Ayat Pertama dan Terakhir Diturunkan

Pembahasan ini bertumpu semata pada Naql dan tauqifi. Akal tidak memiliki wewenang sama sekali kecuali sebatas mentarjih antar dalil atau mengkompromikan yang secara literal nampak kontradiksi. Dalam bahasan ini, tidaklah menjadi tujuan kami membicarakan ayat yang pertama dan terakhir diturunkan berkenaan dengan seluruh aspek ajaran Islam. Hal ini jelas terlalu jauh jangkuannya dan memerlukan upaya yang panjang dalam menyusunnya. Disini kami hanya membicarakan mengenai Ayat yang pertama dan terakhir yang diturunkan secara Mutlak. 

a) Ayat yang Pertama Diturunkan 

Ada empat pendapat tentang hal ini: 

Pertama, Pendapat inilah yang paling shahih bahwa ayat yang pertama diturunkan adalah ayat 1-5 surah al-Alaq.[1] Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah:

1. Imam Bukhari dan Imam Muslim Meriwayatkan (dengan redaksi Imam Bukhari) dari Aisyah Ummul Mukminin ra. Bahwa ia berkata: 

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَم وَفِى بَعْضِ الرِّوَايَاتِ حَتّى بَلَغَ مَاَلمْ يَعْلَمْ. 

2. Imam Al-Hakim di dalam al-Mustadraknya dan Al-Baihaqi di dalam Dala’ilnya menilai shahih Riwayat dari Aisyah ra. bahwa ia berkata: “Surah pertama yang diturunkan ialah bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu” (Q.S. Al-Alaq: 1).[2]

3. Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir dengan Sanadnya sendiri menilai shahih riwayat dari Abu raja’ al-Atharidiy, katanya: “Abu Musa membacakan al-Quran kepada kami lalu membuat majlis-majlis untuk kami. Setiap kali membaca surah “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan sampai apa yang tidak diketahunya”. (Q.S. Al-Alaq: 1).[3]

Kedua, bahwa ayat yang pertama diturunkan adalah: 

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ﴿١﴾ 

Mereka yang melontarkan pendapat ini berdalih juga dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Salamah bin Abdurrahman ibn Auf bawha ia berkata: saya bertanya kepada Jabir ibn abdullah, mana Al-Quran yang mula-mula diturunkan? Lalu Ia menjawab: “Hai orang-orang yang berselimut” (Al-Muddatstsir: 1).[4]

Ketiga, Dikatakan pula bahwa yang pertama kali turun adalah surah Al-Fatihah. Pendapat ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi. Namun para Ulama menilai bahwa hadis tersebut tidak bisa dijadikan argumentasi sebab disamping statusnya Mursal, hadis itu hanya memberitakan turunnya Surah al-Fatihah setelah turunnaya ayat Al-Iqra’ bismi Rabbika.[5]

Keempat, Disebutkan juga bahwa yang pertama turun adalah: 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

Mereka yang mengemukakan pendapat ini berdalih dengan Riwayat yang ditakhrij oleh Al-Wahidiy dengan sanadnya sendiri dari Ikrimah dan al-Hasan, keduanya berkata: “yang mula-mula diturunkan adalah بسم الله الرحمن الرحيم (dengan menyebut Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang) dan awal surah Al-Alaq. 

Penggunaan dalil diatas ditolak dengan dua alasan:[6] 

  1. Hadis itu Mursal, seperti hadis sebelumnya sehingga tidak bisa menggoyahkan yang Marfu’.
  2. Basmalah memang biasanya turun mengawali setiap surah, kecuali surah yang dikecualikan. Dengan demikian posisinya merupakan sesuatu yang turun bersama awal surah Al-Alaq sehingga tidak tepat menyebutnya sebagai yang pertama diturunkan secara mandiri. 
b) Ayat yang Terakhir Diturunkan 

Ulama berbeda pendapat dalam menentukan ayat yang terakhit diturunkan. Masing-masing bertumpu kepada Atsar karena memang tidak ada hadis Marfunya. Inilah yang merupakan faktor utama munculnya berbagai kesangsian dan beragamnaya pendapat. 

