!? Membaca Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali

TAKHRIJ HADIS TENTANG FADHILAH YASIN
Membaca Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali
A. MATAN HADIS 

Al-hamdulillah, satu kepuasaan tersendiri atas selesainya karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadis yang penelusurannya melalui pendekatan mu’jam (al-fazh).[1] Walaupun demikian, dalam tataran aplikasinya kami juga menggunakan pendekatan Sanad dan Atraf demi meraih hasil yang lengkap dan sempurna. Metode yang digunakan dalam pembahasan ini ialah metode Mu’jam[2] yaitu Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy[3] dan metode Digital yaitu Maktabah as-Syamilah.

Penulis juga dalam memberikan syarah memadukan dari beberapa sumber untuk melengkapi keterangan yang bersangkutan dan penjelasan dalam beberapa bagian yang dibutuhkan. Hal ini demi menunjukkan kualitas ilmiahnya dan memberikan pemahaman yang lebih serta pertimbangan studi komparatif dengan sumber lain yang sama. Hadis yang menjadi subjek pembahasan dalam makalah ini dapat dilihat dengan matan sebagai berikut: 

﴿ إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا , وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ ﴾ 

Hadis diatas mengabarkan setiap sesuatu memiliki hati dan hati al-Quran adalah Yasin. Pemahaman lain yang dapat dipetik dan inilah yang menjadi pokok kandungan hadis ini ialah fadhilah surah Yasin mengenai orang membacanya akan mendapatkan pahala seperti membaca al-Quran sepuluh kali. Mengenai keotentikan atau keabsahan hadis ini, penulisan semaksimal mungkin menyajikan penjelasannya dibawah ini. 

B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) 

Penelusuran matan hadis diatas sebagaimana yang kami telah sebutkan yaitu melalui al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy dan maktabah syamilah. Hasil penelusuran hadis di atas dengan menggunakan kedua metode ini dapat dilihat sebagai berikut: 

a) Metode al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy 

Melalui metode al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy yang dalam praktinya menggunakan pendekatan al-Fash, kami menemukan hadis diatas pada dua sumber dengan hasil penelusuran tercantum sebagai berikut:


Demikianlah beberapa hasil yang dapat kami paparkan melalui penelusuran metode al-Fashi dengan pendekatan Mu’jam. 

b) Metode Digital (Maktabah as-Syamilah) 

Melalui metode digital yaitu Maktabah syamilah yang merupaka sebuah software mutakhir yang memiliki kapasitas tinggi dalam search engine khususnya kumpulan hadis Nabawi. Software ini diterbitkan oleh jaringan Da'wah Islamiyah al-Misykat yang memuat kurang lebih 26.080 kitab pada versi barunya tahun 2012 serta dikelompokkan dalam 29 bidang keilmuwan Islam.[5]

Penelusuran melalui metode digital ini sangat simple dan dapat memanfatkan semua pendekatan seperti pendekatan sanad, atraf, mu’jam, maudu’i maupun sifat atau hukum hadis. Hal ini juga serupa pada praktik metodenya karena kitab ini memuat beragam kitab sesuai kebutuhan. Search engine ini memuat berbagai macam sistematika penyusunan kitab seperti kitab-kitab shahih, sunan, musnad, mu’jam, jami’i dan yang lainnya. 

Selanjutnya dalam penelusuran metode digital ini, yaitu maktabah syamilah. Kami menemukan juga pada beberapa sumber lain serta mencakup juga dari sumber yang telah kami temukan melalui metode mu’jam al-Fash. Sebagaimana tema dalam hadis ini tentang “orang membaca Yasin akan mendaptkan pahala seperti membaca al-Quran sepuluh kali” namun, terdapat juga penelusuran yang menemukan hanya sekedar menyebutkan bahwa “Yasin adalah hati al-Quran” yang serupa diungkap diawal redaksi matan hadis ini. Untuk lebuh jelasnya dapat dilihat pada uraian dibawah ini. 

c) Hasil Penelusuran dari Dua Metode di Atas (Takhrij) 

Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber hadis diatas dari berbagai kitab hadis melalui penelusuran metode Mu’jam dan penelusuran metode digital dapat dilihat sebagai berikut: 

1) Sunan at-Tirmidzi (سنن الترمذي) 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ ، وَسُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ ، قَالاَ : حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّؤَاسِيُّ ، عَنِ الحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ ، عَنْ هَارُونَ أَبِي مُحَمَّدٍ ، عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا ، وَقَلْبُ القُرْآنِ يس ، وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ القُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ. ( رواه الترمذي )[6]

