Hadis Hasan

A. Definisi Hadits Hasan 


Dari segi bahasa, kata hasan berasal dari kata “al husnu”, bermakna al-jamal yang berarti “keindahan”. Adapun menurut istilah, para ulama (termasuk imam Tirmidzi) memberikan definisi secara beragam. Namun yang lebihkuat adalah pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab“An Nukhbah”, yaitu: 


وخبر الاحادبنقل عدل تام الضبط متصل السند غير معلل ولا شاذ هو الصحيح لذا ته, فإ ن خف الضبط فا الحسن لذاته 

artinya: “Khabarahad yang diriwayatkan oleh orang yang adil, sempurna kedhobitannya, bersambung sanadnya, tidak ber’illat, dan tidak ada syadz[1] dinamakan shohih lidzhati. Jika kurang kurang sedikit ke-dhobith-annya, maka di sebut hasan lidzati”.[2] 

Dengan kata lain hadis hasan adalah: 

هو ما اتصل سنده بنقل العدل الذ قل ضبته وخلا من الشذوذ والعلة 

artinya: “Hadis hasan adalah hadis yang bersanbung sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang adil, kurangsedikitke-dhobith-annya, tidak ada keganjilan(syadz), dan tidak ada ‘illat”.[3] 

Adapun definisi menurut Imam At Tirmidzi, hadis hasan yaitu hadis yang diriwayatkan, yang di dalamnya tidak ada rawi yang tertuduh dusta, haditsnya tidak syadz, diriwayatkan pula haditsnya melalui jalan lain.[4] Dengan demikian, maka yang dimaksud hadis hasan adalah hadis yang memenuhi syarat-syarat hadis shahih seluruhnya, hanya saja semua atau sebagian perawinya mempunyai tingkat kedhobitan yang lebih rendah dibandingkan ke-hobithan para perawi hadis shahih.[5]

Kriteria hadis hasan memang hamper sama dengan hadis shahih. Perbedaanya hanya terletak pada sisi ke-dhobith-annya. Hadis shahih ke-dhobith-annya seluruh perawinya harus sempurna, sedangkan dalam hadis hasan, kurang sedikit ke-dhobith-annya jika dibandingkan dengan hadis shahih. Tetapi, jika dibandingkan dengan ke-dhobith-an hadis dho’if, tentu tidak seimbang karena ke-dhobith-an perawi hadish asan lebih unggul.[6] Jadi, hadis hasan memiliki kedudukan di tengah-tengah, antara hadis shahih dan hadis dho’if. 

B. Syarat-Syarat Hadis Hasan 

Semua syarat-syarat yang menjadi kategori hadis hasan telah disebutkan dalam definisi di atas, adapun secara ringkas yaitu: 

1. Bersambung sanadnya. 

2. Perawinyaadil. 

3. Perawinyadhobith, tetapilebihrendah dari padake-dhobith-an hadisshahih. 

4. Tidak ada ‘illat. 

5. Tidak ada syadz.

C. Contoh Hadis Hasan 

Adapun salah satu contoh hadis hasan adalah hadis yang menjelaskan tentang usia umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dari Al Hasan bin Urfah Al Maharibi, dari Muhammad bin Amir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shlallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

أعمارأمتى ما بين الستين الي السبعين وأقلهم يجوز ذلك 

artinya: “Usia ummatku hanya sekitar 60 sampai 70 tahun, dan hanya sedikit sekali yang melewati demikian itu.” 

Semua perawi dalam hadis di atas tsiqah semua kecuali “Muhammad bin Amir”, dia adalah “shaduq”, artinya“sangat benar”. Para ulama hadis manilai bahwa “shoduq” tidak mencapai “dhobithtamm”, sekalipun telah mencapai keadilan.[7]

D. Macam-Macam Hadis Hasan 

Sebagimana hadis shahih terbagi menjadi dua macam, maka hadis hasan pun terbagi menjadi dua macam, yaitu “hadis hasan lidzatih” dan “hadis hasan lighayrih”. 

a. Hadis Hasan Lidzatih 

Hadis hasan lidzatih adalah hadis yang hasan dengan sendirinya karena telah memenuhi segala kriteria dan persyaratan yang ada dan bukan faktor lain di luarnya.[8]

b. Hadis Hasan Lighairih 

Hadis hasan lighairih adalah kebalikan dari hadis hasan lidzatih, yaitu hadis awalnya dho’if dan menjadi hadis hasan karena ada riwayat lain yang sama dan lebih kuat. 

