Tradisi Tahlilan dalam Perspektif Masyarakat Indonesia


Tahlil merupakan sebuah istilah dari rangkaian bacaan beberapa ayat al-Qur’an, dzikir, dan do’a tertentu. Kata tahlil atau tahlilan secara bahasa berasal dari bahasa arab, yaitu (هلل - يهلل - تهليلا) yang artinya mengucapkan kalimah thayyibah. Sedangkan menurut istilah tahlilan artinya bersama-sama membaca beberapa ayat alqur’an, kalimah thayyibah, dzikir, dan do’a tertentu untuk mendo’akan orang yang sudah mati. 

Acara tahlilan biasanya diselenggarakan setelah proses penguburan dan terkadang juga dilakukan sebelumnya sesuai dengan praktik masing-masing masyarakat. Praktik tahlilan yang telah menjadi sebuah tradisi dalam masyarakat Indonesia mempunyai khas dan warna tersendiri antara masyarkat dalam suatu daerah dengan daerah yang lain. Perbedaan ini dilatarbelakangi dari corak budaya dari masing-masing daerah yang beragam dan sangat kental. Walaupun demikian, esensi tahlilan yang dipraktikan masyarakat Indonesia tidaklah bertentangan antara satu dengan yang lain dan tujuannya tetap sama. Pelaksanaan tahlilan berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh kematian si mayit. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke-40 dan ke-100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit. Sebagian yang lainnya mempraktikkan pada hari-hari tertentu saja mulai hari ke-3, ke-7, ke-15, ke-40, ke-100, dan hari ke-1000. 

Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki bermacam-macam budaya, salah satunya adalah tahlilan. Pengetahuan yang beredar di masyarakat selama ini mengenai asal-usul tahlilan sendiri masih terdapat beberapa pandangan. Ada yang berasumsi bahwa awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo‘akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Pandangan ini berasumsi bahwa tradisi Ahlusunnah wal al-Jama’ah di Indonesia seperti kegiatan tahlilan, yasinan, dan kendurian, atau ziarah kubur, mengadopsi dari tradisi agama Hindu. 

Bagi Agus Sunyoto, penulis buku Suluk Abdul Jalil, Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar menyatakan bahwa anggapan bahwa tahlilan sebagai produk adopsi dari tradisi agama hindu adalah salah. Ia mengungkapkan berbagai literatur yang mendukung pernyataannya. Ia melacak bahwa tradisi tahlilan berawal dari Walisongo. Sunan Ampel dengan nama kecilnya, Raden Rahmat lahir 1401 M di negeri Champa. Champa adalah satu negeri kecil yang terletak kini di Kamboja. Jadi, Sunan Ampel membawa tradisi tahlilan dari negeri Champa yang kemudian tersebar di nusantara termasuk Indonesia. Agus Sunyoto juga menyatakan bahwa sebelum Walisongo datang, kerajaan Majapahit menguasai wilayah Nusantara dan tradisi Tahlilan belum ada di tengah masyarakat. Jadi pernyataan bahwa tahlilan itu berasal dari budaya Hindu, ngawur dan keliru menerutnya. 

Islam Nusantara terpengaruh oleh orang Islam Champa. Sementara, tradisi Islam Champa terpengaruh oleh Islam Persia. Bentuk tradisi lain misalanya upacara Kendurian, kata ‘Kenduri’ sendiri adalah bahasa Persia, bukan bahasa Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi-tradisi Islam Indonesia seperti tahlilan, kenduri dan tradisi lainnya berasal dari Persia melalui jalur daerah Champa, kini daerah Kamboja yang di bawah oleh Sunan Ampel dan wali songo lainnya serta para pedagang dari Gujarat. 

Tahlil telah menjadi perdebatan yang sampai sekarang belum mencapai kesepakatan. Melalui tulisan ini kami urai sekilas permasalahan tahlil yang menurut sebagian orang dianggap bid’ah dan syirik. Dalam perspektif i’tiqad Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah, amalan tahlilan setidaknya memuat unsur doa, tawassul dan pahala. Ketiga unsur ini dalam pandangan ahli al-Sunnah diyakini memiliki landasan syar’i untuk di amalkan. Uraiannya dapat kita lihat sebagai berikut: pertama, Memuat unsur do’a. Ahlusunnah berkenyakinan bahwa do’a orang mukmin memberi manfaat baginya dan bagi yang di do’akan; kedua, memuat unsur tawasssul. Ahlusunnah menyakini bahwa berdo’a kepada Tuhan secara langsung atau berdo’a kepada-Nya dengan washilah atau tawassul adalah sunnah hukumnya dan diberi pahala jika dikerjakan. Ketiga, memuat unsur pahala. Ahlusunnah beri’tiqad bahwa pahala seperti pahala shadoqah, waqaf dan pahala bacaan tahlil, slawat dan al-Quran serta amalan lainnya boleh dihadiakan kepada orang yang telah mati dan sampai kepadanya jika diniatkan. 

Uraian di atas menunjukkan akan keabsahan tahlilan dan sunnah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi tahlilan memang belum ada pada masa Rasul, tetapi bacaan di dalam tahlilan, Rasul dan para sahabat telah mencontohkannya. Secara dzahir saja isi daripada tahlilan tersebut sangat baik karena berisi bacaan-bacaan kalimah thayyibah dan surat-surat dari al-Quran yang sudah terkenal fadhilah dan keutamaannya, misalnya surah al-Fatihah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam kitab Shahih Muslim: 

أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِىٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيتَهُ (صحيح مسلم) 

Artinya: 
Bergembiralah engkau (Muhammad Saw) dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diterima oleh nabi sebelummu yakni surat al-Fatihah dan beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari keduanya kecuali engkau akan diberi imbalannya. (H.R. Shahih Muslim) 

Selain dari surat Al Fatihah, masih banyak lagi surat-surat dalam bacaan tahlil yang terkenal akan fadhilah dan keutamaan surat tersebut, seperti surat al-Ikhlas, al-Falaq, al-Nass dan juga surat Yasin. Disamping itu tahlilan juga memuat do’a-do’a yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. 

Mekarnya Tradisi tahlilan di tanah air tidak terlepas dari peranan para ulama ulama. Berkat kecerdasan dan keahlian merekalah dalam berdialog dan negosiasi dengan agama dan tradisi lokal sehingga Islam mudah diterima di Indonesia dengan baik dan bertahan lama. Berbeda denga sebagian negara Eropa yang perkembangan Islam dilakukan dengan cara peperangan, walaupun hasilnya cepat atau maksimal tapi kekuasaan Islam didaerah tersebut tidak berlangsung lama, seperti di Spanyol, Turki dan lain-lain. Berhubungan dengan ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia, sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi. Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun serta cinta damai. 

Demikianlah sekilas analisa tradisi tahlilan di Indonesia yang dapat menjadi tawaran bagi umat Islam sebagai salah satu upaya menghidupkan dan melestarikan sunnah-sunnah Rasul dalam kehidupan sehari-hari. Sekian !!!
Label: ,

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.