: bisa benar atau salah. Persepsi dianggap benar jika ada kesesuaian antara apa yang dipahami (dipersepsikan) dengan stimulus atau obyek sebenarnya dan persepsi salah apabila tidak ada sinkronitas antara keduanya. 

Di dalam Al-Quran, kata ‘aql tidak ditemukan dalam bentuk kata benda. Tetapi dalam bentuk kata kerja, baik bentuk lampau (fī’l madhi) maupun sedang dan yang akan datang ( fī’l mudhari ). Hal ini dapat dipahami bahwa akal haruslah berfungsi karena yang bermakna bagi kehidupan adalah aktivitasnya. Orang yang tidak mau memfungsikan akalnya dalam menalar berbagai peristiwa disekelilingnya dicela oleh Al-Qur’an. Beberapa ayat dalam masalah ini dapat dibaca, misalnya surat: (2:44,171); (5:58); (6:32); (12:109); (28:60); (29:63). Sebaliknya Al-Qur’an sangat bersimpati kepada orang yang mau menggunakan akalnya untuk memikirkan fenomena alam sebagai tanda kebesaran Allah. Dalam Surat Al-baqarah ayat 164, Allah menjelaskan hal tersebut: 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿البقرة: ١٦٤﴾ 
artinya: 
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengeseran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. 

Kata akal berasal dari Bahasa Arab, al-‘aql. Kata ini terambil dari kata ‘iqal (al-bā’ir) atau tali kencangan unta, artinya mencegah orang berakal sehat untuk tidak lepas atau keluar dari jalur yang benar (Jurjani 1405 H : l, 198). Jurjani juga mengintroduksi berbagai jenis akal, yaitu : 
  1. al-‘aql al-hayulani (akal materi), 
  2. al-‘aql bi al-malakah (akal potensi), 
  3. al-‘aql bi al-fi’l (akal aktual), dan 
  4. al-aql al mustafad (akal perolehan). 
Untuk pemahaman lebih luas tentang hal ini, lihat Harun Nasution (1986: 11). Pemaknaan terhadap kata ‘aql ini sangat beragam, namun Jurjani lebih menjelaskan bahwa yang tepat adalah bahwa akal itu merupakan esensi tunggal yang memahami hal-hal bastrak melalui perantara-perantara (mekanisme) tertentu dan mengetahui benda-benda kongkrit melalui indra. 

Fungsi akal adalah menerima dan memproses berbagai informasi yang diterima melalui alat-alat indra kemudian disimpan dan dimunculkan kembali pada saat diperlukan. Fungsi ini dalam Psikologi dikenal dengan istilah kognisi. Manusia mendapat anugrah dari Allah SWT berupa kemampuan mengenal, mengetahui dan mengungkapkan kembali berbagai hal yang diketahuinya. Kemampuan Adam a.s. mengungkapkan al-asma’ (nama-nama) atau nama benda-benda yang telah ia ketahui melalui proses belajar merupakan kemampuan kognisi yang tidak dimiliki oleh para malaikat (2:31-33). 

Kognisi sebagai salah satu instrumen yang menjadi modalitas bagi manusia memegang peran penting dalam kehidupan manusia. Pengalaman-pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan akal disimpan didalam gudang memori untuk dijadikan bahan pengetahuan yang mungkin dibutuhkan pada suatu waktu. Informasi yang tersimpan di dalam gudang memori selamanya akan terendap disitu hingga suatu saat diperlukan dan dipanggil kembali (recall). Apa yang disebut ‘lupa’ sejatinya hanya ketidakmampuan kita menemukan informasi itu ditempat penyimpanannya didalam gudang memori. Manusia dengan berbagai upaya dapat meningkatkan kemampuannya mengingat berbagai informasi (data) yang diperlukan dalam kehidupannya. 