Mengenai hadis hasan lighairih ini, ada beberapa pendepat, di antaranya: 

هو الحديث الضعيف إذا روى من طريق أخرى مثله أو أقوى منه 

artinya: “Yaitu hadis dho’if jika diriwayatkan melalui jalan (sanad) lain yang sama atau lebih kuat”.[9]

Pendapat lain mengatakan: 

هو الضعيف إذا تعدّدت طرقه ولم يكن سبب ضعفه فسق الراوى أو كذبه 

artinya: “Yaitu hadis dho’if jika berbilang jalan sanadnya dan sebab kedho’ifannya bukan karena kefasikan atau kedustaan perawinya”.[10]

Dari definisi-definisi di atas dapat kita pahami bahwa hadis dho’if bisa naik menjadi hasan lighairih dengan dua syarat, yaitu:[11] 

1. Harus ditemukan periwayatan sanad (jalan) yang lain yang seimbang atau lebih kuat. 

2. Sebab kedho’ifannya tidak berat seperti dusta dan fasik, tetapi hal yang ringan, seperti hafalan yang kurang dan sebagainya.

Contoh hadis hasan lighoirih, diriwayatkan oleh Ibnu majah dari Al Hakam bin Abdul Malik, dari Qatadah, dari Sa’id bin Musyayyab, dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Shallallahu “alaihi Wasallam bersabda: 

لعن الله العقرب لا تدع مصليا و لا غيره فـأقـتـلوها فى الحل والحرم 

artinya: “Allah melaknat kalajengking, maka janganlah Engkau membiarkannya, baik dalam keadaan shalat, maupun yang lain, maka bunuhlah ia di tanah halal atau di tanah haram”.[12]

Hadis di atas adalah hadis dho’if karena “Al hakam bin Abdul Malik adalah seorang yang dho’if, tetapi terdapat sanad yang lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Qatadah, dari sa’id bin Musyayyab sampai kepada Nabi. Maka hadis ini naik derajatnya menjadi hasan lighairih.[13]

D. Kitab-kitab yang Memuat Hadis Hasan dan Yang Mengarangnya 

Di antara kitab-kitab yang memuat hadis hasan, di antaranya adalah sebagai berikut: 

a. Sunan At-tirmidzi 

Kitab ini di karang dan pertama kali diperkenalkan oleh Imam Tirmidzi. Pada awalnya pembagian hadis berdasarkan kualitasnya hanya ada dua, yaitu hadis shahih dan hadis dho’if. Sehingga jika ada hadis yang setelah mempertimbangkan ternyata terdapat cacat sedikit saja, misalnya dhobith yang kurang sempurna sedikit, maka hadis ini dimasukkan kedalam golongan hadis dho’if, maka dari sinilah muncul kesimpulan untuk mengambil jalan tengah, yaitu hadis hasan. Di dalam kitab inilah Imam tirmidzi mempopulerkan istilah hadits hasan, dan tergolong orang yang sering menyebutkannya.[14]

Menurut Abdullah ibnu Muhammad Al Anshary, kitab-kitab At Tirmidzi lebih bermanfaat dari pada kitab Al Bukhari dan Muslim karena yang dapat mengambil faidah dari kitab Al Bukhari dan Muslim hanyalah orang-orang yang sudah memiliki ilmu yang luas.[15] Menurut An Nawawi, kitab Tirmidzi ini pertama kali memunculkan hadis hasan, yang memperkenalkan dan banyak menyebut dalam kitabnya, walaupun secara terpisah di temukan pada sebagian syeikh pada generasi sebelumnya.[16]

Ibnu Taimiyah mempertegas bahwa At Tirmidzi-lah orang yang pertama kali memperkenalkan pembagian hadis dari segi kualitasnya kepada shahih, hasan dan dho’if.[17]

b. Sunan Abu Dawud 

Kitab ini dikarang oleh Imam Abu Dawud. Di dalam hadis ini terdapat hadis shahih, hasan, bahkan hadis dho’if tetapi tetap dijelaskan kedho’ifannya. Adapun hadis yang tidak jelaskankedho’ifannya dan tidak pula dijelaskan keshahihannya, maka para ulama menilai hadis ini sebagai hadis hasan. Abu Dawud sendiri mengatakan : 

“Aku telah menulis hadits Rasul sebanyak 500.000 hadits , kemudian aku pilih sejumlah 4.800 lalu aku masukkan ke dalam kitab ini”[18]

c. Sunan Ad Daruquthni 

Kitab ini dikarang oleh Imam Ad Daruquthni, dan di dalam kitab ini banyak memuat hadis hasan. 

