Metode Tafsir bi al-Ra’yi dan Analisa Tafsir Jalalain

Al-ra’yu memiliki akar kata dari (رأي- يري- رأيا و رؤية) yang bisa berarti pendapat, opini berfikir (fikr), keyakinan (i’tiqad), analogi (qiyas), atau ijtihad. Kaitannya dalam bentuk penafsiran  al-Qur’an, tafsir  bi al-ra’yi  sering disebut juga  dengan istilah tafsir bi al-dirayah, tafsir bi al-ma’qul, tafsir bi al-‘aqliy, atau tafsir bi al-ijtihidiy. Adapun secara epistemologi, tafsir bi al-ra’yi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufassir setelah terlebih dahulu mengetahui bahasa Arab serta metodenya, dalil hukum yang ditunjukkan, serta problema penafsiran seperti asbab al-nuzul, al-nasikh wa al-mansukh, dan lain sebagainya.

Walaupun  demikian  tidak  menafikan  bahwa tafsir  bi al-ra’yi memuat juga  sumber-sumber  yang  matsur  hanya  saja dibuang sanadnya karena telah dimuat dalam kitab-kitab hadis yang lebih rinci serta untuk berbagai tujuan seperti, metode pembelajaran, memudahkan pemahaman, dan efisiensi penyajian serta kepentingan ekonomis lainnnya. Salah satu kitab tafsir yang menggunakan metode ini ialah tafsir  Jalalain karya  Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti. Imam al-Mahalli memulai tafsir ini dari Surah al-Kahfi sampai surah al-Nass dan dilanjutkan oleh muridnya, Imam al-Suyuti dari surah al-Baqarah sampai surah al-Isra. Adapun surah al-Fatihah ditulisnya di akhir tafsir al-Mahalli sebagai tambahan. Salah satu contoh tafsir Jalalain yang kental dengan metode bi al-ra’yi ialah ketika menafsirkan surah al-Takwir ayat 1 sampai 3:

 (إِذَا الشَّمْس كُوِّرَتْ) لُفِّفَتْ وَذُهِبَ بِنُورِهَا (وَإِذَا النُّجُوم اِنْكَدَرَتْ) اِنْقَضَّتْ وَتَسَاقَطَتْ عَلَى الْأَرْض (وَإِذَا الْجِبَال سُيِّرَتْ) ذُهِبَ بِهَا عَنْ وَجْه الْأَرْض فَصَارَتْ هَبَاء مُنْبَثًّا.
           
Tafsir “(Apabila matahari digulung) dilipat dan sinarnya menjadi lenyap; (Dan apabila  bintang-bintang  berjatuhan)  menukik  berjatuhan  ke  bumi;  (Dan  apabila gunung-gunung dihancurkan) dilenyapkan dari muka bumi dan menjadi debu yang beterbangan.

Tafsir ayat diatas nampak secara tersurat dan tersirat akan adanya interpretasi dan analisa dari seorang mufassir terhadap maksud ayat tersebut. Disamping itu, sang mufassir juga menyebutkan tafsir ayat secara langsung tampa menyebutkan sumber dalil dan kajian konteks ulumul quran seperti yang dilakukan mufassir lainnya sebelum mengungkapkan tafsirnya. Hal  ini  bukan  menunjukkan  bahwa  Jalaluddin al-Mahalli  maupun  Jalaluddin al-Suyuti tidak mengetahui akan dalil-dalil syar’i terkait ayat tersebut, namun pandangan manhajlah yang mengarahkannya. Ini artinya, sang mufassir tidak mencantumkan dalil-dalil syar’i terkait ayat tersebut, melainkan hanya menyimpulkannya berdasarkan pemahamannya kemudian menuliskannya di dalam tafsir.

Analisa lain terhadap contoh penafsiran ayat di atas yang sangat kental dengan nilai ra’yu ialah ketika menafsirkan (وَإِذَا النُّجُوم اِنْكَدَرَتْ), al-Mahalli menafsirkannya dengan “menukik  berjatuhan  ke  bumi. Pandangan al-Mahalli terhadap ayat ini  tidak terlepas dengan realita kehidupan dan pola pikir yang terbentuk  bahwa setiap  benda  yang jatuh akan  kebawah yang kita  kenal dengan  gaya gravitasi. Perspektif inilah yang mengantarkan al-Mahalli berpendapat  terkait ayat di atas bahwa bintang-bintang berjatuhan ke bumi. Sekian !

[oleh Hasrul, 26 Nopember 2012]
Label:

Posting Komentar

[facebook][blogger]

Author Name

Abdul Somad

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-JomNWnKTeaA/WgsRFWh_ALI/AAAAAAAAG7E/1Rzp6Wg6VUofCBa-ebIp5hwoVc3sUt2RgCLcBGAs/s640/Spoiler%2B2%2Bbahasa%2Buntuk%2Bblogger.jpg} Do not give up just because it failed at the first opportunity, Something precious you will not have it easily. Keep trying! {facebook#https://www.facebook.com/somadabdul8708} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.