Pertama, mengatakan bahwa yang terakhir diturunkan adalah firman Allah SWT pada surah Al-Baqarah ayat 281: 

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ﴿٢٨١﴾ 

Pendapat diatas berdasarkan riwayat ini ditakhrij oleh Imam an-Nasa’i melalui Ikrimah dari Ibnu Abbas. Setelah ayat ini turun, Nabi SAW masih hidup selama sembilan malam. Kemudian selang dua hari dari bulan Rabi’ul Awwal, beliau wafat.[7]

Kedua, bahwa yang terakhir diturunkan adalah firman Allah SWT pada surah Al-Baqarah ayat 278: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴿٢٧٨﴾ 

Riwayat ini ditakhrij oleh imam Al-Bukhari dari Ibnu Abbas dan Al-Baihaqi dari Ibnu Umar. 

Ketiga, bahwa ayat yang terakhir diturunkan adalah tentang hutang-piutang yang terdapat dalam dalam Surah Al-Baqarah pula, firman Allah SWT: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ... وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٢٨٢﴾ 

Ibnu Jarir juga mentakhrij riwayat dari Said ibnu Masayyab bahwa beliau mendengar ayat yang terakhir diturunkan yang sudah merupakan ketentuan Arsy adalah ayat tentang hutang-piutang.[8]

Tiga pendapat diatas dapat dipadukan, yaitu bahwa ketiga ayat tersebut diturunkan sekaligus seperti tertib urutannya di dalam mushaf. Ayat mengenai riba, ayat pelihara dirimu dari azab yang terjadi pada suatu hari kemudian ayat mengenai utang karena ayat-ayat tersebut masih satu kisah. Setiap perawi mengabarkan bahwa sebagian dari yang diturunkan itu sebagai yang terakhir kali dan itu memang benar. Dengan demikian, ketiga ayat itu tidak saling bertentangan.[9]

Keempat, dikatakan pula bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah Ayat mengenai Kalalah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Barra’ bin Azib. 

Kelima, pendapat lain yang menyatakan yang terakhir turun adalah: 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ... ﴿ التوبة : ١٢٨﴾ 

Pendapat diatas dikutip dari Al-Mustadrak yang bersumber dari Ubay bin Ka’ab. 

Keenam, Dikatakan pula bahwa yang terakhir turun adalah Surah Al-Maidah. Ini didasarkan pada riwayat Tirmidzi dan Hakim dari Aisyah ra. 

Ketujuh, juaga dikatakan bahwa yang terakhir turun adalah firman Alllah: 

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ... ﴿ ال عمران : ١٢٨﴾ 

Ini didasarkan pada Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih melalui Mujahid dari Ummu Salamah, dia berkata: “ayat yang terakhir kali diturunkan adalah ayat ini” sampai akhir ayat diatas.[10] 

Pendapat-pendapat diatas tidak mengandung sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Masing-masing merupakan Ijtihad dan dugaan. Mungkin pula bahwa masing-masing mereka itu memberitahukan mengenai apa yang terakhir didengarnya dari Rasulullah. Ini juga bisa dilatarbelakangi hal terakhir yang diturunkan dalam perundang-undangan tertentu serta mengenai surah terakhir yang diturunkan secara lengkap. Menurut Syeikh Muhammad Abdul Adzim al-Zarqani, pendapat yang paling melegakan hati adalah ayat 281 dalam Surah al-Baqarah.[11]

ENDNOTE

[1]Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, Manahil Al- Urfan fii’ Ulum Al-Quran (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), Bab Ayat yang pertama dan terakhir diturunkan, hal. 92.
[2]Ibid, hal. 93
[3]Ibid, hal. 93-94
[4]Ibid, hal. 94
[5]Muhammad ibn ‘Alami al-Maliki Al-Hasani, Samudera Ilmu-Ilmu Al-Quran Ringkasan Kitab Al-Itqan (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2003), Bab Ayat pertama dan terakhir diturunkan, hal. 16
[6]Ibid, hal. 97
[7]Ibid, hal. 98
[8]Ibid, hal. 99
[9]Manna Khalil Al-Qaththan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran (Jakarta: PT Pustaka Lintera AntarNusa, 2007), Bab Pengetahuan Mengenai yang Turun Pertama dan Terakhir, Hal 96.
[10]Ibid, hal. 97-98
[11]Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, hal 103.

Disusun Oleh: Ahmad ZulkiMuhammad Saharuddin dan Hasrul
File PDF [Poin B] : Download

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.