SQ BLOG

Kajian

Post Top Ad

Post Top Ad

Senin, 12 Juni 2017

19 Hadis Shahih dan Makbul Seputar Keutamaan Ramadhan

Senin, Juni 12, 2017 0
Salam Sobat - SQ BLOG, setelah admin sebelumnya share 5 Hadis Palsu Seputar Ramadhan, dan tentu masih banyak hadis-hadis palsu yang lain, kali ini admin akan share terkait dengan hadis-hadis seputar keutamaan ramadhan. Admin juga telah menyusun hadis-hadis tersebut dalam bentuk PDF yang sobat dapat download. Admin memberinya judul Hadis-hadis Shahih dan Makbul tentang Keutamaan Seputar Ramadhan; Disarikan dari Hadis Nabawi dan Hadis Qudsi.


Dalam uraian tersebut dan juga dalam postingan kali ini, admin utarakan 19 Fadhilah atau Keutamaan seputar bulan Ramadhan, oleh nya postingan ini juga berjudul "19 Hadis Shahih dan Makbul Seputar Keutamaan Ramadhan". Sungguh pun demikian, hadis-hadis yang terdapat di dalamnya tidak hanya 19 saja, karena terdapat penyebutan beberapa hadis dalam satu fadhilah/keutamaan. Penyebutan 19 Hadis dalam judul postingan ini hanya untuk menunjukkan 19 tema umum atas kategori keutamaan dari hadis-hadis tersebut.

Sobat, langsung simak aja ulasannya di bawah ini:



Bagi sobat, untuk bekal pengajaran ataupun dakwah silahkan langsung download pada link di bawah:


SEKIAN
SEMOGA BERMANFAAT
Read More

Minggu, 11 Juni 2017

Nama Jakarta Terambil dari Surat Al-Fath?

Minggu, Juni 11, 2017 0
Salam Sobat - SQ Blog, hari puasa ini semoga semuanya tetap semangat dalam setiap aktivitasnya. Admin kali ini akan sedikit bercerita tentang asal kota Jakarta. "Yaa ud bertahun2 hidup di Jakarta masa asal namanya aja nggak tahu." Nah kali ini admin sedikit akan bagikan informasi tersebut. Admin tertarik share info ini karena sedikit banyaknya terkait dengan sejarah awal Islam di Indonesia.



Penasaran nggak sobat? Awal kisahnya begini...
 
Setelah Portugis masuk ke Indonesia yang membawa 3 misi utama, gold, glory, dan gospel. Mereka pun mengincar wilayah-wilayah nusantara yang strategis, termasuk Sunda Kelapa yang memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai negara. Portugis akhirnya berinisiatif untuk memonopoli wilayah tersebut pada tahun 1512 M. Namun menuai kegagalan karena sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh sejumlah pemerintahan Islam di Jawa, seperti Demak dan Banten. (Wikipedia)

Lanjut kisah, tahun 1522 Portugis berhasil memasuki wilayah Sunda Kelapa, kemudian Gubernur Alfonso d'Albuquerque yang berkedudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untuk membangun benteng di sana. Mereka pun dengan 3 misinya mulai mengekspansi wilayah tersebut dan membangun tempat-tempat ibadah. Hal ini diketahui oleh kerajaan Demak yang saat itu dipimpin oleh Sunan GUnung Jati. Ia pun mengirim menantunya yang bernama Fathullah, orang-orang lokal biasa memanggilnya Fatahillah, dan orang-orang Potrugis memanggilnya Faletehan.

Singkat cerita Sobat, Fatahillah berhasil menguasi wilayah Sunda Kelapa dari tangan penjajah Portugis ketika itu. Pristiwa itu terjadi pada tanggal 22 Ramadhan 923 H, bertepatan dengan 22 Juni tahun 1527 M. Fatahillah dan pejuang Islam menyadari bahwa kemenangan tersebut adalah anugerah dari Allah. Kemudian Fatahillah menggantikan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Kata ini (Jayakarta) terambil dari awal surat al-Fath yaitu (فَتْحًا مُبِينًا) yang artinya dalam bahasa lokal disebut Jayakarta. Kemudian seiring waktu disingkat menjadi Jakarta.

