Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Pendaftaran PDU Angkatan VIII, MUI JAKSEL 2016

Jumat, 07 Oktober 2016


SQ Blog - Info hangat buat kawan-kawan semuanya, khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa. Kembali hadir dan dibuka pendaftaran PDU (pendidikan dasar ulama) kota administrasi Jakarta Selatan tahun akademik 2017/2018. PDU dilaksanakan selama 2 tahun, dan tentunya tanpa dipungut biaya.
  • Tempat Pendaftaran: PDU MUI Kota Administrasi Jakarta Selatan, Jl. Ciputat Raya No. 30 (Depan Polsek Kebayoran Lama, Samping SD 03 Pagi)
  • Waktu Pendaftaran: 1 Oktober - 31 November 2016
  • Testing Masuk: 10-11 Desember 2016
  • Pengumuman: 19 Desember 2016
  • Daftar Ulang: 20-31 Desember 2016
  • Infaq Pendaftaran: 50.000
Kontak: Tlp (021) 729 1961, SMS (085218087508 / 08128186325)

Info lebih lanjut, lihat  brosurnya berikut Sobat:



Semoga bermanfaat!
Sekian - ADMIN

Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah

Kamis, 06 Oktober 2016


Pemikiran Abu Rayyah yang banyak mengkritisi hadis sebagaimana yang ia kemukakan dalam bukunya ‘Adwa ala al-Sunnah mengantarkannya dalam golongan Inkar Sunnah, yaitu golongan yang menginkari Hadis Nabi Saw sebagai hujjah dan sumber kedua ajaran Islam. Ia termasuk golongan Inkar Sunnah Modern dari Mesir yang disejajarkan Tawfiq Shidqiy (w. 1920 M), Ahmad Amin (w. 1954 M), Ahmad Subhi Mansur dan Musthafa Mahmud. Jika mengikuti pembagian Inkar Sunnah oleh al-Syafi’i,[1] Abu Rayyah masuk dalam kelompok yang menginkari sunnah secara keseluruhan.

Ingkar Sunnah menurut Imam Al-Syafi’i terbagi tiga kelompok;[2]
  • (1) Golongan yang menolak Sunnah secara keseluruhan,
  • (2) Golongan yang menolak Sunnah, kecuali bila sunnnah itu sesuai dengan petunjuk al-Quran,
  • (3) Golongan yang menolak Sunnah yang berstatus Ahad mereka hanya menerima Sunanh yang berstatu mutawatir.
Secara spesifiknya pemikiran Abu Rayyah sebagai berikut:
  1. Al-Sunnah dan posisinya dalam ajaran agama, menurut Abu Rayyah, al-Sunnah sebagai pedoman hidup manusia yang menempati posisi kedua setelah Al-Qur’an, Abu Rayyah membagi al-Sunnah kepada dua bagian: Pertama, al-Sunnah al-‘amaliyyah. Kedua, al-Sunnah al-qauliyyah. Adapun al-Sunnah al-qauliyyah, Abu Rayyah menjadikannya pada derajat ketiga dari agama, berada dibawah al-Sunnah al-‘amaliyyah;
  2. Tadwin Hadis, Abu Rayyah menyatakan bahwa pencatatan tekstual literatur hadis tidak dapat dipercaya, dengan menekankan bahwa pencatatan itu dilakukan jauh setelah hadis muncul. 
  3. ‘Adalah al-sahabah, menurut pandangan Abu Rayyah yang harus diteliti tidak hanya level bawah sahabat tetapi di semua tingkatan, sahabat juga tidak bisa terlepas dari tarjih.
  4. Salah satu sahabat yang terkena tarjih atau yang banyak dikritik oleh Abu Rayyah dalam bukunya adalah Abu Hurairah, menurut Abu Rayyah: Abu Hurairah namanya banyak dan tidak jelas asal muasalnya, motivasi kedekatannya dengan Nabi adalah hanya untuk mengenyangkan perutnya, rakus, terlambat masuk Islam, dan banyak meriwayatkan hadis dari pada sahabat Nabi lainnya dengan waktu yang sangat singkat. Pada masa Mu’awiyyah, ia menulis hadis dengan tujuan politik dan ia seorang mudallis. Hal ini menyebabkan menurut Abu Rayyah, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah harus diteliti kembali.
Urian lebih lanjut dari pemikiran Abu Rayyah di atas, dapat sobat baca pada link di bawah ini: (Proses)
  1. Posisi Hadis menurut Abu Rayyah
  2. Tadwin Hadis dalam Kacamata Abu Rayyah
  3. 'Adalah al-Shabah dalam Pandangan Abu Rayyah
  4. Kritikan Abu Rayyah terhadap Sahabat Abu Hurairah

