Islam dan Kemiskinan

Perhatian agama Islam terhadap masalah kemiskinan sangat besar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “miskin” diartikan tidak berharta benda; serba kekurangan atau berpenghasilan rendah. Sedangkan “fakir” diartikan sebagai orang yang sangat berkekurangan atau sangat miskin. Adapun dalam bahasa Arab, kata miskin terambil dari kata “sakana” yang berarti diam atau tenang. Sedangkan faqir dari kata “faqr” yang pada mulanya berarti tulang punggung. Faqir adalah orang yang patah tulang punggungnya, dalam arti bahwa beban yang dipikulnya sedemikian berat sehingga mematahkan tulang punggungnya. 


Al-Qur'an menyebut kata miskin dan masakin sebanyak 25 kali, sementara faqir dan fuqoro sampai 14 kali (Muhammad Abdul Baqi'). Memperhatikan akar kata “miskin” yang disebut di atas dapat berarti diam atau tidak bergerak. Sebab faktor utama penyebab kemiskinan adalah sikap berdiam diri, enggan, atau tidak dapat bergerak dan berusaha. Keengganan berusaha adalah penganiayaan terhadap diri sendiri, sedang ketidakmampuan berusaha antara lain disebabkan oleh penganiyaan manusia 1ain. Ketidakmampuan berusaha yang disebabkan oleh orang lain diistilahkan pula dengan kemiskinan struktural. 


Dalam Islam ada dua Madzhab dalam menjelaskan tentang siapa sebenarnya yang disebut miskin itu. Pertama, madzhab Hanafi dan Maliki yang berpendapat miskin itu adalah orang yang tidak mempunyai sesuatupun juga. Kedua, madzhab Hambali dan Syafi'i yang menyatakan miskin itu adalah orang yang mempunyai seperdua dari keperluannya atau lebih tetapi tidak mencukupi. Dalam kehidupan kita, biasanya kata miskin dijadikan kata majemuk dengan faqir, sehingga menjadi faqir miskin yang artinya kurang lebih sama. Menurut hemat penulis, faqir dapat disamakan dengan kemiskinan absoulut dan miskin dengan kemiskinan relatif. 

Sumber daya alam yang disiapkan Allah untuk umat manusia tidak terhingga dan tidak terbatas. Seandainya sesuatu telah habis, maka ada alternatif lain yang disediakan Allah selama manusia berusaha. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk berkata bahwa sumber daya alam terbatas. Tetapi sikap manusia terhadap pihak lain dan sikapnya terhadap dirinya itulah yang menjadikan sebagian manusia tidak memperoleh sumber daya alam tersebut. Pada sisi lain, kemiskinan terjadi akibat adanya ketidakseimbangan dalam perolehan atau penggunaan sumber daya alam yang diistilahkan dengan sikap aniaya atau karena keengganan manusia menggali sumber daya alam itu sendiri. 

Pendekatan kontemporer melihat bahwa penyebab kemiskinan bisa dilihat dari tiga teori berikut ini: Pertama, teori yang menekankan kepada pada nilai-nilai. Mereka miskin karena mereka bodoh, malas, tidak ulet, tidak mempunyai prestasi, fatalistik. Kedua, teori yang menekankan pada organisasi ekonomi masyarakat. Teori ini menganggap orang itu miskin karena kurangnya peluang dan kesempatan untuk memperbaiki hidup mereka. Ketiga, teori yang menekankan pada pembagian kekuasaan dalam struktur sosial dan tatanan masyarakat.Tatanan dan struktur masyarakat yang ada dianggap sebagai hasil paksaan (bukan konsensus) sekelompok kecil anggota masyarakat yang berkuasa dan kaya akan mayoritas warga masyarakat miskin, dan inilah yang menjadi sebab kemiskinan. 

Jalan keluar dari teori ini bermacam- macam pula. Bagi teori pertama caranya mereka harus dicerdaskan, sedangkan bagi teori kedua caranya adalah perlu adanya industrialisasi agar ada tetesan kebawah. Bagi teori ketiganya yang di perlukan adalah perombakan struktur. Dilihat dari beberapa teori tersebut ada beberapa pendekatan dalam memahami kemiskinan dan penyebab yang dapat disederhanakan, yaitu sebab kultural yang dilatari oleh teori kapitalisme dan sebab struktural yang dilatari oleh oleh teori markisual. Namun masih ada sebab lain yang tidak boleh dilupakan yaitu peristiwa-peristiwa alam dan lain sebagainya. 

Dalam rangka mengentaskan kemiskinan, Al-Quran menganjurkan banyak cara yang harus ditempuh, yang secara garis besar dapat dibagi pada tiga hal pokok, yaitu Kewajiban setiap individu, Kewajiban orang lain/masyarakat, Kewajiban pemerintah. Kerja dan usaha merupakan cara pertama dan utama yang ditekankan oleh Kitab Suci Al-Quran, karena hal inilah yang sejalan dengan naluri manusia, sekaligus juga merupakan kehormatan dan harga dirinya. 

“Dijadikan indah dalam (pandangan) manusia kesenangan kepada syahwat, berupa wanita (lawan seks), harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup duniawi. dan di sisi Allah tempat kecuali yany baik”  QS Ali 'Imran: 14) 

Yusuf Qardawy menyatakan bahwa kemiskinan bisa diberantas kalau setiap individu mencapai taraf hidup yang layak didalam masyarakat. Dan untuk mencapai taraf hidup yang diidealkan itu islam memberikan kontribusi berbagai cara dengan jalan sebagai berikut: Setiap individu dituntut untuk bekerja, Mencukupi keluarga yang lemah, Al-Khizanah al-Islamiyah (sumber Material dalam Islam atau Baitul Mal), zakat dan shodaqah. Al-Qur'an telah menekankan pesan beberapa kali bahwa kaum muslimin tidak menahan kekayaan dan pendapatan mereka hanya untuk diri mereka sendiri. Melainkan setelah memenuhi kebutuhan mereka mencukupinya, mereka harus melaksanakan kewajiban terhadap keluarga dekat kepada para tetangga, serta orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan di dalam komunitas tersebut serta diwajibkan untuk memperhatikan kepentingan-kepentingan para fakir miskin. 

Tindakan yang dimaksudkan oleh Islam itu adalah Pertama, Tindakan positif yang dipakai untuk mencegah pemusatan kekayaan dan membantu menyebarkan di dalam masyarakat. Misalnya, menyebarkan zakat kedalam masyarakat serta hukum waris. Upaya ini untuk membina dan mempertahankan keadilan sosial di dalam kontinuitas masyarakat. Kedua, tindakan-tindakan pelarangan yang dipergunakan untuk mencegah timbulnya praktik-praktik yang tidak sehat, penumpukan harta, pengeluaran yang sia-sia dan lain sebagainya. 

Untuk mencapai cita-cita keadilan ekonomi dalam masyarakat sebagai mana di sebutkan di atas, Islam mempersembahkan cita-cita yang sangat tinggi pada individu agar hidupnya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan perut. Dengan demikian, Islam merupakan alternatif dalam pemecahan masalah kemiskinan, berbeda dengan feodalisme yang hanya menikmati kesejahteraan melalui keringat orang lain, berbeda pula dengan kapitalisme yang membenarkan sistem riba, berbeda pula dengan sosialisme yang tidak membenarkan hak waris. Disini Islam mempunyai konsep sosial bagi mereka yang mempunyai kekayaan berlebih melalui zakat dan sebagainya. Wallahu A’lam !!!

by : Hasrul BS
Note : Read in English HERE GUYS
Label: ,

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.