Hadis Hasan

Secara bahasa, Hasan adalah sifat yang bermakna indah. Sedangkan secara istilah, para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: 


1. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkomentar tentang definisi hadits Hasan ialah Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil, yang kurang kuat ingatannya, yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya), yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan.[1]



2. At-Tirmizy tentang pengertian hadits hasan ialah Hadits selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan.[2]


3. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan ialah Hadits yang orang-orangnya dikenal, terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah, Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah.[3]

4. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya, bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya. 

Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta, tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya. 

Adapun Perbedaan hadits Shahih dan hasan terletak pada kedhabithannya. Jika hadits Shahih tingkat dhabithnya harus tinggi, maka hadits hasan tingkat kedhabithannya berada dibawahnya. Contoh hadist: 

حَد ثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيُّ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَال سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ الْعَدُوِّ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ...[4]

Hukum Hadits Hasan dapat diamalkan dan dijadikan hujjah. Sebagaiman yang di amalkan oleh semua para fuqoha dan kebanyakan muhadditsin dan ushuliyin.[5] Hadist ini menurut Imam Turmudzi hadist hasan gharib, dan hal itu menurut beliau di karnakan rijal sanadnya empat (4) orang yang tsiqot kecuali ja’far bin sulaiman adhdoba’I, oleh karena itu maka turunlah martabat sohih menjadi hasan.[6] Adapun kita sering mendengar kalimat muttafaqun ‘alaihi. Ini menunjukan bahwa Imam Bukhori dan Imam Muslim telah sepakat dalam keshohihan hadist atau para ulama telah sepakat tentang kesohihannya. Hadist hasan dibagi menjadi dua: 

1. hasan li dzatihi adalah hadist hasan dengan sendirinya karena telah memenuhi semua criteria dan persyaratan yang ditentukan oleh hadist hasan. 

2. hasan li ghairihi, ada beberapa pendapat ulama di dalam pembahasan hasan li ghairihi ini. Diantaranya sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa hasan li ghairihi adalah hadist dhoif jika diriwayatkan melalui jalan (sanad) lain yang sam atau lebih kuat. Ada juga yang mengatakan hadist hasan li ghairihi adalah hadist dhoif jika berbilangan jalan sanadnya dan sebab kedhoifannya bukan karena fasik atau dustanya perawi. 

Dari dua definisi diatas kita bisa memahami bahwa hadist dhoif bisa naik menjadi hasan li ghoirihi dengan dua syarat yaitu : 

1. harus ditemuka periwayatan sanad lain yang seimbang atau lebih kuat 

2. sebab kedhoifan hadist tidak berat seperti dueta dan fasik. 

Contoh riwayat ibnu majah dari al hakam bin abdul malik dari qotadah dari said ibnu musayyib dari aisyah, nabi bersabda ; 

لعن الله العقرب لا تدع مصليا ولا غيره فاقتلوها في الحلي والحرم 

“Allah melaknat kalajengking janganlah engkau membiarkannya baik dalam keadaan solat atau yang lain, maka bunuhlah ia ditanah halal atau ditanah haram” 

Hadist diatas dhoif karena al hakam bin abdul malik seorang dhoif tetapi dalam sanad lain riwayat ibnu khuzaimah terdapat sanad lain yang berbeda perawi dikalangan muttabi’ yaitu melalui syuhbah dari qotadah maka ia naik derajatnya menjadi hasan li ghaiyrihi.

ENDNOTE

[1]Al Imam Ibnu hajar As qolani, kitab Nukhbah fikr, hal. 29
[2]Al Imam tirmidzi, Tuhfatul ahwadzi, syarah jaami’ Tirmidzi bab illal jilid 10, hal. 519
[3]Al khotobi, kitab ma’alim assunan. Jilid 1. hal. 11
[4]Al-Tirmidzi. kitab Tuhfatul Ahwadzi syarah Jaami’ Tirmidzi bab. Fadhoilul jihad jilid. 5 .hal 300
[5]Kitab Tadribu arrawi. Jil 1. hal. 160
[6]Ibnu hajar Asqolani, kitab Tahdzibul tahdzib. Jil 2. hal

Lebih lanjut, Anda dapat membaca lebih rinci uraian HADIS HASAN DISINI SOBAT !!!
Dzikron, Ali Muzakkir dan Abdul Hakim
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-_307Ah0ton8/VGkfo2ZBEsI/AAAAAAAACys/RDRvS3VgoD4/s1600/Rul%2BPengakuan%2BDiri.jpg} Putra Duri yang suka berpetualangan, dari Enrekang di SulSel ke SulTra Kolaka, kemudian malang melintang di Jawa hingga ke Jakarta sampai berlabuh di Depok bersama si Dia. Sosok pegiat Tafsir Ilmi ini, juga hobby Futsal, Khataman, Tennis Meja, Blogging, dan renang. {facebook#https://web.facebook.com/RulHas.SulTra} {twitter#https://twitter.com/RulHasBS} {google#https://plus.google.com/+HasrulBS} {youtube#https://www.youtube.com/user/Zulhas1} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/hasrul-bs-31102835/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.