Sampai saat inipun, peringatan hari jadi Jakarta tetap diperingati pada 22 Juni 1527. Ketetapan ini berdasarkan keputusan DPR Sementara Kota Jakarta Nomor 6/D/K/1956.

Tulisan ini sesuai dengan Video Ust Adi Hidayat dalam Benarkah ada Walisongo,
dan keterangan lebih lanjut silahkan buka buku Api Sejarah oleh Ahmad Mansur Suryanegara.

SEKIAN
Read More

Jumat, 26 Mei 2017

5 Hadis Palsu Seputar Ramadhan

Jumat, Mei 26, 2017 0
SQ BLOG - Salam kawan sobat semuanya, Alhamdulilah memasuki bulan ramadhan tahun kali ini tinggal menghitung jam. Marhaban yaa ramadhan... 

Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Janji hadis di ataslah tentunya yang membuat setiap kita bergembira untuk menyambut bulan nan suci ini.
Sehubungan hal ini, admin kali ini akan berbagi beberapa hadis dha'if seputar Ramadhan. Hadis-hadis tersebut sebenarnya banyak, tapi admin hanya menyajikan 5 buah pokok bahasan yang admin sadur dari karya Ali Mustafa Ya'qub. Admin menyadari belum saatnya menghukumi sebuah hadis tanpa berdiri di atas pijakan yang benar-benar mumpuni. Karena hal ini bukan sekedar klaim ini shahih atau dha'if, tapi lebih dari itu, penguasaan akan sebab-sebab atau illatnya dan studi ilmu lainnya yang terkait.

Berikut 5 Hadis Palsu tersebut:
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html
Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.

Read more https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html

1. HADIS PERTAMA; 3 BAGIAN DALAM KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN


حَدَّثَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ سَوَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مَسْلَمَةُ بْنُ الصَّلْتِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ» ﴿رواه العقيلي في الضعفاء الكبير﴾

Artinya: Permulaan bulan Ramadhan itu Rahmat, Pertengahannya maghfirah (ampunan), dan penghabisannya merurpakan pembebasan dari neraka.”[1] (.H.R. Al-Uqaili)

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Adiy, Al-Khatib al-Bagdadi, Al-Dailami, dan Ibn ‘Asakir. Menurut Imam al-Suyuti, hadis ini nilainya dha’if (lemah), dan menurut Albani bahwa hadis ini adalah mungkar. Pernyataan Albani ini tidak berlawanan dengan pernyataan Al-Suyuti karena hadis mungkar adalah bagian dari hadis dha’if. Hadis mungkar termasuk kategori hadis yang sangat lemah dan tidak dapat dipakai sebagai dalil apa pun.[2]

Sumber kelemahan hadis ini adalah dua orang rawi, yaitu Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalt. Menurut Ibn ‘Adiy, Sallam bin Sawwar adalah munkar al-Hadis. Ibnu Hibban mengatakan Sallam tidak boleh dijadikan hujjah (pegangan), kecuali apabila ada rawi lain yang meriwayatkan Hadisnya. Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk, yaitu dituduh sebagai pendusta.

Hadits lemah yang senada dengan hadits diatas yaitu:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيّ قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً ، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا ، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ…وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُه رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ... ﴿رواه ابن خزيمة في صحيح ابن خزيمة﴾

“Dari Salmân al-Fârisi Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dihadapan kami pada hari terakhir bulan Sya’bân. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai manusia, sungguh bulan yang agung dan penuh barakah akan datang menaungi kalian, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang beribadah pada bulan tersebut dengan satu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang menunaikan satu kewajiban pada bulan itu, maka sama dengan menunaikan tujuh puluh ibadah wajib pada bulan yang lain. Itulah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga …. Itulah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka...”. (H.R. Ibnu Khuzaimah)[3]

