SQ BLOG

Kajian

Post Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 15 April 2017

Islamic Book Fair - Senayan, Jakarta 2017

Sabtu, April 15, 2017 0
Sobat SQ BLOG, Alhamdulillah IBF yang ke-16 sebentar lagi akan hadir menjumpai sobat semuanya. IBF sebagai ajang pameran buku terbesar di Indonesia akan kembali hadir tepatnya 3 - 7 Mei 2017 di Jakarta Convention Center (JCC). Bagi sobat para pecinta buku, jangan lewatkan kesempatan ini yang hanya digelar sekali dalam setiap tahunnya.


Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin direncanakan membuka Islamic Book Fair (2017) yang berlangsung pada 3-7 Mei mendatang di Jakarta Convention Center (JCC).

“Insya Allah, saya bersedia hadir dan membuka pameran Islamic Book FairI2017,” kata Kyai Ma’ruf usai bertemu dengan Panitia IBF 2017 di kantor MUi Pusat, Jalan Proklamasi, Jakarta, Selasa (4/4).


Berikut Agenda IBF tahun 2017 kali Sobat:


Ajang IBF kali ini seperti pada tahun-tahun sebeluamnya, juga selalu dimariahkan dengan berbagai ajang lomba. Berikut informasinya:






Selain itu, tentu juga akan demeriahkan dengan berbagai agenda menarik lainnya sobat. Mari bersama membangun peradaban melalui literasi Islam. Info lebih lanjut dapat sobat lihat disini.
Sekian Semoga Bermanfaat
[SQ BLOG]
Read More

Minggu, 12 Maret 2017

Pendaftaran Magister Fakultas Ushuluddin 2017/2018

Minggu, Maret 12, 2017 0
SQ Blog - Salam sobat semuanya! Admin sore ini akan bagi informasi terkait penerimaan mahasiswa baru Magister Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta tahun akademik 2017/2018. Kali aja ada sobat yang minat lanjutkan studinya di salah satu kampus Islam sekitar wilayah Jakarta Selatan tersebut, tepatnya di Ciputat yang kini masuk wilayah Tangerang Selatan, Banten.



Sobat perlu tahu bahwa di UIN Jakarta untuk magister nya, khususnya Ushuluddin membuka 2 perkuliahan, ada magister Ushuluddin yang berpusat di Sekolah Pascasarjana (SPs) alias gedung 2 UIN dan ada yang berpusat di Fakultas Ushuluddin alias gedung 1 UIN. Sejauh yang admin dengar dari dosen UIN sendiri, keduanya berbeda sekalipun memiliki program studi yang sama. Perbedaannya terletak pada orientasinya. Jika di SPs outputnya lebih diarahkan untuk menjadi pemikir atau peneliti tafsir, adapun di Fakultas outputnya lebih di arahkan untuk menjadi ahli tafsir atau mufassir. Atas perbedaan orientasi ini, pada jenjang mata  kuliahnya pun terdapat perbedaan.

Perbedaan selanjutnya bahwa di SPs anda dituntut untuk super aktif, jadwal mata kuliah yang anda jalanin tidak jauh berbeda dengan kuliah di S1. Adapun di Fakultas, jadwal tidak seinten lagi dengan kuliah ketika S1, alias anda dapat lebih leluasa untuk menyusun agenda-agenda lain di luar kampus khususnya di pagi hari. Perbedaan lainnya anda dapat cari sendiri yaa...

Qmn sobat, uda nampak perbedaannya kan, ini sekedar pengantar biar apa yang admin akan share dapat lebih jelas. Nah, yang admin akan bagikan terkait pendaftaran Magister (S2) Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta yang kuliahnya di kampus 1 UIN, bukan pendaftaran magister di SPs.

