Isra’ Mi’raj dan Relativitas Einstein dalam Surah al-Isra 1


Einstein berpostulat bahwa konsep tentang waktu bersifat relatif. Ia menggabungkan antara ruang dan waktu, sehingga kita tidak hanya punya ruang, tetapi ruang-waktu. Teori Einstein tentang relativitas terbagi menjadi dua kelompok, yaitu teori relativitas khusus dan teori relativitas umum. Relativitas khusus memastikan bahwa kecepatan membuat waktu menjadi relatif, sementara teori ralativitas umum memostulatkan bahwa gravitasi membuat waktu menjadi relatif. Relativitas khusus  membuktikan bahwa kalau seseorang bergerak dengan kecepatan km/detik maka bagi kita yang diam di bumi ini waktu seharinya akan sama dengan:
Dengan kecepatan cahaya c = 300.000 km/detik, jika ada seorang penerbang yang dapat melaju dengan kecepatan tinggi sebesar 298.000 km/detik, maka 24 jam baginya akan tercatat oleh kita sebagai 1.000 tahun. Inilah inti relativitas khusus yang dinyatkan oleh Einstein bahwa waktu akan berlalu lebih lambat pada orang yang mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Di dalam media tempat makhluk bumi melewatinya selama 100 hari, mungkin akan ia lewati selama 50 hari dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya.

Kecepatan diatas jelas berada diluar jangkauan manusia. Roket pesawat luar angkasa  saja hanya dapat mendorong pesawat itu dengan kelajuan sekitar 15 km/detik. Di dalam kitab suci Umat Islam, terdapat ayat yang menyatakan bahwa malaikat melesat dalam satu hari lamanya sama denga 50.000 tahun hitungan hari manusia. Mengenai perjalanan Isra dan Mi’raj, Musthafa Maraghi menyatakan bahwa perjalanan di muka bumi (Isra’) dan perjalanan ke langit (Mi’raj), kedua-duannya terjadi satu malam. Menurut tafsirnya juga, Nabi Muhammad Saw telah di Isra’kan dengan ruh dan tubuh beliau dalam keadaan jaga, bukan dalam keadaan tidur dan dari Makkah ke Baitu Muqaddas (sekarang Palestina) dengan berkendaraan Buraq.

Adapaun Mi’raj Rasulullah, Musthafa Maraghi menyatakan bahwa hanyalah dapat dilakukan dengan ruh Nabi saja karena beberapa alasan: pertama; gerakan yang demikian cepatnya tidaklah masuk akal, kedua; Pristiwa itu terjadi pada saat tidak diketahui dan disaksikan oleh seorang pun, maka hal itu sesuai dengan hikmat Allah yang Maha Bijaksana, ketiga; tidak mungkin seseorang naik ke alam tinggi melampaui tingkatan-tingkatan tertentu karena disana tidak ada udara (ruang hampa), keempat; bahwa hadis mengenai Mi’raj memuat hal-hal yang sangat jauh dari kemungkinan.

Analisa kedua  perspektif diatas (Saintis & Mufassir) secara dhahir nampak berjalan pada relnya masing-masing, namun dengan analisa yang mendalam nampak titik temu dari keduanya. Tentunya secara praktis dapat berdiri sendiri sebagai ayat-ayat Allah. Titik temu dari teori diatas dengan Surah al-Isra ayat 1 yang kami maksud ialah: pertama; keduanya mengukuhkan pada kesimpulannya bahwa pristiwa Isra dan Mi’raj tidak mustahil terjadi, kedua; penekanan Mi’raj (perjalanan ke langit) dengan ruh tampa jasad sesuai dengan ayat serta dibuktikan oleh saintis dengan rumus diatas, ketiga; diberangkat pada malam hari untuk menimalisir radiasi khususnya ketika Isra serta menyebabkan terjadinya unsur relativitas.

[Hasrul, 19/11/12]

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.