Sanad hadits ini dha’îf (lemah), karena ada seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud’ân. Orang ini seorang perawi yang lemah sebagaiamana diterangkan oleh Imam Ahmad, Yahya, Bukhâri, Dâruquthni, Abu Hâtim dan lain-lain. Ibnu Khuzaimah sendiri mengatakan, “Aku tidak menjadikannya sebagai hujjah karena hafalannya jelek.” Imam Abu Hatim mengatakan, “Hadits ini mungkar.”[4]

Sehingga, hadis di atas merupakan hadis dha’if yang kedha’ifannya sangat parah sehingga tidak dapat dijadikan dalil apa pun, termasuk dalam fadhailul amal.

2. HADIS KEDUA; MAKAN SEBELUM LAPAR

نَحْنُ قَوْمٌ لَا نَأْكُلُ حَتَي نَجُوْعَ وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَعُ.

Artinya: Kami adalah orang-orang yang tidak makan sehingga kami lapar, dan apabila kami makan, kami tidak sampai kenyang.[5]

Ungkapan di atas banyak yang menganggapnya sebagai Hadis. Padahal tidak ditemukan sama sekali dalam kitab-kitab Hadis. Ungkapan ini ditemukan di dalam kitab Al-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah karya imam Al-Suyuti. Dan ternyata ungkapan tersebut hanyalah ucapan seorang dokter dari Sudan yang suatu saat diminta pendapatnya oleh Raja (Kisra) Persia.

Dengan demikian, ungkapan di atas bukanlah sebuah Hadis, melainkan sebuat kata-kata hikmah atau kata-kata mutiara.[6]

3. HADIS KETIGA; HARAPAN SATU TAHUN PENUH RAMADHAN


حَدَّثَنَا أَبُو الْخَطَّابِ زِيَادُ بْنُ يَحْيَى الْحَسَّانِيُّ ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ حَمَّادٍ أَبُو عَتَّابٍ ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي يَزِيدَ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالاَ : حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ أَيُّوبَ الْبَجَلِيُّ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ ، عَنْ نَافِعِ بْنِ بُرْدَةَ ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ أَبُو الْخَطَّابِ الْغِفَارِيُّ : قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (ح) وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ أَبِي يَزِيدَ ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي الْخَطَّابِ - قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاتَ يَوْمٍ وَقَدْ أَهَلَّ رَمَضَانُ ، فَقَالَ : لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا رَمَضَانُ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ السَّنَةَ كُلَّهَا... ﴿رواه ابن خزيمة في صحيح ابن خزيمة﴾

Artinya: Seandainya ummatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar satu tahun penuh menjadi Ramadhan semua.”[7] (.H.R. Ibnu Khuzaimah)

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Usaman Al-Khubari, Abu Ya’la, Al-Baihaqi, Ibnu Al-Najjar dan Al-Mundziri. Kepalsuan hadis di atas disebabkan oleh salah satu sanadnya yang bernama Jarir bin Ayyub al-Bajali. Para kritikus Hadis menilainya sebagai pemalsu hadis, matruk dan munkar. Disamping terdapat juga kejanggalan dalam matan hadisnya. Hadis di atas hanyalah penggalan dari potongan matannya yang masih panjang.

Menurut para ulama hadis, salah satu dari tanda-tanda hadis palsu adalah hadis itu panjang disertai kejanggalan susunan kata-kata dan maknanya. Dalam hadis ini, kejanggalan makna itu terdapat dalam besarnya pahala atau balasan dari amalan yang sangat ringan sementara dalam hadis-hadis shahih hal serupa tidak disebutkan.[8]

Pertanyaannya kemudian, jika hadis ini palsu, mengapa Ibnu Khuzaimah memasukannya ke dalam kitab shahihnya? Sebenarnya Ibnu Khuzaimah tidak seceroboh itu, karena beliau dalam kitabnya itu menyatakan dua ungkapan yang dapat menyelamatkan beliau dari kritik itu. Pertama, beliau menyatakan: باب ذكر تزيين الجنة لسهر رمضان...إن صح الخير (Bab tentang dihiasinya surga untuk bulan Ramadhan…apabila hadis ini shahih). Kedua, beliau juga menuturkan: فإن في قلبي في جرير بن ايوب البجلي سيء (Dalam hati saya ada sesuatu tentang Jarir ibn Ayyub Al-Bajali)

Jadi kesimpulannya bahwa hadis ini tetap Maudhu’ (Palsu).

4. HADIS KEEMPAT; TIDURNYA ORANG PUASA ADALAH IBADAH

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا سِخْتَوَيْهِ بْنُ مَازِيَادَ، حَدَّثَنَا مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ، حَدَّثَنَا زِيَادٌ الْأَعْلَمُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى الْأَسْلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ " ﴿رواه البيهقي﴾

Artinya: Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”[9] (.H.R. Al-Baihaqi)

Hadits ini dha’if, sebagaimana dikatakan Al-Iraqi, Albani juga mendhaifkan hadits ini. Di dalam hadis ini terdapat nama-sama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang perawi yang dha’if, dan Sulaiman bin Amr al-Nakha’I, seorang perawi yang lebih dha’if dari pada Ma’ruf. Kesimpulan Ali Mustafa Ya’qub bahwa hadis ini merupakan hadis palsu.

5. HADIS KELIMA; PUASA RAMADHAN TIDAK DITERIMA HINGGA MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

حَدَّثَنَا أبو قاسم بْنُ الْحُصَيْنِ قَالَ أَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي عَلِيٍّ الْبَصْرِيُّ قَالَ نا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إبراهيم بن حمدان الدير عاقولي قَالَ نَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنِ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عُبَيْدَةَ الْمُؤَدَّبُ قَالَ نا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْبَصْرِيُّ قَالَ نَا مُعْتَمِرٌ قَالَ نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لا يُرْفَعُ إِلا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ".

Artinya: Ibadah bulan Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.”[10]

Ibnu Jauzi menuturkan dalam kitabnya mengenai hal ini dengan dua buah hadis. Hadis pertama pertama berasal dari Jarir sebagaimana redaksi di atas, dan hadis kedua berasal dari Anas bin Malik.[11] Ibnu Jauzi kemudian berkomentar bahwa dua hadis itu tidak shahih (palsu). Hadis pertama di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid, seorang yang tidak dikenal identitasnya. Sedangkan hadis kedua di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abd al-Rahman bin Utsman, para ulama melemparkan Hadis Abd al-Rahman bi Utsman. Dan menurut Ibnu Hibban Abd al-Rahman bin Utsman tidak boleh dijadikan hujjah.

Demikian juga Al-Suyuti menutukan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dan Al-Dhiya, keduanya berasal dari Jabir. Al-Suyuti mengatakan bahwa hadis ini dha’if tanpa menyebutkan alasannya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang di dalam sanandnya terdapat rawi yang bernama Abd al-Rahman bin Utsman yang tidak diketahui identitsanya.

Dengan demikian, sanad hadis ini tidak dapat dinilai karena ada rawi yang majhul. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hadis ini palsu.

ENDNOTE

[1] Muhammad bin ‘Amr Al-Uqaili, Al-Dhu’afa al-Kabir (Beirut: Darr al-Maktabah al-Ilmiyah, 1404 H/1984 M), jilid 2, Cet. I, h. 162
[2] Lihat Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), Cet. VI, h. 14
[3] Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah (Maktbah Syamilah)
[4] Almanhaj.or.id
[5] Muhammad bin ‘Amr Al-Uqaili, Al-Dhu’afa al-Kabir (Beirut: Darr al-Maktabah al-Ilmiyah, 1404 H/1984 M), jilid 2, Cet. I, h. 162
[6] Lihat Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), Cet. VI, h. 23
[7] Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah (Maktbah Syamilah)
[8] Lihat Ibn Shalah, Muqaddimah Ibn Shalah, yang dinukil dalam Ali Mustafa Ya’qub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, h. 28
[9] Al-Baihaqi, Sya’b al-Iman, (Maktbah Syamilah), kemudian dinukil oleh Al-Suyuti dalam Al-Jami’ al-Shaghir
[10] Ibnu Jauzi, Al-‘Ilal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah
[11] Dengan readaksi “لا يَزَالُ صِيَامُ الْعَبْدِ مُعَلَّقًا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى يُؤَدِّيَ زَكَاةَ فِطْرِهِ.”