ENDNOTE


[1] Imam Al-Syafi’i, Ikhtilaf al-Hadis (Kairo: Da’r al-Ma’arif, 1393 H), Juz 7, h. 7-12
[2] Zufran Rahman, Sunnah Nabi Saw sebagai sumber hukum Islam: Jawaban terhadap Aliran Ingkar Sunanh  (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995), Cet. I, h. 132; Lihat juga, Muh. Munib, Kodifikasi Hadis Perspektif Mahmud Abu Rayyah; “Telaah Atas Kitab Adwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah”, Skripsi; Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, 2012, h. 20; Sochimin, Telaah Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah dalam Buku “Adwa ‘Ala Al-Sunnah Al-Muhammadiyyah dalam Hunafa, Jurnal Studia Islamika, UIN Sunan Kalijaga, Vol. 9, No. 2, h. 274.

SEKIAN - SEMOGA BERMANFAAT
SQ BLOG

‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah karya Abu Rayyah

SQ Blog- Diantara karya Mahmud Abu Rayyyah yang fenomenal, yaitu ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah (Sorotan tentang Sunnah Nabi Mukammad) yang terbit tahun 1958 M, sekitar 395 halaman. Latar belakang penulisan kitab ini dilatar belakangi oleh semangat modernisasi Abu Rayyah untuk mengubah keadaan umat Islam pada waktu itu, yang terlelap oleh sikap jumud. Hal inilah yang membuatnya merasa perlu adanya penelitian terhadap hadis tanpa perlu secara otomatis tunduk atau patuh mengikuti teori-teori para ulama sebelumnya (mutaqaddimin), dengan menerobos taqlid yang menurutnya hal inilah yang menyebabkan kemunduran dalam Islam.[1]

Kitab ini merupakan hasil kajian dan penelitiannya mengenai sejarah Sunnah, keraguan-raguannya terhadap keshahihannya dan pandangannya yang mengecilkan arti penting Sunnah di mata umat Islam.[2] Abu Rayyah memang menjadikan sejarah sebagai pendekatan dan pisau analisis dalam menjelaskan jati diri hadis. Namun pada akhirnya, buku ini justru menyulut kemarahan para cendekiawan ortodoks karena pemikiran Abu Rayyah yang tertuang di dalam bukunya dinilai bersebrangan, terutama pembahasan mengenai Abu Hurairah. Sehingga mereka tergugah untuk memberikan tanggapan dan sanggahan atas tuduhan-tuduhan di dalamnya.[3]

Abu Rayyah dalam bukunya tersebut menyajikan satu bab khusus untuk yang memuat kritikannya terhadap Abu Hurairah yang kemudian menjadi satu buku tersendiri yang berjudul “Syekh al-Madi’rah; Abu Hurairah” (شيخ المضيرة: أبو هريرة).[4] Selain itu, buku ini berisi dari beberapa bab diantaranya; membahas tentang sebagian kitab yang diduga atau menurut Abu Rayyah tidak menyampaikan perkataan dan perbuatan Nabi Saw, namun merupakan suatu rekayasa orang-orang yang hidup se-zaman dengan Nabi dan generasi-generasi sesudahnya untuk menciptakan hadis. Lebih jauhnya menurutnya, Hadis Ahad[5] tidak boleh diberlakukan pada komunitas muslim sepanjang zaman.[6] Materi-materi dua buku karya Abu Rayyah tersebut tidak keluar dari sumber-sumber berikut:[7]
  • Pendapat-pendapat imam Mu’tazilah yang dinukil dari mereka;
  • Pendapat-pendapar radikal dari syi’ah yang secara terang-terangan dinyatakan dalam karangan-karangan mereka;
  • Pendapat-pendapat para orientalis yang termuat dalam buku-buku mereka, khususnya Da’irah al-Ma’arif (ensiklopedia) dan Dirasah al-Islamiyyah karya Ignaz Goldziher; dan
  • Cerita-cerita yang disebutkan dalam beberapa buku sastra yang penulisnya diragukan kejujuran dan pengetahuannya akan fakta-fakta
Kitab ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah menurut Shalahuddin Maqbul Ahmad sangat digemari musuh-musuh Islam, hingga salah satu kedutaan asing di Kairo membeli sebagian besar naskahnya untuk dikirim ke perpustakaan-perpustakaan barat. Hal itu supaya buku tersebut sampai kepada orang-orang yang dendam kepada Islam, Rasul dan para sahabatnya, dan dijadikan sandaran untuk mengeluarkan kebohongan dan kebatilan.[8]