2) Sunan ad-Da’rimi (سنن الدارمي) 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ هَارُونَ أَبِي مُحَمَّدٍ عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ , عَنْ قَتَادَةَ , عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا ، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ . ( رواه الدارمي )[7]

3) Sya’bu al-Iman (شعب الإيمان) 

وَقَدْ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنا أَبُو حَامِدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ الْخُسْرَوْجِرْدِيُّ، حدثنا دَاوُدُ بْنُ الْحُسَيْنِ، حدثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو سَعْدٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ الزَّاهِدُ، وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنا أَبُو الْفَضْلِ أَحْمَدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَازِمٍ الْأَزْدِيُّ، أَخْبَرَنا أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ الزَّاهِدُ، حدثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حدثنا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ هَارُونَ أَبِى مُحَمَّدٍ، عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبٌ، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ ". ( رواه البيهقي )[8]

4) Mu’jam Ibnu al-A’raby (معجم ابن الأعرابيِ) 

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ حَسَنِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ هَارُونَ أَبِي مُحَمَّدٍ ، عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبٌ ، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يَاسِينُ ، فَمَنْ قَرَأَ يَاسِينَ كُتِبَ لَهُ بِهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَشْرَ مِرَارٍ. (رواه ابن الأعرابيِ)[9]

Selanjutnya dalam penelusuran ini, kami menemukan juga beberapa hadis yang serupa yang letak persamaanya dalam redaksi yang menyatakan bahwa Yasin adalah hati al-Quran. Walaupun demikian, hadis ini hanya kami paparkan sebagai pertimbangan karena memiliki tema fadhilah yasin yang berbeda dengan tema pada pembahasan ini. Uraian hadis tersebut dapat dilihat sebagai berikut: 

1) Sunan al-Kubra’ an-Nasa’i (السنن الكبرى النسائي) 

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى ، قَالَ : حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ رَجُلٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لاَ يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ وَالدَّارَ الآخِرَةَ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ. ( رواه النسائي )[10]

2) Musnad Ahmad Hanbal (مسند أحمد بن حنبل) 

حَدَّثَنَا عَارِمٌ ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ رَجُلٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ ، نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا ، وَاسْتُخْرِجَتْ {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ ، فَوُصِلَتْ بِهَا ، أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ ، وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ ، لاَ يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ والدَّارَ الآخِرَةَ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ ، وَاقْرَؤُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ. ( رواه ا أحمد )[11]

Kedua hadis di atas menjelaskan juga tentang fadhilah surah Yasin untuk dibacakan kepada orang-orang yang yang menghadapi sakaratul maut. Penafsiran lain mentebutkan bahwa yang dimaksud (مَوْتَاكُمْ) ialah orang yang telah wafat sehingga maksudnya mengirimkan bacaan surah Yasin kepada si mayyit seperti pada umumnya dilakukan dalam tardisi umat Islam di Indonesia, Wallahu A’lam. Matan kedua hadis di atas adalah sama yang artinya dapat di lihat dibawah ini: 

“Dan Yasin adalah hati al-Quran. Tidak ada seseorang yang membacanya yang mengharapkan Ridha Alah dan pahala taman sorga kecuali ia akan diampuni, dan bacakanlah Yasin itu untuk mayit kalian”. 

C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN 

1) Sunan at-Tirmidzi (سنن الترمذي) 

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا ، وَقَلْبُ القُرْآنِ يس ، وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ القُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ 

artinya: “Sesungguhnya bagi setiap sesuatu memiliki hati dan hati al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang membaca Yasin maka Allah mencatat baginya untuk bacaannya dengan bacaan al-Quran sepuluh kali” 

2) Sunan ad-Da’rimi (سنن الدارمي) 

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا ، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ 

artinya: “Sesungguhnya bagi setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang membacanya maka sesungguhnya ia seperti membaca al-Quran sepuluh kali” 

3) Sya’bu al-Iman (شعب الإِيمان) 

لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبٌ، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ 

artinya: “Bagi setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang membaca Yasin maka Allah mencatat baginya untuk bacaannya dengan bacaan al-Quran sepuluh kali” 

4) Mu’jam Ibnu al-Araby (معجم ابن الأعرابيِ) 

لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبٌ ، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يَاسِينُ ، فَمَنْ قَرَأَ يَاسِينَ كُتِبَ لَهُ بِهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَشْرَ مِرَارٍ 

artinya: “Bagi setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati al-Quran adalah Yasin. Maka barang siapa yang membaca Yasin maka dicatat baginya untuk bacaannya dengan bacaan al-Quran sepuluh kali” 

Berdasarkan berbagai redaksi matan dari hadis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa redaksi hadis tersebut tidak ada perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaannya masih dimaklumi dan tetap menunjukan makna yang sama antara satu redaksi dengan redaksi yang lainnya. Oleh karena itu, hadis di atas kemungkinan besar disampaikan kepada kita oleh para perawi dengan riwayat bil makna.