SEKIAN


pdf DOWNLOAD: LINK 1
pdf DOWNLOAD: LINK 2
Read More

Sabtu, 15 April 2017

Islamic Book Fair - Senayan, Jakarta 2017

Sabtu, April 15, 2017 0
Sobat SQ BLOG, Alhamdulillah IBF yang ke-16 sebentar lagi akan hadir menjumpai sobat semuanya. IBF sebagai ajang pameran buku terbesar di Indonesia akan kembali hadir tepatnya 3 - 7 Mei 2017 di Jakarta Convention Center (JCC). Bagi sobat para pecinta buku, jangan lewatkan kesempatan ini yang hanya digelar sekali dalam setiap tahunnya.


Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin direncanakan membuka Islamic Book Fair (2017) yang berlangsung pada 3-7 Mei mendatang di Jakarta Convention Center (JCC).

“Insya Allah, saya bersedia hadir dan membuka pameran Islamic Book FairI2017,” kata Kyai Ma’ruf usai bertemu dengan Panitia IBF 2017 di kantor MUi Pusat, Jalan Proklamasi, Jakarta, Selasa (4/4).


Berikut Agenda IBF tahun 2017 kali Sobat:


Ajang IBF kali ini seperti pada tahun-tahun sebeluamnya, juga selalu dimariahkan dengan berbagai ajang lomba. Berikut informasinya:






Selain itu, tentu juga akan demeriahkan dengan berbagai agenda menarik lainnya sobat. Mari bersama membangun peradaban melalui literasi Islam. Info lebih lanjut dapat sobat lihat disini.
Sekian Semoga Bermanfaat
[SQ BLOG]
Read More

Minggu, 12 Maret 2017

Pendaftaran Magister Fakultas Ushuluddin 2017/2018

Minggu, Maret 12, 2017 0
SQ Blog - Salam sobat semuanya! Admin sore ini akan bagi informasi terkait penerimaan mahasiswa baru Magister Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta tahun akademik 2017/2018. Kali aja ada sobat yang minat lanjutkan studinya di salah satu kampus Islam sekitar wilayah Jakarta Selatan tersebut, tepatnya di Ciputat yang kini masuk wilayah Tangerang Selatan, Banten.



Sobat perlu tahu bahwa di UIN Jakarta untuk magister nya, khususnya Ushuluddin membuka 2 perkuliahan, ada magister Ushuluddin yang berpusat di Sekolah Pascasarjana (SPs) alias gedung 2 UIN dan ada yang berpusat di Fakultas Ushuluddin alias gedung 1 UIN. Sejauh yang admin dengar dari dosen UIN sendiri, keduanya berbeda sekalipun memiliki program studi yang sama. Perbedaannya terletak pada orientasinya. Jika di SPs outputnya lebih diarahkan untuk menjadi pemikir atau peneliti tafsir, adapun di Fakultas outputnya lebih di arahkan untuk menjadi ahli tafsir atau mufassir. Atas perbedaan orientasi ini, pada jenjang mata  kuliahnya pun terdapat perbedaan.

Perbedaan selanjutnya bahwa di SPs anda dituntut untuk super aktif, jadwal mata kuliah yang anda jalanin tidak jauh berbeda dengan kuliah di S1. Adapun di Fakultas, jadwal tidak seinten lagi dengan kuliah ketika S1, alias anda dapat lebih leluasa untuk menyusun agenda-agenda lain di luar kampus khususnya di pagi hari. Perbedaan lainnya anda dapat cari sendiri yaa...