Kitab yang terbit tahun 1958 M tidak lepas dari sorotan dan kritikan para ulama. Tercatat bahwa setelah buku tersebut terbit, bermunculan kurang lebih sembilan buku yang terbit untuk menanggapi kitab ‘Adwa’ tersebut. Di antaranya:[9]
  1. Majallat al-Azhar ditulis oleh seorang profesor di Fakultas Ushuluddin al-Azhar, Muhammad Abu Syuhbah. Namun, Abu Syuhbah tidak menjelaskan alasannya kenapa ia menolak atas pernyataan Abu Rayyah;
  2. Abu Hurayrah fi al-Mizan (1958), ditulis oleh Muhammad al-Samahi dari Fakultas yang sama;
  3. Difa’ ‘an al-Hadits al-Nabawi wa Tafnid Syubuhat Khushumih (1958), ditulis oleh Tim beberapa teolog non-Mesir;
  4. Zhulumat Abi Rayyah Imam Adlqa’ al-Sunah al-Muhammadiyah (1959), ditulis oleh seorang profesor teologi di Mekkah Abd. Al-Razzaq Hamzah;
  5. Al-Anwar al-Kasyifah lima fi Kitab Adlwa’ ‘ala al-Sunnah min al-Dalalah wa al-Tadl’lil wa al-Mujazafah (1959), ditulis oleh seorang sarjana di Mekkah, Abd. Al-Rahman al-Yamaniy;
  6. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islamiy (1961), ditulis oleh Musthafa al-Siba’iy. Isinya mengkritik semua pendapat Abu Rayyah terhadap Abu Hurairah tidaklah diterima karena Abu Rayyah mengutip pendapat dari al-Salabi dan Hamzani yang karyanya tidak dianggap sebagai sumber yang valid untuk mendapatkan data historis;
  7. Abu Hurayrah Rawiyat al-Islam (1962);
  8. Al-Sunnah Qabla al-Tadwin (1963), ditulis oleh Muhammad ‘Ajaj al-Khathib, dan
  9. Abu Hurairah dalam berbagai tulisan oleh Muhammad Abu Zahrah. 
Berbagai macam kritikan yang menghujat terhadap pemikiran Abu Rayyah. Menunjukkan bahwa para ulama sangat menjunjung tinggi hadis Nabi dan sangat tidak benci serta menolak terhadap pendapat-pendapat yang tidak menerima dan mencela hadis Nabi Saw (ingkar Sunnah). Menurut Shalahuddin Maqbul Ahmad, isi dari kedua buku Abu Rayyah tersebut, yaitu ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’a al-Hadis dan Syekh al-Madirah; Abu Hurairah menunjukkan seluruh ketidaktahuannya akan hakikat-hakikat tradisi Islam, keterpedayaannya oleh metode ilmiah yang diasumsikannya, kecintaannya akan popularitas murahan, klaim tentang kebebasan berfikir, dan jebakan hawa nafsu orientalis yang menjeratnya.[10]


ENDNOTE

[1] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), (Bandung : Mizan, 1999), h. 59.
[2] Shalahuddin Maqbul Ahmad,  Bahaya Mengingkari Sunnah terj. M. Misbah dari judul asli “Jawabi’ fi Wajhi al-Sunah Qadiman wa Haditsan” (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), Cet. I, h. 72
[3] Muhammad Makmun Abha (ed), Yang Membela Dan Yang Menggugat, h. 102.
[4] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis Di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), hlm. 91
[5] Hadis Ahad juga popular dengan sebutan khabar wahid, ialah hadis yang tidak sampai ke tingkat mutawatir.
[6] Sochimin, Telaah Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah dalam Buku “Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah dalam Hunafa. h. 278.
[7] Shalahuddin Maqbul Ahmad,  Bahaya Mengingkari Sunnah terj. M. Misbah dari judul asli “Jawabi’ fi Wajhi al-Sunah Qadiman wa Haditsan” (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), Cet. I, h. 72, Lihat juga, Zufran Rahman, Sunnah Nabi Saw sebagai sumber hukum Islam: Jawaban terhadap Aliran Ingkar Sunanh  (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995), Cet. I, h. 132-133.
[8] Shalahuddin Maqbul Ahmad,  Bahaya Mengingkari Sunnah, h. 73; Lihat juga, Abdul Majid Khon, Pemikiran Modern Dalam Sunah, (Jakarta : Kencana, 2011), h. 89-90.
[9] Muh. Munib, Kodifikasi Hadis Perspektif Mahmud Abu Rayyah, Skripsi; Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, 2012, h. 22.
[10] Abdul Majid Khon, Pemikiran Modern Dalam Sunah (Jakarta: Kencana, 2011), h. 90. Lihat juga, Shalahuddin Maqbul Ahmad, Bahaya Mengingkari Sunnah terj. M. Misbah dari judul asli “Jawabi’ fi Wajhi al-Sunah Qadiman wa Haditsan” (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), Cet. I, h. 72

