Kemunculan dan Perkembangan Ulumul Hadis

Ilmu hadits dalam perkembangannya terkelompokkan menjadi dua bagian penting, yaitu ilmu hadîts riwâyah dan ilmu hadîts dirâyah. Di antara keduanya itu, yang muncul pertama kali adalah ilmu hadîts riwâyah. Kemunculannya ditandai dengan munculnya hadits yang pertama kali diriwayatkan dari Rasulullah Saw, yaitu hadits permulaan wahyu. Dari sinilah ilmu hadits riwâyah mulai dikenal,lalu berkembang seiring dengan proses transmisi yang berkesinambungan. Adapun ilmu hadîts dirâyah juga sudah mulai muncul sejak masa-masa awal proses transmisi. Hal yang demikian itu adalah sebuah keniscayaan, karena sebuah proses transmisi tidak akan berjalan dengan solid tanpa diiringi proses otentifikasi. Dan proses otentifikasi inilah yang membidani lahirnya ilmu hadîts dirâyah dengan berbagai cabangnya. Kemudian dari kedua kelompok ilmu hadits ini, kita akan mencoba untuk mengenal lebih jauh turats hadits dan sejarah perkembangannya dari masa ke masa. 


a. Ilmu Hadîts Riwâyah Pra Kodifikasi 

Masa pra kodifikasi hadits dimulai dari sejak munculnya hadits pertama yang diriwayatkan dariRasulullah Saw, sampai turunnya perintah resmi dari khalifah Umar ibn Abdul Aziz kepada para ulama untuk melakukan kodifikasi hadits. Dengan demikian, rentang waktu yang dilalui masa pra kodifikasi ini mencakup dua periode penting dalam sejarah transmisi hadits, yaitu periode kenabian dan periode Sahabat. 

Pada dua periode ini, metode transmisi yang digunakan kebanyakan adalah metode lisan. Meskipun demikian, tidak sedikit juga para Sahabat yang melakukan pencatatan hadits secara personal, dan itu mendapatkan izin dari Rasulullah Saw. Benar pada permulaan turunnya wahyu, Rasulullah Saw pernah melarang para sahabat untuk mencatat selain al-Quran. Akan tetapi larangan tersebut bukanlah larangan yang bersifat mutlak, atau larangan tersebut merupakan larangan yang bersifat sementara, sampai para Sahabat benar-benar dapat membedakan antara al-Quran dan yang lainnya. Hal itu terbukti dengan adanya beberapa Sahabat yang mendapatkan izin dari beliau untuk melakukan pencatatan hadits, seperti Abdullah bin Amr ra, Rafi' bin Khadija ra, Abu Syah dan yang lainnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada masa pra kodifikasi ini sebagian besar hadits telah ditransmisikan melalui lisan dan hafalan. Namun hal ini sama sekali tidak mengurangi tingkat keotentikan hadits-hadits tersebut. Karena para Sahabat yang menjadi agen transmiter dalam hal ini, disamping sosok mereka yang sangat loyal terhadap Rasul Saw dan terpercaya, mereka juga dikaruniai hafalan yang kuat, sehingga dengan itu, kemampuan mereka untuk mentransmisikan hadits dari Rasulullah Saw secara akurat tidak diragukan lagi. 

Selain itu, metode lisan ini juga tidak menafikan adanya sejumlah Sahabat yang telah mentransmisikan hadits melalui catatan-catatan yang mereka buat. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya bebrerapa shahifah yang pernah ditulis pada rentang masa tersebut. Berikut ini adalah beberapa nama shahifah yang dimaksud: 

1) Shahîfah al-Shadiqah, ditulis oleh Abdullah bin Amr ra., 

2) Shahîfah Jabir bin Abdullah ra., 

3) Shahîfah Ali bin Abi Thalib ra., 

4) Shahîfah Hammam bin Munabbih, ditulis oleh Hammam dari riwayat Abu Hurairah ra., 

5) Shahîfah Samurah bin Jundub ra., 

6) Shahîfah Sa'd bin Ubadah ra. 

b. Ilmu Hadits Dirâyah Pra Kodifikasi 

Pada masa pra kodifikasi ini, sudah mulai muncul benih-benih yang akan menjadi titik tolak berkembangnya ilmu hadîts dirâyah. Hal itu dapat dilihat dari sikap para Sahabat yang sangat teliti dan hati-hati dalam meriwayatkan hadits. Sikap tatsabbut yang diperlihatkan oleh para Sahabat tersebut merupakan titik awal dalam sejarah perkembangan ilmu hadîts dirâyah. 

Kemudian paska terjadinya fitnah, sikap yang demikian itu semakin nampak ke permukaan. Hal itu telah digambarkan oleh Ibnu Abbas ra. dengan jelas, dia berkata, "Jika kami mendengar ada seseorang berkata, "Rasulullah Saw bersabda", maka kami langsung mendatanginya, dan mendengarkan apa yang dikatakannya. Lalu ketika orang-orang sudah mulai melakukan apa saja, tanpa membedakan antara hal yang terpuji dan yang tercela (paska terjadinya fitnah), maka kami tidak mengambil (hadits) dari mereka, kecuali apa yang kami tahu (kebenarannya)". Sikap tatsabbut yang dikembangkan oleh para Sahabat tersebut merupakan sebuah bentuk usaha otentifikasi hadits. Dan itu merupakan inti dari ilmu hadîts dirâyah itu sendiri. Karena ilmu hadîts dirâyah sebenarnya adalah bentuk aplikasi dari usaha otentifikasi yang dilakukan oleh para ulama.

Disusun Oleh Akbar Ramadhan, H. Cecep Muhtadin dan Fuad Hakim
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.