Berikut informasi Pendaftaran Magister (S2) Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta tahun akademik 2017/2018:

PENDAFTARAN DAN TES MASUK
  • Pendaftaran: Januari s.d 7 Juli 2017 
  • Test/ujian masuk: 18 Juli 2017 (Bahasa Arab, Inggris, dan Proposal Tesis) 
  • Daftar Ulang: 3 s.d 18 Agustus 2017 
  • Perkuliahan awal: 7 September 2017
POGRAM STUDI
  1. Prodi Magister Tafsir Hadis (Konsentrasi; Tafsir, Hadis) 
  2. Prodi Magister Filsafat Agama (Konsentrasi; Kalam, Filsafat Islam, Tasawuf) 
  3. Prodi Magister Perbandingan Agama (Konsentrasi; Kerukunan Umat Beragama, Studi Agama-agama)
ADMINISTRASI KULIAH
  • Daftar Ulang dan SPP Semester 1: Rp. 6.715.000 
  • Semester-semester selanjutnta: Rp. 4.715.000
PERKULIAHAN

Jadwal perkuliahan 2 hari dalam seminggu;
  • Kamis 16.00-21.00
  • Jumat 13.30-18.00
INFORMASI LEBIH LANJUT

Silahkan kunjungi: http://akademik.uinjkt.ac.id/ atau KLIK DISINI


Salam dari kami, mahasiswa magister Fakultas Angkatan 2016


SEKIAN
Read More

Kamis, 22 Desember 2016

Ibu, Pahlawan yang Selalu Hadir Setiap Saat

Kamis, Desember 22, 2016 0
SQ Blog - Ibu, Bunda, Ummi, Umi, Mama, Mami adalah deratan nama-nama yang tertuju pada satu sosok yang telah bersusah payah melahirkan anda, iya dialah seorang Ibu. Sosok insan yang jasanya tak terhingga demi perhatian dan kasih sayangnya kepada buah hatinya. Bukan ketika hanya kecil saja, sampai besar sekalipun kasih sayangnya akan tetap sama. Sungguh mengingatkan kita sebuah lagu karya SM Muchtar, salah satu pencipta lagu anak-anak asal Makassar. Lagunya tersebut adalah:


Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

Tentu, orang tua termasuk ibu tidak pernah mengharapkan agar kasih sayangnya dibalas oleh anak-anaknya, karena harapan terbesar bagi mereka dapat melihat anak-anaknya tumbuh besar, berada dalam kebaikan, dapat sukses, melebihi apa yang mereka telah capai. Mereka adalah pahlawan tanpa jasa, pergorbanan mereka melebihi dari segalanya. Tanpa mengenal waktu dan lelah, demi buah hati tercinta. Dialah yang menjadi sandaran utama setiap keluh kesah anak-anaknya. Wahai ibu, sungguh besar jasa-jasa engkau kepada kami...

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ﴿ الإسراء: ٢٣﴾


Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. (Q.S. al-Isra: 23)


Sebagai seorang anak, tuntunan agama mengajarkan kita agar senantiasa berbakti kepadanya. Seorang anak diminta untuk mendengarkan dan mematuhi setiap perintahnya, selama itu tidak bertentangan ajaran agama. Bahkan tidak menyakiti atau menyinggung perasaanya sekalipun, termasuk bentuk terkecil dari pengabdian kepadanya. Diantara pesan baginda Rasulullah Saw untuk senantiasa berbakti kepada ibu:


PERTAMA
.........................................................................................

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي [1]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam: “Perbuatan apakah yang paling dicintai oleh Allah?”, beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya”, Abdullah berkata: “Kemudian apa?”, beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tuan”, Abdullah berkata: “Kemudian apa?”, beliau menjawab: “Perang di jalan Allah”. Abdullah berkata: “Beliau bersabda kepadaku dengan tiga hal tersebut, andaikatan aku minta tambah niscaya beliau menambahinya”(H.R. Al-Bukhari)

Maksud dari kata al-Birru ialah al-Ihsan, yaitu berbuat baik dengan perkataan dan perbuatan dalam memenuhi hak kedua orang tua. Al-Harāli berkata, al-birru itu adalah selalu berusaha dalam segala perilaku yang indah.



KEDUA
.........................................................................................

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُجَاهِدُ قَالَ لَكَ أَبَوَانِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ [2]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam: “Bolehkah aku jihad (ikut perang)?”, beliau bertanya: “Apakah kamu masih punya kedua orang tua?”, ia menjawab: “Ya”, beliau bersabda: “Maka berjihadlah pada keduanya”.
(H.R. Al-Bukhari)

Pada dasarnya kata jihad merupakan istilah bagi peperangan dalam melawan orang-orang kafir atau para penjajah, namun dalam konteks kedua orang tua, jihad pada keduanya berarti berpayah-payah dalam mengusahakan kemaslahatan dengan senantiasa selalu mengharap keridhaan dari keduanya, karena dalam hadits dikatakan bahwa,

رضا الله في رضا الوالدين, وسخط الله في سخط الوالدين [3]

Keridhaan Allah terdapat pada keridhaan orang tua.
(H.R. al-Tirmidzi)

KETIGA
.........................................................................................