SEKIAN

Mahmud Abu Rayyah; Pemikir Kontroversi Hadis

Sumber; Foto
SQ  Blog - Sobat, moga semuanya baik selalu, sehat wal afiyat. Kali ini admin mengajak untuk membicarakan satu tokoh hadis kontemporer asal Mesir. Menarik untuk mendiskusikan tokoh ini karena pemikirannya banyak mengandung kontroversi, lebih khusus di tanah kelahirannya sendiri, di Mesir. Dia adalah Mahmud Abu Rayyah. Berikut ulasan biografinya kawan...

>> Latar Belakang Pendidikan Mahmud Abu Rayyah

Mahmud Abu Rayyah dilahirkan di Kafr al-Mandara, di sebuah kota yang bernama Aja, provinsi Dakahlia di Mesir pada tanggal 15 desember tahun 1889 M, bertepatan 21 rabi’ al-tsani 1307 H.[1] Sebagian mengatakan bahwa Abu Rayyah dilahirkan pada tahun 1887 M,[2] dan dikatakan pula tahun 1889 M. Namun, tahun kelahirannya yang lebih masyhur adalah tahun 1889 M dan meninggal tahun 1970 dalam usia 81 tahun.[3] Ibunya meninggal ketika ia masih dalam buain, kemudian ia tumbuh dibawah pengasuhan dan pendidikan ayahnya dan saudara-saudaranya. Perjalanan pendidikannya dimulai di tanah kelahiran sendiri dengan mempelajari ilmu-ilmu agama dan juga ilmu lainnya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana pada tahun 1940 M di Mansoura University.[4]

Pada tahun 1957 M, Abu Rayyah melanjutkan pencarian ilmunya di kota Giza, sebuah kota tempat berdirinya sphinx dan piramida-piramida di Mesir. Tercatat bahwa Abu Rayyah pernah belajar di Madrasah Al-Da’wah wa al-Irsyad, lembaga dakwah yang didirikan oleh Rasyid Ridha pada tahun 1912 di Kairo. Ia juga pernah mengikuti berbagai kursus di sebuah sekolah tinggi teologi di dalam negeri. Kekaguman yang luar biasa terhadap Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha telah ia simpan sejak masa mudanya sehubungan dengan gagasan-gagasan Abduh dan Ridha tentang penolakan terhadap taqlid khususnya taqlid terhadap madzhab.

Abu Rayyah tertarik untuk melakukan penelitian tanpa perlu secara otomatis tunduk kepada teori-teori para ulama atau sarjana yang lebih senior. Merasa tidak puas atas sikap pasif (jumud) para ulama atau sarjana masa itu, serta tidak adanya imajinasi atau inspirasi dalam diri mereka, menjadi tujuan utama Abu Rayyah untuk menerobos rintangan taqlid ini yang dalam pandangannya merupakan penyebab terjadinya kemunduran dalam Islam.[5]

Setelah mengabdikan masa mudanya untuk studi kesusastraan Arab, Abu Rayyah menemukan beberapa hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang penafsirannya membuat ia heran.[6] Beliau memiliki kesan bahwa Nabi tidak mungkin pernah mengucapkan kata-kata remeh dan kasar seperti itu, tidak memiliki retorika sebagaimana yang sering dijumpainya dalam berbagai tulisan.[7] Berangkat dari anggapan tersebut, Abu Rayyah kemudian menuangkan pandangan-pandangannyanya dalam Ilmu Hadis, walaupun demikian ia banyak menyandarkan argumen-argumennya dengan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho.