D. SKEMA SANAD 

Berdasarkan hasil penelusuran di atas dapat dibuat skema sanad sebagai berikut:


Mukharrij Hadis, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Arabi dan al-Baihaqi

E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT 

Berdasarkan skema sanad dari keempat hadis diatas, yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam al-Tirmidzi,dengan komposisi sanad; Anas bin Malik, Qatadah, Mukatil bin Hayyan, Harun Abi Muhammad, Hasan bin Shalih, Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy, Qutaibah bin Said dan Sofyan bin Waki’. 

a) Anas bin Malik (w. 93 H) 

Anas bin Malik memiliki nama lengkap Anas bin Malik bin Nadhar Abu Hamzah al-Anshary al-Madny.[12] Beliau termasuk urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadist, Ia meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits. Ketika ia berusia 10 tahun, ibunya Ummu sulaiman membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk berkhidmat. Pada waktu Abu Bakar meminta pendapat Umar mengenai pengangkatan Anas bin Malik menjadi pegawai di Bahrain, Umar memujinya “Dia adalah anak muda yang cerdas dan bisa baca tulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah”. 

Komentar Abu Hurairah tentang Anas “Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik)”. Pada hari hari terakhir masa kehidupannya, Anas pindah ke Basrah. Itulah sebabnya para Ulama mengatakan bahawa Anas bin Malik adalah sahabat terakhir yang meninggal di Basrah. Jika ada orang suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, marilah menghadap kepada orang yang pernah mendenganr dari Rasululah Shallallahu alaihi wassalam”. 

Anas bin Malik wafat pada tahun 93 H dalam usia melampaui seratus tahun. Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan kredibilitasnya.[13] Ulama telah sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil dan ini mendapat legitimasi dari banyak dalil, baik al-Quran maupun Hadis.[14] Adapun guru-guru dan murid Anas bin Malik dapat dilihat pada tabel berikut:[15]


NO GURU MURID
1 النبى صلى الله عليه وسلم قتادة بن دعامة
2 أبى بن كعب أبان بن أبى عياش
3 أسيد بن حضير إبراهيم بن ميسرة


b) Qatadah (w. 100 H) 

Nama lengkapnya adalah Qatadah bin Di’amah bin Qatadah. Sebagian juga mengatakan Qatadah bin Di’amah bin Akabah, as-Sudu’sy, Abu Khattab al-Bashary. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-4 (طبقة صغارالتابعين) yang lahir pada tahun 60 H / 61 H dan wafat pada tahun 100 H.[16] Berikut pendapat para ulama terhadap Qatadah:

1 Yasin
NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Ibnu Hajar - ثقة ثبت رمى بالتشيع
2 Al-Zahabi - الحافظ متشيع
3 Muhammad bin Sirrin - أَحْفَظُ النَّاسِ -
4 Sya’bi - - حَاطِبُ لَيْلٍ

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:[17]

1 Yasin
NO GURU MURID
1 أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ مقاتل بن حيان
2 بديل بن ميسرة العقيلى حجاج بن حجاج الباهلى
3 بشر بن عائذ المنقرى أشعث بن براز الهجيمى
4 بشر بن المحتفز إسماعيل بن مسلم المكى
5 حميد بن عبد الرحمن بن عوف مرزوق أبو بكر الباهلى


Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Al-Tirmidzi; Al-Nasa’i dan Ibnu majah. 

c) Mukatil bin Hayyan (w. 150 H) 

Mukatil bin Hayyan memiliki nama Mukatil bin Hayyan bin Dawa’la Du’ra Abu Bistham al-Nabty. Beliau tergolong dalam tabaqah ke-6 (صغارالتابعين ). Ia wafat pada tahun 150 di India, kabil.[18] Berikut pendapat para ulama terhadap Mukatil bin Hayyan:

1 Yasin
NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Ibnu Hajar أخطأ الأزدى فى زعمه أن وكيعا كذبه و إنما كذب الذى بعده صدوق فاضل -
2 Al-Zahabi - ثقة - عالم - صالح -
3 Yahya bin Ma’in - ثقة -
4 Abu Daud - ثقة -
5 Abdul Salam bin Atiq - ثقة -


Adapun guru-guru dan murid-murid Mukatil bin Hayyan dapat dilihat sebagai berikut:[1]

1 Yasin
NO GURU MURID
1 قتادة بن دعامة هارون أبو محمد
2 الحسن البصرى إبراهيم بن أدهم
3 سعيد بن المسيب أصرم بن غياث النيسابورى


Berikut Imam hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Muslim; Abu Daud; Al-Tirmidzi; Al-Nasa’i dan Ibnu majah. 

d) Harun Abi Muhammad 

Harun Abi Muhammad memliki identitas yang kurang diketahui. Ia termasuk dalam thabaqah ke-7 (من كبار أتباع التابعين). Perawi hadis yang mengambil hadis darinya hanya Imam at-Tirmidzi.[20] Untuk kritikus ulama terhadap beliau dapat dilihat dibawah ini: 
1 Yasin
NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Ibnu Hajar مجهول - -
2 Al-Zahabi مجهول - -
3 Abu Isa مجهول - -


Untuk jarh Harun Abu Muhammad diatas pada nomot 3, kami nukil dari syarah Sunan at-Tirmidsi yang dikemukakan oleh Abu Isa. Di dalam rawah at-Tahzibain halaman 7249 dicatumkan hanya ada satu guru Harun, yaitu Mukati bin Hayyan dan juga hanya memiliki satu murid, yaitu Hasan bi Shalih bin Hayyin. 

e) Hasan bin Shalih 

Nama lengkapnya adalah Hasan bin Shalih bin Shalih bin hayyin. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-7 (من كبار أتباع التابعين ) yang lahir pada tahun 100 H dan wafat pada tahun 169 H. Berikut pendapat para ulama terhadap Hasan bin Shalih:[21]
1 Yasin
NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Ibnu Hajar - ثقة - فقيه - عابد رمى بالتشيع
2 Al-Zahabi - أحد الأعلام - صدوق- عابد متشيع
3 Ahmad bin Hanbal - ثِقَةٌ -
4 Yahya bin Main - وَثَّقَهُ -


Adapun guru-guru dan murid-murid Hasan bin Shalih bin Hayyin diantaranya seperti dibawah ini:
1 Yasin
NO GURU MURID
1 هارون أبو محمد حميد بن عبد الرحمن الرؤاسى
2 الأجلح بن عبد الله الكندى الحسن بن عطية القرشى
3 إسماعيل بن عبد الرحمن السدى أحمد بن عبد الله بن يونس


f) Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy 


Nama lengkapnya adalah Humaidi bin Abdirrahman bin Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-8 (من الوسطى من أتباع التابعين) dan wafat pada tahun 189 H atau 190 H dan atau setelahnya. Diantara imam hadis yang meriwaytkannya hadisnya ialah Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu majah. Berikut pendapat para ulama terhadap Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy:[22]
1 Yasin
NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Ibnu Hajar - ثقة -
2 Ibnu Abi Syaibah - قل من رأيت مثله ؟ -
3 Yahya bin Main - ثِقَةٌ -
4 Ibnu Sa'ad - كان ثقة كثير الحديث لم يكتب الناس كل ما
 عنده
5 'Ajaly - ثقة ثبت عاقل ناسك -



Adapun guru-guru dan murid-murid Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy diantaranya seperti dibawah ini:
1 Yasin
NO GURU MURID
1 الحسن بن صالح بن حى سفيان بن وكيع بن الجراح
2 إسماعيل بن أبى خالد قتيبة بن سعيد
3 الحسن بن الحر أبو خيثمة زهير بن حرب


Berikut Imam hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasa’i dan Ibnu majah.[23]

g) Qutaibah bin Said 

Nama lengkapnya Qutaibah bin Said Jamil bin Tharif al-Sakafy. Ia juga memiliki nama lakab “Abu Raja’ al-Balhy al-Baglany” dan namanya juga biasa dipanggil “Yahya”. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-10 (كبارالآخذين عن تبع الأتباع) yang lahir pada tahun 150 dan wafat pada tahun 240. Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasa’i dan Ibnu majah.[24] Berikut pendapat para ulama terhadap Qutaibah bin Said: 
1 Yasin
NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Ibnu Hajar - ثقة ثبت -
2 Al-Zahabi - - لم يذكرها
3 Yahya bin Main - ثِقَةٌ -
4 Ibnu Harisy - صدوق -


Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut:[25]
1 Yasin
NO GURU MURID
1 حميد بن عبد الرحمن الرؤاسى الترمذى
2 إبراهيم بن سعيد المدنى البخارى 
3 إسحاق بن عيسى القشيرى مسلم



h) Sofyan bin Waki’ 

Nama sebenarnya adalah Sufyan bin Waki’ bin Jarrah ar-Rua’asi, Abu Muhammad al-Ku’fy. Ia seorang ulama dari tabaqah ke 10 (كبارالآخذين عن تبع الأتباع ) yang wafat pada tahun 247 H. Imam hadis yang meriwayatkan hadisnya ialah at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.[26] Berikut pendapat para kritikus terhadap beliau: 
1 Yasin
NO KRITIKUS JARH TA'DIL KETERANGAN
1 Ibnu Hajar إلا أنه ابتلى بوراقه ، فأدخل عليه ما ليس من حديثه فنصح فلم يقبل فسقط حديثه كان صدوقا -
2 Al-Zahabi ضعيف - -
3 Ibnu Hibban إلا أنه أبتلى بوراقه شيخا فاضلا صدوقا -
4 Abu Zaru’ah لاَ يُشْتَغَلُ بِه - كَانَ يُتَّهَمُ - -


Adapun guru-guru dan murid-murid beliau sebagai berikut:[27]
1 Yasin
NO GURU MURID
1 حميد بن عبد الرحمن الرؤاسى الترمذى
2 جرير بن عبد الحميد ابن ماجه
3 جميع بن عمر بن عبد الرحمن العجلى أبو جعفر أحمد بن الحسن بن الجعد البغدادى
4 حفص بن غياث أبو بكر أحمد بن على بن سعيد المروزى القاضى
5 أبى أسامة حماد بن أسامة أبو على أحمد بن محمد بن على بن رزين الباشانى الهروى


i) Imam at-Tirmidzi 

Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan dan pengarang berbagai kitab yang masyur. Beliau tergolong dalam thabaqah ke-12 (صغارالآخذين عن تبع الأتباع) yang lahir pada tahun 210 H di kota Tirmiz, Iran.[28]

Semenjak kecilnya Abu Isa sudah gemar mempelajari ilmu dan mencari hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri: Hijaz, Irak, Khurasan dan lain-lain. Ia wafat di Tirmiz pada malam S enin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.[29] Diantara guru beliau ialah Imam bukhari, Imam muslim dan Abu Daud bahkan Tirmidzi belajar pula hadits dari sebagian guru mereka.Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin ‘Abdur Rahman, Muhammad bin Basysyar dan lainnya. 

Abu ‘Isa aat-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadits, kesalehan dan ketakwaannya. Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad ibn Hibban, kritikus hadits, menggolangkan Tirmidzi ke dalam kelompok “Siqah”. Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits menerangkan bahwa Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadits yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya dan imam yang menjadi ikutan banyak orang. 

F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD 

Menganalisa berbagai rawi yang telah diuraikan diatas, sebagian besarnya adalah memenuhi standar seorang rawi dan dapat diterima hadisnya. Adapun kriteria yang lainnya, diantaranya ada satu rawi yang majhul. Jati diri dan identitasnya tidak diketahui sehingga sifat-sifat keadilan dan kedhabitannya tidak dapat dipastikan. Melalui analisa kami, hadis ini termasuk Majhul A’yn karena perawi (Harun Abi Muhammad) tidak ada yang mengambil periwayatannya selain satu orang, yaitu Hasan bin Shalih. Hal ini kami landaskan dengan kutipan dalam kitab “Rawah at-Tahzibain” yang hanya menyebutkan satu murid dari Harun Abi Muhammad. 

Pada sanad yang lain, ada juga riwayat yang dihukumi dha’if, yaitu Sofyan bin Waki’ namun masih dapat ditolerir melalui jalur Qutaibah bin Said karena Imam Tirmidzi meriwayatkan hadis ini dari keduanya. Dengan demikian, cacat hadis ini terletak pada salah satu sanadnya yang tidak diketahui identitasnya.

G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD 

Berdasarkan data diatas, terdapat rawi yang majhul dan ada juga yang dha’if serta terdapat pula rawi yang yang kadang tersalah dalam pendapatnya, yaitu Mukatil bin Hayyan sehingga Imam Bukhari tidak meriwaytkan hadis darinya. Namun, dua cacat terakhir (dha’if dan Khata’) masih dapat dimaklumi dengan adanya keterangan-keterangan yang melegitimasinya. Hal ini berbeda dengan cacat pertama, yaitu kemajhulan rawi yang menunjukkan hadis ini menjadi Dha’if karena catat keadilan.

Mengenai jalur hadis diatas, letak kemajhulannya terletak pada jalur yang tunggal dari sanadnya sehingga tidak ada kemungkinan mendapat legitimasi dari jalur lain. Walaupun demikian, analisa kami menganggap hadis ini tidak terlalu dha’if karena sebab kedhaifannya terjadi karena catat keadilan. Pada sisi lain, kasus Rawi yang majhul ada hadisnya yang diriwayatkan oleh seorang yang Tsiqah dan bahkan Imam bukhari meriwayatkan hadisnya dan meletakkan dalam sebuah kitabnya yaitu (الأدب المفرد) dan begitu juga Imam hadis yang lain. Imam yang kami maksud di sini ialah Hasan bin Shalih yang meriwayatkan hadis ini dari Harun Abi Muhammad yang di jarh dengan “Majhul” oleh beberapa kritikus.

Simpulan akhir yang dapat dipetik terkait sanad hadis ini ialah termasuk hadis Ahad dari tinjauan kuantitas sanad dan termasuk hadis dha’if dari tinjauan kualitas sanad. Kedhaifannya karena ada rawi yang majhul yang berdasarkan berbagai analisa diatas masuk dalam kategori cacat keadilan, bukan cacat kedhabitan sehingga derajat kedhaifannya tidak tergolong dha’if tingkat rendah. Kemudian yang terakhir, hadis ini dapat disebut hadis majhul dalam kategori majhul al-‘Ayn.[30]

H. HUKUM SANAD HADIS

Uraian sanad diatas dapat kami simpulakan bahwa sanad hadis ini Dha’if karena ada rawi yang Majhul tetapi tidak sampai pada derajat yang paling rendah. Tingkatan dhaifnya disebabkan cacat keadilan pada salah satu rawinya, bukan cacat kedhabitan seperti Hadis Mungkar yang menempati hadis dha’if paling rendah. Dengan demikian, hadis ini dapat diamalkan dalam batasan-batasan tertentu dengan tetap berlandaskan pada sumber-sumber hukum syariat yang lebih qat’i. Keterangan lebih lanjut mengenai pengamalan hadis dha’if, akan diuraikan lebih lanjut di bawah ini.

I. FIQHUL HADIs

Setelah menguraikan secara rinci dari uraian sanad di atas, berikut ulasan mengenai matan hadis ini. Ada dua informasi penting yang terkandung dalam hadis ini, yaitu mengabarkan bahwa yasin adalah hati al-Quran dan keutamaan membaca Yasin seperti membaca al-Quran sepuluh kali. Pada hadis lain dengan sanad dan matan yang berbeda, ada juga yang menyebutkan bahwa “Yasin adalah Hati al-Quran” yang dihubungkan dengan fadhilahnya ketika dibacakan kepada orang yang sakarat (masa naza’) atau orang mati (Yasin Fadhilah). 

Oleh karena itu, sisi keutamaan Yasin sebagai salah satu surah al-Quran adalah sebagai pusat atau inti al-Quran sebagaimana peranan hati dalam diri manusia. Hadis ini banyak disebutkan dalam kitab-kitab tafsir seperti, Tafsir Haqqi 422 (Hal.) /11 (Juz); Assirajul Munir; Tafsir Ibnu Katsir 257 / 13; Ruhul Ma’ani 103/1, Tafsir Manar 234/8 serta tafsir-tafsir lainnya.[31] Seperti disebutkan di dalam Tafsir yang serupa dengan pernyataan Imam Ghazali menyebutkan “Yasin di katakan sebagai hati al Qur`an karena maksud al-Quran di turunkan untuk menjelaskan bahwa manusia akan di kumpulkan di mahsyar , lalu mereka yang patuh akan mendapatkan balasan yang layak dan mereka yang suka dengan perbuatan kemaksiatan tidak akan lepas dari sangsi dan adzab”.[32]

Analisa kami terhadap keterangan diatas menunjukkan bahwa yang disebutkan dalam hadis mengenai keutamaan surah Yasin yaitu, membacanya seperti membaca al-Quran sepuluh kali dan untuk bacaan Yasin fadhilah atau untuk orang yang sakarat. Selain itu, Surah ini dapat diamalkan dari berbagai segi kehidupan seperti yang telah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dipahami dari redaksi kedua hadis yang telah kami sebutkan di atas menunjukkan (1) “Yasin adalah Hati al-Quran” teks ini berlaku secara umum”; (2) “Membacanya Yasin dituliskan pahala seperti membaca al-Quran sepuluh kali” adalah teks yang khusus sebagai penjabaran makana dari teks umum, yaitu “Yasin adalah Hati al-Quran”. Poin kedua ini serupa dengan teks “bacalah Yasin pada orang yang sakarat atau orang yang tealah mati”. Dengan demikian, Surah Yasin dapat diamalkan sebagai washilah atau do’a untuk mengharap Ridha Ilahi sesuai dengan niat niat masing-masing. Terakhir, diantara kita jangan sampai muncul persepsi adanya perbedaan antara satu surah dengan surah lainnya karena hakikatnya adalah sama sebagai bahagian dari kitab suci al-Quran. 

J. HUKUM MENGAMALKAN HADIS DHA’IF 

Ada tiga pendapat dikalangan ulama mengenai pengamalan hadis dha’if:[33]

a) Hadis dha’if tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai fadha’il maupun ahkam. Ini diceritakan oleh Yahya ibnu Ma’in dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu al-‘Araby. Tampaknya ini juga merupakan pendapat imam Bukhari dan imam Muslim serta Ibnu Hazm. 

b) Hadis Dha’if bisa diamalkan secara mutlak menurut Abu Daud dan Imam Ahmad. Keduanya berpendapat bahwa hadis dha’if lebih kuat dari pada ra’yu perseorangan. 

c) Hadis Dha’if bisa digunakan dalam maslah fadha’il amal, mawa’idz atau yang sejenis bila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut: 

  • Kedhaifannya tidak terlalu sehingga tidak tercakup di dalamnya seorang pendusta atau tertuduh berdusta. 
  • Ruang lingkupnya bukan dalam ruang lingkup Aqidah dan hakum syariat 
  • Mengamalkannya tidak menyakini bahwa ia berstatus kuat dan juga tetap dinaugi oleh dasar hukum islam lainnya. Contoh, Seorang ayah berkata kepada anaknya: Nak : belajar dan berdo’alah agar bisa mencapai cita-cita mejadi Sarjana al-Quran? Ketika Anak tersebut mengamalkannya karena takut kepada orang tuanya dan semata-mata agar dapat menggapai cita-citanya, maka perbuatannya telah keluar dari ajaran syariat. Tetapi, Setidaknya anak tersebut menjalankan perintah orang tuanya untuk berbakti karena perintah ini telah disebutkan di dalam al-Quran. Begitupun belajar dan berdo’a, banyak nash-nash yang qat’i untuk mengerjakan keduanya. Jadi, poin ketiga ini menuntut pengamalan hadis dha’if agar tidak bertentangan dengan nash-nash Syariat. 

Analisa terakhir, M. Ajaj al-Khatib dalam kitabnya Ushul al-Hadis menyebutkan bahwa pendapat pertamalah yang yang paling selamat. Menurut beliau, banyak hadis-hadis Nabi yang shahih tentang fadha’il, targhib, dan tarhib yang sudah cukup agar kita tidak perlu meriwayatkan hadis-hadis dha’if mengenai masalah fadha’il dan sejenisnya. Untuk kesimpulan kami mengenai pengamalan hadis dha’if ini, tidak ada larangan bagi ahli ilmu. Adapun bagi orang awam, sebaiknya tidak mengamalkannya demi kehati-hatian.[34] 

Alhamdulillah !!!



Wallahu A’lam bi as-Shawab !!! 

GUYS, Saran dan Kritik yang bersifat konstruktif sangat kami nantikan !!!



  • ‘Arabi, Ibnul, Mu’jam Ibnu al-Araby. _____ : Dar Ibnu al-Jawazi, 1418 H / 1997 M, Cet. I 
  • ‘Ubaydi, Ahmad Hasbillah. Pengantar Ilmu Takhrij, makalah disampaikan pada mata kuliah Takhrij Hadits, (Ciputat, 2011) 
  • Adz-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’i. ______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M, Cet. III 
  • Asqalani, Ibnu Hajar. Tahdzibut Tahdzib, Bairut, Lebanon, 1993 
  • As-Suyuty, Thabaqah al-Huffash. (Beirut : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1414 H / 1994 M), Cet. I, Hal 19 
  • Az-Dzahabi, Jarah wa at-Ta’dil 
  • Baihaqi, Sya’bul Iman. Riyadh : Dar al-Salaf, 1423 H / 2003 M, Cet I
  • Darimi, Sunan ad-Daraimi. Kairo : Dar al-Hadis, 1420 H / 2000 M, Cet. I 
  • Haqqi. Tafsir Haqqi (Maktabah Syamilah) 
  • Khatib, M. Ajaj, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad. M. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007 
  • Khon, Dr. Abdul Majid, Ulumul Hadis. Jakarta: AMZAH, 2009 
  • Nasa’i, Sunan al-Kubra an-Nasa’i. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1411 H / 1991 M 
  • Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Cet I 
  • Wersinck, Dr. A, J., Al-Mu’jam al-Mufahrasy li Alfadz al-Hadits


Penyusun : HASRUL BS



Download Edisi PDF-nya DISINI



[1]Pendekatan mu’jam, yaitu dengan cara mencari lafal kalimat tertentu yang tidak populer di masyarakat. (dalam Makalah “Pengantar Ilmu Takhrij” oleh “Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah” 24 Feb 2011)
[2]Metode Mu’jam ialah metode takhrij hadis yang mengandalkan buku-buku mu’jam (buku hadis yang secara sistematis ditulis berdasarkan urut-urutan huruf alfabet) dalam melakukan kerja takhrijnya. Metode ini, sesuai dengan kebutuhannya, dibagi menjadi dua yaitu: mu’jami shakhsi dan mu’jami alfazi.
[3]Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A.J. Wensinck [w. 1939 M], karya ini menghimpun 9 kitab hadis yang termasyhur.
[4]Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), hal. 111
[5]http://www.pesantrenvirtual.com/shamila
[6]Imam Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Bab مَا جَاءَ فِى فَضْلِ يس, Cet I, Hal. 671
[7]Imam Darimi, Sunan ad-Draimi (Kairo : Dar al-Hadis, 1420 H / 2000 M), Bab في فضل يس, Juz 2, Cet. I, Hal. 329
[8]Imam Baihaqi, Sya’bul Iman (Riyadh : Dar al-Salaf, 1423 H / 2003 M), Juz 4, Hal. 94, Cet I
[9]Ibnu Arabi, Mu’jam Ibnu al-Araby (Dar Ibnu al-Jawazi, 1418 H / 1997 M), Jus 5, Cet. I, Hal. 151
[10]Imam an-Nasa’i, Sunan al-Kubra an-Nasa’i (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1411 H / 1991 M), Bab ما يقرأ على الميت وذكر الاختلاف, Juz 9, Hal. 394
[11]Imam Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Bab مَا جَاءَ فِى فَضْلِ يس, Cet I, Hal. 671
[12]As-Suyuty, Thabaqah al-Huffash (Beirut : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1414 H / 1994 M), Cet. I, Hal 19
[13]Rawah at-Tahzibain, 3/319
[14]M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad M (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), Hal. 390
[15]Rawah at-Tahzibain, Hal. 565
[16]Adz-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’I (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Hal. 269-272
[17]Rawah at-Tahzibain, Hal. 5518
[18]Ibid, Hal. 6867
[19]Rawah at-Tahzibain, Hal. 7249
[20]Ibid. 5518
[21]Adz-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’i (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Hal. 361-372
[22]Rawah at-Tahzibain, Hal. 1551
[23]Ibid, Hal. 1551
[24]Adz-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’I (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 111, Hal. 15-17
[25]Rawah at-Tahzibain, Hal. 5522
[26]Adz-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’i (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 11, Hal. 152-153
[27]Rawah at-Tahzibain, Hal. 2456
[28]Adz-Zahabi, Sirah I’alamu an-Nubla’i (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 11, Hal. 152-153
[29]Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), hal.262-263
[30]Majhul al-‘Ayn, yaitu seorang perawi disebutkan dalam sanad tetapi tidak tidak ada yang mengambil periwayatannya selain satu orang perawi. “Lihat : Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), Cet. II, Hal. 185
[31]Lihat (Maktabah Syamilah)
[32]Imam Haqqi, Tafsir Haqqi, Juz 11, Hal. 422
[33]M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), Hal. 315-316
[34]Ibid, Hal. 316

Posting Lebih Baru
This is the last post.

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.