Pemakaian kata ‘aql dan derivatnya di dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 49 tempat. Namun, terdapat pula kata-kata lain selain kata ‘aql yang merujuk pada makna akal atau fungsionalisasi akal yang digunakan secara berganti di dalam Al-Qur’an,yaitu: 
  1. Nazhara yang berarti berfikir dan merenung (diserap dalam bahasa Indonesia menjadi menalar) yang termaktub dalam surat (50:6-7); (86:5); (88:17); 
  2. Faqiha dan Fahima (memahami, mengerti) misalnya surat (6:65,98); (17:44); (20:28); (21:79); 
  3. Tadabbara, Tafakkara, dan Tadzakkara (merenung, berfikir, mengingat atau mempelajari suatu objek) misalnya surat (38:29); (47:24); (16:17,69); (6:80,152); (10:3); 
  4. Ulûalbâb (yang memiliki akal), 
  5. Ulû al-ilm (yang memiliki ilmu), 
  6. Ulûabshâr (yang mempunyai pandangan), dan 
  7. Ulû an-Nuhâ (yang memiliki pemahaman, kearifan) misalnya surat (2:179,197,269); (3:70,18,190); (12:111); (39:21); (24:44); (20:54,128). 
Dari sekian banyak ayat yang berbicara tentang fungsi akal pada manusia. Tampaknya akal tidak dulu memproses informasi menjadi pengetahuan yang tersimpan di dalam memori, tetapi juga memberikan dorongan moral kepada pemiliknya untuk melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Menurut Qurais Shihab (1996 : 294-295), akal mempunya tiga daya sebagaimana dapat dipahami dari penuturan ayat-ayat Al-Qur’an: 
  1. Pertama, daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, 
  2. Kedua, dorongan moral (daya untuk mengikuti nilai-nilai moral), dan 
  3. Ketiga, daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah.
Sejarah menunjukan bahwa kemajuan atau kemunduran suatu bangsa terkait sangat erat dengan dinamika intelektual bangsa bersangkutan. Bangsa Babilonia, Yunani, Arab dan kemudian Eropa adalah contohnya hubungan tersebut. Bangsa Yunani yang kesohor dengan para filosofnya segera tenggelam setelah nafsu berpikir mereka meredup. Bangsa Arab yang semula hidup dalam kungkungan tradisi jahiliah, tiba-tiba menguasai dunia setelah mengembangkan budaya berpikir yang diajarkan Islam. Akan tetapi, ketika tradisi berpikir itu melemah dan menghilang, mereka didominasi oleh bangsa Eropa yang telah mengalami pencerahan setelah berabad-abad hidup sebagai barbar. 

Setelah berhasil mengantarkan bangsa Arab sebagai pusat peradaban dunia dan kemudian bangsa Eropa (yang banyak mengadopsinya), maka umat Islam tidak boleh ragu bahwa Islam membawa konsep terbaik bagaimana suatu masyarakat seharusnya dikelola agar mencapai puncak kejayaan. Salah satunya adalah bagaimana membentuk masyarakat dengan tradisi intelektualitas yang kreatif sehingga melahirkan inovasi-inovasi brilian. Bagaimana konsep Al-Qur’an dan As-Sunnah (yang adalah sumber ajaran Islam) dalam hal ini ? Dari wahyu pertama yang disabdakan kepada Nabi, yaitu : 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿العلق: ١﴾ 

Ayat di atas memberikan penjalasan bahwa Islam mengajurkan, lebih tepatnya memerintahkan kepada manusia untuk mengeksplorasi kemampuan berpikirnya dimulai dengan membaca (dalam pengertian yang luas). Kemampuan intelektual inilah yang membedakan eksistensi manusia dari makhluk lain, sehingga manusia menjadi makhluk paling unggul bahkan di atas malaikat sekalipun. Seperti tercermin dalam kisah Nabi Adam yang mengalahkan para Malaikat sehingga memaksa mereka bersujud menghormati Adam. Karena itu, ketika membahas tentang tauhid sebagai esensi peradaban Islam, Ismail R. Al-Faruqi menyatakan bahwa salah satu aspek dari tauhid adalah rasionalisme. Rasionalisme di sini bukan berarti mendewakan akal dan mengesampingkan wahyu, tetapi rasionalisme dengan tiga watak, yaitu: 
  1. Penolakan terhadap hal-hal yang tidak berkaitan dengan realitas, 
  2. Pengingkaran terhadap adanya pertentangan-pertentangan pokok, dan 
  3. Selalu terbuka pada hal-hal yang baru atau berbeda. 
Dengan ketiga prinsip ini, umat Islam akan terhindar dari klaim atas suatu kebenaran berdasarkan dugaan (dzan) semata sehingga mendorong eksperimentasi, sikap mempertentangkan satu pandangan dengan pandangan lain, dan terhindar dari sikap literal, fanatik dan stagnan. 

Allah SWT mendorong manusia untuk memikirkan alam, memperhatikan fenomena-fenomena alam yang beragam serta memperhatikan keindahan ciptaan-ciptaanya dan keterpaduan sistemnya. Allah SWT juga mendorong manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang hukum-hukum Allah di semua bidang ilmu pengetahuan. Dorongan untuk mengadakan observasi, berfikir, meneliti dan memperoleh ilmu tersebut, kita temukan pada banyak tempat dalam al-Quran, diantaranya: 

Pertama: 

قُلْ سِيرُواْ فِي الأَرْضِ ثُمَّ انظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ﴿الأنعام: ١١﴾ 

artinya: 
“Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. 

Kedua: 

وَإِلَى السَّمَاء كَيْفَ رُفِعَتْ . وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ . وَإِلَى الأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ . فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ . لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ ﴿الغاشية: ١٨-٢٢﴾ 

artinya: 
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimanaia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimanaia ditegakkan? Dan bumi bagaimanaia dihamparkan ? Maka berilah peringatan, Karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. 

Ketiga: 

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ ﴿ الطارق: ٥﴾ 

artinya: 
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan”. 

Selain itu, pemikiran manusia bisa juga salah. Dengan begitu manusia membutuhkan orang yang membimbing, Mengarahkan dan mengajarinya. Oleh sebab itu Allah mengutus para nabi dan Rasul kepada manusia serta menurunkan kitab suci untuk membimbing ke jalan yang benar. 