D. Pemaduan Tirmidzi Antara Hadis Hasan dan Shahih (Hadis Hasan-Shahih) 

Sering sekali terhadap suatu hadis, Imam Tirmidzi mengatakan : “Hasan Shahih”. Hadis yang dinilai oleh Imam Tirmidzi sebagai hadis hasan shahih berarti memiliki lebih dari satu sanad, artinya beliau menilai salah satu sanad itu shahih dan yang lainnya hasan. 

Adapun makna secara terperici tentang ungkapan At Tirmidzi “Hadis Hasan Shahih” , adalah sebagai berikut:[19] 

1. Hadis tersebut memiliki dua sanad, yang satus hahih dan yang lain hasan. 

2. Terjadi perbedaan dalam penilaian hadis, artinya sebagian berpendapat shahih dan sebagian berpendapat hasan. 

3. Dinilaihasanlidzatih dan shahihlighairih.

D. Berhujjah dengan Hadis Hasan 

Hadis hasan dengan kedua jenisnya dapat dijadikan hujjah dan diamalkan sebagaimana hadis shahih, meskipun hadis hasan ini memiliki kekuatan di bawah hadis shahih. Semua ‘ulama fiqhi dan sebagian ‘ulama hadis telah mengamalkan hadis hasan ini, kecuali hanya sedikit sekali dari kalangan orang yang sangat ketat dalam mempersyaratkan dalam menerima hadis. Bahkan sebagian Muhadditsin (ulamahadis) yang mempermudah dalam persyaratan shahih memasukkannya kedalam hadis shahih, seperti Imam Al Hakim, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. 
  • Al Khatib, Muhammad ‘Ajaj, 2007, Ushul al Hadits, cet. Ke-4, Jakarta:Gaya Media Pratama. 
  • Thahan, Mahmud, 2005, Ilmu Hadits Praktis, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah. 
  • Khon, Abdul Majid, 2008, Ulumul Hadis, Jakarta: AMZAH. 
  • Ash Shadiqiy, Teungku Muhammad Hasbi, 2009, Sejarah dan Pengantar ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra. 
  • Ismail, Muhammad Shuhudi, 2007, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, cet.ke-2, Jakarta: bulan bintang.
Disusun Oleh: Muh. Saharuddin, Andi Purnomo dan Abdus Samik

[1]Lihat, Prof.Dr.M.Syuhudi Ismail,(2007), Metodologi Penelitian Hadits Nabi, cet ke-2, Jakarta: Bulan Bintang, hal 81
[2]Dr. Abdul Majid Khon, (2008), Ulumul Hadis, Jakarta: AMZAH, hal 159
[3]Ibid.
[4]Dr. Mahmud Thahan,(2005), Ilmu Hadits Praktis, Bogor: Pustaka Thoriqul Izzah, hal 51
[5]Dr. Muhammad ‘Ajaj Al Khatib, (2007), Ushul Al Hadits, hal 229
[6]Dr. Abdul Majid Khon, (2008), Ulumul Hadis, Jakarta: AMZAH, hal 159
[7]Ibid, hal 160
[8]Ibid, lihat pula, Dr. Muhammad ‘Ajaj Al Khatib, (2007), Ushul Al Hadits, Jakarta: Gaya Media Pratama, hal 300
[9]Dr. Abdul Majid Khon, (2008), Ulumul Hadis, Jakarta: AMZAH, hal 160
[10]Ibid
[11]Ibid
[12]Ibid, hal. 60
[13]Ibid
[14]Dr. Mahmud Thahan,(2005), Ilmu Hadits Praktis, Bogor: Pustaka Thoriqul Izzah, hal 56
[15]Prof.Dr.M.Syuhudi Ismail,(2007), Metodologi Penelitian Hadits Nabi, cet ke-2, Jakarta: Bulan Bintang, hal 256
[16]Dr. Abdul Majid Khon, (2008), Ulumul Hadis, Jakarta: AMZAH, hal 162
[17]Ibid
[18]Prof.Dr. Teungku Muhammad hasbi Ash Shadiqiy,(2009), sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra, hal 75
[19]Dr. Abdul Majid Khon, (2008), Ulumul Hadis, Jakarta: AMZAH, hal 162

Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.