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ [4]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaih wa Sallam, kemudian ia bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?” beliau menjawab: “Ibumu”, ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Ibumu”, ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Bapakmu”.


Menurut Ibnu Bathal, penyebutan ibu sampai tiga kali mengisyaratkan bahwa Rasulullah memerintahkan kita untuk menghormati dan berbakti kepada ibu tiga kali lipat dari bakti dan penghormatan kita kepada bapak, karena kesusah payahanya dalam mengandung, melahirkan, dan menyusui yang dalam hal ini hanya ibu sendiri yang melakukannya, hingga kemudian ketika mendidik baru ayah secara jelas berperan.

Kita juga akui bahwa kedua orang tua tidak ma'sum dari kekhilafan, oleh karenanya memaafkan kesalahan-kesalahannya dan senantiasa mendoakan keduanya, baik yang masih hidup atau yang telah pergi menghadap Sang Khaliq, adalah bentuk pengabdian mulia dari seorang anak.

Menurut uraian ini, admin mengutip sebuah tulisan anonim, yang menggambarkan betapa hebat dan beratnya perjuangan seorang ibu, toh demikian mereka dapat menjalaninya tanpa pernah mendengarkan keluh kesahnya. Itulah ibu, pahlawan yang selalu hadir, di saat sekalipun anda tidak membutuhkannya.


"IBUMU SARJANA APA? "

Ibuku gelarnya adalah MSi; Master Segala ilmu.

Tak terbayang bukan, menjadi ibu yang baik itu harus banyak belajar dan terus belajar, lifelong education istilah kerennya.
  1. Ibu harus belajar Akuntansi, agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya untuk kebutuhan rumah tangga, tabungan, serta menata pemasukan & pengeluaran yang seimbang.
  2. Ibu harus belajar ilmu Tata Boga, chef, atau perhotelan, belajar mengatur masakan keluarga dengan kreatif, supaya tidak bosan.
  3. Ibu harus belajar ilmu Keguruan. Ia harus menguasai ilmu yang diajarkan di sekolah dasar, agar bisa mengajari anaknya bila kesulitan dengan PR-nya.
  4. Ibu harus belajar Agama, karena ibu-lah yang pertama kali mengenalkan anak pada Allah, membangun akhlak yang luhur serta iman yang kokoh.
  5. Ibu harus belajar Ilmu Gizi, agar bisa menyiapkan makanan bergizi bagi keluarga, setiap hari.
  6. Ibu harus belajar Farmasi, agar dapat memberi pertolongan awal pada keluarga yang sedang sakit dan menyediakan obat-obatan ketika keadaan darurat.
  7. Ibu harus belajar Keperawatan, karena beliaulah yang merawat anak/suami ketika sakit. Yang menyeka tubuhnya ketika tidak diperbolehkan mandi, mengganti kompres. Ibu adalah perawat yang handal.
  8. Ibu harus belajar ilmu Kesehatan, agar bisa menjaga asupan makanan, kebersihan melindungi anggota keluarga dari gigitan nyamuk, dll.
  9. Ibu harus belajar Psikologi, agar bisa berkomunikasi dengan baik saat menghadapi anak-anak di setiap jenjang usia, juga sebagai teman curhat suami yang terbaik, ketika suami sedang mengalami masalah.
  10. Ibu juga bisa cari uang (bekerja)
Seandainya ibu harus kuliah dulu, butuh berapa lama? Bisa jadi lebih dari 9 jurusan di atas tadi. Begitu luar biasanya seorang ibu, dengan multi talentanya, kesabarannya merawat, mendidik & menemani anak-anak dan suami tercinta. Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk ibu kita?

“Seorang ibu bisa merawat 10 anak, namun 10 anak belum tentu bisa merawat satu ibunya." 

ENDNOTE
  • [1]Shahīh Al-Bukhāri,Kitab al-Adab, Bab Qaulullāh Ta’āla Wawashashainal Insāna bi Wālidaihi Husnan , Hadits No. 2697, (Kairo: Dār at-TaqwaLi at-Turāts,2001) Juz III, hal. 209. Shahīh Muslim, Bab Bayān Kaun al-Imān billāh Ta’āla Afdhal al-A’māl,Hadits No. 120, 121, 122, 123, (Kairo: Dār al-Hadīts, 1997) , Juz III, hal. 200.Sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa ash-Shillah, Bab Mā Jāa fi Birr al-Wālidain, Hadits No. 1898, (Kairo: Dār al-Hadīts, 2005), Juz IV, hal. 88. Musnad Ahmad, Bab Musnad ‘Abdullāh bin Masūd.
  • [2] Shahīh Al-Bukhāri, Kitab al-Adab, Bab Lā Yujāhidu Illa bi Idzni al-Wālidain, Hadits No. 5515, (Kairo: Dār at-Taqwa Li at-Turāts 2001) Juz 3, hal. 209. Shahīh Muslim, Birr al-Walidaini wa Annahuma Ahhaqun bihi, Hadits No. 4623. Sunan Abu Dawud, Bab Fi ar-Rajul Yaghzū wa Abawāhu Kārihāni, Hadits No. 2167. Sunan At-Tirmidzi, Bab Mā Jāa fi Man Kharaja fi al-Ghazwi wa Taraka Abawaihi, Hadits No. 1594. Sunan An-Nasa`I, Ar-Rukhshah fi at-Takhalluf Liman Lahu Wālidān, Hadits No. 3052. Musnad Ahmad, Bab Musnad ‘Abdullāh bin ‘Amr.
  • [3] Sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa ash-Shillah, Bab Mā Jāa fi Birr al-Wālidain, Hadits No. 1898, (Kairo: Dār al-Hadīts, 2005), disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim.
  • [4] Shahīh Al-Bukhāri, Kitab al-Adab, Bab Man Ahaqqu an-Nās bi Husni ash-Shuhbah, Hadits No. 5514, (Kairo: Dār at-Taqwa Li at-Turāts 2001) Juz 3, hal. 209. Shahīh Muslim, Birr al-Walidaini wa Annahuma Ahhaqun bihi, Hadits No. 4621.

SEKIAN
Kamis, 22 Desember 2016
Read More

Jumat, 07 Oktober 2016

Pendaftaran PDU Angkatan VIII, MUI JAKSEL 2016

Jumat, Oktober 07, 2016 0

SQ Blog - Info hangat buat kawan-kawan semuanya, khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa. Kembali hadir dan dibuka pendaftaran PDU (pendidikan dasar ulama) kota administrasi Jakarta Selatan tahun akademik 2017/2018. PDU dilaksanakan selama 2 tahun, dan tentunya tanpa dipungut biaya.
  • Tempat Pendaftaran: PDU MUI Kota Administrasi Jakarta Selatan, Jl. Ciputat Raya No. 30 (Depan Polsek Kebayoran Lama, Samping SD 03 Pagi)
  • Waktu Pendaftaran: 1 Oktober - 31 November 2016
  • Testing Masuk: 10-11 Desember 2016
  • Pengumuman: 19 Desember 2016
  • Daftar Ulang: 20-31 Desember 2016
  • Infaq Pendaftaran: 50.000
Kontak: Tlp (021) 729 1961, SMS (085218087508 / 08128186325)

Info lebih lanjut, lihat  brosurnya berikut Sobat:



Semoga bermanfaat!
Sekian - ADMIN
Read More

Kamis, 06 Oktober 2016

Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah

Kamis, Oktober 06, 2016 0

Pemikiran Abu Rayyah yang banyak mengkritisi hadis sebagaimana yang ia kemukakan dalam bukunya ‘Adwa ala al-Sunnah mengantarkannya dalam golongan Inkar Sunnah, yaitu golongan yang menginkari Hadis Nabi Saw sebagai hujjah dan sumber kedua ajaran Islam. Ia termasuk golongan Inkar Sunnah Modern dari Mesir yang disejajarkan Tawfiq Shidqiy (w. 1920 M), Ahmad Amin (w. 1954 M), Ahmad Subhi Mansur dan Musthafa Mahmud. Jika mengikuti pembagian Inkar Sunnah oleh al-Syafi’i,[1] Abu Rayyah masuk dalam kelompok yang menginkari sunnah secara keseluruhan.

Ingkar Sunnah menurut Imam Al-Syafi’i terbagi tiga kelompok;[2]
  • (1) Golongan yang menolak Sunnah secara keseluruhan,
  • (2) Golongan yang menolak Sunnah, kecuali bila sunnnah itu sesuai dengan petunjuk al-Quran,
  • (3) Golongan yang menolak Sunnah yang berstatus Ahad mereka hanya menerima Sunanh yang berstatu mutawatir.
Secara spesifiknya pemikiran Abu Rayyah sebagai berikut:
  1. Al-Sunnah dan posisinya dalam ajaran agama, menurut Abu Rayyah, al-Sunnah sebagai pedoman hidup manusia yang menempati posisi kedua setelah Al-Qur’an, Abu Rayyah membagi al-Sunnah kepada dua bagian: Pertama, al-Sunnah al-‘amaliyyah. Kedua, al-Sunnah al-qauliyyah. Adapun al-Sunnah al-qauliyyah, Abu Rayyah menjadikannya pada derajat ketiga dari agama, berada dibawah al-Sunnah al-‘amaliyyah;
  2. Tadwin Hadis, Abu Rayyah menyatakan bahwa pencatatan tekstual literatur hadis tidak dapat dipercaya, dengan menekankan bahwa pencatatan itu dilakukan jauh setelah hadis muncul. 
  3. ‘Adalah al-sahabah, menurut pandangan Abu Rayyah yang harus diteliti tidak hanya level bawah sahabat tetapi di semua tingkatan, sahabat juga tidak bisa terlepas dari tarjih.
  4. Salah satu sahabat yang terkena tarjih atau yang banyak dikritik oleh Abu Rayyah dalam bukunya adalah Abu Hurairah, menurut Abu Rayyah: Abu Hurairah namanya banyak dan tidak jelas asal muasalnya, motivasi kedekatannya dengan Nabi adalah hanya untuk mengenyangkan perutnya, rakus, terlambat masuk Islam, dan banyak meriwayatkan hadis dari pada sahabat Nabi lainnya dengan waktu yang sangat singkat. Pada masa Mu’awiyyah, ia menulis hadis dengan tujuan politik dan ia seorang mudallis. Hal ini menyebabkan menurut Abu Rayyah, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah harus diteliti kembali.
Urian lebih lanjut dari pemikiran Abu Rayyah di atas, dapat sobat baca pada link di bawah ini: (Proses)
  1. Posisi Hadis menurut Abu Rayyah
  2. Tadwin Hadis dalam Kacamata Abu Rayyah
  3. 'Adalah al-Shabah dalam Pandangan Abu Rayyah
  4. Kritikan Abu Rayyah terhadap Sahabat Abu Hurairah

ENDNOTE


[1] Imam Al-Syafi’i, Ikhtilaf al-Hadis (Kairo: Da’r al-Ma’arif, 1393 H), Juz 7, h. 7-12
[2] Zufran Rahman, Sunnah Nabi Saw sebagai sumber hukum Islam: Jawaban terhadap Aliran Ingkar Sunanh  (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995), Cet. I, h. 132; Lihat juga, Muh. Munib, Kodifikasi Hadis Perspektif Mahmud Abu Rayyah; “Telaah Atas Kitab Adwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah”, Skripsi; Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, 2012, h. 20; Sochimin, Telaah Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah dalam Buku “Adwa ‘Ala Al-Sunnah Al-Muhammadiyyah dalam Hunafa, Jurnal Studia Islamika, UIN Sunan Kalijaga, Vol. 9, No. 2, h. 274.

SEKIAN - SEMOGA BERMANFAAT
SQ BLOG
Read More

‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah karya Abu Rayyah

Kamis, Oktober 06, 2016 0
SQ Blog- Diantara karya Mahmud Abu Rayyyah yang fenomenal, yaitu ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah (Sorotan tentang Sunnah Nabi Mukammad) yang terbit tahun 1958 M, sekitar 395 halaman. Latar belakang penulisan kitab ini dilatar belakangi oleh semangat modernisasi Abu Rayyah untuk mengubah keadaan umat Islam pada waktu itu, yang terlelap oleh sikap jumud. Hal inilah yang membuatnya merasa perlu adanya penelitian terhadap hadis tanpa perlu secara otomatis tunduk atau patuh mengikuti teori-teori para ulama sebelumnya (mutaqaddimin), dengan menerobos taqlid yang menurutnya hal inilah yang menyebabkan kemunduran dalam Islam.[1]

Kitab ini merupakan hasil kajian dan penelitiannya mengenai sejarah Sunnah, keraguan-raguannya terhadap keshahihannya dan pandangannya yang mengecilkan arti penting Sunnah di mata umat Islam.[2] Abu Rayyah memang menjadikan sejarah sebagai pendekatan dan pisau analisis dalam menjelaskan jati diri hadis. Namun pada akhirnya, buku ini justru menyulut kemarahan para cendekiawan ortodoks karena pemikiran Abu Rayyah yang tertuang di dalam bukunya dinilai bersebrangan, terutama pembahasan mengenai Abu Hurairah. Sehingga mereka tergugah untuk memberikan tanggapan dan sanggahan atas tuduhan-tuduhan di dalamnya.[3]

Abu Rayyah dalam bukunya tersebut menyajikan satu bab khusus untuk yang memuat kritikannya terhadap Abu Hurairah yang kemudian menjadi satu buku tersendiri yang berjudul “Syekh al-Madi’rah; Abu Hurairah” (شيخ المضيرة: أبو هريرة).[4] Selain itu, buku ini berisi dari beberapa bab diantaranya; membahas tentang sebagian kitab yang diduga atau menurut Abu Rayyah tidak menyampaikan perkataan dan perbuatan Nabi Saw, namun merupakan suatu rekayasa orang-orang yang hidup se-zaman dengan Nabi dan generasi-generasi sesudahnya untuk menciptakan hadis. Lebih jauhnya menurutnya, Hadis Ahad[5] tidak boleh diberlakukan pada komunitas muslim sepanjang zaman.[6] Materi-materi dua buku karya Abu Rayyah tersebut tidak keluar dari sumber-sumber berikut:[7]
  • Pendapat-pendapat imam Mu’tazilah yang dinukil dari mereka;
  • Pendapat-pendapar radikal dari syi’ah yang secara terang-terangan dinyatakan dalam karangan-karangan mereka;
  • Pendapat-pendapat para orientalis yang termuat dalam buku-buku mereka, khususnya Da’irah al-Ma’arif (ensiklopedia) dan Dirasah al-Islamiyyah karya Ignaz Goldziher; dan
  • Cerita-cerita yang disebutkan dalam beberapa buku sastra yang penulisnya diragukan kejujuran dan pengetahuannya akan fakta-fakta
Kitab ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah menurut Shalahuddin Maqbul Ahmad sangat digemari musuh-musuh Islam, hingga salah satu kedutaan asing di Kairo membeli sebagian besar naskahnya untuk dikirim ke perpustakaan-perpustakaan barat. Hal itu supaya buku tersebut sampai kepada orang-orang yang dendam kepada Islam, Rasul dan para sahabatnya, dan dijadikan sandaran untuk mengeluarkan kebohongan dan kebatilan.[8]

Kitab yang terbit tahun 1958 M tidak lepas dari sorotan dan kritikan para ulama. Tercatat bahwa setelah buku tersebut terbit, bermunculan kurang lebih sembilan buku yang terbit untuk menanggapi kitab ‘Adwa’ tersebut. Di antaranya:[9]
  1. Majallat al-Azhar ditulis oleh seorang profesor di Fakultas Ushuluddin al-Azhar, Muhammad Abu Syuhbah. Namun, Abu Syuhbah tidak menjelaskan alasannya kenapa ia menolak atas pernyataan Abu Rayyah;
  2. Abu Hurayrah fi al-Mizan (1958), ditulis oleh Muhammad al-Samahi dari Fakultas yang sama;
  3. Difa’ ‘an al-Hadits al-Nabawi wa Tafnid Syubuhat Khushumih (1958), ditulis oleh Tim beberapa teolog non-Mesir;
  4. Zhulumat Abi Rayyah Imam Adlqa’ al-Sunah al-Muhammadiyah (1959), ditulis oleh seorang profesor teologi di Mekkah Abd. Al-Razzaq Hamzah;
  5. Al-Anwar al-Kasyifah lima fi Kitab Adlwa’ ‘ala al-Sunnah min al-Dalalah wa al-Tadl’lil wa al-Mujazafah (1959), ditulis oleh seorang sarjana di Mekkah, Abd. Al-Rahman al-Yamaniy;
  6. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islamiy (1961), ditulis oleh Musthafa al-Siba’iy. Isinya mengkritik semua pendapat Abu Rayyah terhadap Abu Hurairah tidaklah diterima karena Abu Rayyah mengutip pendapat dari al-Salabi dan Hamzani yang karyanya tidak dianggap sebagai sumber yang valid untuk mendapatkan data historis;
  7. Abu Hurayrah Rawiyat al-Islam (1962);
  8. Al-Sunnah Qabla al-Tadwin (1963), ditulis oleh Muhammad ‘Ajaj al-Khathib, dan
  9. Abu Hurairah dalam berbagai tulisan oleh Muhammad Abu Zahrah. 
Berbagai macam kritikan yang menghujat terhadap pemikiran Abu Rayyah. Menunjukkan bahwa para ulama sangat menjunjung tinggi hadis Nabi dan sangat tidak benci serta menolak terhadap pendapat-pendapat yang tidak menerima dan mencela hadis Nabi Saw (ingkar Sunnah). Menurut Shalahuddin Maqbul Ahmad, isi dari kedua buku Abu Rayyah tersebut, yaitu ‘Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’a al-Hadis dan Syekh al-Madirah; Abu Hurairah menunjukkan seluruh ketidaktahuannya akan hakikat-hakikat tradisi Islam, keterpedayaannya oleh metode ilmiah yang diasumsikannya, kecintaannya akan popularitas murahan, klaim tentang kebebasan berfikir, dan jebakan hawa nafsu orientalis yang menjeratnya.[10]


ENDNOTE

[1] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), (Bandung : Mizan, 1999), h. 59.
[2] Shalahuddin Maqbul Ahmad,  Bahaya Mengingkari Sunnah terj. M. Misbah dari judul asli “Jawabi’ fi Wajhi al-Sunah Qadiman wa Haditsan” (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), Cet. I, h. 72
[3] Muhammad Makmun Abha (ed), Yang Membela Dan Yang Menggugat, h. 102.
[4] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis Di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), hlm. 91
[5] Hadis Ahad juga popular dengan sebutan khabar wahid, ialah hadis yang tidak sampai ke tingkat mutawatir.
[6] Sochimin, Telaah Pemikiran Hadis Mahmud Abu Rayyah dalam Buku “Adwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah dalam Hunafa. h. 278.
[7] Shalahuddin Maqbul Ahmad,  Bahaya Mengingkari Sunnah terj. M. Misbah dari judul asli “Jawabi’ fi Wajhi al-Sunah Qadiman wa Haditsan” (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), Cet. I, h. 72, Lihat juga, Zufran Rahman, Sunnah Nabi Saw sebagai sumber hukum Islam: Jawaban terhadap Aliran Ingkar Sunanh  (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995), Cet. I, h. 132-133.
[8] Shalahuddin Maqbul Ahmad,  Bahaya Mengingkari Sunnah, h. 73; Lihat juga, Abdul Majid Khon, Pemikiran Modern Dalam Sunah, (Jakarta : Kencana, 2011), h. 89-90.
[9] Muh. Munib, Kodifikasi Hadis Perspektif Mahmud Abu Rayyah, Skripsi; Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, 2012, h. 22.
[10] Abdul Majid Khon, Pemikiran Modern Dalam Sunah (Jakarta: Kencana, 2011), h. 90. Lihat juga, Shalahuddin Maqbul Ahmad, Bahaya Mengingkari Sunnah terj. M. Misbah dari judul asli “Jawabi’ fi Wajhi al-Sunah Qadiman wa Haditsan” (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), Cet. I, h. 72

SEKIAN
Read More

Post Top Ad