Al-quran telah menerangkan beberapa faktor terpenting yang menghalangi berpikir dan menyebabkan kejumudan berfikir. Kejumudan berfikir inilah yang menjadi penghalang antara manusia, kebenaran dan hukum-hukum yang shahih terkait dengan persoalaan yang menjadi perhatiannya. Faktor-faktor tersebut ialah: 

a. Berpegang pada pemikiran-pemikiran lama 

Berpegang pada pemikiran-pemikiran lama serta pada tradisi dan kebiasaan merupakan faktor utama yang menyebabkan kejumudan serta keengganan menerima pemikiran-pemikiran baru yang ada di hadapanya. Biasanya, manusia cenderung berpegang pada pemikiran-pemikiran yang sudah akrab dengannya dan juga kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlaku dan diterima. 

Al-quran telah menerangkan banyak manusia di semua kurun sejarah yang berpegang pada kenyakinan dan peribadadahan luhur mereka. Akibatnya, mereka tidak dapat merenungkan kenyakinan Tauhid yang diserukan para Nabi dan Rasul dengan pemikiran yang bebas dari segala ikatan kebiasaan, tradis dan pemikiran lama. Taklid kepada leluhur serta berpegang pada pemikiran, kebiasaan dan tradisi mereka merupakan beberapa faktor utama yang menyebabkan kejumudan berfikir. Hal itu menyebabkan mereka sulit untuk menanggalkan semua itu dan menerima Agama Tauhid yang di dakwahkan oleh Nabi dan Rasul kepada mereka. 

قَالُواْ أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا ﴿ يونس: ٧٨﴾ 

artinya: 
“mereka berkata, apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati dilakukan oleh para leluhur kami”. 

b. Ketakcukupan data 

Tidaklakh mudah bagi manusia untuk berfikir secara valid tentang suatu permasalahan tampa memiliki data yang cukup dan informasi penting yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang difikirkan itu. Pemikirannya tidak akan pernah samapi pada konklusi yang benar. 

Tidak ditemukannya data, Informasi dan fakta yang mencukupi merupakan faktor yang menyebabkan banyaknya kesalahan berfikir di kalangan manusia. Al-quran telah mengisyaratkan pentingnya mengetahui permasalahan supaya dapat sampai pada kebenaran tentang permasalahan tersebut. Al-Quran melarang kita berfikir dan mengemukakan pemikiran yang kita dengar tampa memliki pengetahuan tentangnya serta tampa dalil dan bukti yang kebenarannya jelas. 

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً ﴿ الإسراء: ٣٦﴾ 

artinya: 
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. 

c. Bias emosi dan perasaan 

Segala kecenderungan, motivasi, emosi dan perasaan manusia akan memberikan pengaruh kepada pemikirannya dan membuatnya terjebak pada kesalahan-kesalahan parsialistik. Beberapa studi, eksprimen modern dalam bidang psikologi telah mengungkapkan terjadinya kesalahan berfikir sebagai akibat bias emosi dan perasaan. 

Al-quran telah mengisyratkan pengaruh hawa nafsu terhadap manusi serta penyimpangan berfikir yang ditimbulkan dalam menentukan sikap yang benar. Akibatnya, ia menjadi sesat dan tak dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan keburukan, serta petunjuk dan kesesatan. 

فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا ﴿ النساء: ١٣٥﴾ 

artinya:
“Maka janganlah kalianmemperturutkan hawa nafsu agar tidak menyimpang dari kebenaran”. 

Pada ayat lain, disebutkan : 

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ ﴿ الروم: ٢٩﴾ 

artinya: 
“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang Telah disesatkan Allah? dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun”. 

Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu serta terpengaruh oleh kecenderungan psikologis dan keadaan emosional membuat manusia bersikap bias dalam pemikiran dan keputusan-keputusan yang di buatnya. Keadaan inilah yang menimbulkan kesalahan-kesalahan berfikir. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemikir untuk membebaskan pengaruh kecenderungan, emosi, dan fanatisme yang membelenggu dan menghalangi pemikirannya untuk sampai pada kebenaran.

Daftar Pustaka 
  • Departemen Agama RI. 2005. Al-quran dan terjemahannya. PT Syaamil Cipta Media. Jakarta. 
  • Anwar, Rosihon. 2005. Psikologi dalam Al-quran. CV Pustaka Setia. Bandung (Anngota IKAPI Jawa Barat). 
  • DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA. Mencerdaskan Bangsa dalam Perspektif Al-Qur'an dan As- Sunnah. 
  • Hude, Darwis. 2006. Emosi (Penjelajahan Religio-Psikologis Tentang Emosi Manusia di dalam Al- Quran).Erlangga. Jakarta. 
  • Written by Admin. Akal Menurut Perspektif Al-Quran & Sains. Friday, 13 March 2009 15:54

Created by Hasrul BS
Label: ,

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.