>> Buku dan Karya-karya Ilmiah Mahmud Abu Rayyah

Mahmud Abu Rayyah merupakan salah seorang penulis modern berkebangsaan Mesir yang banyak mengemukakan pandangannya mengenai ilmu Hadis. Diantara buku dan karya-karya ilmiah Abu Rayyah ialah:[8]
  1. Hadis Muhammad (artikel)
  2. ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’a al-Hadis (أضواء على السنة المحمدية او ضفاع عن الحديث)
  3. Syekh al-Madi’rah; Abu Hurairah; (شيخ المضيرة: أبو هريرة)
  4. Al-Sayyid al-Badawy (السيد البدوي)
  5. Hayat al-Qurra’ (حياة القرى)
  6. Rasail al-Rafi’iy (رسائل الرافعي)
  7. Shoihah Jamaluddin al-Afghani (صيحة جمال الدين الأفغاني)
  8. Jamaluddin al-Afghani; Tarihihi wa Risalatihi
  9. Muhammad wa al-Masih Akhawani; Din Allah Wahid ala Alsanah al-Rusul (دين الله واحد علی ألسنة الرّسل ; محمد والمسیح أخَوان)
  10. Qishshah al-Hadist al-Muhammady (قصة الحديث المحمدي)
  11. Wa ma Laki’hi min Ashhabi al-Rasul (وما لقيه من أصحاب الرسول)
Pada 1945, ia pernah menulis sebuah artikel yang berjudul Hadis Muhammad yang memuat pemikirannya tentang hadis yang menyalahi kepercayaan para ulama Al-Azhar. Maka, terjadilah polemik dengan mereka, di antaranya dengan Abu Syahbah yang menyarankan agar ia meralat tulisannya. Akan tetapi, dengan keteguhan pendiriannya, Mahmud Abu Rayyah tidak mengindahkannya, bahkan menolaknya dengan artikel kedua yang tetap mempertahankan pendiriannya.[9]

Abu Rayyah terkenal karena dua karya kontroversialnya, yaitu Adwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’a al-Hadis dan Syekh al-Madirah; Abu Hurairah yang mendapatkan banyak tanggapan dari para cendekiawan muslim. Pemikirannya yang terpengaruh oleh orientalis terlihat jelas dalam buku-bukunya tersebut. Di antara orientalis yang menjadi rujukan Abu Rayyah adalah Ignaz Goldziher, orientalis yang pertama kali melakukan kajian hadis dengan karya monumentalnya, Muhammadanische Studien.[10] Buku ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah ini insya Allah admin bahas pada postingan selanjutnya!

SEKIAN
Baca juga:
  • Sekelumit Diskusi Otentisitas Hadis Dulu Hingga Kini
  • 'Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyah karya Kontroversi Abu Rayyah
  • Posisi Hadis menurut Abu Rayyah
  • Tadwin Hadis dalam Kacamata Abu Rayyah
  • 'Adalah al-Shabah dalam Pandangan Abu Rayyah
  • Kritikan Abu Rayyah terhadap Sahabat Abu Hurairah
ENDNOTE



[1] Murthadho al-Radwa’, Bersama Para Pembaharu di Mesir (T,t: T.p., 1232 H), Cet. I, dalam Wikipedia: https://ar.wikipedia.org/ /w/index.php?title=محمود_أبو_رية
[2] Mus’idul Millah, Mahmud Abu Rayyah (1887-1964) Penggerak Inkar Sunnah? Dalam Yang membela dan Yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, 2012), h. 100.
[3] Sochimin, Telaah Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah dalam Buku ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah dalam Hunafa, Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 2, h. 273.
[4] Artikel “Min A’lami al-Fikri al-Hadis; Abu Rayyah, dalam http://www.adawaanews.net
[5] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), (Bandung: Mizan, 1999), h. 59.
[6] Salah satu redaksi Hadis tersebut ialah;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى.  (رواه البخاري)
Artinya: “dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya.” (H.R. Imam Al-Bukhari)
[7] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis Di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), h. 59-60; Lihat juga, Mus’idul Millah, Mahmud Abu Rayyah (1887-1964) Penggerak Inkar Sunnah? Dalam yang membela dan yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, t.t), h. 101.
[8] Wikipedia: https://ar.wikipedia.org/ /w/index.php?title=محمود_أبو_رية
[9] Zaedmannan, Pemikiran Hadis Kontemporer Mahmud Abu Rayyah, Makalah, Dipostoing tanggal 24 Oktober 2013.
[10] Muh. Munib, Kodifikasi Hadis Perspektif Mahmud Abu Rayyah, Skripsi; Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, 2012, h. 15.

SEKIAN
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 1437 H / 2016 M. SQ BLOG - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger