Hadis Shahih

Al-Shohih secara bahasa lawan dari kata al-Saqiim. Sedangkan menurut istilah yaitu hadis bersambung sanadnya yang diriwayatkan oleh rangkaian perawi hadis yang adil, dhabit, , tiada 'illah, serta tiada syaz. Syarat syarat hadist sohih : 


1. Ittisholus sanad, yaitu Setiap perawi yang meriwayatkan hadis telah menerima hadis tersebut daripada gurunya secara lansung yang bermula dari awal sanad(sahabat) sampai kepada Rasulullah 



2. Perawi yang adil, yaitu yang beragama isalam,berakal, tidak fasik,baligh dan tidak melakukan perkara yang aib. 



3. Perawi yang dhabit yaitu perawi yang kuat ingatannya. Tiada perubahan jika diriwayatkan melalui lisan atau tulisan. 

Para Ulama membagi sifat dhabit ini menjadi dua macam : 

1. Dhabit shadar artinya ia memiliki daya ingat dan hafal yang kuat semenjak ia menerima hadits dari seorang syekh atau gurunya sampai dengan pada saat menyampaikanya kepda orang lain dan dia mampu untuk menyapaikanya kapan saja di perlukan kepada orang lain. 

2. Dhabit kitab artinya tulisan haditsnya sajak mendengar dari gurunya terpelihara dari perubahan, pergantian, dan kekurangan.singkat kata tidak terjadi kesalahan-kesalahan tulis kemudihan di ubah dan diganti. Karma hal itu akan mengundang keraguan atas kedhabitan seseorang. 

Tiada syadz yaitu hadist yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah (terpercaya) lagi diterima, menyelisihi rawi yang lebih utama darinya . Tiada ‘illah yaitu Tiada kecacatan atau kelemahan tersembunyi. Contoh hadist sohih : 

حَدَّثَنِي مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ وَكَانَ جَاءَ فِي أُسَارَى بَدْرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّور[1]

Semua ahli hadist bersepakat dapat diamalkan dan dijadikan hujjah. Hadits sahih dibagi menjdi 2 yaitu:[2]

1. Sahih lidzatihi (sahih dengan sendirinya) karena telah memenuhi 5 syarat hadits sahih sebagaimana definisi, contoh, dan keterangan di atas. 

2. Sahih li ghairihi (sahih karma yang lain ) yaitu hadits hasan lidzatihi ketika ada periwayatan melalui jalan lain yane sama atau lebih kuat dari padanya contoh : 

Hadits yang diriwayatkan oleh imam tirmizi melalui jalan Muhammad ibnu amar dari abu salamah dari abu hurairah bahwa rasulallah bersabda : 

لو لا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة 

“Seandainya aku tidak khawatir memberatka atas umatKu, tentu aku perintah mereka bersiwak ketika setiap solat”.[3]


Hadits diatas ini berkualitas hasan lidzatihi karena semua perawinya bersifat tsiqoh kecuali Muhammad ibnu amr. Ia bertitel shoduk ( banyak benarnya) tetapi hadist ini mempunyai jalan lain yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan muslim melalui jalan Abu Azzanad dari Al a’araj dari abu hurairah. Maka hadist diatas kualitasnya dapat naik menjadi sohih li ghairihi.

ENDNOTE

[1]Al Imam bukhori, kitab shohih bukhori bab adzan. Darr al-Kutub.
[2]Doktor Mahmud Tohhan, kitab taisir mustholahul hadist, Hal. 51 al haromaini
[3]DIriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, kitab shohih tirmidzi bab Thaharoh dan diriwayatkan juga oleh Imam bukhari dan Muslim dengan jalur yamg berbeda.

Disusun Oleh Dzikron, Ali Muzakkir dan Abdul Hakim
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.