Qmn sobat, uda nampak perbedaannya kan, ini sekedar pengantar biar apa yang admin akan share dapat lebih jelas. Nah, yang admin akan bagikan terkait pendaftaran Magister (S2) Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta yang kuliahnya di kampus 1 UIN, bukan pendaftaran magister di SPs.

Berikut informasi Pendaftaran Magister (S2) Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta tahun akademik 2017/2018:

PENDAFTARAN DAN TES MASUK
  • Pendaftaran: Januari s.d 7 Juli 2017 
  • Test/ujian masuk: 18 Juli 2017 (Bahasa Arab, Inggris, dan Proposal Tesis) 
  • Daftar Ulang: 3 s.d 18 Agustus 2017 
  • Perkuliahan awal: 7 September 2017
POGRAM STUDI
  1. Prodi Magister Tafsir Hadis (Konsentrasi; Tafsir, Hadis) 
  2. Prodi Magister Filsafat Agama (Konsentrasi; Kalam, Filsafat Islam, Tasawuf) 
  3. Prodi Magister Perbandingan Agama (Konsentrasi; Kerukunan Umat Beragama, Studi Agama-agama)
ADMINISTRASI KULIAH
  • Daftar Ulang dan SPP Semester 1: Rp. 6.715.000 
  • Semester-semester selanjutnta: Rp. 4.715.000
PERKULIAHAN

Jadwal perkuliahan 2 hari dalam seminggu;
  • Kamis 16.00-21.00
  • Jumat 13.30-18.00
INFORMASI LEBIH LANJUT

Silahkan kunjungi: http://akademik.uinjkt.ac.id/ atau KLIK DISINI


Salam dari kami, mahasiswa magister Fakultas Angkatan 2016


SEKIAN
Read More

Kamis, 22 Desember 2016

Ibu, Pahlawan yang Selalu Hadir Setiap Saat

Kamis, Desember 22, 2016 0
SQ Blog - Ibu, Bunda, Ummi, Umi, Mama, Mami adalah deratan nama-nama yang tertuju pada satu sosok yang telah bersusah payah melahirkan anda, iya dialah seorang Ibu. Sosok insan yang jasanya tak terhingga demi perhatian dan kasih sayangnya kepada buah hatinya. Bukan ketika hanya kecil saja, sampai besar sekalipun kasih sayangnya akan tetap sama. Sungguh mengingatkan kita sebuah lagu karya SM Muchtar, salah satu pencipta lagu anak-anak asal Makassar. Lagunya tersebut adalah:


Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

Tentu, orang tua termasuk ibu tidak pernah mengharapkan agar kasih sayangnya dibalas oleh anak-anaknya, karena harapan terbesar bagi mereka dapat melihat anak-anaknya tumbuh besar, berada dalam kebaikan, dapat sukses, melebihi apa yang mereka telah capai. Mereka adalah pahlawan tanpa jasa, pergorbanan mereka melebihi dari segalanya. Tanpa mengenal waktu dan lelah, demi buah hati tercinta. Dialah yang menjadi sandaran utama setiap keluh kesah anak-anaknya. Wahai ibu, sungguh besar jasa-jasa engkau kepada kami...

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ﴿ الإسراء: ٢٣﴾


Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. (Q.S. al-Isra: 23)


Sebagai seorang anak, tuntunan agama mengajarkan kita agar senantiasa berbakti kepadanya. Seorang anak diminta untuk mendengarkan dan mematuhi setiap perintahnya, selama itu tidak bertentangan ajaran agama. Bahkan tidak menyakiti atau menyinggung perasaanya sekalipun, termasuk bentuk terkecil dari pengabdian kepadanya. Diantara pesan baginda Rasulullah Saw untuk senantiasa berbakti kepada ibu:


PERTAMA
.........................................................................................

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي [1]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam: “Perbuatan apakah yang paling dicintai oleh Allah?”, beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya”, Abdullah berkata: “Kemudian apa?”, beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tuan”, Abdullah berkata: “Kemudian apa?”, beliau menjawab: “Perang di jalan Allah”. Abdullah berkata: “Beliau bersabda kepadaku dengan tiga hal tersebut, andaikatan aku minta tambah niscaya beliau menambahinya”(H.R. Al-Bukhari)

Maksud dari kata al-Birru ialah al-Ihsan, yaitu berbuat baik dengan perkataan dan perbuatan dalam memenuhi hak kedua orang tua. Al-Harāli berkata, al-birru itu adalah selalu berusaha dalam segala perilaku yang indah.



KEDUA
.........................................................................................

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُجَاهِدُ قَالَ لَكَ أَبَوَانِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ [2]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam: “Bolehkah aku jihad (ikut perang)?”, beliau bertanya: “Apakah kamu masih punya kedua orang tua?”, ia menjawab: “Ya”, beliau bersabda: “Maka berjihadlah pada keduanya”.
(H.R. Al-Bukhari)

Pada dasarnya kata jihad merupakan istilah bagi peperangan dalam melawan orang-orang kafir atau para penjajah, namun dalam konteks kedua orang tua, jihad pada keduanya berarti berpayah-payah dalam mengusahakan kemaslahatan dengan senantiasa selalu mengharap keridhaan dari keduanya, karena dalam hadits dikatakan bahwa,

رضا الله في رضا الوالدين, وسخط الله في سخط الوالدين [3]

Keridhaan Allah terdapat pada keridhaan orang tua.
(H.R. al-Tirmidzi)

KETIGA
.........................................................................................

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ [4]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam, kemudian ia bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?” beliau menjawab: “Ibumu”, ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Ibumu”, ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Bapakmu”.


Menurut Ibnu Bathal, penyebutan ibu sampai tiga kali mengisyaratkan bahwa Rasulullah memerintahkan kita untuk menghormati dan berbakti kepada ibu tiga kali lipat dari bakti dan penghormatan kita kepada bapak, karena kesusah payahanya dalam mengandung, melahirkan, dan menyusui yang dalam hal ini hanya ibu sendiri yang melakukannya, hingga kemudian ketika mendidik baru ayah secara jelas berperan.

Kita juga akui bahwa kedua orang tua tidak ma'sum dari kekhilafan, oleh karenanya memaafkan kesalahan-kesalahannya dan senantiasa mendoakan keduanya, baik yang masih hidup atau yang telah pergi menghadap Sang Khaliq, adalah bentuk pengabdian mulia dari seorang anak.

Menurut uraian ini, admin mengutip sebuah tulisan anonim, yang menggambarkan betapa hebat dan beratnya perjuangan seorang ibu, toh demikian mereka dapat menjalaninya tanpa pernah mendengarkan keluh kesahnya. Itulah ibu, pahlawan yang selalu hadir, di saat sekalipun anda tidak membutuhkannya.


"IBUMU SARJANA APA? "

Ibuku gelarnya adalah MSi; Master Segala ilmu.

Tak terbayang bukan, menjadi ibu yang baik itu harus banyak belajar dan terus belajar, lifelong education istilah kerennya.
  1. Ibu harus belajar Akuntansi, agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya untuk kebutuhan rumah tangga, tabungan, serta menata pemasukan & pengeluaran yang seimbang.
  2. Ibu harus belajar ilmu Tata Boga, chef, atau perhotelan, belajar mengatur masakan keluarga dengan kreatif, supaya tidak bosan.
  3. Ibu harus belajar ilmu Keguruan. Ia harus menguasai ilmu yang diajarkan di sekolah dasar, agar bisa mengajari anaknya bila kesulitan dengan PR-nya.
  4. Ibu harus belajar Agama, karena ibu-lah yang pertama kali mengenalkan anak pada Allah, membangun akhlak yang luhur serta iman yang kokoh.
  5. Ibu harus belajar Ilmu Gizi, agar bisa menyiapkan makanan bergizi bagi keluarga, setiap hari.
  6. Ibu harus belajar Farmasi, agar dapat memberi pertolongan awal pada keluarga yang sedang sakit dan menyediakan obat-obatan ketika keadaan darurat.
  7. Ibu harus belajar Keperawatan, karena beliaulah yang merawat anak/suami ketika sakit. Yang menyeka tubuhnya ketika tidak diperbolehkan mandi, mengganti kompres. Ibu adalah perawat yang handal.
  8. Ibu harus belajar ilmu Kesehatan, agar bisa menjaga asupan makanan, kebersihan melindungi anggota keluarga dari gigitan nyamuk, dll.
  9. Ibu harus belajar Psikologi, agar bisa berkomunikasi dengan baik saat menghadapi anak-anak di setiap jenjang usia, juga sebagai teman curhat suami yang terbaik, ketika suami sedang mengalami masalah.
  10. Ibu juga bisa cari uang (bekerja)
Seandainya ibu harus kuliah dulu, butuh berapa lama? Bisa jadi lebih dari 9 jurusan di atas tadi. Begitu luar biasanya seorang ibu, dengan multi talentanya, kesabarannya merawat, mendidik & menemani anak-anak dan suami tercinta. Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk ibu kita?

“Seorang ibu bisa merawat 10 anak, namun 10 anak belum tentu bisa merawat satu ibunya." 

ENDNOTE
  • [1]Shahīh Al-Bukhāri,Kitab al-Adab, Bab Qaulullāh Ta’āla Wawashashainal Insāna bi Wālidaihi Husnan , Hadits No. 2697, (Kairo: Dār at-TaqwaLi at-Turāts,2001) Juz III, hal. 209. Shahīh Muslim, Bab Bayān Kaun al-Imān billāh Ta’āla Afdhal al-A’māl,Hadits No. 120, 121, 122, 123, (Kairo: Dār al-Hadīts, 1997) , Juz III, hal. 200.Sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa ash-Shillah, Bab Mā Jāa fi Birr al-Wālidain, Hadits No. 1898, (Kairo: Dār al-Hadīts, 2005), Juz IV, hal. 88. Musnad Ahmad, Bab Musnad ‘Abdullāh bin Masūd.
  • [2] Shahīh Al-Bukhāri, Kitab al-Adab, Bab Lā Yujāhidu Illa bi Idzni al-Wālidain, Hadits No. 5515, (Kairo: Dār at-Taqwa Li at-Turāts 2001) Juz 3, hal. 209. Shahīh Muslim, Birr al-Walidaini wa Annahuma Ahhaqun bihi, Hadits No. 4623. Sunan Abu Dawud, Bab Fi ar-Rajul Yaghzū wa Abawāhu Kārihāni, Hadits No. 2167. Sunan At-Tirmidzi, Bab Mā Jāa fi Man Kharaja fi al-Ghazwi wa Taraka Abawaihi, Hadits No. 1594. Sunan An-Nasa`I, Ar-Rukhshah fi at-Takhalluf Liman Lahu Wālidān, Hadits No. 3052. Musnad Ahmad, Bab Musnad ‘Abdullāh bin ‘Amr.
  • [3] Sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa ash-Shillah, Bab Mā Jāa fi Birr al-Wālidain, Hadits No. 1898, (Kairo: Dār al-Hadīts, 2005), disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim.
  • [4] Shahīh Al-Bukhāri, Kitab al-Adab, Bab Man Ahaqqu an-Nās bi Husni ash-Shuhbah, Hadits No. 5514, (Kairo: Dār at-Taqwa Li at-Turāts 2001) Juz 3, hal. 209. Shahīh Muslim, Birr al-Walidaini wa Annahuma Ahhaqun bihi, Hadits No. 4621.

SEKIAN
Kamis, 22 Desember 2016
Read More

Post Top Ad